Showing posts with label Share From Me. Show all posts
Showing posts with label Share From Me. Show all posts

Sunday, August 17, 2014

Malam Tirakatan Untuk Indonesia

Malam tirakatan sebagai rasa syukur warga atas kemerdekaan Indonesia
Malam sebeleum 17 Agustus atau kemarin malam di kampungku digelar malam tirakatan sebagai puncak acara kegiatan tujuh belasan (17-an). Hari ulang tahun (HUT) Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke 69 tahun.

Malam tirakatan ini digelar dan diikuti warga RT 03 RW 04 masyarakat Bringinbendo di tengah-tengah jalan atau pertigaan masuk gang RT. Mulai dari anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak sampai remaja tumplek blek di acara ini. Hal ini dimaksudkan sebagai rasa syukur warga atas kemerdekaan Indonesia. Enggak terasa usianya sudah 69 tahun.

Masing-masing datang membawa tumpeng dari rumah. Ada tumpeng nasi, makanan camilan, minuman, dan buah-buahan. Ibuku sendiri sengaja menyembelih ayam untuk dibuat tumpeng.

Orang-orang duduk bersila saling berhadapan menghadap maknan yang ditata berjejer tak membedakan ini makananku dan ini makananmu. Justru ketika disantap atau memberkat (membawa pulang) tidak boleh membawa makanannya sendiri. Harus bertukar makanan yang lain.

Ini nih yang seru. Apalagi bagi anak kecil dijadikan sebagai ajang saling berebut makanan yang dikehendaki.

Tetapi sebelum itu ada serangkaian acaranya. Mulai dari bagi-bagi hadiah untuk pemenang lomba-lomba yang diadakan sebelumnya. Dan ada juga lho pidato kemerdekaan ala bapak RT. Enggak kalah sama Bung Karno dah semangat 45 nya.

Wednesday, June 18, 2014

Terkepung Banjir

Selalu ada harapan, esok matahari pasti kan benderang
Sidoarjo dirundung hujan semalam suntuk selama dua hari. Enggak deras hujannya, stabil tapi lama, cukup membuat kampung tempat tinggalku tergenang. Enggak pernah seperti ini sebelumnya, begitupun kata mertua. Kalaupun banjir hanya bagian jalan saja. Ini sampai masuk ke rumah-rumah warga, termasuk rumah mertuaku.

Meskipun hujan malam pertama sudah menyisakan bah, tapi masih bisa ditolerir, air cuma mampir sebentar, surut, dibersihkan dan rumah mertua masih bisa ditempati. Sementara hujan malam kedua, enggak disangka ketika subuh menjelang, mertuaku yang memang suka tidur dibawah terbangun karena hanyut oleh banjir. Padahal posisi ruang tidur mertuaku paling tinggi masih terjangkau air, apalagi ruangan yang lain, merata ke segala penjuru rumah.

Sementara rumahku, posisinya paling belakang sendiri, dekat dengan kebun atau rawa. Bangun-bangun sudah seperti kapal pesiar yang sedang berlayar. Air persis dibawah batas lantai teras rumah. Padahal kemarin-kemarinnya, lantai plesterannya masih bisa selamat dari banjir. Alhamdulillah, saat membangun, rumah kami memang didesain tinggi, mengingat daerah rawa dekat dengan sungai aliran air sehingga langganan mendapat kiriman air hujan. Tetapi enggak sampai masuk rumah. Hanya teras-teras yang kotor dapat kiriman tahi ayam banyak. 

Hehe, namanya di kampung, orang bebas pelihara ayam meskipun peliharanya dikebun sendiri dan ayam berkeliaran bebas sampai ke rumah tetangganya ya sah-sah saja. Bahkan, sudah menjadi langganan setiap hari rumahku dapat kiriman tahinya. Karena banjir dan ayam-ayam enggak punya lahan bebas berkeliaran, terasku yang jadi pelampiasan para ayam angkruk-angkruk sampai buang hajat. Meskipun sudah diusir beberapa kali, tetap aja diulangi saat si empunya ini lengah. Sampai capek ngusir dan enggak enak sendiri sama tetangga sebelah yang punya ayam. Seandainya ayam bisa baca, pengen deh kutempelin papan pengumuman, "Ayam gak boleh eek di terasku lagi ya." 

Fyuh, ngadepin orang kampung apalagi masih ada hubungan saudara, enak nggak enak ya ditelen aja. Enggak mau ribut dan menjaga keharmonisan dalam bertetangga. Pada episode ini suamiku dibikin bimbang, istrinya susah, yang punya ayam saudaranya sendiri tapi enggak mau mengerti sama sekali. (Padahal mau cerita banjir kok jadi cerita tahi ayam ya. Ntar deh kalau enggak lupa akan aku ceritain, termasuk kegalauan kami mengahadapi tetangga kayak gini. InsyaAllah)

Jadilah seharian ini rumah kami jadi tempat pengungsian para korban banjir dadakan. Tetangga dekat, adik ipar, ponakan-ponakan dan anak-anak tetangga yang enggak pada betah di rumah ngumpul di rumahku. Seharian rame, mereka betah sampai sore karena banyaknya buku-buku di rak buku. Sekedar membolak-balik majalah, ataupun membaca-baca. 

Beruntung aku punya persediaan mie instan banyak. Banjir begini enggak ada yang jual sayur. Mau keluar beli makanan pun terhadang air, susah jalan malah kena mogok motornya. Mereka cukup senang kujamu dengan mie instan dan moccacino ice. 

Beberapa dari mereka ada yang pulang, ada pula yang sampai menginap di rumah termasuk adik ipar yang tinggal di rumah mertua, masih tergenang air. Sementara mertuaku kuajak mengungsi ke rumah enggak mau, ruang belakang sudah surut dan bisa dibersihkan. Katanya sambil menunggu rumah. Tinggal bagian kamar-kamar depan saja. 

Memang banjir kali ini luar biasa. Tadi sempat jalan-jalan, pukul 21.00 air masih setinggi betis orang dewasa. Lumayan surut, meski butuh waktu lama karena air sepertinya terjebak enggak bisa mengalir sama sekali. Mudah-mudahan besok, sudah surut dan semua bisa berbenah kembali. Termasuk PRku, seharian enggak pegang laptop perhatian tertuju pada banjir, tadi sempet ditagih redaksi, etapi ngeblognya yang didahulukan. Hehehe, peace Mas Didik, juga untuk teman blogger sekalian maaf belum sempat blogwalking dan kunjungan balik. Doakan kami ya^_^
Banjir hari pertama masih dibawah lantai plesteran, dan itu sudah selutut tinggi lantai plesterannya. Banjir hari kedua sudah diatas lantai plesteran, setinggi mata kaki orang  dewasa

Friday, May 30, 2014

No Money

Tabungan receh kami
Sawang sinawang kata orang jawa. Maksudnya, kebahagiaan dan kesusahan orang lain hanya bisa dilihat (sawang) dari luar. Kenyamanan atau keenakan seseorang hanya dalam pandangan mata orang lain saja, berbeda dengan yang mengalami sendiri.

Seperti kami, selalu dipandang orang enak dan tak pernah kekurangan. Aku cukup mengamini dan mengucap alhamdulillah, karena kupikir hal tersebut adalah doa untuk keluargaku. Tapi orang tak pernah tau jika kamipun sama. Kerap kekurangan uang alias no money. Kejayaan hanya dalam pandangan mata, mereka tak pernah tahu kebutuhan kami ataupun tanggungan kami.

Kerap kami memang menjadi jujukan mereka yang butuh uang untuk berhutang. Sekedar ratusan ribu atau jutaan. Jika yang berhutang saudara berat rasanya menolak. Kalaupun tak ada, selalu kami sisihkan semampu kami untuk membantu mereka walaupun tidak banyak sesuai yang mereka butuhkan. Bahkan pernah ada yang meminjam sekedar 25.000 padahal tanpa ia (yang hutang) tahu uangku cuma 30.000. Aku cukup membawa 5.000 asal bisa untuk ongkos pulang dari Surabaya, kalau-kalau aku kehabisan bensin di tengah jalan.

Bagiku membantu tidak menunggu ketika harus ada uang. Keadaan no money pun sebisa mungkin turut membantu. Bagaimanapun ketika orang berhutang minimal dia sudah mempunyai keberanian, keberanian untuk menungungkapkan hutang. Eh iya lho. Kerap kalo aku kehabisan uang dalam keadaan no money, justru aku lebih memilih kelaparan. Tidak belanja, suami cukup kuberi makan dengan lauk sambal. Pernah ketika 3 hari sebelum gajian, uang belanja sudah menipis. Uang cukup untuk jatah rokok suami, akupun memutar otak bagaimana caranya kita bisa tetap makan tanpa belanja dari berhutang.

Seperti bulan ini, sejak awal bulan sudah pengeluaran habis-habisan untuk finishing rumah dan acara syukuran lebon omah. Sama sekali uang sudah menipis-pis-pis. Bagiku itu bukan masalah, untuk makan bisa diatut. Justru yang jadi pikiranku ketika orang berhutang sedangkan aku dalam keadaan no money seperti ini.

Sudah dua kali tetangga depan rumah sekaligus istri dari ce-est suamiku datang untuk berhutang. Yang pertama uang yang dipinjam cukup besar, jelas aku tidak punya. Ini yang kadang disebut orang sawang sinawang, mereka tak menyadari bahwa ini masih bulan yang sama saat syukuran rumah. Tentu aku banyak pengeluaran. Namanya orang berhutang, yang mereka kedepankan adalah keberanian, entah berani atau memang memberanikan diri, mereka tak pernah mengetahui kebutuhan kami lebih besar bulan ini.

Hal inipun diulangi lagi, hari ini datang kepadaku lagi dengan maksud sama. Tapi lain, hanya sekedar 10.000 saja. Jangan dilihat kecilnya nominal. Justru aku melihay nominal 10.000 ini lebih urgent daripada yang ratusan ribu sebelumnya. Mungkin saking enggak ada uangnya, sampai untuk makan sang anak yang hanya 10.000 saja harus berhutang. Apesnya lagi aku yang diharapkan memberi hutang, justru tak punya uang sepeserpun. Semua lembaran uang terbawa suami. Ada, itupun uang koin dalam celengan botol yang tak pernah kubedol meski aku sendiri butuh uang. Ah, betapa tidak berharganya aku, dua kali mengecewakan. Mungkin yang kali ini dia lebih kecewa lagi, sirat wajahnya bisa mengatakan, betapa pelitnya aku uang 10.000 saja tak mau menghutangi. Kalaupun ada ngapain berhutang kalau cuma sepuluh ribu, aku ikhlas memberikan tanpa akad hutang.

Duh, aku sendiri menyesal. Tak bisakah uang gajian suami dimajukan Jumat pagi tadi? Atau hutangnya petang saja ketika suami sudah gajian?

Sak sugih-sugihe uwong mesti ono mlarate
Sak mlarat-mlarate uwong mesti ono celengane. 
Mulane uwong ojo mandang bondo. Kita tak pernah tahu, apa yang nampak di depan mata tidak berarti demikian.

Rumah Bocor

Setiap pasangan pasti ingin memiliki rumah. Terlepas bagaimana bentuk dan rupanya, harapan agar anak dan isteri tidak kehujanan dan kepanasan hati pasti tenteram. Nggak kebayang jika rumah sebagus atau segedhe apapun jika nyatanya setiap hujan selalu kebocoran. Dalam iklan sebuah cat sudah digambarkan bagiamana tidak nyamannya tidur dengan kondisi kebocoran.

Hiks, sedih sekaligus bersyukur jika mengingat masa-masa kebocoran. Di rumah kontrakan sebelumnya (Kebon Agung) hampir tidak pernah tidak kebocoran setiap kali hujan. Bahkan hujannya pagi, rembesan air yang menetes bisa sampai sore, atau sebaliknya ketika hujan malam tidak bisa tidur nyenyak, kebangun keingat tandon bocor jangan sampai kepenuhan dan meluber kemana-mana.

Kalau rumah kontrakan kutinggal kosong, selalu ini yang menjadi pikiran. Dan bisa dipastikan sesampai di rumah air sudah melebar kemana. Tahu lah, kudu dipel untuk mengeringkannya. Dan angkut-angkut airnya juga. Capek bray. Bukan cuma capek angkut-angkutnya, capek dari luar yang enggak bisa langsung istirahatnya ini yang berat.

Bagai makan buah simalakama, aku sendiri bingung harus berbuat apa. Rumah tersebut bukan rumah kami. Sementara orang yang (merasa) diberi tanggung jawab, terkesan angkat tangan. Masak selalu beralibi, "ini bocor kalau hujan angin saja Te, kalau enggak angin nggak bocor, sama dengan rumahku."

Ngadu ke pemilik rumah juga akan membuat orang yang diberi tanggung jawab ini sakit hati. Katanya aku dibilang enggak beretika melangkahi dia. Bahkan ketika aku minta ketemu langsung sama pemilik rumah, ybs merasa aku enggak percaya sama dia. Ya keleus aku ngontrak rumah bodong.

Duh capek berurusan sam orang itu, dan emang kata tetangga-tetangga orangnya memang suka mencampuri urusan orang lain mulu.

Lama-lama aku capek ngomong sama orang tersebut. Omdo, ngomongnya kemana-mana diberi amanat rumah tersebut, tapi enggak pernah ngasih solusi. Mau aku benerin sendiri (bayar tukang maksudnya) juga ini bukan rumahku. Karena yang bocor ini butuh bongkar. Harus pemilik rumah.

Bahkan kerap aku sudah membenahi di sana sini untuk meminimalisir kebocoran. Padahal kata tetangga-tetangga itu tanggung jawab pemilik rumah. Termasuk salah satu alasan tersebut kami memilih pindah cepat.

Bersyukur banget aku enggak lama di sana cuma 1,5 tahun dari dua tahun perjanjian kontrak. Ternyata rumah yang aku planing akan bisa ditempati tahun depan, sudah bisa kami tempati sejak 3 minggu yang lalu. Enggak ada yang bocor. Bahkan crocohan (jatuhnya) air di tepian genting kerap membuat lantai kotor karena terkena tanah, langsung dibenahi, diplester dengan semen. Sehingga crocohan air yang ke latai cuma dalam bentuk air. Enggak pakai ngepel-ngepel lagi kalau hujan. 

Thursday, May 15, 2014

Pindahan Rumah dan Piring Simpanan

Hal paling menyebalkan bagi kontraktor adalah saat pindahan. Yap, kegiatan angkut-angkut barang ini menguras tenaga banget. (Eits bukan kontraktor sebuah bidang pekerjaan ya. Tapi kontraktor yang kumaksud adalah penyewa rumah kontrak. Disebut kontraktor karena kontrak sana kontrak sini, hehehe). Gak selesai dalam sehari dua hari. Bahkan bisa memakan waktu secepatnya satu minggu sampai barang-barang bisa tertata rapi di rumah baru.

Menurut survey yang aku lakukan pada teman-teman sesama kontraktor atau yang pernah berpengalaman menjadi kontraktor. Barang-barang para kontraktor bisa beranak pinak. Pengalaman saat pertama kali pindahan ke rumah kontrakan pertama, barang-barang kami cukup diangkut dengan satu pick up, termasuk lemari besar dan dipan. Dan, satu setengah tahun berselang, tepat kemarin (malam waisak) kami pindahan ke rumah yang baru saja selesai kami bangun, harus menyewa dua pick up. Wkwkwk, kami sampai geleng-geleng kepala. Ini barang semua, tidak termasuk sampah, baju-baju dan barang-barang yang sekiranya enggak kepakai sudah diberikan orang.
Rumah yang kutempati ketika masih dalam tahap pembangunan. Kelihatannya besar karena berbentuk horizontal memanjang ke samping. Ukurannya hanya 9x6 meter tidak termasuk teras
Yang bikin puyeng nih, gimana menata barang sebanyak ini? Rumah yang baru seminggu ini kami tiduri, hanya berukuran 9 x 6 meter. Terdiri dari dua kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi dan ruang tengah yang jadi satu dengan dapur dan segala hal. Masih luasan rumah kontrakan yang kami tinggalkan. Harus pinter-pinter ngaturnya. Secara, di rumah kontrakan tersebut ditata gimana aja tetap terasa barang masih berserakan. Terutama piring-piring yang selalu nambah setiap beli detergent. Sampai bingung taruh mana.

Satu-satunya jujukanku adalah si Mbah Gugel, yang pasti memberiku solusi pertanyaan apapun yang kuajukan. Termasuk keluhanku kali ini, bagaimana solusi tempat penyimpanan pada ruangan sempit? Dari beberapa artikel yang kutemukan. Artikel ini menyadarkanku, ternyata selama ini aku salah dalam penataan piring.

Aku menatanya mirip seperti saat piring masih basah, ditumpuk tengkurap miring. Padahal penataan begitu disarankan supaya air cepat menetes. Sedangkan piring yang kumaksud adalah piring yang disimpan yang otomatis sudah keringlah ya kok ya masih di miringkan. Malah mengahabiskan space banyak.

Pantesan barang-barang dalam almariku nampak berserakan. Secara kolong almarinya luas, muat untuk barang apa saja, kayak pancipun masuk. Tetapi barang-barang yang kecil-kecil rasanya perlu disekat lagi seperti gambar dibawah ini agar nampak rapi jali. Piring simpanan ditata tumpuk keatas. Juga bisa untuk space gelas simpanan sendiri dan barang-barang lainnya supaya enggak berserakan campur jadi satu.
Inspirasi penataan ruang dapur (sumber gambar)
Hemm... Jadi semangat menata rumah kalau sudah ketemu solusinya seperti ini. Semangaaaat!

Tuesday, March 11, 2014

Jadwal Yang Tumpang Tindih; Maafkan Aku FLP Sidoarjo

sumber ilustrasi

Jadwal hari Minggu kemarin tumpang tindih. Mulai dari muscab, nikahan sahabatku di jombang, sampai dengan acraku sendiri pembangunan rumah yang belum selesai. Semua jadwal tersebut penting terjadi dalam satu hari yang sama.

Muscab FLP Sidoarjo.
Muscab ini sudah mundur lama. Bahkan sudah sangat terlambat. Aku sendiri sebagai Andal di FLP Sidoarjo merasa gagal karena ketidak konsistenanku sendiri. Aku jarang muncul di FLP terlebih 3 bulan belakangan terkait pembangunan rumah yang butuh perhatian ekstra.

Aku baru sadar ketika akhir bulan Februari kemarin diundang dan dimintai LPJ ketua cabang FLP Sidoarjo, Rafif Amir Ahnaf, aku belum bisa maksimal menjadi pengurus. Kuiyakan saja, meski pada akhirnya akupun tak bisa hadir atas persiapan Muscab Minggu lalu. Dan merasa bersalah banget hari ini kulakukan hal sama. Absen dari Muscab. Maafkan aku FLP :(.

Nikahan Sahabatku
Sahabatku ketika kuliah di MEC (Mandiri enterpreneur center) menikah. Bingung saat mengetahui hari H pernikahannya bertepatan dengan Muscab FLP. Tak mungkin bisa aku menepati keduanya. Harus memilih karena resepsinya di Jombang. Waktu sehari (pagi-sore) rasanya enggak cukup. Apalagi Muscab FLP waktunya pagi. Tak cukup waktu juga aku mengejar jika berangkat siang.

Ingin aku menolak undangan, tapi itu sungguh diharamkan agama. Sahabatku begitu pengertian. Belum kukatakan apapun tentang kehadiranku, dia memberiku kelonggaran. Ah, rasanya aku ini memang tak pernah bisa menjadi sahabat yang baik di kala sahabatnya bahagia. Ingin rasanya aku memeluknya saat itu, dan mengalungkan selempang, "Kau sahabat terbaik dunia akhirat yang tak membiarkan sahabatmu ini berdosa dengan janjinya".

Bisa jadi aku menyanggupinya datang meski aku tak yakin bisa atau enggak. Dan aku sadar hari ini, dia telah menyelamatkanku dari kubangan dosa.

Pembangunan rumah
Pada akhirnya jadwalku terhenti pada penyelesaian pembangunan rumah. Tempat tinggalku yang jauh, kami hanya bisa memantau seminggu dua kali. Pada hari sabtu dan minggu. Sabtu kemarin yang tidak bisa karena terkendala syuting company profil, akupun tak mungkin bisa menunda lagi minggu depannya. Apalagi pembangunanku sudah tahap paling penting yaitu pemasangan genteng.

Meski bukan paling akhir dari semua proses, pemasangan genteng termasuk tahap akhir dari tahap utama. Setelah itu mungkin tak banyak aktivitas. Nunggu uang agar bisa mengerjakan finishingnya.

Ternyata benar seharian ini aku banyak berurusan dengan galangan, membelikan kudapan tukang, membuatkan makan siang, kopi dan sebagainya. Meski ada lagi satu jadwal juga tertunda, mengambil "pagar" rumah di Mojokerto. Lelah sepagian terbayar. Bisa dibilang rumahku sudah berdiri utuh. Aku bisa melihatnya berdiri kokoh, bukan khayalan seperti keraguanku 3 bulan sebelumnya. Semua ini memang karena keberanian, tak akan jadi apa-apa jika kami tak berani memulai.

Terharu dan sedih jika mengingat hari Minggu kemarin. Banyak sekali janjiku yang terabaikan. Yang membuatku menyesal adalah soal Muscab. Sungguh, prediksiku bisa kuhadiri jika bukan tahap penyelesaian tahap utama. Jika tak ada aku siapa yang akan menyelesaikan hutang-hutang material di galangan. Memang ada suami, tapi kami harus berjibaku bersama, tak mungkin semua pekerjaan tertumpu untuknya. Hiks... apapun alasannya aku ingin membayar janjiku. Entah dengan apa. Maafkan aku teman-teman FLP Sidoarjo.


Monday, March 10, 2014

Shooting Company Profil Yatim Mandiri

Sebenarnya pada foto selfie sebelumnya merupakan pelampiasan kegagalan shooting company profil yayasan tempat dimana suami bekerja, pada Kamis, 6 Maret 2014 lalu. Kemarinnya, 05 Maret 2014, ketika suamiku cuti untuk moment adhek kuda-kuda sekaligus ulang tahunku, aku dikontak sama rekan kerjanya. Parno juga sih awalnya, karena kebiasaan suami kalau sudah cuti malas ngangkat telepon dan balas sms. Seharian itu, HP-nya yang dititipkan di tasku, menjerit-jerit. Kupikir telepon tersebut akhirnya masuk juga di HPku. Ternyata urusan lain, memintaku terlibat dalam pembuatan video company profil.

Bagaiamana bisa aku terlibat dengan tempat suamiku bekerja? Bisa dibilang aku dan suamiku memang cinta lokasi. Aku adalah salah satu purna asuh dari yayasan tersebut, ketika pada akhirnya aku juga bekerja di sana dan bertemu suami yang waktu itu karyawan baru. Beberapa tahun kemudian menikah deh. Itu sih singkat ceritanya, meski ada cerita versi panjangnya juga hehehe. Lantas karena kami menikah, tak dibolehkan satu kantor, akhirnya aku yang memilih keluar. Tapi aku masih sering membantu, hanya sekedar meringankan pekerjaan suami.

Setelah sempat gagal, shooting tersebut disepakati lagi hari Sabtu, 8 Maret 2014. Jika sebelumnya lokasi tempat shooting di rumah produksi jamur, salah satu tempat usaha purna asuh lain, kali ini shootingnya di rumah (baca: kontrakan!). Jadi aku enggak perlu kemana-mana. Krunya yang datang ke rumah.

Gambar yang dibutuhkan memang karakter kesuksesan dari purna asuh. Alhamdulillah, aku dianggap sukses, lebih tepatnya yatim binaan yang sukses, meskipun banyak sekali di luaran sana yang lebih sukses dari aku. Yang semangatnya lebih luar biasa dari aku. Juga lebih menginspirasi dari aku.

Jadilah sehari sebelum waktunya shooting aku bersih-bersih ruang buku yang menjadi karakterku dalam bidang kepenulisan. Selain menjadi tempat buku, ruang bukuku memang seperti gudang, tempat menaruh barang-barang lain. Tas, sepatu, baju bekas, kerudung, juga kertas-kertas kerjaan suami yang dibawa ke rumah. Ketika waktunya shooting hanya tinggal rak buku dan beberapa tas saja yang masih nyerentel indah.

Bersama dua kru, mulai dari tahap persiapan setting tempat pukul 10.00 dan baru selesai pukul 12.00. Padahal durasi gambar yang dibutuhkan hanya satu menit. Sebentar ya, tetapi enggak mudah ternyata. Kalau candid enak tanpa disadari, tetapi ketika diri ini sadar berhadapan dengan kamera groginya luar biasa, Berkali-kali gagal take, intonasinya kurang, mimik muka, sampai dengan endingnya yang aku enggak fokus ke kamera.

Di awal sudah ditekankan sama kru, setelah selesai kudu fokus terus ke kamera barang beberapa detik. Etapi karena grogi, semuanya buyar. Bahkan take yang menurutku paling bagus justru gugur gara-gara endingnya. Hiks.

Sayangnya kemarin enggak sempat mengambil gambar pas aku shootingnya. Boro-boro kepikiran ambil gambar, yang ada bagaimana aku bisa menjadi aktris papan triplek menyelesaikan shooting ini dengan baik. Semoga saja hasilnya enggak mengecewakan pihak yayasan.

Saat mengobrak-abrik mau menata ruangan

Rak buku sudah rapi (nggak) jali, karena dioprek lagi sama kru untuk tata letak buku
Setting shooting company profil
Yayasan yang menerbitkan buku ini yang menyertakan profilku dalam company profilnya.

Friday, March 07, 2014

Gagal Surprise Part 2

Suamiku itu paling suka bercerita. Pendongeng favoritku. Our time kami yang paling aku senangi saat ia bercerita. Biasanya tentang cerita hikmah atau kerajaan-kerajaan kuno. Bahkan pernah bercerita tentang Angling Darma secara detail.

Setelah pulang dari acara adhek kuda-kuda seharian. Aku memang sedang nggak mood, menyendiri di kamar sembari blogwalking. Mungkin dikiranya aku ngambek atau apa. Sehingga dia menyusulku ke kamar dan rebahan di samping sembari manawariku.

"Dhek, aku punya cerita. Mau nggak aku ceritain?" 

"Nggak mau."

Bukan apa-apa sih. Aku parno saja. Ada kalanya cerita suamiku memang mengada. Sudah didengarkan serius, ujung-ujung itu aku yang tujuannya untuk ngeledek. Kejelekan, kemarahan bahkan pertengkaran yang kerap terjadi sering menjadi bahan lelucon dalam ceritanya. Kadang kubalas dengan hal sama menceritakan dia. Karena sedang malas membalas aku emoh mendengarkan ceritanya.

"Dengarkan dulu. Ceritane apik."

Aku melengos. Tak putus asa dia tetap mengawali ceritanya. Meskipun enggan, kudengarkan juga. Ceritanya memang bikin penasaran. Dan itulah menariknya suamiku. Dia bisa mempermainkan narasi dan intonasi, sehingga cerita terdengar menarik. Bahkan seringkali teman kerjanya melapor ketika suamiku mendongeng sampai terpingkal-pingkal, yang juga pernah diceritakan kepadaku tentunya. Dan kemarin ternyata ceritanya tentang sejarah aksara jawa Ha Na Ca Ra Ka.

"Udahan ceritanya, makan ayok. Laper!" Pungkasku untuk menunjukkan kekesalanku sepagian ia memarahiku. Seperti biasanya suamiku cuma garuk-garuk kepalanya yang enggak gatel.

"Oh iya, enggak usah masak. Sampean ganti baju aja sekarang."

"Mau kemana?"  Tetapi dalam hati aku bersorak, yeay enggak usah masak. Paling juga ke warung sego tabokan.

"Ada deh, pasti sampean suka."

Rupanya suamiku baru sadar hari ini hari ulang tahunku. Bukannya lupa, karena memang tersita dengan acara adhek kuda-kuda. Dan sejak lama sudah direncana akan mengajakku makan di tempat ini saat ulang tahunku. Tetapi tetap saja ujung-ujung lupa, baru inget pukul 21.00-an sudah larut malam.

Padahal sebelumnya kami sudah sepakat untuk berhemat makan seadaanya, walaupun hanya dengan sambal demi rumah kami supaya cepat selesai dan enggak menumpuk hutang banyak-banyak. "Mahal pasti ya Mas, enggak deh. Mending ke sego tabokan aku mau."

"Murah kok Dhek, paling cuma lima puluh (ribu) enggak sampai seratus (ribu)."

Secara kilat tanpa riasan aku cepat-cepat ganti baju. Toh sudah larut siapa juga yang melihat. Anehnya, tumben-tumbenan suamiku bikin acara surprise-surprisan segala. Tetapi bukan suamiku namanya kalau dia bisa menutupi surprisenya.

"Hallah pasti ke pazkul kan?"

"Nggak. Pokoknya membuat sampean suka. Ada tumpengnya tapi mini untuk satu orang"

Apa ya? Kalau melihat dari jaraknya sih enggak jauh-jauh amat. Soalnya enggak bawa helm. Di atas laju motor aku mencoba menebak.

"Duck land pasti."

Dia gedek.

"Ehm... kasih clue dong!"

"Sampean pernah ke sana. Tapi enggak pernah makan tumpengnya."

Sampai aku menyebutkan sebuah tempat yang hanya kukasih clue doang, "depannya duck land ya?"

Suamiku yang enggak bisa bohong, cuma tertawa nyengir meng"iya"kan[.]

Ternyata yang dimaksud suami nasi goreng tumpeng. Pernah makan di sini, tetapi enggak beli nasi goreng. Belipun dibungkus.

Surprise Gagal Terindah Part 1

Jelly Shoes yang amat kuinginkan
Sejak Mbak Dewi Neelam membuat garage sale sepatu di sini, aku tertarik dengan yang namanya Jelly Shoes. Namanya jelly sepatunya pasti kenyal, dan nyaman banget kelihatannya. Modelnya juga cute banget, ada pita di atasnya. Sayangnya, saat aku mau ambil sudah sold.

Saking pinginnya aku mencoba searching Jelly Shoes di Instagram. Yap, untuk mencari barang via gadget memang lebih mudah dengan Instagram melalui taggar-taggar. Aku mengetika macem-macem. Mulai dari #jellyshoes yang postingannya sampai 50.000. Memang untuk taggar bahasa inggris biasanya lebih mendunia karena lebih banyak yang menggunakan. 

Tetapi taggar-taggar bahasa inggris itu justru menjerumuskan. Yang muncul banyak sekali model yang enggak kuinginkan. Sampai aku cari #jellyshoescantikmurah hahaha. Pokoknya semua kata dipakai sampai aku menemukannya, namanya juga usaha.

Dari pencarianku selama hampir 5 hari, aku mendapatkan pencerahan ternyata untuk jelly shoes brand Viviene Westwood Mellisa atau yang lebih di kenal Jelly Shoes Mellisa adalah paling favorit dan yang kucari selama ini. Sama halnya seperti brand brand lain, seperti charles n keith, brand Viviene Westwood Mellisa juga import. Sayangnya harga barunya mahal :( sampai kubuat wish list dalam akun instagramku @nunuelfasa harga sekennya masih di atas 100.000.

Ketika ada waktu ngobrol dengan suami. Kutunjukkan gambar sepatu seken Mellisa yang dijual pemiliknya. Kukatakan kalau aku ingin membelinya. Itung-itung kado ultah gitu lho. Tetapi direject sama suami. Pasalnya memang saatnya aku udah nggak kalap belanja-belanja lagi supaya bisa menghemat.

"Sekali ini sajalah mas."

"Enggak usahlah dhek. Sudah kusiapkan kado buat sampean."

"Ha? Serius?"

"Lebih bagus dan lebih mahal dari sepatu itu."

"Apa yank? Sepatu? Baju? Atau tas?" Sembari tersenyum-senyum gembira. Tumben-tumbenan.

"Rahasialah. Harganya diatas 500.000"

Mahal bangeeeeet. Emang apa ya? "Aku enggak mau kalau semahal itu. Mahal keterlaluan itu mas. Mending sepatu ini saja. Dapat kembali 300.000 lebih"

"Bukan untuk sampean. Tapi untuk bakal rumah kita."

"Ha? Ya kan aku yang ulang tahun. Kalau untuk rumah ya namanya kebutuhan. Nggak adil bener." Protesku.

Baru diprotes begituan suamiku ternyata membuka rahasia. Ternyata membelikanku sebuah pajangan rumah dari tenun. Salah seorang bunda yatim (janda) yang yatimnya menjadi binaan di tempat kerja suami menawarkan hasil karyanya. Selain karena memang usahanya, si bunda butuh uang untuk berobat. Oleh suami dihargai dua kali lipat. Sudah di depe tetapi karena ngambilnya di kampung halamannya, baru ada bulan depan dan akan dibayar lunas ketika ada barangnya.

Ya, okelah enggak papa yank :). Ini surprise gagal terindah. Semoga bermanfaat buat ibunya.

Wednesday, March 05, 2014

Apa Itu Adhek Kuda-kuda, Makna Kenduri dan Kaos Bendera Rumah

Sajian saat kenduri adhek kuda-kuda, sayang ngeblur ya dan lupa ngambil foto pas kendurinya

Kali pertama kami membangun rumah, kali pertama pula ini kami alami, selamatan untuk adhek kuda-kuda seperti yang sebelumnya aku ceritakan di sini. Harapannya ini bukan yang terakhir, ingin membangun lagi untuk kos-kosan. Ya, impianku adalah memiliki bangunan rumah atau kamar khusus untuk disewakan tiap bulan.

Dalam tradisi jawa ketika pembangunan rumah sudah pada proses adhek kuda-kuda, disertai dengan kenduri atau selamatan. Beda-beda tradisinya, ada yang dengan melakukan open house mengundang orang sekampung. Tidak serta merta, orang kampung juga membawakan oleh-oleh untuk kita istilahnya menyumbang entah beras, minyak, gula dan sebagainya. Itupun menurut pengamatanku pada tetangga sebelah yang notabene orang bali mengatakan, ingin membantu aku ketika sudah proses adhek kuda-kuda sebagai penerima tamu. Bingung juga karena kami tak menyebar undangan. Etapi aku juga yang luput pengamatan, di kampung sebelah juga demikian tradisinya. Tergantung niatnya juga, kami cukup kenduri saja.

Adat sebenarnya bukan pada proses adhek kuda-kudanya, melainkan pada proses kendurinya. Apa saja yang disajikan dan apa saja yang disajikan? Menurut pengamatanku, sajian untuk selamatan adhek kuda-kuda tak ada bedanya dengan sajian umum adat jawa biasanya yang terdiri dari; ayam panggang, sego golong, bubur sengkolo, nasi kebuli atau nasi kuning. Itupun optional tergantung kepercayaan juga sih. Kami berusaha mentaati orang tua selagi itu baik dan tak menyalahi akidah. Toh sama halnya dengan berbagi alias shodaqoh.

Apa saja sajian untuk selamatan adat jawa terutama untuk adhek kuda-kuda yang baru saja aku jalani hari ini? Berikut beserta makna dan simbol-simbolnya:

1. Sego Golong Sejumlah 9 Golong
Sego adalah nasi, sementara golong adalah gelonggong atau bulatan nasi, yaitu nasi yang dibulat-bulat sejumlah 9. Dimaksudkan agar rezeki yang punya hajat, golong-golong. Ibaratnya kalau sak golongan itu se gelonggong, kalau golong-golong diharapkan rezekinya lebih banyak bergelonggong-gelonggong. Sementara jumlah sembilan hanya sebagai simbol wali di jawa ada 9. Kenapa mesti wali? Setahuku walilah yang mengenalkan Islam melalui adat-adat jawanya.

2. Nasi Kuning atau Nasi Kebuli
Fisik nasinya memang berbentuk kuning sehingga sering disebut nasi kuning. Secara filosofi nama nasi ini adalah kebuli, bukan nasi kebuli arab. Tetapi maksud dari nasi kebuli adalah Kabul. Supaya doa dari yang punya hajak juga terkabul.

3. Bubur Sengkolo
Sama saja seperti bubur lainnya. Sengkolo hanya istilah dari bubur merah putih. Bisa dari bubur beras atau bubur tepung. Asalkan warnanya merah putih. Warna merahnya bukan merah asli yang ngered. Tetapi merahnya berasal dari gula merah atau gula aren yang sejatinya jika dimasak tak menghasilkan warna merah melainkan warna coklat. Begitupun dalam bubur tetap orang menyebutnya sebagai bubur merah. Sementara putihnya bisa jadi dari bubur tersebut dibagi menjadi dua bagian, menggunakan gula pasir (putih) dan satunya menggunakan gula merah dalam satu piring. Tetapi ada juga yang putihnya cukup menggunakan santan atau taburan kelapa. Yang penting nampaknya merah putih layaknya lambang bendera negara kita Merah Putih. Tetapi secara filosofi, sengkolo dimaksudkan adalah musibah atau balak. Sebagai pengharapan agar pemilik hajat bisa terhindar dari musibah yang akan menimpanya.

4. Jajan Pasar
Adalah makanan ringan. Bisa berupa snack atau makanan ringan lain yang terdiri beraneka ragam rupa dan rasa. Memang jajan pasar dianjurkan lebih dari satu macam sebagai simbol keragaman hidup bertetangga agar tetap tenggang rasa dan hidup rukun bersama.

Empat utama tersebut yang penting yang aku amati dalam sajian tadi, sementara untuk ayam panggang, sayur urap-urap kelapa, sampai rempeyek adalah pelengkap menu untuk kenduri. Berbeda lho dengan menu bingkisan atau berkatnya. Ada sendiri, berisi nasi, lauk-pauk dan jajan pasar. Isi biasanya terserah yang punya hajat. Kalau ibu mertua biasanya nasi dan urap-urap sudah sekalian dimasak dengan masakan yang untuk kenduri, sementara ikannya ayam goreng krispi yang tinggal membeli untuk mengurangi kerepotan.

Dan khusus pada moment adhek kuda-kuda ada bungkusan spesial buat tukang dan kulinya. Jika yang lain cuma dapat berkat, tukang dan kulinya dapat tambahan bingkisan pakaian sepengadek (satu badan). Mulai dari sarung, kaos/kemeja, dan kopiah (tapi kami ganti dengan sorban stock bingkisan bapak ibu pulang umroh).

Mulanya kemarin waktu aku ke Mall Ramayana sambil bermahendi ria, sejatinya adalah untuk membeli kaos juga. Kata suami kaos ini untuk bendera. Jangan tanya untuk bendera apaan, aku sendiri gagal paham. Apakah disobek-sobek dan diikat pada tiang rumah? Atau ditancapkan saat adhek kuda-kuda. Enggak. Kaos itu ya untuk para tukang dan kuli yang berjumlah 4 orang.

Ibaratnya mereka adalah yang akan memberdirikan kuda-kuda sehingga harus diberi seragam. Apa maksudnya? Ah enggak tahu juga. Baru ngeh tadi saat 4 kaos yang kubawa disatukan dalam bingkisan tersebut. Cuma diberikan gitu aja. Terserah mereka mau pakai atau enggak. Ya mana mungkin barang baru dipakai berkotor-kotor. Sampai aku tuliskan di sinipun aku masih gagal paham maksudnya, kaos itu sebagai bendera dan seragam kuli dan tukang? Ada yang tahu?

Adhek Kuda-kuda; Kemarahan Suami Jumpalitan Seharian

Sepagi ini aku dibikin kesel suami. Aku kena marah terus. Biasanya tetep kalem meski marah. Pagi tadi lain. Andai saja aku yang dibonceng di belakangnya bisa melihat mukanya, pasti sudah mirip kepiting rebus. Sampai penjual cilok yang mangkal tepi jalan, mengalihkan pandangannya ke kami yang sepintas lewat. Ingin rasanya kukatain, “Apa lo? Nggak pernah melihat manusia dimarahin manusia?” saking geregetannya. Semakin aku membela diri semakin tinggi marahnya. Jadilah aku pasrah. Khusnudzon aja suami sedang ngerjain aku kali ya, ini kan hari ulang tahunku.

Kuakui memang akunya yang keterlaluan pakai banget. Rabu ini 5 Maret, selain moment ulang tahunku, juga moment penting dalam pembangunan bakal rumah kami. Yaitu adhek kuda-kuda. Dan aku terlambat membangunkannya. Mana jarak antara kontrakan kami dan tempat pembangunan di dekat rumah mertua lumayan juga, 20 menitan.

Ah, ya kebiasaan burukku memang tak bisa langsung ke kamar mandi saat bangun. Butuh waktu minimal 10 menit untuk memulihkan. Biasanya kelesetan di depan televisi. Padahal suami menunggu aku selesai siap-siap baru dia benar-benar bisa bangun. Soalnya dia ogah nungguin lama-lama. Jadilah benar siapa biang keroknya? Aku sendiri. Sampai ditelepon dan di sms mertua “bojomu, ibu gopoh kabeh gak onok sing ewangi” ke nomor suami. Maksudnya aku sudah ditungguin, ibu kewalahan tak ada yang membantu masak. Baru deh semua serba kilat hingga terjadi insiden tersebut.

Sebenarnya aku sendiri enggak tahu adhek kuda-kuda itu apa. Kalau dalam ilmu beladiri yang pernah kuikuti, suhuku selalu menekankan kuda-kudanya harus kuat. Jadilah kupikir kuda-kuda itu pondasi rumah yang harus lebih kuat juga.

Rupanya lain. Adhek (bukan adek saudara dibawah umur) berasal dari kata ngadek yang berarti berdiri. Sementara kuda-kuda bukan pondasinya, justru kuda-kuda atap rumah. Kayu-kayu besar yang diberdirikan untuk dipasang ketika rumah sudah berdiri agar bisa menopang kerangka atap tempat genteng-genteng bertengger.

Tetapi karena kesiangan kami lumayan telat. Malu juga sih, padahal kami ini yang punya gewe kok ya malah datang telat. Sodara-sodara seperti mas dan adik-adik ipar sampai dibelain cuti kerja. Bahkan adikku yang dosen dan jarang pulang karena sibuk banget di kampusnya, menyempatkan libur satu hari. Ah, terharu deh pokoknya, semua demi terwujudnya impian kami memiliki rumah.

Masalah yang sedari di jalan tadi seakan tak pernah ada melihat semua orang saling gotong royong hari ini. Melesat membeli jajan pasar untuk pelengkap sajian. Ada juga yang angkat-angkat nasi sampai proses kenduri di sela-sela adhek kuda-kuda. Lumayan untuk memberi jeda istirahat tukang dan kulinya.

Haru melihat kerumunan orang mengerubung makanan yang kami sajikan. Ditambah dengan doa-doa yang mereka panjatkan buat kami. Rasanya jumpalitan dan omelan suami sepagian ini terbayar. Capekpun enggak sampai aku bisa menulis sepanjang ini (menjadi dua bagian) di blog tercinta.

Namun ada rasa yang hampa, ada yang aku tunggu sepagian ini. Entah apa ya? Ah, itu. Rupanya aku salah menilai sampai sesore ini suamiku tetap bergeming tak ada tanda-tanda. Dan benar pagi tadi adalah kemarahannya, bukan dengan sengaja mengejaiku untuk menunjukkan surprisenya. Ah ya.... masih ada 6 jam ke depan kali saja masih ditundanya. Akupun masih menunggu. Tanpa sabar sih sebenernya. :(

Persiapan kenduri atau selamatan acara adhek kuda-kuda

Saturday, February 15, 2014

Pancake Durian

ilustrasi from wikipedia

Percaya nggak percaya, baru awal tahun ini aku mulai suka durian. Jangankan suka, mencium baunya saja eneg apalagi makan. Orang jawa eneg bisa jadi dua makna. Eneg artinya karakter buah durian baunya tajam. Eneg satunya bisa jadi muak. Kebanyakan karena eneg baunya, jadi eneg juga makannya.

Kalau masalah rasa buah durian pada varian makanan nggak bisa diragukan. Aku masih mau makan. Mau itu ice cream rasa durian, bahkan sampai snack durian harga 500-an yang bungkus hijau itu, bisa kalap serenteng gak inget umur. Makanya aku mau nyobain pancake durian.

Nggak pernah tau sama sekali bagaimana bentuk pancake. Seingatku cuma sekali diajak makan pancake sama sahabatku makan pancake strawberry di McD. Itupun bikin aku eneg. Entah karena memang aku sedang tidak selera makan, aku cuma nyengir doang ngelihat sahabatku doyan banget makannya. Lain kali enggak akan deh makan pancake lagi.

Tapi begitu ditag iseng pemilik akun ol shop pancake durian, aku jadi ngiler. Biasanya dongkol banget kalau ditag gitu-gitu. Seenak maunya ngetag orang. Apalagi di instagram, akun ol shop ajaib bisa tiba-tiba muncul dan sok kenal sok dekat. Begitupun dengan yang ini, anehnya malah kutanggapi. Dan enggak mikir harga langsung menyepakati harga dan ongkirnya.

Padahal mahal lho. Harga 1 box pancake durian isi 10 harganya mencapai 120.000. Kala itu ada promosi beli 2 cuma 200.000. Inget adek yang suka banget durian jadilah aku join sama dia.

Ol shop ini adanya di Surabaya, jadilah lumayan tenang bisa bayar di tempat. Akunya juga nggak sabar pengen cepet-cepet ngerasain pancake durian.

Enggak lama, sorenya aku ditelepon sang kakak ipar katanya ada paket kue untukku. Memang pancakenya aku alamatkan ke rumah mertua. Selain lebih dekat daripada rumahku (baca: kontrakan) yang hampir di tengah kota, ada adek iparku yang akan bayarin dulu. Pas adek ipar keluar jadilah diterima kakak ipar.

Enggak enak juga sih sama kakak. Beli kudapan saja sebegitu mahalnya. Mungkin bagiku tidak karena ada faktor "P"-nya, pengen. Tapi bagi kakak, daripada uang sebanyak itu buat beli jajan sekali makan habis, mending buat yang lain.

Enggak enak itu semakin bertambah kala ol shopnya tanpa konfirmasi minta tambahan ongkir ke kakak iparku.

Ini nih yang nggak aku suka dengan bayar di tempat menggunakan jasa ol shop pemiliknya sendiri. Dan hampi setiap kali demikian. Ketika bukan aku sendiri yang menerima, mereka minta uang lebih kepada keluarga lain yang kebetulan menerima barangnya.

Hampir semua keluargaku memang gak ada yang beli ol shop kecuali aku. Sehingga iya aja ketika diminta ongkir lagi. Ada yang terus terang bilang minta uang capek muter-muter nyari alamat atau kadang buat beli bensin. Beragam alasannya. Sama keluargu yang notabene enggak tegaan, ya dikasih saja. Beragam mulai dari 5,000 sampai 20,000. Pikirnya mereka memang sudah capek mengantar.

Begitupun dengan pancake ol shop ini. Sebelumnya memang telah disepakati ongkir 10,000. Padahal ukuran JNE reguler hanya 5.000. Nggak papalah 10,000 toh dikirim langsung enggak nunggu besok.

Kalau masih minta nambah, bagaimana mungkin ongkir Surabaya-Sidoarjo totalnya bisa 20.000? Bisa jadi ini akal-akalan dia buat nambah keuntungan dengan memanfaatkan kakak iparku. Meskipun harga promo, bukankah sudah dihitung keuntungannya? Kok masih ngemis (maaf) ke pembeli?

Bukan masalah nominal, kecil mah 10.000, tapi mengenai layanan bagaimana pembeli (aku) bisa sampai merasa tertipu dengan ol shop ini. Memang mudah mencari pembeli (baru) tapi yang sulit adalah mencari pelanggan apalagi setia.

Ketika dikonfirm alasannya sama saja, muter-muter nambah bensin. Semuter-muternya enggak habis satu liter apalagi sampai 20.000. Dengan gaya kenesnya merayuku, "makasih ya mbak, bapaknya baik deh. Lain kali order lagi ya mbak?"

"Bapak gundulmu, ra kudu."

Delcon saja.

Friday, February 14, 2014

Paket Abu Vulkanik Gunung Kelud Sampai di Sidoarjo

Pagi-pagi sudah batuk. Meskipun beberapa waktu yang lalu aku juga kena batuk tapi sudah sembuh sih. Eh, baru ingat semalam Gunung Kelud memuntahkan isi perutnya. Gunung yang terletak di Kediri itu berjarak 2 jam perjalanan dari Sidoarjo dan Surabaya tersebut terbawa angin hingga sampai kemari.

Pantesan dari pagi langit kelabu, bukan karena mendung akan hujan. Melainkan terkena dampak erupsinya Gunung Kelud. Genteng-genteng berdebu.

Ternyata memang meletusnya Gunung Kelud tak bisa diprediksi dan bisa kapan saja. Dan semalam merupakan letusan paling besar. Infonyapun aku lihat mendadak di televisi. Aku melihat sendiri letupan-letupannya melalui breaking news langsung semalam.

Teman-teman dan Sahabatku Hamidah di Kediri, Blitar, Malang dan seitarnya, semoga kalian baik-baik saja. Juga teman-teman di daerah lain, bagaimana kabar dampak erupsi Gunung Kelud di sana?

D sini setiap keluar rumah aku harus pakai masker. Begitupun jemuran, tak bisa menjemur. Untungnya jemuran yang terkena abu, jemuran kemarin yang lumayan kering. Jadilah pagi ini aku libur tidak mencuci baju.
Dedaunan di Sidoarjo juga turut terkena dampak gunung kelud 

Sunday, November 03, 2013

Masa SMP Dulu dan Kini

Yang kuingat ketika aku usia kelas dua smp adalah :
  1. Aku seperti murid paling bloon di antara para siswa kelas unggulan saat guru biologi menerangkan tentang alat reproduksi manusia.
  2. Aku merasa guru biologiku berbelit dan bertele-tele menjelaskan tentang alat reproduksi manusia. Hingga aku merasa yang bloon ini guruku apa aku sih yang susah mencerna penjelasannya.
  3. Ketika aku tidak mengerti dan tidak bisa mencerna maksud keterangan guru bisa dipastikan cara belajarku satu-satunya dengan menghafal. Dan kau tahu? Aku tak bisa menghafal jika tidak dengan suara lantang.
  4. Kebiasaan belajarku juga tak bisa sendiri, paling tidak didampingi emak. Dan kau tau? Aku pernah ditapok (tampar tapi di mulut) emak gara-gara aku menghafal dengan keras fungsi alat reproduksi manusia laki-laki. Ah yaa.. yang sudah menikah pasti tau dan mengerti tapi saat itu aku belum menikah dan tidak mengerti sama sekali.
Lalu?
Coba bandingkan dengan siswa SMP kelas 2 jaman sekarang. Duh miris sampai ada yang praktek divideokan segala. Mungkinkah cara guru biologi yang salah dalam mendidik? Atau kepala sekolah yang harus tanggung jawab? Orang tua apalagi. Yuk ah.. Jadi pelajar berprestasi saja jangan jadi pelajar yang membuat malu semua kalangan.


Tuesday, May 28, 2013

Beli Pentol, Bayar Dengan Nokia C-3

Ternyata menjadi orang teledor itu enggak enak juga. Bawaannya jadi sasaran suami kalo lupa naroh. Berulang kali suami ngomel tentang keteledoran saya, karena hal ini bukan yang pertama kalinya. 

Kejadiannya awalnya karena hape Nokia C-3 yang baru saya beli dari hasil usaha kami berdua saat pacaran, dengan jiwa tak berdosa saya tukarkan dengan pentol satu bungkus! Sampai di rumah suami ngedumel dan nggak habis pikir bagaimana bisa akal saya terbalik membayar satu bungkus pentol dengan hape C-3 yang masih kinyis-kinyis pula.

Hal ini juga karena kebiasaan saya menerima telepon saat di jalan, dan HP saya letakkan di kolong stang mio secara tak berdosa, selain nggak ribet juga memudahkan jika akan mengambilnya lagi. 

Seperti biasanya saat motor berhenti hal pertama yang saya ambil adalah HP untuk melihat notifikasi facebook atau sekedar update status_hihihihi. Begitupun saat itu ketika hampir sampai rumah, tinggal 50 meter saya berhenti di penjual pentol yang orang memanggilnya wak Kabul.

Sambil menunggu wak Kabul melayani pembeli, saya sempatkan untuk menengok facebook sebentar. Karena keasyikan sampai saya tidak sadar tiba giliran saya, wak Kabul bertanya saya mau beli pentol berapa? Atau pentol apa saja, kasar, halus, pentol tahu, siomay? Selalu saya hanya jawab "iya". Biasanya saya mengambil sendiri sesuai selera.

Setelah selesai baru saya tergagap lupa menyediakan uang untuk membayar. Sehingga HP-pun saya letakkan begitu saja di atas gerobaknya supaya lebih leluasa mengambil uang dalam tas dengan kedua tangan.

Transaksipun terjadi, saya menyerahkan uang dan pentol saya terima. Pikunnya saya, HP yang saya letakkan di atas gerobak lupa tidak saya ambil. Baru teringat keesokkannya saat saya merindukan facebook karena semalaman tidak membukanya.

Satu hari ini, lama benar rasanya menunggu malam. Saya sudah tidak sabar ingin menjambak wak Kabul. Sejak habis maghrib saya sudah menyatroninya sambil duduk diam di pelataran, bayangan wak Kabul jualan pentol sambil senyam-senyum sms-an pakai C-3. Namun harapan saya pupus, malam ini wak Kabul rupanya tak juga lewat.

Pada hari ketiga barulah nampak batang tusuk pentolnya. Alih-alih ingin membeli sayapun menanyakan HP saya, wak Kabul malah mengeluarkan HP jadulnya memastikan ia tak mengambilnya. Padahal saya yakin, HP saya tertinggal di gerobak itu :(
Kayak begini nih model hape yang saya tukarkan dengan pentol, huhuhuhu :((
Sumber : tokobagus.com


Sunday, September 09, 2012

Saya, Suami dan Susuk

Gara-gara postingan ini, banyak yang mengira saya ini istrinya mas Danu. Yang komentar terbuka atau ada yang diam-diam menginbox saya. Padahal itu dulu adalah naskah saya yang enggak lolos audisi menulis TAH (The Amazing Hidayah). Asli enggak pernah kepikiran untuk ikutan event tersebut karena tidak ada pengalaman yang tidak begitu menarik. Tapi setelah saya dapat cerita dari bu Tatik, seorang teman waktu kerja di Arto Metal Internasional (Armet). Saya jadi tertarik untuk menuliskan kisah temannya bu Tatik Armet tersebut.

Padahal saya enggak sebegitu jelas dengan sosok "mas Danu" yang ada di TV itu. Enggak ada niatan makai nama beliau. Entah asal saja pakai nama itu waktu terlintas, enggak kepikiran sama sosok ustad. Orang aslinya saya juga enggak sebegitu tahu dan mengikuti acara TVnya. Hihihiihii..


Tiga Lelakiku, coba tebak?

Tapi inilah sosok suamiku. Meski orang bilang suami susuk (kembalian) banyak dari saya. Mungkin karena muka saya yang pas-pasan, eh dipas-pasin ding. Tapi saya enggak mau dijual murah, orang saya ini  masih Intan berdebu yang masih belum dipoles. Coba kalau di poles, masih tetep cinta suami kok hehehehe. Jadi enggak ada susuk-susukan karena sudah di bayar tunai oleh suami saya :D


di foto ini, malah saya yang susuk dari suami. Hihihi
Jadi saya ingin menegaskan kalau saya bukan istrinya mas Danu, saya adalah istrinya suami saya. Begitu pula Anda yang sudah menikah, begitu juga kan? Hihihiih saking gemesnya :D

Jadi apa hubungannya saya, suami, susuk, dan mas danu? Wes mbohlah, judul ra podo karo postingan yo ben, yang penting sekali-kali pengen postingan yang berbeda biar nggak nge-kuis mulu. Hohohohoho:D

Sunday, August 26, 2012

Nabung Koin itu.....


Padahal postingan ini sudah pernah saya share dalam bentuk foto di Facebook saya lengkap dengan captionnya. Tapi entah kenapa saya pengen banget menuliskannya lagi dalam bentuk barisan semut huruf utuh seperti postingan lainnya. Walaupun terlambat tapi gak apa ah, saya juga pengen curhat sedikit.

Sejak sebelum menikah suamiku sudah gandrung dengan uang koin seribuan yang katanya tengahnya warna emas. Setiap dapet duit itu pasti disimpen rapet-rapet. Sampai-sampai saya juga ikut-ikutan ngoleksi, kadang dibela-belain nutup muka nuker uang koin di pedagang asongan. Alasannya simple, koinnya akan dilebur dan dijadikan cincin buat kita berdua. So sweatlaaaahh... tapi hanya dalam bayangan. Hingga menikah koin-koin itupun nganggur, utuh tersimpan di kaleng yang berpindah-pindah. Mulai dari tempat pensil, cangkir keramik, kadang bisa jadi korban kebiadaban tangan-tangan kami ketika mencari sesuatu enggak nemu-nemu semua koin ditumpahin sehingga tercecer begitu saja di atas rak plastik sampai berhari-hari.

Dari sana saya kepikiran kenapa enggak sekalian menabung koin? Toh selama ini suami saya juga sering banget dapat kembalian dari membeli rokok yang kadang digeletakkan begitu saja di atas lemari hingga numpuk baru saya sadar untuk memungutnya.

Daaann... Tepat setahun ini saya mengumpulkan koin-koin itu ketika hari raya tahun lalu saya benar-benar meniatkan untuk memulai menabung koin. Ternyata menyenangkan. Meskipun hasilnya tidak begitu banyak, sekitar 300-400 ribu tapi inilah keberhasilan pertama saya dalam hal tabung menabung.

Ya.. jika mengingat jaman masih kecil. Saya ingin sekali bisa niru teman-teman yang rajin menabung, atau kalau orang desa saya bilang nyelengi yang akan dibedol pas hari raya. Tapi bagi saya itu sebuah ke-fana-an, tidak lama celengan saya pasti akan cepat cacatnya akibat ambil paksa uang di dalamnya. Hihihihi...


Itu dulu..

Sekarangpun sama, hihihi.

Seringkali saya ngumpulkan uang puluhan ribu, ratusan ribu, pasti tidak akan bertahan lama. Lebih sering kepakai. Kebutuhan urgent atau enggak sekalipun saya tidak akan sayang mengeluarkan. Meski dengan dalih akan mengembalikan di kemudian hari, yang pada kenyataannya tidak pernah kembali. Itulah kenapa saya lebih seneng nabung di bank yang tanpa ATM daripada nabung sendiri di rumah.

Tapi... berbeda dengan nabung koin ini. Kalau tidak punya uang sekalipun, saya akan terpaksa menghemat. Padahal celengan koin saya ini lubangnya cukup besar, mudah saja untuk saya mengambilnya. Tapi untuk keperluan besar saya menghindari untuk bertransaksi koin. Sangat tidak efisien, selain ribet ngitung satu persatu butuh PD yang cukup besar untuk mengeluarkannya. Ya.. kecuali untuk hal-hal sepele; beli cabe, garam, merica, walaupun tanpa dalih akan mengembalikannya tanpa menunggu besok uang gantinya cepet nemplok lagi dalam kalengnya. Itupun yang saya pakai hanya koin perak. Saya terlalu sayang jika mengeluarkan koin emas. Entahlah dari dulu koin emas memang lebih mempesona. Mungkin juga karena issue lama yang pernah beredar masih terekam terlalu kuat kalau koin emas mengandung "bijih emas". Terutama dulu paling dicari adalah koin yang keluaran tahn 1991.


Sehingga lebaran kali ini saya tidak membedolnya atau menukarkannya ke bank. Meskipun kata mbak Niq koin emas seribuan itu tidak laku lagi saya akan tetap menyimpannya. Kini semua saya jadikan satu dan saya pindahkan ke dalam botol. Bukannya saya pelit untuk membeli celengan yang harganya murah. Hanya ingin kelihatan berbeda dan akan saya teruskan niatan nabung koin ini sebagai tabungan haji kami nantinya. Semoga. Doakan ya :D

Tabungan koin saya dan suami

Kira-kira butuh berapa koin yaa untuk naik haji berdua suami?

Saturday, March 10, 2012

Aku ingin jadi penulis


Ada yang inbox saya intinya ingin bisa membuat novel. Lha saya sendiri saja belum punya novel, kalaupun buku tapi bukan novel. Ya supaya nggak di cap sombong saya tanggepin aja inboxnya dengan memberi berbagai motivasi dan terjadi di tengah obrolan seperti ini,
...........................
Dia; kakak bntu ya,untk memperjuangkan karya2 aku.karna cita2 ak ingn jadi PENULIS
Me; Serius mau jadi penulis?
Dia; Iya kak Aku pengen banget
Me; suka baca?
baca buku apa saja?
sudah punya buku saya or sudah punya koleksi buku siapa saja? 
(saya tanyakan ini karena kok tanyanya ke saya padahal saya kan belum jadi novelis:)
Dia; Aku blum bca krya2 kak,aplg memliki y,, (hiks :( makanya salah nanya kesaya) ak gk punya koleksi n0vel.ak hanya sering n suka bca di perpus2 sja..
(owh terang saja belum punya buku saya, tapi tak apalah. Saya kan bukan penulis yang pelit ilmu:)
Me; Ha? padahal buku itu kamusnya penulis lho!
Dia; Maf dh kak,kalo gt ak mnta dnk hasl karya kak,,
ya kn ak koleksinya bku kesehatan sja ..
Kalo bku crta2 seprt it ak ska pinjam2 sja,bgtu..
GLODAK!!!!!!
Jadi intinya minta buku gratisan ke saya... AlamaK:(
Mencoba tidak nanggepin yang ujung-ujung minta gratisan, namun rasanya bersalah amat. Membantu kok nggak tuntas. Karna saya pikir dia lebih suka dengan buku kesehatan, terbukti mengoleksinya daripada buku Novel seperti cita-citanya yang hanya dia pinjam. Akhirnya saya jawab
Me; bikin aja buku kesehatan *good idea* cocok sama buku kesukaanmu. Penulis biasanya lahir dari apa yang dia suka
Dia; Wah..iya ya
Good idea,i like it..
Thank ya kak..
He 
Intinya dia menutup pembicaran yang tidak bisa saya tanggepin. Sebuah cita-cita mulia, jadi penulis. Namun rasanya kok ironis sekali. Tidak ada usaha mengejar cita-cita. Saya jadi meragukan, benar dia mau jadi penulis? Mending jadi penulis blogger saja seperti saya :) he, syukur-syukur nanti kalau ada penerbit yang ngelirik blog saya :D



Friday, March 09, 2012

Misteri Kehamilan



Sebelumnya saya mau berterimkasih dulu kepada PakDhe Choliq. Karena kunjungan saya pagi tadi ke BlogCamp PakDhe, saya nemu postingannya yang berjudul Makanan Idaman Wanita Hamil : ComRo. *)Tapi maaf ya PakDhe belum sempat komen karena pagi tadi OL di warnet sambil nungguin service sepeda motor(*  mengantarkan saya ke rumahnya mba Andy Hardiyanti penyelenggara GiveAway ini. 
Mudah-mudahan melalui GiveAway ini, selain media untuk mengasah keyboard *)Pena(* saya dan punya kesempatan dapat hadiah *)yang ini jujur (*. Harapan saya bisa dapat sesuatu yang lebih dari itu; motivasi, tips-tips juga kritik dan saran dari teman-teman :D
Kartun Muslimah Hamil
Sumber : simfonikehidupan.wordpress.com
Oke,
Bermula ketika seminggu setelah hari pernikahan saya satu setengah tahun lalu. Tetangga saya banyak yang riwueh melihat perubahan pada tubuh saya. Katanya tanda-tanda kehamilan itu sangat nampak dalam diri saya mulai dari tubuh yang katanya lebih gemuk, wajah, hingga te*ek yang tidak biasanya.
"Mbak, sampean hamil ya?", tanya tetangga depan yang umurnya dua tahun diatas saya, itupun dengan meraba-raba perut yang membuat saya risih.
"Masak sih mba?", sengaja saya meyakinkan diri karena memang saya belum tahu. Hingga obrolanpun merembet-rembet pada perhitungan kalender menstruasi saya.
Begitulah tetangga, segala hal yang menyangkut tetangganya selalu menarik untuk di ketahui lebih dalam malah kadang di besar-besarkan. Tapi bagaimanapun tetanggalah orang yang pertama yang akan menolong ketika ada apa-apa dengan kita. Bersyukurlah, itu tandanya tetangga masih perhatian dengan kita.
Ya, memang pernikahan saya ketika itu masih seminggu. Pernikahan usai akad nikah dan resmi dalam buku besar negara kita menjadi suami istri yang sah, katanya sudah dapat ijin surat "Penak". Tapi dalam agama ikrar kami sudah berlalu satu setengah bulan sebelum pernikahan kami. Ya, seperti orang bilang kami memang nikah siri dahulu. Bukan karena suatu hal semisal kecelakaan pra nikah. Tapi memang kedua orang tua kami yang masih menganut penanggalan jawa, hari baik untuk kami menikah tepat seminggu setelah lebaran meski hari-hari lainnya juga baik namun waktu itulah yang tepat bagi kami menikah. Dan itu tidak mungkin untuk sebuah pesta pernikahan kami yang hanya punya waktu seminggu.
Kenapa musti cepat-cepat?
Mungkin inilah yang orang tua kami katakan "menyegerakan hal baik". Mengingat orang tua suami adalah moden di desa yang sering menikahkan orang. Termasuk lingkungan kerja kami dulu *)tempat kerja suami sekarang, dulunya kami satu kerjaan, namun sekarang saya mengalah keluar kerja jadi perempuan blogger saja(*, malah kami maunya sudah dinikahkan sejak lama oleh teman-teman kami yang kebanyakan ustad. Namun terganjal saya belum di kenalkan orang tua. Dan benar saja setelah dikenalkan, kami tidak boleh berlama-lama. Intinya pernikahan siri kami baik-baik saja.
Back To Topic
Dan perhitungan menstruasi itupun mengindikasikan bahwa saya telat dua minggu. Ha? kenapa saya tidak menyadarinya? Entahlah saya kok dudul banget. Meski baru pertama *)dan mudah-mudahan terakhir(* kali menikah kenapa saya ngga sampe kepikiran bahwa saya telat itu hamil. Baru ingat setelah di kasih tau sama tetangga untuk ngecheck dengan alat test pack sederhana yang 2500an itu. What? Lagi-lagi saya membodohkan diri saya sendiri. Kenapa nggak belajar dari film dan sinetron, yang adegannya menangis-nangis setelah tau tanda positif pada alat itu. Saya juga bukan orang yang stupid amat. Kenapa hal-hal begini saya tidak sedikit cerdas.
Setelah obrolan itupun saya memberitahu suami, berharap dia mau mengantarkan saya untuk langsung periksa ke bidan saja.
"Udah nanti saja kalau sudah telat sebulan kita periksakan dek", begitu tanggepannya. Owh, ya sudah akhirnya saya setuju.
Dua hari kemudian, entah saya lupa dengan kehamilan saya. Rasanya perut kok sakit banget. Mengingat rasanya dilep yang sering dialami perempuan termasuk saya dulu, kok rasanya sakit amat. Padahal sudah setahun ini saya sudah jarang kena dilep. Meski demikian saya masih ingat bagaimana rasanya sakit yang menusuk-nusuk perut saya, tapi ini lebih dari sekedar di tusuk-tusuk. Sakit bangeeeettt. Saya sampai kelinyengan di atas kasur. Guling-guling ga jelas sambil merintih kesakitan dan pegangin perut.
Suami jadi bingung melihat tingkah laku saya, dan pertanyaannya "Kenapa?" saya jawab dengan enteng, "dilepen mas" tanpa mikir tentang kehamilan saya.
Dan atas saran ibu mertua katanya saya itu kena magh dan disuruh ke dokter Syarifatul (dokter umum). Memang saya silent ke ibu tentang "misteri kehamilan" yang menurut saya masih belum ada kejelasan. Saya tidak bisa apa-apa tanpa mikir ke arah sana,  dan menurut saja ketika suami membawa ke dokter tersebut. Saya sempat menunggu antrian sambil mulet-mulet kayak uler keket, akhirnya tiba juga giliran saya. Dan saya katakan, apa yang di bilang ibu saya termasuk dianogsa asal-asalan saya,  dilepen.
Dokter itu memberi saya sekantong plastik pil dan kapsul, termasuk penghilang rasa sakit. Habis nenggak rasa sakitnya hilang. Esoknya saya langsung mens.
Saya baru nyadar ketika itu, "bukankah tetangga saya bilang saya lagi hamil?"
Hwaaaaa... berarti saya ga jadi hamil. Atau memang belum hamil? Ah saya ga tau, tetangga saya belum tentu juga benar.
Mens kali ini benar-benar aneh menurut saya, seumur-umur mens saya tidak secepat itu. Hanya tiga hari, itupun hanya keluar litle by litle, sehari keluar sehari enggak. Ah, ini mens apa enggak *sigh? Padahal biasanya enggak begini, full lima hari keluar buanyak banget hingga nunggu bersih kadang sampai seminggu.
Namun seminggu setelah mens saya yang tidak wajar, mens itu keluar lagi tanpa permisi dan tanpa ada tanda-tanda gejala sakit seperti dilep. Dan itu juga mens yang tidak wajar kedua tapi lebih buanyaaaaak banget, hingga lebih dari sepuluh hari sampai lemes tubuh saya. Dan saya bawa kebidan.
Apa yang bidan kata?
"Bisa jadi mba Nunu kemarin itu hamil, dan mens pertama itu hanya flek", What apa lagi itu flek? Saya belum akrab dengan kata satu itu.
"karena di beri obat magh, akhirnya janinnya luruh", hati saya jadi seerrr mendengar janin luruh. Menyesal kenapa ketika di beritahu hamil dulu tidak langsung nge-check atau langsung ke bidan sendiri tanpa menunggu suami. Ah sudahlah. Pungkas saya kecewa sediri.
Dan bulan-bulan setelah itu, telat sehari saja saya langsung menuju apotik beli test pack. Sampek akhirnya saya malu sendiri sama penjaga apotik berkali-kali beli test pack terus. Hihihihi bukannya malah seneng ya? Sesekali saya merubah haluan langsung ke bidan karena khawatir saya yang memang tidak bisa menggunakan test pack sampai saya sering kecewa. 
"belum kok mba, tuh masih kosong".
Mungkin sampai seringnya saya kesana dengan hasil yang nihil bidannya  sampai bilang, "kalo telat sehari, test sendiri di rumah mba Nunu. Tidak perlu kesini", sambil bidannya menunjukkan cara pemakaiannya kepada saya. Tapi,,, masalahnya kan bukan ituu :(. 
Sampai-sampai bidan tersebut mengajari saya cara cepat  hamil. mulai dari konsumsi makanan, hingga bagaimana berhubungan yang benar itu. Saya cuma senyum-senyum mendengarkannya
Hingga hari inipun kehamilan itu masih misteri bagi saya. Kalo orang bilang rasanya ngenomi (hamil muda) itu sudah merasuki tubuh saya berkali-kali. Mulai mual-mual sebelum telat mens, saya sudah menjaga kondisi tubuh saya. Kali aja hamil. Ha? Emang ada ya? Entahlah. Hingga mual-mual waktu telat beberapa hari, sampai perut bagian bawah kiri saya membuancit. Saya masih belum tahu, nyatanya saya tidak hamil. Arrgghh  bagaimana *sigh ngenomi itu?
Artikel Misteri Kehamilan ini diikutsertakan pada acara Giveaway Awal Maret 2012  di Blog Andy Hardiyanti.






Tuesday, March 06, 2012

Masih mau menjadi blogger semusim?

-->
Bukan Blogger Semusim? Pertanyaan ini nabok banget ke saya. Beneran! Ini seperti menelanjangi blog saya sendiri yang pernah terkena virus Blogger Musiman akut. Apalagi belajar dari beberapa bulan februari lalu yang gue lakuin cuman copas file-file cerpen simpenan saya di laptop. Ada yang memang fresh orisinil saya bikin dan sengaja saya endapkan di file laptop, namun ada juga yang tandonan file-file naskah lomba nulis yang lolos tidak terpilih alias reject. Hem daripada laptop saya megap-megap karena kepenuhan, saya share file-file tersebut di bulan februari.
So What? Itu kan file saya sendiri bukan file copas milik orang lain lalu apa hubungannya dengan Blogger Semusim?
Bagi saya blogger semusim adalah blogger yang nulisnya wayahan (read; wayah = waktu). Seperti halnya musim hujan, ketika waktunya musim hujan. Hampir setiap hari tanpa jeda air terus menghujani tanah-tanah. Bahkan kadang bisa sehari dua tiga kali hujan. Hujan, reda, hujan, reda. Namanya saja musim hujan. Begitupun dengan musim-musim yang lain; musim nangka, duren, musim rambutan dll. Jadi musiman bisa diartikan sesuatu yang adanya intens dan terus menerus pada rentan waktu. Kenapa aku jadi merindukan musim juet ya? Ah itu buah kesukaan saya waktu kecil dan sekarang sudah jarang ditemukan:)
Lha untuk blogger apa hubungannya?
Tentu saja ada. Hubungannya Blogger dengan penulis. Dan itu bisa di lihat dari intensitas tulisan yang nampang di Blog. Saya kok jadi mempermalukan blog sendiri *sigh.aum pim panaserawan  kekali hujan. Hujan, reda, hujan, reda. namany menghujani tanah-tanah. bahkan file t Coba saja lihat arsipnya; januari, februari, maret sampai desembernya. Bisa menyimpulkan sendiri pada bulan keberapa mental Blogger Musiman itu kambuh. Atau malah ada juga yang tidak terloncati bulannya. #aduh>,< ketauan.
Memang sih awal-awal saya getol banget ngeblog. Apalagi pas jamannya blogwalking segala. Malam-malam pun rela jalan-jalan sendirian di dunia maya tanpa takut dirampok. Hihihihi sampai ngebelain ngos-ngosan sehari posting tiga sampai lima kali. Huh marathon bok!
Bukan hanya itu blogger musiman juga bisa di lihat dari tulisannya lho?
Coba perhatikan, ada berapa banyak tulisan yang hampir sama dalam rentan waktu sekian. Dan itu ada di blogku juga. Yaitu ketika musimnya GA, jenis tulisannya beragam sih tapi ternyata ujung-ujung eh untuk Give Away :D Ah, itu sih mending yang penting tulisan kita fresh kan ya?
Yang lebih parah adalah ketika lomba menulis yang kudu memosting info lomba di blog pasti yang sering saya share adalah info lomba. Hiks :(  ketauan benar nie Blogger ngga banget. Nggak ada apa secuil kata dan kalimat yang bisa di share selain info lomba yang copasan. Untuk variasi gitu kek. #memprotes blog sendiri. Iyalah masak blognya orang, bisa kena sambit saya.
Akhirnya saya tersadar ketika mengunjungi blog sahabat pena saya di nganjuk ini. Dia bukan hanya mengaku blogger tapi dia memang Bukan Blogger Semusim seperti yang sudah saya ketik diatas. Postingan-postingannya selalu original dan tidak mengikuti trend musim yang sedang ada. Kadang hanya secuil paragraph atau bahkan ungakapan dan kalimat retorika. Tidak tertoleh dengan GiveAway ataupun tergiur dengan hadiah lomba-lomba blog yang menjamur. Dia tetap menulis meski tidak ada itu semua.
Sampai pernah ketika kami sedang melakukan perjalanan pena bersama ke Ciamis dalam rangka bedah buku saya. Dia sudah mempersiapkan dua postingan dua tulisan yang di post terjadwal untuk dua hari, eh itupun bisa-bisanya dia kebelet ke warnet karena ingin cek blognya. Huh dasar Blogger Sejati.
-->
-->
Ngiri *sigh. Saya ingin seperti dia yang menulis tidak hanya ketika ada lomba nulis dan Give Away saja. Padahal kan harusnya selalu ada hal untuk ditulis setiap harinya. Ah, bulshit kalau bilang tidak ada Ide Menulis. Kalau saya mengatakan, mungkin itu cukup menjadi alasan satu-satunya yang bisa mentupi bahwa saya sedang malas nulis. Ya kan?! Kamu juga tidak?! Ah mudah-mudahan saya saja.
Coba apa yang kau lihat? Nah, itu dia kan inspirasi menulis. Apa yang kau pikirkan saat ini? Seperti yang dipertanyakan dalam setiap status facebook. Itu juga inspirasi menulis. Setiap saat setiap waktu setiap menit selalu ada inspirasi untuk menulis. Bahkan satu tetes hujanpun yang menjatuhi kepala itu bisa menjadi satu ide cerita yang bisa di tulis berlembar-lembar.
Menulis itu tidak perlu muluk-muluk dan mikir merangkai kata yang indah karena melihat postingan teman yang katanya selalu meliuk-liuk dengan indah. Tidak. Maka saya cukup menulis dengan keyboard saya sesuai dengan hati dan keinginan saya kemana arah blog yang saya inginkan.
Setiap yang terlihat bisa jadi kata
Setiap peristiwa bisa terucap dengan kata
Dan bentuklah menjadi kalimat,
Maka menulislah tanpa perlu memikirkannya
Masih mau menjadi blogger semusim? Ah, tidak yang lebih penting artikel ini bukan semusim belaka tapi, Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Tiga Kata Bukan Blogger Semusim di BlogCamp.


NB: yang lebih parah ternyata blogger semusim itu benar-benar ada. Semusim, hanya semusim. Getol ngeblog namun hilang di telan bumi. Siapakah? Penulis yang lahir dari blogger dulunya getol ngeblog setelah jadi penulis terkenal eh blognya isinya itu-itu saja. #Promosi buku. Sssstttt Yang ini bukan saya.. Swear saya penulis tapi belum terkenal xixixixixi

Feel Free To Follow My Blog