Sebelumnya
saya mau berterimkasih dulu kepada
PakDhe Choliq. Karena kunjungan saya pagi tadi ke
BlogCamp PakDhe, saya nemu
postingannya yang berjudul
Makanan Idaman
Wanita Hamil : ComRo.
*)Tapi maaf ya PakDhe belum sempat komen karena
pagi tadi OL di warnet sambil nungguin service sepeda motor(*
mengantarkan saya ke rumahnya mba
Andy Hardiyanti penyelenggara GiveAway ini.
Mudah-mudahan
melalui GiveAway ini, selain media untuk mengasah keyboard *)Pena(* saya
dan punya kesempatan dapat hadiah *)yang ini jujur (*. Harapan saya bisa
dapat sesuatu yang lebih dari itu; motivasi, tips-tips juga kritik dan saran
dari teman-teman :D
 |
Kartun Muslimah Hamil
Sumber : simfonikehidupan.wordpress.com |
Oke,
Bermula
ketika seminggu setelah hari pernikahan saya satu setengah tahun lalu. Tetangga
saya banyak yang riwueh melihat perubahan pada tubuh saya. Katanya
tanda-tanda kehamilan itu sangat nampak dalam diri saya mulai dari tubuh yang
katanya lebih gemuk, wajah, hingga te*ek yang tidak biasanya.
"Mbak,
sampean hamil ya?", tanya tetangga depan yang umurnya dua tahun diatas
saya, itupun dengan meraba-raba perut yang membuat saya risih.
"Masak
sih mba?", sengaja saya meyakinkan diri karena memang saya belum tahu.
Hingga obrolanpun merembet-rembet pada perhitungan kalender menstruasi
saya.
Begitulah
tetangga, segala hal yang menyangkut tetangganya selalu menarik untuk di
ketahui lebih dalam malah kadang di besar-besarkan. Tapi bagaimanapun
tetanggalah orang yang pertama yang akan menolong ketika ada apa-apa dengan
kita. Bersyukurlah, itu tandanya tetangga masih perhatian dengan kita.
Ya, memang
pernikahan saya ketika itu masih seminggu. Pernikahan usai akad nikah dan resmi
dalam buku besar negara kita menjadi suami istri yang sah, katanya sudah
dapat ijin surat "Penak". Tapi dalam agama ikrar kami sudah
berlalu satu setengah bulan sebelum pernikahan kami. Ya, seperti orang bilang
kami memang nikah siri dahulu. Bukan karena suatu hal semisal kecelakaan
pra nikah. Tapi memang kedua orang tua kami yang masih menganut
penanggalan jawa, hari baik untuk kami menikah tepat seminggu setelah lebaran
meski hari-hari lainnya juga baik namun waktu itulah yang tepat bagi kami
menikah. Dan itu tidak mungkin untuk sebuah pesta pernikahan kami yang hanya
punya waktu seminggu.
Kenapa
musti cepat-cepat?
Mungkin
inilah yang orang tua kami katakan "menyegerakan hal baik". Mengingat
orang tua suami adalah moden di desa yang sering menikahkan orang.
Termasuk lingkungan kerja kami dulu *)tempat kerja suami sekarang, dulunya
kami satu kerjaan, namun sekarang saya mengalah keluar kerja jadi perempuan
blogger saja(*, malah kami maunya sudah dinikahkan sejak lama oleh
teman-teman kami yang kebanyakan ustad. Namun terganjal saya belum di kenalkan
orang tua. Dan benar saja setelah dikenalkan, kami tidak boleh berlama-lama.
Intinya pernikahan siri kami baik-baik saja.
Back To Topic
Dan
perhitungan menstruasi itupun mengindikasikan bahwa saya telat dua minggu. Ha?
kenapa saya tidak menyadarinya? Entahlah saya kok dudul banget. Meski baru
pertama *)dan mudah-mudahan terakhir(* kali menikah kenapa saya ngga
sampe kepikiran bahwa saya telat itu hamil. Baru ingat setelah di kasih tau
sama tetangga untuk ngecheck dengan alat test pack sederhana yang 2500an
itu. What? Lagi-lagi saya membodohkan diri saya sendiri. Kenapa nggak belajar
dari film dan sinetron, yang adegannya menangis-nangis setelah tau tanda
positif pada alat itu. Saya juga bukan orang yang stupid amat. Kenapa
hal-hal begini saya tidak sedikit cerdas.
Setelah
obrolan itupun saya memberitahu suami, berharap dia mau mengantarkan saya untuk
langsung periksa ke bidan saja.
"Udah
nanti saja kalau sudah telat sebulan kita periksakan dek", begitu
tanggepannya. Owh, ya sudah akhirnya saya setuju.
Dua hari
kemudian, entah saya lupa dengan kehamilan saya. Rasanya perut kok sakit banget.
Mengingat rasanya dilep yang sering dialami perempuan termasuk saya
dulu, kok rasanya sakit amat. Padahal sudah setahun ini saya sudah jarang kena dilep.
Meski demikian saya masih ingat bagaimana rasanya sakit yang menusuk-nusuk
perut saya, tapi ini lebih dari sekedar di tusuk-tusuk. Sakit bangeeeettt. Saya
sampai kelinyengan di atas kasur. Guling-guling ga jelas sambil merintih
kesakitan dan pegangin perut.
Suami jadi
bingung melihat tingkah laku saya, dan pertanyaannya "Kenapa?" saya
jawab dengan enteng, "dilepen mas" tanpa mikir tentang
kehamilan saya.
Dan atas
saran ibu mertua katanya saya itu kena magh dan disuruh ke dokter
Syarifatul (dokter umum). Memang saya silent ke ibu tentang
"misteri kehamilan" yang menurut saya masih belum ada kejelasan. Saya
tidak bisa apa-apa tanpa mikir ke arah sana, dan menurut saja ketika
suami membawa ke dokter tersebut. Saya sempat menunggu antrian sambil
mulet-mulet kayak uler keket, akhirnya tiba juga giliran saya. Dan saya
katakan, apa yang di bilang ibu saya termasuk dianogsa asal-asalan saya, dilepen.
Dokter itu
memberi saya sekantong plastik pil dan kapsul, termasuk penghilang rasa sakit.
Habis nenggak rasa sakitnya hilang. Esoknya saya langsung mens.
Saya baru
nyadar ketika itu, "bukankah tetangga saya bilang saya lagi hamil?"
Hwaaaaa...
berarti saya ga jadi hamil. Atau memang belum hamil? Ah saya ga tau, tetangga
saya belum tentu juga benar.
Mens
kali ini benar-benar aneh menurut saya, seumur-umur mens saya tidak
secepat itu. Hanya tiga hari, itupun hanya keluar litle by litle, sehari
keluar sehari enggak. Ah, ini mens apa enggak *sigh? Padahal
biasanya enggak begini, full lima hari keluar buanyak banget hingga
nunggu bersih kadang sampai seminggu.
Namun
seminggu setelah mens saya yang tidak wajar, mens itu keluar lagi
tanpa permisi dan tanpa ada tanda-tanda gejala sakit seperti dilep. Dan
itu juga mens yang tidak wajar kedua tapi lebih buanyaaaaak banget,
hingga lebih dari sepuluh hari sampai lemes tubuh saya. Dan saya bawa kebidan.
Apa yang
bidan kata?
"Bisa
jadi mba Nunu kemarin itu hamil, dan mens pertama itu hanya flek",
What apa lagi itu flek? Saya belum akrab dengan kata satu itu.
"karena
di beri obat magh, akhirnya janinnya luruh", hati saya jadi seerrr
mendengar janin luruh. Menyesal kenapa ketika di beritahu hamil dulu tidak
langsung nge-check atau langsung ke bidan sendiri tanpa menunggu suami.
Ah sudahlah. Pungkas saya kecewa sediri.
Dan
bulan-bulan setelah itu, telat sehari saja saya langsung menuju apotik beli test
pack. Sampek akhirnya saya malu sendiri sama penjaga apotik berkali-kali
beli test pack terus. Hihihihi bukannya malah seneng ya? Sesekali saya
merubah haluan langsung ke bidan karena khawatir saya yang memang tidak bisa
menggunakan test pack sampai saya sering kecewa.
"belum
kok mba, tuh masih kosong".
Mungkin
sampai seringnya saya kesana dengan hasil yang nihil bidannya sampai
bilang, "kalo telat sehari, test sendiri di rumah mba Nunu. Tidak
perlu kesini", sambil bidannya menunjukkan cara pemakaiannya kepada saya.
Tapi,,, masalahnya kan bukan ituu :(.
Sampai-sampai
bidan tersebut mengajari saya
cara cepat hamil. mulai dari konsumsi makanan,
hingga bagaimana berhubungan yang benar itu. Saya cuma senyum-senyum
mendengarkannya
Hingga hari
inipun kehamilan itu masih misteri bagi saya. Kalo orang bilang rasanya ngenomi
(hamil muda) itu sudah merasuki tubuh saya berkali-kali. Mulai mual-mual
sebelum telat mens, saya sudah menjaga kondisi tubuh saya. Kali aja
hamil. Ha? Emang ada ya? Entahlah. Hingga mual-mual waktu telat beberapa hari,
sampai perut bagian bawah kiri saya membuancit. Saya masih belum tahu, nyatanya
saya tidak hamil. Arrgghh bagaimana *sigh ngenomi itu?