Showing posts with label Forum Lingkar Pena. Show all posts
Showing posts with label Forum Lingkar Pena. Show all posts

Wednesday, September 24, 2014

Dukungan Untuk Film Ketika Mas Gagah Pergi

Foto profil saya untuk dukungan film KMGP
Ada yang sudah pernah baca cerpen Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP)? Yang sudah baca pasti tahu cerpen legendarin ini karangan Helvy Tiana Rosa. Cerpen yang dibuat tahun 1993 di bulan September ini pertama kali muncul atau terbit di sebuah majalah anak muda islam Annida. Kini cerpen tersebut sudah tersebar luas di dunia maya. Silakan googling bagi yang belum membacanya.

Konon, cerpen inilah yang menjadi kebangkitan cerpen dan novel-novel religi. Banyak orang mengakui tersentuh dengan jalan cerita yang dilalui Mas Gagah, tokoh central dalam cerita serta Gita, adik Mas Gagah yang sedang mencari jati diri kemuslimahannya yang menjadi tokoh utama banyak menginspirasi perubahan muslimah pada masa itu.

Setelah puluhan tahun berlalu, teh Helvy kemudian mencoba mengobati kerinduan para pecinta KMGP dengan membuat lanjutan cerita dalam buku Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali. Buku inipun mendapat sambutan hangat dari para pecinta Mas Gagah. Tapi rasanya, pesona Mas Gagah memang tidak bisa ditandingi. Kini cerpen yang dulu terbit dalam sebuah majalah, menjadi karya yang didambakan hadir dalam bentuk Film.

Antusiasme para pecinta Mas Gagahpun bermunculan. Apalagi disambut oleh FLP (Forum Lingkar Pena) dengan membuatkan rekening baru untuk Crowd Funding untuk membiayai Film Mas Gagah Ini.

Subhanallah, aku yang terlibat di dalamnya sangat takjub dengan dukungan semua pihak. Terharu ketika beberapa teman sudah banyak menggunakan foto profil yang sama dengan foto profil yang aku gunakan di atas. Ditambah lagi dengan terbentuk komunitas Sahabat Mas Gagah di beberapa kota. Bahkan Mas Odie, Cholidi Asadil Alam, atau yang dikenal dengan Mas Azam dalam film KCB (Ketika Cinta Bertasbih) turut mendukung film ini dengan mempublish foto yang sama denganku.
Foto Odie, foto kamu mana?
Bagi kalian yang juga ingin melakukan hal sama untuk mendukung Film berkualitas ini hadir. Bisa ganti foto profil dengan mengedit bingkai foto yang aku sediain di bawah. Tinggal download kemudian simpan, dan edit menggunakan microsoft paint sudah bisa.

Dan juga bagi yang ingin membantu pendanaan Film ini, sebetulnya kalian telah menanam satu pohon kebaikan untuk menginspirasi lebih banyak orang lho. Yuk kita tanam pohon kita supaya bermanfaat bagi orang banyak.

Info penggalangan dana #KMGPtheMovie sebagai berikut:
CROWD FUNDING FILM KETIKA MAS GAGAH PERGI SUDAH DIMULAI Teman-teman, crowd funding (pembiayaan gotong royong) untuk pembuatan film "Ketika Mas Gagah Pergi" karya Helvy Tiana Rosa sudah dimulai. Mari sisihkan dana--seribu, lima ribu, sepuluh ribu, seratus ribu dst.--untuk menyokong pendanaan film ini. Sebagian keuntungan film ini kelak, akan disumbangkan ke Gaza. Dan sebagian akan dikembangkan untuk proyek-proyek literasi dan perfilman yang edukatif.
Dana bisa disalurkan ke:
  1. BSM Cabang Dewi Sartika 7033101858 atas nama Lembaga Forum Lingkar Pena
  2. Bank Mandiri Cabang Margo City Depok 1570087778883 atas nama Lembaga Forum Lingkar Pena
  3. BNI Syariah cab Margonda 0259296140 atas nama Yayasan Lingkar Pena
Konfirmasi donasi via sms ke 085691746094
Format korfirmasi: Nama Pendonasi_JumlahDonasi_ RekeningDonasiYg di tuju
Contoh: Ramadhan F_Rp 1.000.000,-_BSM
Pelaporan donasi akan dilakukan di web resmi www.masgagah.com
Bingkai foto 1 backgroumd putih
Bingkai foto background putih 2
Bingkai 3 background hitam

Monday, June 16, 2014

Rapat Divisi Bisnis FLP di Universitas Muhammadiyah Malang

Team divisi bisnis BPP FLP
Kamis 5 Juni lalu, Mbak Nurbaiti Hikaru, salah satu anggota BPP FLP Pusat, mengajak team divisi bisnis mengadakan rapat sekaligus koordinasi dan recharge. Rapat kali ini sudah diagendakan satu bulan sebelumnya, ketika Mbak Nur (Sapaan akrabnya di BPP) mengabarkan akan ke Jawa Timur. BPP yang domisilinya menyebar di seluruh wilayah Indonesia memang jarang banget kita melakukan kumpul-kumpul kayak begini, kalau enggak dalam forum nasional. Sekali ada kesempatan seperti Mbak Nur yang datang dari Jakarta bisa menjadi agenda koordinasi dalam forum setengah resmi.

Akupun menyambut baik. Di Jatim sendiri selain aku juga ada Mas Danang, yang juga setuju dengan agenda rapat ini. Bagi yang enggak tahu siapa Mas Danang, dia adalah pencipta karakter ikhwan-akhwat di kawan imut. Nah tau kan? Karakter islami yang kadang lebih kekoreaan yang sering aku lihat dipakai orang-orang sebagai photo profil facebook untuk menyembunyikan identitas dirinya. Nah lo, termasuk kalian enggak?

Oke, back to topic.

Kami pun sepakat untuk melakukannya di Malang, dengan Mas Danang sebagai hostnya karena yang domisili di Malang. Pas base campnya Mas Danang deket banget dengan kampus UMM (Universitas Muhammadiyah Malang), kami mengambil lokasi di dalam kampus. Alasannya selain terjangkau lokasinya untuk efisiensi waktu, suasannnya juga kondusif. Kami mencari lokasi yang tidak terlalu ramai agar rapat berjalan efektif. Terpilihlah, taman dekat danau di depan gedung F UMM.

Taman ini terletak di bawah jembatan karena dekat danau buatan. Kami memilih taman di sebelah kanan (timur)-nya jembatan. Terdapat beberapa gazebo yang biasa dimanfaatkan mahasiswa untuk kerja kelompok. Seperti hari itu, kami yang menempati gazebo tengah, di gazebo kanan terdapat seorang mahasiswa yang sedang tidur, sedangkan sebelah kanan sedang berlangsung kelas outdor yang dibimbing oleh seorang perempuan muda, kataku sih dia asisten dosennya. Sempat kami mengira saat masih sedikit mahasiswa yang berkumpul, dia termasuk mahasiswa yang sedang kerja kelompok. Eh rupanya, dia pengajarnya, tapi masih muda bingiiiit.

Meskipun terdapat dua forum berbeda, Alhamdulillah tak menghalangi kami untuk melangsungkan rapat, meskipun kami cuma bertiga. Kami tetap fokus pada pembahasan kami bagaimana mencari peluang untuk memperoleh bahan bakar bagi organisasi FLP agar tetap hidup dan berjalan, sehingga muncul istilah nama divisi duniawi. Malah kami yang sempat nodong, minta difotoin sama beberapa mahasiswa untuk mengabadikan moment rapat kali ini. Thank you mas yang aku lupa menanyakan namanya. :D
Mbak Nurbaiti Hikaru dengan latar beberapa Mahasiswa yang kerja kelompok setelah mendapat pengarahan dari seorang asisten dosen.
Nampak seius rapatnya :D

Monday, May 19, 2014

Open Recruitment FLP Surabaya 2014

Hi Surabaya!
Tahukan dengan organisasi FLP atau yang disebut Forum Lingkar Pena? Itu lho organisasi kepenulisan terbesar yang cabang-cabang tersebar di seluruh dunia. Kali ini cabang Surabaya akan ngadain open recruitment atau penjaringan anggota baru. Yups khusus untuk Surabaya ya.

Banyak yang bertanya kepadaku bagaimana sih caranya masuk menjadi anggota Forum Lingkar Pena? Banyak yang mengira masuk FLP itu bebas. Bisa keluar masuk sesuka hati. Tetapi beda kawan, FLP itu organisasi yang terstruktur dan memiliki sistem termasuk penjaringan anggota baru juga aturannya. Hanya saja pelaksanaannya itu tergantung kebijakan FLP (cabang atau ranting) terkait. Sehingga akan berbeda FLP di kota satu dengan kota yang lain.

So bagaimana dong untuk bisa gabung? Nah kamu tinggal di mana dulu. Kemudian cari informasi sebanyak-banyaknya termasuk waktu open recruitment ini. Kebetulan kali ini yang aku bahas open recruitmentnya FLP Surabaya. Etapi jangan khawatir. Kedepan FLP juga akan melakukan open recruitment via online. So nantinya kamu tinggal submit pendaftaran via web FLP di www.flp.or.id. Tapi nanti ya, sekarang masih simulasi. Kalau sudah lainching akan aku bahas lagi di blog ini.

Nah bagi yang di Surabaya jangan lewatkan ya. Catet tanggalnya. Lihat infonya pada gambar di bawah ini ya. Jika tidak kelihatan gambar bisa di perbesar tinggal klik gambarnya.

Oke gitu ya,
Aku nantikan kalian bergabung bersama kami ya.
Seleksi anggota baru FLP Surabaya

Tuesday, March 11, 2014

Jadwal Yang Tumpang Tindih; Maafkan Aku FLP Sidoarjo

sumber ilustrasi

Jadwal hari Minggu kemarin tumpang tindih. Mulai dari muscab, nikahan sahabatku di jombang, sampai dengan acraku sendiri pembangunan rumah yang belum selesai. Semua jadwal tersebut penting terjadi dalam satu hari yang sama.

Muscab FLP Sidoarjo.
Muscab ini sudah mundur lama. Bahkan sudah sangat terlambat. Aku sendiri sebagai Andal di FLP Sidoarjo merasa gagal karena ketidak konsistenanku sendiri. Aku jarang muncul di FLP terlebih 3 bulan belakangan terkait pembangunan rumah yang butuh perhatian ekstra.

Aku baru sadar ketika akhir bulan Februari kemarin diundang dan dimintai LPJ ketua cabang FLP Sidoarjo, Rafif Amir Ahnaf, aku belum bisa maksimal menjadi pengurus. Kuiyakan saja, meski pada akhirnya akupun tak bisa hadir atas persiapan Muscab Minggu lalu. Dan merasa bersalah banget hari ini kulakukan hal sama. Absen dari Muscab. Maafkan aku FLP :(.

Nikahan Sahabatku
Sahabatku ketika kuliah di MEC (Mandiri enterpreneur center) menikah. Bingung saat mengetahui hari H pernikahannya bertepatan dengan Muscab FLP. Tak mungkin bisa aku menepati keduanya. Harus memilih karena resepsinya di Jombang. Waktu sehari (pagi-sore) rasanya enggak cukup. Apalagi Muscab FLP waktunya pagi. Tak cukup waktu juga aku mengejar jika berangkat siang.

Ingin aku menolak undangan, tapi itu sungguh diharamkan agama. Sahabatku begitu pengertian. Belum kukatakan apapun tentang kehadiranku, dia memberiku kelonggaran. Ah, rasanya aku ini memang tak pernah bisa menjadi sahabat yang baik di kala sahabatnya bahagia. Ingin rasanya aku memeluknya saat itu, dan mengalungkan selempang, "Kau sahabat terbaik dunia akhirat yang tak membiarkan sahabatmu ini berdosa dengan janjinya".

Bisa jadi aku menyanggupinya datang meski aku tak yakin bisa atau enggak. Dan aku sadar hari ini, dia telah menyelamatkanku dari kubangan dosa.

Pembangunan rumah
Pada akhirnya jadwalku terhenti pada penyelesaian pembangunan rumah. Tempat tinggalku yang jauh, kami hanya bisa memantau seminggu dua kali. Pada hari sabtu dan minggu. Sabtu kemarin yang tidak bisa karena terkendala syuting company profil, akupun tak mungkin bisa menunda lagi minggu depannya. Apalagi pembangunanku sudah tahap paling penting yaitu pemasangan genteng.

Meski bukan paling akhir dari semua proses, pemasangan genteng termasuk tahap akhir dari tahap utama. Setelah itu mungkin tak banyak aktivitas. Nunggu uang agar bisa mengerjakan finishingnya.

Ternyata benar seharian ini aku banyak berurusan dengan galangan, membelikan kudapan tukang, membuatkan makan siang, kopi dan sebagainya. Meski ada lagi satu jadwal juga tertunda, mengambil "pagar" rumah di Mojokerto. Lelah sepagian terbayar. Bisa dibilang rumahku sudah berdiri utuh. Aku bisa melihatnya berdiri kokoh, bukan khayalan seperti keraguanku 3 bulan sebelumnya. Semua ini memang karena keberanian, tak akan jadi apa-apa jika kami tak berani memulai.

Terharu dan sedih jika mengingat hari Minggu kemarin. Banyak sekali janjiku yang terabaikan. Yang membuatku menyesal adalah soal Muscab. Sungguh, prediksiku bisa kuhadiri jika bukan tahap penyelesaian tahap utama. Jika tak ada aku siapa yang akan menyelesaikan hutang-hutang material di galangan. Memang ada suami, tapi kami harus berjibaku bersama, tak mungkin semua pekerjaan tertumpu untuknya. Hiks... apapun alasannya aku ingin membayar janjiku. Entah dengan apa. Maafkan aku teman-teman FLP Sidoarjo.


Thursday, February 13, 2014

Milad 17 FLP, datang yuukk


Usia Flp sudah menginjak remaja, sweet seventeen. Masih eksis dan tetap menjadi organisasi kepenulisan terbesar di Indonesia. FLP bukan forumnya penulis saja, tapi siapapun yang ingin dan punya niatan untuk menulis. Teman-teman blogger yang ingin mendalami ilmu menulis bisa lho gabung. Acara ini juga untuk umum. Kebetulan tahun ini diadakannya di Surabaya, tepatnya di kampus B Unair.
Pengalamanku selama di FLP gak cuma belajar menulis. Organisasi juga. Bukan sekedar kumpul-kumpul doang. Hehehe. Gak rugi pokoknya gabung dengan FLP. Yuk ah mumpung ini acaranya spesiap sweet sventen datang aja. Banyak penulis ternama yang turut hadir.

Aku tunggu kalian ya... kita ketemu tanggal 22. Save the time pokoknya.

Sunday, October 06, 2013

Taman Baca Keliling dan Kelas Intensif Madya

Sudah lama punya niatan ingin memberi manfaat orang lain dengan koleksi buku-buku saya salah satunya dengan taman baca untuk orang sekitar. Mungkin karena kurangnya minat baca, tetangga masih acuh meskipun sudah saya persilahkan. Bahkan saya sering banget menitipkan buku-buku parenting yang saya titipkan pada anak-anak ketika main di rumah. Hanya berselang dua hari buku sudah kembali, si anak saya titipi buku lainnya lagi. Tapi dia menggeleng, "ibu nggak sempat baca tante", ujarnya.

Kali lain saya pun berpikiran, mungkin orangnya sungkan memiliki tanggungan pinjaman buku dalam waktu lama untuk menunggu munculnya mood baca buku. Saya pun memiliki ide untuk memberinya barang 1 eksemplar buku mendidik anak sholeh, karena orangnya seperti jilbaber. Saya belikan langsung yang baru di toko buku alih-alih hadiah. Harapannya dari dia tertarik dengan pembahasan bukunya, kemudian saling sharing kemudian meminjam buku lain yang satu tema. Yang ada selanjutnya tak ada kabar apapun. Bikidan saya pun beralih ke anak tetangga lain yang masih MAN (Madrasah Aliyah Negeri) Sidoarjo. Tapi tak jauh berbeda. Hiks :(

Barulah setelah melihat postingan Mak Naqiyyah Syam, ketua FLP Lampung tentang taman baca keliling. Saya pun turut melakukan hal yang sama. Mungkin tetangga saya belum memiliki minat baca tapi siapa tahu diluar sana ada orang yang suka baca tapi tak memiliki uang untuk membeli buku. Kebetulan pas acaranya dengan Kelas Intensif Madya (KIM) FLP Sidoarjo edisi perdana. Setelah perombakan kelas sebelumnya saya mendapat amanah menjadi mentor (KIM). Sesuai usulan dan kesepakatan bersama akhirnya disepakati tempatnya di alun-alun. Sehingga bisa dijadikan satu dengan Taman Baca Keliling ini.

Foto-foto dulu menunggu yang lain mengerjakan tugas

Me with shawl from Abby and headband J-anez Fashion my own item brand

Karena alat angkut yang terbatas saya tidak bisa membawa semua buku koleksi hanya saya pilih novel dan banyak membawa majalah, mengingat majalah bisa dibaca dalam waktu singkat. Sementara anggota kelas KIM saya bebani buku min 5 eksemplar.

Sudah tak tertata, saling orak-arik mencari buku yang diminati

Meskipun sangat terbatas hanya beralas tikar dan buku seadanya rupanya menarik minat dan antusias ibu-ibu dan anak-anak yang mungkin sedang weekend di alun-alun. Bahkan seorang ibu sampai mencatat resep masakan.

Novel dan majalah menarik minat pengunjung untuk membaca

Seorang ibu mencatat resep masakan

Sambil kita pun belajar materi kepenulisan. Kali ini membahas sebuah resensi buku dilanjut pembacaan cerpen pada jam kedua dengan tugas yang tak jauh berbeda membuat review cerpen di tempat. Sementara untuk resensi menjadi pe-ernya.


Diskusi buku dan penulisan resensi

Suasana kelas di pendopo alun-alun di tengah hiruk pikuk komunitas lain

Tugas di tempat dari anggota KIM FLP Sidoarjo

Yang menarik dari kelas ini kemarin ada yang sampai bawa lontong kikil. Itu disebabkab oleh ultimatum saya yang terlambat membuat satu puisi atau membawa makanan min harga 3000 rupiah. Hihihi bukan apa-apa, reaward and pubishment di FLP Sidoarjo sudah terbiasa. Harapannya semua anggota disiplin, dan kalaupun mendesak terlambat, ada sebuah karya yang menandakan ketidakdisiplinannya tetap menjadikannya produktif. 

Nah, ini nih hasil kreasi mbak Wirra salah satu anggota KIM FLP Sidoarjo

Tapi oh tapi, rupanya teman-teman bangak yang memilih punishment makanan termasuk saya, hehehe. Itupun mereka rela lo mengeluarkan uang lebih dari yang ditentukan. Subhanalloh inilah yang disebut lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, mereka rela membayar daripada ketinggalan kelas sama sekali. Semoga niatan belar kita semua dicatat Allah Swt sebagai jihad belajar dan mendapat amalan berlipat di akhirat nanti. Amiiiiin.

Bukan personil band, tapi inilah wajah-wajah dari personil KIM FLP Sidoarjo dengan formasi tidak lengkap


Wednesday, September 12, 2012

Harusnya Masjid itu Berkubah


Belajar di FLP Sidoarjo membuat saya seperti menjelma menjadi mahasiswa kembali. Enggak pernah nggak ada tugas, walaupun cuma satu atau dua lembar. Itupun rentang waktu dua minggu sekali, hihihi nggak terlalu memberatkan kan?! Tapi efek syndrom home worknya mahasiswa tetep aja kebawa, ngumpulin kalau sudah di tagih sama dosennya :D hihihi. Dan postingan ini termasuk salah satu tugas dari FLP Sidoarjo ketika nonton bareng awal Ramadhan lalu. Baca yaa...
suasana nobar dan ruang kelas kami yang begitu sederhana. Courtesy : FLP Sidoarjo

Harusnya Masjid itu Berkubah
Sebuah Review film by Nunu El Fasa

Fakta Memalukan: Film ini sudah 8 tahun lalu rilis, tapi saya baru pertama kali nonton ketika nobar dengan FLP Sidoarjo Ramadhan lalu :D

Ilustrasi diambil dari sini

Realitas kehidupan yang terjadi di sebuah pasar kota Jakarta, selalu identik dengan masyarakat kelas menengah ke bawah. Meskipun dalam masyarakat kita tingkatan kasta-kasta itu tidak pernah ada, melihat realita dalam Film ini penonton bisa mengartikannya sendiri dari bebagai kondisinya yang kumuh, rumah tak bertembok, masjid tanpa kubah, atau bahkan ketika melihat Film ini kita juga bisa mencium bau anyir dari telur-telur pecah atau dari kubangan-kubangan bebek yang ada. Semua terekam dalam Film berdurasi 92 menit ini dalam satu tema:  Kerinduan.

Di awal durasi, film ini seperti puzzle yang terpecah dan bercerai berai. Penikmat film tidak akan bisa memaknai jika tidak melihat secara keseluruhan cerita. Karena film ini menggambarkan beberapa kerinduan yang diekspresikan pemain-pemainnya dengan beragam cara yang mereka perankan. Sehingga saya yang awalnya mengira Rindu adalah tokoh utamanya, justru tidak bisa menemukan siapa sebenarnya tokoh utama dalam Film ini. Namun sebagai garis besar, film ini memiliki tiga cerita utama sebagai berikut :

Rindu, gadis bisu yang masih bisa bicara tapi dengan aksen pelo (bicara tidak jelas) ini menjadi pembuka Film melalui prolognya menceritakan sosok teman-temannya satu persatu. Dia begitu merindukan kakaknya sebagai pembuat kubah yang sedang merantau karena penggusuran. Hari-hari dia menantikan kepulangan kakaknya dia lampiaskan dengan menggambar masjid tanpa kubah. Satu-satunya hal yang dia ingat dari kakaknya adalah lagu Rindu Kami PadaMu sebagai soundtrack dalam film ini yang pernah diajarkan oleh kakanya.

Asih, dia merindukan sosok Ibu yang pernah pergi meninggalkannya. Dia selalu berharap ibunya pulang dan sholat di sampingnya, sehingga Asih tidak pernah lupa membentangkan dua sajadah untuknya dan satu sajadah kosong untuk ibunya. Dia tidak pernah menggubris nasehat pak Bagja, pengelola dan guru di masjid agar menjaga jarak shaf solat agar tidak ditempati syetan. Asih malah ngelonyor pergi.

Jika Asih masih memiliki dan mengharapkan kehadiran ibunya, berbeda dengan Bimo yang juga merindukan seorang ibu. Bimo yang selama ini di rawat oleh kakanya Seno justru mengharapkan Cantik, sebagai pengganti ibunya. Dia bela-belain mencuri telur dagangan kakaknya yang disembunyikan kedalam saku celananya hingga pecah, agar bisa membuatkan mie dan telur rebus buat cantik. Dia begitu sayang kepada cewek yang dia panggil “Ibu” dan ngekos dekat pasar, hingga membuat putus hubungan pacar, karena dikira anaknya beneran.

Sosok Rindu, Asih dan Bimo, diambil dari sini
Film ini unik, kalau boleh saya bilang inilah film abstrak. Meskipun memiliki tiga main story yang masing-masing berdiri sendiri, secara film keseluruhan menjadi cerita yang utuh. Namun ketika saya mulai memecah puzle-puzle main storynya, ternyata juga memiliki beberapa sub story yang terperan dalam main story diatas, tapi masih dalam satu tema Kerinduan yang sama seperti :

Pak Bagja, jika Rindu merindukan kakaknya si pembuat kubah. Justru pak Bagja ini yang merindukan masjid tak berkubah yang berada ditengah-tengah pasar itu segera memiliki kubah. Sehingga seringkali pak Bagja menemukan sarang burung-burung liar di sekitar pasar yang memanfaatkan tempat kubah itu sebagai sarang telur, hingga anak-anaknya menetas. Bahkan acap kali pak Bagja melihat Rindu yang menggambar masjid tanpa kubah, tidak bisa mengontrol perasaan sedihnya dan menakankan, “Masjid ini memang tidak berkubah, tapi masjid yang sebenarnya itu memiliki Kubah.” Hingga tanpa sadar emosinalnya membuat Rindu kabur karena teringat kakaknya.
Sosok Pak Bagja dan Pak Sabeni, diambil dari sini

Juga tentang cerita pak Sabeni, ayah dari Asih yang ditinggal istrinya karena kelakuan masa lalunya itu juga menunggu kehadiran sosok istrinya. Kerinduan yang di tunjukkan pak Sabeni, setiap hari dia selalu menyediakan segelas teh pada tempat duduk kosong ketika pak Sabeni minum teh di ruang tamu mereka.

Uni, seorang janda yang hidup sebatangkara itu merindukan keluarga dan sosok suami. Sehingga Asih yang juga hidup sebatang kara karena terpisah dengan kakaknya akibat penggusuran itu dianggap sebagai anak asuhnya sendiri.

Seno, melihat ulah bimo memberi stempel Love pada telur
Seno, kakak Bimo si penjual telur. Diusianya yang mulai dewasa, Seno merindukan jodoh yang selama ini tak kunjung menghampirinya. Diam-diam ternyata Seno mendambakan Cantik. Di sisi lain sifatnya yang pemalu karena sikap Bimo terhadap Cantik membuat dia semakin menyembunyikan perasaannya.

Secara umum begitulah gambaran cerita dalam film ini. Namun dari keseluruhan kisah diatas, ada runutan cerita yang menyatukannya sehingga syarat pesan yang ingin disampaikan: sebagai contoh kenapa masjid mereka sampai tidak memiliki kubah? Inilah gambaran masyarakat kita, kaum berada memang lebih memilih menyepuh emas berentet-rentet di leher, jari, lengan, telinga dan pergelangan kakinya daripada menyepuh kubah untuk masjidnya. Dan masih banyak lagi lainnya[.]

Cover Film Versi Terjemah dari sini

Cover Film Indonesia diambil dari sini




Tentang Film
Judul Film     : Rindu Kami PadaMu
Produser         : Teddy Ibrahim Anwar, Garin Nugroho
Sutradara       : Garin Nugroho
Penulis Skenario  : Garin Nugroho, Armantono
Pemeran         : Neno Warisman, Jaja Mihardja, Fauzi Baadilla, Nova Eliza, Didi Petet
Rilis                : Sabtu, 06 November 2004



Saturday, August 18, 2012

Bagi-bagi takjil bergembira... [StoryCake For Ramadhan Part 3]






Telah sepakati menu takjilnya es timun, kurma dari LMI dan tambahan roti dari IIDN Jatim yang akan dibagikan di sekitaran Alun-alun Sidoarjo. Semua persiapan sudah beres, aslinya terima jadi sih dari bu Tatit si pemilik resep es timunnya. Sepertinya saya melupakan sesuatu, baru teringat kalau hari ini saya sudah di booking mamas *pinjem panggilannya manda* untuk bukber anak yatim dengan sebuah perusahaan di daerah Legok-Sidoarjo jauh sebelum rencana bagi takjil ini saya buat.
 
Bingung. Antara menepati janji kepada mamas atau ke alun-alun. Sementara kehadiran saya di alun-alun sebagai anggota FLP yang dihitung sebagai absensi KM (Kelas Menulis) masih bisa saja saya ijin kepada pak Rafif. Tapi terlibatnya IIDN dalam acara tersebut menuntut kehadiran saya. Tidak fair kalau saya lepas tangan begitu saja. Harus ada ikon IIDN yang mewakili, dan itu tidak mungkin dari teman-teman FLP yang juga anggota IIDN. Jika saja teman-teman IIDN dari luar FLP bisa dipastikan kehadirannya, tentu saya tidak segalau ini.

Sementara mamas masih kekeuh saya harus ikut ke Legok. Kemana-kemana kalau diluar urusan pekerjaan dan muktamarnya dengan para kopi-ers, saya selalu ada dibalik punggung boncengan motornya. Beginilah memang cara mamas memperlakukan keberadaan saya sebagai istrinya, bagaimana saya bisa menolak? Walau harus putar arah dua kali akhirnya saya bersedia menemani mamas. Karena saya yang paling jauh, saya yang ngedrop mamas dan motor saya bawa.

Uh, sudah pukul 16.00 kami baru berangkat. Padahal kumpul di alun-alun harusnya pukul 16.30, mana cukup waktu hanya 30 menit dengan dua kali perjalanan. Itupun saya harus melewati jalan tikus dari Legok untuk tembus alun-alun.

Saya tidak yakin hafal jalannya. Sementara dulu ketika mamas memboceng saya melewati jalan tikus itu. Posisi dibonceng dan membonceng memang sangat mempengaruhi pengetahuan tentang jalan-jalan yang pernah kita lewati. Sementara kalau dibonceng biasanya terima pasrah kita sampai di tujuan.

Disinilah insting saya bekerja ketika pentunjuk yang diberikan mamas dalam perjalanan ke Legok, tidak sesuai dengan keadaan laju motor yang saya kendarai sendiri. Saya lebih memilih membuntuti pengendara lain yang saya yakin dari gaya berkendaranya pasti mengarah kekota.

Trap!.. diujung tikungan jalan yang lebih mirip pertigaan karena ditengah-tengah terdapat gang bergapura besar. Haduuhh... pasti nyasar ini. Harus lurus menikung, atau lurus masuk gang? Sementara pengendara motor dari lurus masuk gang, sedangkan beberapa motor dan mobil lainnya lurus menikung? Ikut jamaah apa ikut insting pertama? Rasulullah selalu berpesan untuk meninggalkan keragu-raguan dan keyakinan saya tetap pada insting pertama. Weeeennnngggg.... legaaa akhirnya saya sampai tepat di sebuah rumah diujung tikungan dan ada tulisannya “Di jual”, hanya itu yang bisa saya ingat ketika di bonceng mamas. Pertanda saya akan segera sampai di alun-alun.

Ciiittt... saya memberhentikan motor di taman sebelah selatan alun-alun dan membuka HP. Ternyata lebih cepat dari perkiraan, masih pukul setengah lima lebih. Teman-teman yang datangpun masih segelintir orang, takjil dkk-nya masih dalam perjalanan. Rata-rata merekapun angkatan saya yang datangpun mungkin juga karena alasan kewajiban KM, hihihihi bahkan ada yang baru pertama kalinya bertemu.

Waktu merambat semakin jingga tapi kebutuhan yang ada belum juga sempurna, hanya ada es timun. Tiba-tiba kerumuman pengemis dan pengguna jalanan berlarian kearah lampu merah, rupanya mereka memburu takjil juga yang dibagikan oleh beberapa pemuda dari komunitas lain. Sementara kita belum apa-apa, kita harus mengakui kalah persiapan dengan mereka. Menjelang maghrib baru kami bergerak ke lampu merah yang lain dengan pembagi takjil yang sudah mencuri start kami, arah surabaya sebelah selatan, meski hanya ada es timun yang kami bagikan.

Satu persatu es timunpun ludes, menyusul kurma dan roti. Mulai dari pengguna motor, pick up, mobil mewah, pejalan kaki, semua menerima apa yang kami ulurkan kepada mereka. Tak satupun yang menolak, meski kadang beberapa pengguna mobil mewah itupun hanya membuka sedikit kaca mobilnya untuk menerima takjil yang kami bagikan. Tak apa. Sebuah kepuasan tersendiri melihat kesenangan terpancar dari senyum terimakasih mereka yang berbuka tanpa harus menunggu sampai di rumah untuk mendapatkan kesegaran.


Saking antusiasnya sampai kami lupa menyisakan untuk buka diri sendiri, sampai-sampai ada yang rela joinan es timun atau malah tidak kebagian. Huhuhu... kalau saja tidak teringat untuk menjemput mamas saya masih ingin puas-puasin foto narsis di tengah jalan. Hehhehe kapan lagi bisa foto di jalan begini[.]

Saturday, February 18, 2012

Membaca, baru kemudian Menulis











Bisa menulis (bukan menjadi penulis?) adalah impian terpendamku sejak SMA. Maklum aku memiliki teman duduk yang hobi sangat dengan menulis. Ira namanya. Setiap kali punya tulisan dia selalu menyodorkannya kepadaku. Dan aku menjadi satu-satunya orang (teman mungkin) yang mengagumi karyanya sebelum dia jadi penulis nantinya, pikirku saat itu. Yap, itu karena tulisan-tulisan Ira bukan untuk konsumsi umum, dipasang di madding mungkin, atau dikirim ke majalah? Tidak. Ira hanya senang menulis, kalau bukan aku yang merebut kertasnya saat itu, mungkin aku tidak pernah menghargai tulisannya yang sudah memotivasiku untuk menulis saat ini.

Tapi, aku heran darimana Ira bisa menulis? Dia juga bukan anggota kru Mading, dia sama seperti aku yang sama-sama mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi selembarpun aku belum pernah bisa menulis. Jangankan iseng-iseng menghasilkan tulisan. Menulis cerita liburan untuk sebuah tugas saja aku sulit memulainya.

Dan aku baru mengetahui kuncinya ketika aku sudah lulus SMA -(Kuharap teman-teman yang membaca ini bisa sadar lebih awal, supaya tidak seperti aku), jauh setelah SMA aku sempat kerja melalang buana, kuliah dan baru kemudian mulai mengenal blog. Blog bagiku rumah di dunia maya. Seperti halnya rumah yang harus diisi dengan berbagai macam perabotan, memiliki blog juga harus rajin mengisinya dengan berbagai tulisan. Tulisan yang selalu terupdate inilah yang menandakan rumah maya ini berpenghuni dan selalu hidup.

Di dunia orang mengatakan “Dunia tak selebar daun kelor”, tapi di dunia maya aku bisa bicara “Dunia maya tak sesempit di dunia nyata”. Sekali meng-klik bisa saja aku tersesat, dan kenyataannya demikian benar aku tersesat dalam komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) yang entah darimana aku menemukan.

Aku bersyukur, aku beruntung walau hanya sebatas via online, aku tergabung di dalamnya. Beragam tulisan narsis setiap harinya dalam inbox emailku. Aku iri, aku juga ingin seperti mereka yang bisa menulis, kemudian di baca banyak orang. Apalagi jika aku menemukan tulisan dari mba Helvy atau mba Asma Nadia yang menceritakan dirinya sedang traveling, Subhanalloh kapan aku seperti mereka. Dari membaca beragam tulisan teman-teman inilah aku mulai tergerak untuk memulai menulisya alamat grupnya yangerak untuk memulai menulisinya sedang traveling, subhanalloh kapan aku

Dan menyesalnya,ternyata aku baru tahu darimana Ira bisa menulis. kuncinya sederhana, Ira lebih sering ke perpustakaan daripada ke kantin ketika jam Istirahat sekolah. Ira lebih banyak membaca dari pada aku yang lebih banyak makan di kantin.
Aku memulai menulis dari membaca. Aku tidak hanya membaca artikel-artikel online yang disodorkan teman-teman di inbox emailku. Aku juga membeli beragam buku yang aku suka, mulai dari cerita komedinya Dewi Dedew Rieka, Novel-novelnya mba Ifa Avianty, sampai buku beratnya Filosofis Islam Modern Agus Mustofa. Aku membeli buku bukan karena penulisnya, tapi dari apa yang ia tulis yang bisa aku baca dari sinopsisnya, dan dari sanalah kadang buku tersebut bisa memikatku.

Untuk apa buku itu? Selain dibaca dan mengoleksinya. Buku-bukuku bisa jadi kamus tersendiri bagiku. Yap… itu ketika aku kesulitan untuk memulai menulis, atau kadang ketika ideku putus di tengah jalan. Aku mengambil energy dengan membaca kembali buku yang cocok dengan genre yang aku tulis.

Misalnya ketika aku kesulitan ingin memulai menulis buku catatan harian komedi, buku-buku Raditya Dika yang sudah tertata rapi di rak buku bisa saja melompat berserakan di kamar tidur. Atau kadang bisa juga sampai lecek kebanyakan aku lipat-lipat untuk menandai halaman tulisan-tulisan atau quote yang aku suka. Dan aku juga tidak ragu untuk membeli buku dari para penulis baru, hanya ingin belajar banyak tentang gaya penulisan masing-masing penulis.

Setelah tulisanku jadi satu halaman, subhanalloh seneng banget ternyata aku bisa nulis juga. Namun aku masih belum pede dengan tulisanku. Setelah aku mencetaknya menjadi buku yang lebih mirip foto copyan itu, aku memberikan tulisanku kepada teman-teman di kantor dan aku di tertawakan. Aku belum gagal. Menulis memang tidak mudah, tapi bukan berarti aku tidak bisa. Oleh karena itu aku mencoba lagi, dan mencoba lagi.

Ketika aku mengedit tulisanku, ada sebuah lomba yang temanya sama dengan tulisan yang aku tulis. Iseng-iseng aku mengirimkannya. Dan subhanalloh tanpa kuduga, tiga bulan waktu yang hampir tidak pernah kunantikan. Seorang memberitahuku, bahwa aku masuk menjadi pemenang nominasi 30 besar. Senang bukan main, walau hanya 30 besar dan bukan juara. Karena ini penghargaan pertama dari apa yang kutulis.

Dari sana aku mencoba lagi hal sama yang pernah ku lakukan dengan gambaran diagram di bawah ini, yang mungkin lebih mirip dengan rantai makanan tikus. Tapi tak apa yang penting mengerti maksudnya:

Membaca ==> Menulis ==> Edit ==> Kirim ==> lupakan ==> membaca lagi==> dst.

Bisa juga berubah menjadi seperti ini.

Membaca ==> membaca ==> membaca==> menulis ==> biarkan mengendap di file==> menulis ==> membaca ==> buka file lama kemudian edit ==> kirim ==> lupakan.

Pada intinya menulis itu selalu diawali dengan membaca, darimana bisa menulis kalau tidak pernah membaca? Bisa juga sih. Namun aku rasa hanya penulis Egois yang hanya mau menulis saja tanpa pernah mau membaca. Membaca karya orang lain bagi aku adalah sebuah penghargaan terbesar dari seorang pembaca kepada penulis.

Dan semua tulisan harusnya juga diakhiri dengan Send atau kirim. Terserah penulis mau dikirim kemana tulisannya. Ada banyak media yang bisa di pilih. Majalah, penerbit, blog, notes Facebook, atau sekedar mencetak dan membagi kepada teman seperti yang pernah aku lakukan, penulis yang memilih. Yang penting tulisan tersebut bisa dibaca orang Karena karya yang bisa di baca oleh banyak pembaca akan menjadi kebanggan penulis tersendiri tentunya[.]



Feel Free To Follow My Blog