Monday, March 05, 2012

Happy Birthday To Me


Ah sudah tanggal 5 Maret lagi. Yang artinya umur gue nambah lagi. Bukannya umur itu bertambah setiap hari ya? Dan di hari ini umur gue jangkep (pas) 25 tahun. Wahh, sudah mencapai angka perak rupanya. Nggak kerasa. Sesuatu yang patut di syukuri.

Bicara ulang tahun pasti nggak luput dengan yang namanya pengharapan, padahal pengharapan/doa harusnya dipanjatkan everyday. Iya juga sih. Tapi paling tidak semoga semua pengharapan yang belum terkabulkan bisa terkabulkan di umur gue ini. Amin :D

Berharap gue mendapat dukungan doa dari sobat Bloggerku untuk mengamini doaku semoga cepat terkabul. Apa saja sih?

1. Keharmonisan Rumah Tangga Gue

Bulshit jika sebuah rumah tangga seperti jalan tol lurus yang mulus, termasuk rumah tangga gue. Pasti ada kerikil, tikungan, tanjakan, atau bahkan palang melintang di depan kami . Namun gue ga berharap itu menjadi penghalang kami untuk tetap bersyukur kepada Allah Zat yang sudah mempertemukan kami. Dan apapun yang terjadi dalam rumah tangga kami semoga kami selalu diingatkan akan komitmen awal kami saat bersyahadat kepada-Nya dulu. Diberikan keberkahan dalam rumah tangga kami, kesehatan kami dan rejeki yang halal dan terus mengalir sedekah dari rumah tangga gue.

2. Momongan

Cukup satu, kalaupun diberi banyak gue bersyukur banget karena sudah setahun setengah ini kami menantikannya. Ga muluk-muluk, yang sehat wal afiat jasmani dan rohani.

3. Mandiri

Bukannya kami tidak bisa mandiri, tapi masih terhalang restu mertua untuk keluar dari rumah ini. Semoga restu orang tua segera mengalir untuk kami menempati rumah saya sendiri.

4. Buku Solo Gue Terbit

Dilancarkan ide dan pena gue untuk tetap mengisi Blog tercinta gue ini. Termasuk planing gue membuat novel solo ataupun Non Fiksi bisa segera terbit


Amin :D
Dan gue mengucapkan terimakasih kepada keluarga, teman, sohib gue atas semua doa kalian. Baik yang di wall fb, Inbox, Tag, Twitter, Mention, sms, BB, semuanya thanks dan amin untuk doa kalian yang baik :D

#dalam kamar menantikan kado suami berupa rak buku

Sunday, March 04, 2012

Ayam Cemani, enak tapi nggilani

Ayam Cemani Hitam
Minggu ini kedatangan tamu dari keluarga calom besannya mertua, tapi bukan orang tua saya. Adek suami saya yang paling kecil hari ini akan (sudah) mendapat kepastian jawaban tentang lamarannya tempo lalu kepada pacarnya.

Layaknya akan menjamu tamu pasti tidak terlepas dari acara masak-memasak. Dan dua masakan andalan ibu mertua saya Kare Ayam plus Sop Iga Sapi yang terkenal enak di kampung saya. Secara ibu mertua memang sering kedapatan bagian masak untuk acara-acara masjid seperti menjamu Kiayinya . Hem nggak di ragukan enaknya, tapi bisa di pastikan berapa banyak kandungan vetsinnya :D.

Nah, ketika menguliti tiga ekor ayam ada satu ayam yang sangat berbeda. "Ih, dekil banget ayamnya". Mungkin kalo orang, rasnya ras Afrika. Mulai dari bulu, cucuk (mulut), hingga buntutnya hitem banget. Itupun hingga daging dan tulangnya ikutan hitam.

Ini yang namanya Ayam cemani. Katanya sih, ayam yang begini ini biasanya untuk obat end bisa juga untuk tolak balak. Harganya bisa 3 hingga 4 kali lipat ayam biasa. Bahkan di yakini ayam yang cucuk tembus jembrutu (kloaka)nya hitam, bisa manjur untuk obat. Dan, jika dihargai harus sepengucap yang punya ayam harus di beli tidak boleh ditawar. Katanya sih.

Namun, saya pikir-pikir. Ayam begini kok di buat jamuan untuk tamu sih. Emang sih ayamnya mahal, tapi tidak semua orang tahu tentang ayam cemani dan khasiatnya. Saya saja baru tahu tadi. Bukan apa-apa penampilannya saja tidak menarik, apalagi untuk disuguhkan kek ayam penyakitan meski di beri Garnish sekalipun. hehehe :D

Eh, benar ternyata. Ada tamu yang protes;
"Pak, ayam penyakitan begini kok disuguhkan si pak"
"Lho, itu ayam cemani..............", belum selesai sudah diputus si bapak yang nanya.
"Maksudnya, nggak ada lagi yang hidup lagi ta pak, sini tak bawa e pulang"

Geerr...

#Moral Of the day; Ayam Cemani Sayang dimakan, mending di jual



Saturday, March 03, 2012

Cerita Jodoh : Diantara Dua Pilihan


-->
Ilustrasi okezone


Oleh : Nunu El Fasa
Ibu sakit juga gara-gara aku. Semenjak ayah meninggal, ibu jadi memikirkan semuanya sendiri  termasuk memikiran diriku. Bukannya aku membantu malah menyusahkan begini sampai ibu sakit.
Siapa lagi yang disalahkan kalau bukan aku? Kakak sudah menikah dan tinggal bersama istrinya sementara adikku masih kecil. Dan aku yang paling dewasa harusnya bisa ngertiin ibu. Huh aku mengutuk diriku!
Kalau saja aku tidak patah hati, mungkin ibu masih sehat wa’afiat seperti dulu. Setiap hari aku mengurung di kamar, tidak mau keluar. Sekalipun untuk sekedar mencari pekerjaan yang lebih layak daripada sekedar pengajar Ekstrakulikuler Drum Band di sekolah. Tapi, ibu mengira aku ngambek gara-gara menginginkan motor baru. Ibu salah! Ibu sudah terhasut omongan tetangga. Aku masih suka dengan motor peninggalan ayah meski butut begitu. Aku bukan ngambek ibu tapi aku patah hati. Dan aku nggak berani bilang seperti itu kepada ibu. Aku cuek tidak perduli dengan yang orang lain pikirkan termasuk ibu. Ah Ibu, aku begitu menyesal. Sungguh!
Saat itu aku sedang bingung berkali-kali putri membujukku untuk melamarnya, tapi aku tak bisa berkata.
“Aku belum siap menikah, put”, jawabku mengharap pengertiannya.
Baru saja ibu menikahkan putra sulungnya. Bukan beban yang ringan bagi seorang janda tiga anak meski pesta perkawinan kakakpun sederhana. Ditambah lagi dengan permintaan putri agar aku melamarnya. Rasanya aku tidak sanggup mengatakannya kepada ibu. Mengenalkan putri kepada ibu saja, aku masih menunggu waktu yang tepat. Apaagi melamarnya?
“Aku tidak mau menikah dengan mas Rangga, dia sudah izin kepada orang tua untuk melamarku mas. Tapi ibu tak berani menjawab menunggu jawaban dariku. Dan aku menunggu jawaban darimu mas", penjelasan putri malam itu.
Aku hanya menunduk semakin bingung,
“orang tua tidak berani menolak mas Rangga, pun tidak berani mengiyakan. Setidaknya kalau mas sudah melamarku, ada alasan kuat untuk menolaknya.”
“Tapi put,,,,”
“Hanya lamaran, kita tidak buru-buru menikah”, potong putri sebelum kulanjutkan perkataanku.
Huuuuuffffffttttt…..
Aku menghela nafas panjang mengingat kejadian itu yang hanya bisa ku pendam sendiri tanpa pernah kubicarakan kepada kakak ataupun ibu. Dan kini ibu terkapar dirumah sakit karena kesalahpahaman itu.
Namun, sudah terlanjur. Akupun tidak bisa mengatakannya sekarang, itu hanya akan memperparah kondisi ibu. Sudah dua kali ibu keluar masuk rumah sakit demi kesembuhan ibu. Setelah seminggu opname di tumah sakit Karangmenjangan Surabaya. Kondisi ibu semakin membaik. Ibu sudah bisa menggerakkan tangan kirinya setelah sebelumnya tak dapat digerakkan sama sekali akibat struk yang dideritanya.
Kini ibu kembali harus masuk rumah sakit lagi. Kali ini aku tidak membawanya ke rumah sakit terbesar di Asia itu. Aku tidak kuat membayar biayanya. Disana, peralatannya lengkap dan canggih namun biaya berobat masih mahal bagi kami orang desa. Juga biaya hidup di Surabaya yang tidak sedikit bagi yang menjaga ibu disana. Apalagi kakak ipar dan kedua mertua kakak ikut menjaga bergantian. Aku harus menjaga harga diri ibu dan kakakku untuk tidak merepotkan mereka lagi.
Sehingga ibu hanya kubawa ke rumah sakit Umum di tempatku. Toh mungkin ini hanya kambuhan penyakit ibu saja dan butuh pemulihan pasca dari karangmenjangan. Tempatnyapun tak jauh dari kontrakanku, dan aku juga bisa merawatnya, hanya butuh satu asisten untuk menggantikanku. Tapi siapa?
Tidak mungkin putri, pasca kejadian itu aku tidak pernah mengabarinya kalau ibu sakit. Adikku apalagi, dia tidak dapat diandalkan.
Akhirnya aku mencomot salah satu mantan muridku yang kini mau masuk kuliah. Dia sedang libur satu minggu setelah ospek. Dan aku memintanya membantunya menjaga ibuku bergantian dengan aku. Itung-itung aku memperpanjang masa ospeknya. Hehehe
Mila namanya, bukan seorang pendiam seperti putri, namun berjilbab. Aku suka dengan keteguhan prinsipnya dalam menjaga aurat. Diam-diam aku memimpikan putri bisa seperti dia nantinya.
Setiap hari mila menjaga ibu, menyuapi ibu, memberi obat, memcuci bajunya termasuk pakaian dalam ibu. Mila juga yang memandikan ibu dan mencebokinya. Aku tidak pernah mengira mila melakukan ini. Bahkan dia rela dikerubung nyamuk ketika tidur di kolong tempat tidur rumah sakit.
Hingga ibu mengatakan sesuatu kepadaku, “Ibu tidak bisa membalas kebaikan Mila. Hanya kamu yang bisa membalaskan untuk ibu. Segera Nikahi Mila, Nak?” Pinta ibu kala itu yang menjadi wasiat satu-satunya yang ditinggalkan untukku.
Aku tidak bisa memilih lagi. Putri atau Mila. Tentu aku memilih Mila, bukan maksud aku menyakiti hati Putri. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk ibu, Cinta bisa mendurhakakann orang tua, namun restu orang tua tentu bisa menghadirkan cinta dan kebahagiaan ibuku.
40 hari setelah wafatnya ibu, aku menerima undangan pernikahan Putri dan Rangga yang malamnya itupun aku mempersunting Mila.
Subhanalloh, aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Selain bisa membuat ibu tersenyum di alam kubur, aku bisa membalas budi untuk Ibu yang tidak pernah aku merasa lunas untuk menebus kebaikannya meski aku menikahinya[.]

Friday, March 02, 2012

Dia Bukan Jodohku, Sebab Cinta Tak Harus Memiliki


-->(;cerpen yang tidak pernah lolos dalam lomba;)
By. Nunu El-Fasa
Okti, Mahasiswa baru yang berhasil memikatku. Sejak awal menjadi panitia Ospek, mataku sudah tertuju padanya. Padahal Okti juga berasal dari Aliyah yang sama denganku di Jombang. Bahkan satu pondokan, aku di pondok putra dan Okti di pondok putri. Tapi aku tidak pernah melihatnya mungkin karena kesederhanaanya, Okti tidak terlihat olehku yang ketika itu sering menjadi idola karena kepawaianku dalam kejuaraan Voley di sekolah. Dan entah dengan caraku tak kubiarkan orang lain mempermainkannya seperti boneka ospek anak-anak baru lainnya. Tanpa menunggu lama setelah aku tahu tentang dirinya, kuputuskan untuk menembaknya meski aku belum pernah pacaran sekalipun menembak lawan jenis karena sifatku yang pemalu. Namun ajaib kali ini aku berhasil memacarinya.
Empat tahun lebih kujalani kisahku bersama Okti. Bisa kubilang hampir sempurna tanpa cacat. Bukan berarti tidak pernah ada masalah, selayaknya hubungan di antara manusia, semua itu ada tapi tidak akan ada artinya.
Jalinan cinta kami bukan seperti Romeo-Juliet, Rama Shinta ataupun Laila-Majnun. Lebih dari itu, jika dalam agama Islam ada syari’at, hakikat dan ma’rifat maka cinta kami telah memasuki gerbang hakikat di hati kami masing-masing.
Allah SWT yang menjadi pengikat cinta kami dan Rosululloh-lah teladan untuk saling menjaga cinta ini.
Yaa, aku hanya ingin lebih bertanggungjawab pada komitmen awal hubunganku, untuk selalu menjaga Okti. Hanya aku orang terdekatnya di kota ini, jauh dari orang tua dan keluarga membuatku ingin lebih menjaganya. Dan akan kujaga calon mahkotaku. Begitu aku selalu meyakinkan diriku bahwa Okti adalah calon Istri yang paling tepat untukku.
Hingga di setiap kepulangannya ke desa tak kubiarkan Okti sendirian. Empat tahun tidak pernah bosan pulang-pergi Magetan-Malang hanya untuk memastikan Okti akan baik-baik saja dari rumah hingga kembali ke tempat kosnya.
Pacar! Mungkin itu status yang kami sandang di mata teman-teman. Pacar-pacaran yang banyak menjamur di kampus sebagai penghibur kuliah. Tidak! Tidak akan pernah ada yang mengerti tentang ini, tentang hati kami, tentang semua yang terjadi dan yang kami alami. Tidak akan pernah mengerti sekalipun detail aku ceritakan. Dan memang biarlah hanya kami yang mengerti dan merasakannya.
Hingga tak ada keraguan, kami saling mengenalkan keluarga masing-masing. Aku yang sering bertandang kerumahnya tidak adil jika Okti tidak kukenalkan dengan keluargaku.
Hangat dan ramah sambutan keluargaku terhadapnya. “Alhamdulillah, aku tidak salah pilih. Memang Okti wanita sempurna dan calon istri Sholikha untukku” begitu batinku.
Namun beberapa minggu setelah kedatangannya ke rumah. Ibu berucap, “ada firasat ibu yang tidak baik nak, Okti bukan untukmu. Kalian tidak akan bisa bersama”
Astagfirullah, ibu yang selalu aku nantikan kebaikan doanya, mengatakan hal yang seharusnya tidak beliau ucapkan. Tapi aku yakin ibu tidak asal bicara. Ibu sangat merestui hubungan kami begitu pula ayah. Kriteria calon menantu yang diharapkan, semua ada padanya. Lalu apa maksudnya ucapan ibu??
Aku terus mencari jawaban yang sebenarnya tidak kuinginkan. Tapi aku penasaran dan akan kubuktikan ucapan ibu tidak benar. Kuamati kesalahan-kesalahan terkecil barangkali aku kurang teliti terhadapnya. Tidak juga kutemukan.
Berharap dapat jawaban darinya aku ceritakan apa yang terjadi. Oktipun sama sepertiku, tidak percaya akan ceritaku. Aku percaya Okti, Oktipun percaya penuh kepadaku. Tidak ada yang disembunyikan di antara kami.
Sampai menjelang wisudanya, baru Okti mengatakan sesuatu yang belum pernah ia tahu sebelumnya. Sesuatu yang tidak Okti kehendaki. Sesuatu yang benar-benar menyakiti kami, ternyata Okti sudah ditunangkan dengan pria pilihan orang tuanya sejak awal kuliah yang tidak pernah ia tahu. Okti tidak bisa memilih antara aku dan orang tuanya. Aku orang yang dicintainya dengan orang tua yang selalu diharapkan kebahagiaannya.
Tipisnya perbedaan antara sedih dan bahagia membalikkan kisah yang telah kami rajut sejak awal hingga akhir kuliah.
Dan Allahpun benar-benar membuka mataku, membuka hatiku bahwa jodoh memang kuasa Allah. Bukan haq-ku mengatur jodohku. Bukan haq-ku pula mengatur jodohnya Okti. Sebab cinta tak harus memilikinya, maka kubiarkan Okti pergi dengan setumpuk doa agar Okti lebih bahagia bersama calon keluarganya[.]

Thursday, March 01, 2012

Dariku Selalu Ada Cinta Untuk Pengamen

-->

 Bersama sahabatku, aku terdampar disebuah kota asing yang belum pernah ku kunjungi sebelumnya. Bogor! Kota dingin sedingin kantongku.
Entahlah. Kedudulan atau kenekatan kami melalang buana tanpa mikir banyak modal untuk bertahan hidup di kota segedhe metropolitan dan bogor. Yang ada dipikiran kami saat hendak berangkat hanyalah menggunakan kesempatan. “Kapan lagi kita dapat kesempatan naik pesawat ke Jakarta, lagian kita kan belum pernah kesana”. Celetuk Rinta sahabatku, saat ditawari dua ticket pesawat Surabaya-Jakarta. Dan aku langsung mengiyakan tanpa pikir panjang mengenai kepulanganku. Dudul banget kan?! Dan itupun kita masih nekat pergi ke Bogor.
Belum juga pulang, uang saku yang hanya cukup makan dua hari itu sudah nipis. Dan ini sudah hari ketiga tapi uang kita masih sisa. Memang kita tidak terlalu memikirkan urusan perut. Dan yang membuat kami bisa sampai Bogor tanpa mengurangi uang saku kami adalah dengan “Ngamen”.
Bayangin aja kami bisa naik bis Gratis dan dapat tambahan uang pula sepanjang Jakarta-Bogor, ya butuh pengorbanan juga kita harus Naik-Turun sebanyak lima bus. Wah, jangan Tanya tentang kemaluan kami. Kami nggak kenal kok dengan bapak, ibu, mas-mas dan mba-mba yang naik bus ini. Sudah kami bungkus rapat-rapat demi sebuah petualangan.
Sewaktu kembali ke Jakarta mungkin kami bisa naik bis gratis lagi. Sedangkan untuk ke Surabaya?!, tidak mungkin jika kami harus ngamen lagi. Jarak tempuh yang sangat lama, memungkinkan kami bisa sampai lima hari tiba di Surabaya dan pindah naik turun bisa sampai berapa puluh kali?. Sedangkan keesokanya kamipun harus kembali kuliah.
Pertolongan Tuhanpun tiba, saat ngamen antara kota Bogor-Jakarta kami nyasar pada sebuah bus yang penumpangnya semua berbaju putih. Syetan?! Bukan kelihatannya baik semua. Jin?! Bukan juga, tapi penumpangnya adalah sekumpulan club haji yang sedang kembali dari tour menuju Semarang.
Tidak seperti kebiasan ngamen, usai nyanyi kami tidak langsung minta royalty. Tapi Rinta sahabatku yang penuh cinta, menawarkan jasa pijat kepada para penumpang yang kelelahan itu. Subhanalloh, dapat respon positif. Di tengah memijat kami selipkan cerita perjalanan kami, banyak yang tidak percaya dengan kenekatan kami. Ada juga yang tidur terlelap oleh cerita kami. Huh! Capek tidak kami rasakan, asal kami bisa pulang. Dan sampai di kota Semarang kami bisa menghabiskan lima belas, ya habis capeknya berpindah ke kami. Dan Alhamdulillah akhirnya terkumpul uang untuk beli ticket kereta yang akan membawa kami ke Surabaya setelah salah seorang yang baik hati melengkapi kekurangannya.
Karena petualanganku inilah, aku tidak pernah membenci pengamen. Hidupku pernah terselamatkan dari mengamen. Dan dariku selalu ada cinta untuk Pengamen[.]

Wednesday, February 29, 2012

Kisah Islam: Menemukan Hidayah Iman

Pergolakan Batin Meraih Hidayah-Nya
By. Nunu El Fasa

Tanpa banyak pertimbangan, entah kenapa dulu aku langsung menerima lamaran mas Danu. Padahal jelas-jelas aku tidak seiman dengannya yang orang muslim. Mama dan Papa juga tidak setuju dan hanya merestui kalo aku tetap memegang iman turunan keluargaku yang nasrani, oleh mas Danu diterima begitu saja padahal aku tahu iman mas Danu sangat kuat, kenapa mau menikah denganku yang non muslim?. Banyak juga teman-teman muslimahnya yang juga aku yakin lebih menarik daripada aku yang keturunan china. Dan anehnya dengan satu syarat mudah papa merestui hubungan kami. Mungkin yang menjadi nilai lebih, mas Danu adalah dari keluarga berada yang sederajat lebih tinggi dari keluargaku.
Kamipun menikah, tanpa embel-embel cinta yang bisa kuberikan kepada mas Danu. Sekian lama menikah hingga dikaruniai dua orang anak yang cantik dan sholeh, aku belum bisa melupakan cinta pertamaku kepada Hardian. Ruang hatiku sudah ditempatinya, tak sedikit tersisa untuk bisa ditempati mas Danu.
Aku dan Hardian berpacaran di masa SMA, dia laki-laki smart yang mampu membuatku mencintainya meski kami beda agama. Tanpa restu orangtua tapi kami berhasil menjalani hingga lulus SMA dan memutuskan kuliah di Surabaya. Sedangkan aku, papa tak inginkan aku kuliah di Surabaya. Aku menurut dan merelakan Hardian kuliah di Surabaya dengan Janjinya kembali ke kota untuk menikah denganku.
Aku sangat menanti janjinya, janji yang selalu kugenggam hingga tak kubiarkan cintaku mati. Tak inginkan orang lain menggantikannya meski papa selalu inginkan aku segera menikah. Duh Hardian, kau lupakah dengan yang kau janjikan? Sudah empat tahun lebih tapi tak pernah Hardian kembali dengan kabarnya.
Akhirnya, dia datang membawaku mengulang masa laluku. Tapi aku sadar, aku sudah bersuamikan mas Danu dengan dua orang anak yang masih butuh-butuhnya kasih sayangku. Aku kembali menaruh harapan dan kebahagiaanku kepada Hardian.
Dia, masih care seperti dulu, BBM yang selalu dia kirimkan sedikit mengurangi rindu yang masih kusimpan, tak pernah lupa setiap hari Hardian meneleponku. Ku akui aku masih cinta Hardian, ada rasa keinginan yang mendalam untukku bisa bersamanya kembali.
Seorang teman curhatku di masa SMA yang tahu tentang hubungan kami, sampai menasehatiku,
“Ingat Shel, Ingat sama suami dan anak-anakmu. Rahardian hanya kisah masa lalumu. Lagi pula kau kan sudah tau kalau dia juga punya lima anak dari dua mantan istrinya”
“Entahlah Tik, aku juga bingung. Hubunganku sendiri dengan mas Danu juga sedang tidak harmonis. Kau tau kan, baru dua hari ini aku pulang kerumah setelah dua bulan aku tinggal di rumah papa. Lagi-lagi pertengkaran kami dipicu oleh urusan keyakinan yang tidak ada ujungnya. Aku suda capek tik, capek! Sampai seminggu aku terkapar di rumah sakit, gara-gara memikirkan Hardian dan Permasalahan keluargaku”
“Iya Shel, aku ngerti”
“Kalaupun bukan karna anak-anakku dan janji mas Danu untuk tidak mengungkit-ungkit tentang keyakinanku dan putriku. Aku sudah menyusul Hardian ke Kalimantan”
“Shel, pliiiiiss dengarkan aku. Sekali ini aja! Kamu mau menggantungkan kebahagiaanmu dengan Rahardian yang tidak jelas hidupnya di Kalimantan?. Sementara kamu disini sudah hidup enak dengan keluargamu. Semua sudah dicukupi oleh mas Danu. Rumah, mobil, dan kebutuhanmu. Sedangkan di Kaltim, apa iya Rahardian masih seperti yang dulu setelah sekian tahun berpisah”
“Coba pikir deh Shel, dia sudah gagal menikah dua kali Shel. Sementara dia punya anak dengan mantan istri pertamanya yang seorang dokter di Surabaya. Dan dari Istri keduanya yang seorang penari memiliki dua anak. Lima anak Shel yang menjadi tanggungan Hardian. Apa kamu yakin bisa mengatasi lima orang anak tirimu nantinya. Dan lagi kalaupun Rahardian orang yang pantas untuk dicintai, kenapa mantan-mantan istrinya tidak berkenan ikut Hardian merantau ke Kalimantan. Malah, kudengar yang istri kedua pergi meninggalkannya. Sedangkan kamu, yang hidupnya sudah bahagia, ingin menyusulnya kesana."
“Kamu dengan mas Danu bukan tidak bahagia, tapi kamu yang tidak menghedaki dirimu bahagia bersama mas Danu. Cobalah buka sedikit hatimu untuk mas Danu, aku yakin kamu bisa bahagia bersama keluargamu”
Panjang lebar Etik memberi pemahaman tentang kondisi Rahardian dan aku yang sudah berkeluarga. Pikiranku sedikit terbuka, meski tidak kupungkiri masih terbesit rasa terhadap Hardian. Aaarrrggghhh….
Ada benarnya perkataan Etik, entah kenapa aku bisa berjanji sama Hardian untuk pindah memeluk Islam tapi kenapa tidak kepada mas Danu. Padahal jelas-jelas mas Danulah masa depanku. Hatiku sudah kututup dengan Rahardian dan aku yang harus membukanya untuk mas Danu.
Dan benar saja,
Suatu ketika hadir tetangga baru di tempatku dari Kalimantan. Yang ternyata dia juga satu lingkungan dengan Rahardian di Kalimantan. Awalnya aku tidak percaya, mungkin banyak yang memiliki kesamaan, bukan rahardianku. Dia menunjukkan foto Rahardian yang ku kenal. Iseng-iseng aku menanyakan kabarnya. Setelah dengan sengaja aku ganti nomor untuk menghindarinya sudah tidak lagi aku mendengar kabarnya.
“Oalah mba, Mas Dian disana sering gonta-ganti pacar. Wanita yang dibawa pulang selalu beda orangnya. Mungkin dia frustasi ditinggal sama istrinya dulu. Tapi emang benar sih istrinya, Lha wong mas Dian juga tidak perduli dengan Istrinya."
Astaga. Sebegitunyakah hidupmu disana Hardian? Apakah aku pantas jika aku masih mencintaimu sementara aku mengacuhkan cinta mas Danu yang jelas-jelas begitu menyayangi aku. Ternyata Tuhan sudah membuka kedua mataku, untuk merelakanmu. Aku bersyukur aku tidak salah mengambil keputusan mempertahankan suami yang begitu penyayang terhadapku.
Pelan-pelan aku bisa menerima mas Danu karena aku percaya mas Danulah imam keluargaku selama ini dan aku kembali mengikrarkan cintaku dengan dua kalimat syahadat dengan tuntunan Ustad Fauzi, teman mas Danu. Subhanalloh Kan ku genggam hidayah ini erat-erat selamanya, karena aku yakin mas Danulah Imamku dan Islam agamaku.
“Pada hari ini Aku telah sempurnakan agamamu (Islam) dan Aku telah melimpahkan nikmat-Ku padamu, dan Aku ridha Islam sebagai agamamu.” (Q.S. 5:3)[.]

Pengalaman seseorang yang telah diceritakan oleh seorang teman
Nunu El-fasa

NB : Ini bukan kisah saya, tapi pengalaman seseorang yang diceritakan teman kepada saya. Jadi tolong jangan dianggap kisah saya, saya hanya menuliskannya. Meski ini True Story tapi semua nama disamarkan. So, jangan dianggap ini kisahnya ustad Danu yang di TV itu yaa.. Hehehe maaph soalnya sering ada yang nanyain:D. Just the name, boleh sama dong tapi beda orangnya :D



Resensi


Daftar buku yang saya resensi :
Daftar Resensi Saya
  1. The Mint Heart by Ayuwidyapublish on web Unsa
  2. My Perfect Sunset by Kyria
  3. Meniti Kehidupan Agung by Rafif Amir Ahnaf
  4. Best Of Seoul & Sekitarnya by Deasy Rosalina dkk, Publish On Web IIDN & Koran Jakarta edisi 14 Juni 2013
  5. Alway Be In Your Heart : Pulang Ke Hatimu : by Shabrina WS
  6. StoryCake For Your Life: Mompreneur by Ari Kurnia dkk, Publish on Web IIDN
  7. Rahasia Sukses Budidaya Itik Petelur dan Pedaging by Liana Mutiawaty, Publish on Web IIDN
  8. Pecahkan rekor masak enak Junior master chef by Anti Aprilyanti Suganti, Publish on Web IIDN
  9. Kamu Narsis atau Eksis? by Navita Kristi AstutiPublish on Web IIDN
  10. Bukan Buku Best Seller by Indari Mastuti dan Pritha KhalidaPublish on Web IIDN
  11. 4 Cermin Flora by Dhony Firmansyah
  12. Yang Kedua by Riawani Elyta
  13. Bunda, Seks Itu Apa Sih by Nahda Kurnia dan Ellen Tjandra, publish on Majalah Potret
  14. Virus Mompreneur by Indari Mastuti dan Julie Navapublish on harian Koran Jakarta
  15. Sejuta Pelangi by Oki Setiana Dewi
  16. PING, A Message From Borneo by Shabrina WS dan Riawani ElytaPublish On Koran Jakarta
  17. My Idiot Brother by Agnes Davonar

Feel Free To Follow My Blog