Showing posts with label Ngelencer. Show all posts
Showing posts with label Ngelencer. Show all posts

Thursday, October 02, 2014

Warisan Situs Candi Jedong

Situs Candi Jedong
Bisa dibilang kali ini wisata tanpa sengaja. Bonus ketika ngantar mertua berobat ke daerah Mojosari, nggak jauh dari tempat terapisnya ada bangunan candi. Hmm,, penasaran, sambil menunggu mertuaku terapi aku dan suami melenggang ke tempat candi tersebut. Cuma jalan kaki, paling ada 25 langkah saking dekatnya.
Candi Sungging di Situs Candi Jedong
Namanya Candi Jedong. Kabarnya candi ini lebih tua dari candi tikus di Trowulan. Dari hasil googling, Candi Jedong dibangun pada masa kerajaan Mataram Kuno. Terdapat dua buah bangunan candi dalam sebuah areal taman yang luas. Bersih, tertata dan rapi, namun masih sedikit tanamannya. Meski demikian tidak mengurangi kesejukannya, karena candi ini terletak di lereng Gunung Penanggungan, tepatnya di daerah Jedong, Kec. Ngoro, Kabupaten Mojokerto.
Pose di depan candi Sungging
Sebenarnya candi ini terbuka untuk tempat wisata, sayangnya belum banyak pengunjung. Ketika kami datang tempatnya sepi, dan memang kondisinya seperti ini setiap hari. Kebanyakan wisatawan dari lokal yang merupakan anak sekolah seperti kegiatan Pramuka. Kami langsung menuju bangunan singgah tempat penunggu candi Jedong ini. Tidak ada tiket masuk sama sekali, kami hanya disodori buku tamu dan bebas berfoto ria. Sayangnya, saat itu candi baru saja mendapat perawatan khusus yang dilakukan oleh tim pusat selama satu minggu sebelumnya. Sehingga candi tidak boleh dinaiki untuk beberapa waktu.
Jalan-jalan sore di taman candi Jedong yang Asri
Menurut abah Wage terapis yang memijat mertua, kedua bangunan candi ini memiliki nama Sungging Adi Luwih. Sebelah kanan atau yang dekat dengan gunung namanya Sungging, sementara yang kiri namanya Adi Luwih. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Jika Sungging lebih tahan bergadang (jarang tidur) daripada menahan luwih (lapar/puasa) sementara Adi Luwih, lebih tahan puasa (seperti namanya, luwih dalam bahasa jawa adalah lapar) tetapi tidak tahan bergadang. Karena mitos jaman dulu puasa dan bergadang merupakan salah satu bentuk tirakat atau bertapa. 

Jika disadari memang demikian. Orang yang kebanyakan tidur lebih kuat menahan lapar, sementara yang doyan bergadang biasanya banyak makannya. Kalau orang jawa bilangnya ndemimil, :D. Sekilas, candi Sungging memang lebih besar daripada candi Adi Luwih, yang kebanyakan tidur menahan lapar.
Mengamati candi Adi Luwih di Situs Candi Jedong

Taman Situs Candi Jedong

Wednesday, September 24, 2014

Bulan Madu Impian di Rimba Jimbaran

Jalan-jalan mesra di area taman
Aku belum bisa move on mimpiin hanimun di Bali nih, gimana yak? Abis ngelihat foto-foto ini kayaknya nggak salah kalau hanimun di Bali menjadi impian banyak orang. Sampai orang luar negeri sekalipun juga menggelar pesta pernikahannya di Bali.

Pesona Bali memang terjawab dari keindahan pantainya, juga beragam daftar tempat wisata di Bali menjadi daya tarik wisatawan. Bahkan menginap di hotel sekalipun sudah bisa memanjakan diri penuh dengan liburan. Coba tuh, hotel bintang 5 di Bali kebanyakan menghadap view pantai yang Indah. Apalagi dipenuhi hujan Sunrise atau Sunset. Hem, betah deh enggak perlu kemana-mana cuma di hotel juga sudah jadi liburan tersendiri. Dan salah satu impianku adalah menginap di Rimba Jimbaran. Hem seperti apa ya hanimunnya?
Area taman yang kami kelilingi
Sesampai di hotel, aku nggak akan menghabiskan waktu cuma di dalam kamar hotel. Meskipun tujuannya bulan madu, enggak melulu sepasang suami istri harus di kamar. Sayang banget jika harus melewatkan keindahan Rimba Jimbaran. Aku akan mengajak suamiku jalan-jalan di sekitaran taman hotel yang penuh dengan nuansa Indah kolam renang. 
Mencumbu sunset bersama suami
Kemudian kegiatan jalan-jalan inipun ditutup dengan santai-santai mesra dengan suami di Lobi Sunken Lounge. Ini daya tariknya Rimba memiliki sebuah area yang lobi lounge terendam air. Eh gimana itu ya? Kayak tempat yang lebih rendah dari air, jadi kita bisa duduk-duduk ditengah air tanpa kebasahan. Viewnya serasi banget dengan tenggelamnya matahari. Aku dan suami bisa bercengkrama mesra di area ini.

Makan malam romantis
Tiba-tiba suami menghadiahiku sebuah kejutan. Tanpa sepengetahuanku suami memesan paket dinner romantis untuk kami. Ah, biasanya makan malam kami cuma nasi taboan 5.000. Ini menjadi spesial karena paket dinnernya termasuk spa package supaya aku tampil lebih cantik. Hihi, mandinya pun mandi cantik di dalam bak mandi penuh dengan aroma bunga segar. Benar-benar sebuah honeymoon impianku. Kalau kamu punya impian honeymoon yang bagaimana?

Mandi cantiknya pakai aroma bunga segar

NB, semua koleksi foto by Rimba Jimbaran Bali

Monday, September 22, 2014

Bulan Madu Impian

Aku masih ngantuk saat pesawat yang kami tumpangi mendarat mulus di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Aku dibangunkan suamiku. Rupanya dia yang duduk dekat kaca jendela pesawat, menikmati penerbangan pertamanya ini. Dia begitu tenang, tak seperti aku dulu saat pertama kali naik pesawat dari Bandung ke Sidoarjo. Aku berpegangan erat dan hampir saja mabok pesawat saat take off. Suamiku tetap biasa saja. Mungkin inilah bedanya orang cuek dan orang banyak gaya seperti aku ini. :p

Untungnya kami tak menunggu lama, mobil jemputan akomodasi yang membawa ke sebuah Hotel Bintang 5 di Bali sangat menghargai waktu, tak membiarkan kliennya ini menunggu. Kulihat bukti booking hotel yang aku pesan bulan lalu, oh rupanya jaraknya 19 km lagi dan merebahkan kepalaku tanpa izin di pundak suamiku.
Kamar yang romantis buat kami
Tau-tau aku berada di kamar terbuka. Ya, kamar yang sisi kiri kanannya merupakan kaca dan tembus pandang ke arah luasnya samudera. Aku melihat punggung suamiku berdiri di tepi pagar sambil sesekali terlihat mulutnya mengeluarkan asap yang cepat dilibas angin. Yup, anginnya sejuk sekali, tak perlu kunyalakan AC untuk mensejukkan diri.

Ada hal yang ingin kutanyakan padanya. Di rumah aku sering merengek manja minta diangkatnya. Aku tahu dia pasti tidak mau. Paling benci kalau pas aku sedang manja. Kalaupun dituruti dia selalu pura-pura tidak kuat, Mungkin ia terbawa suasana honeymoon dengan private villa di Ayana Resort ini, sehingga ia mampu melakukannya.
Pemandangan yang kami lihat dari balkon kamar kami 
"Memangnya aku kuat?"

Oh iya aku lupa akan satu hal. Berat tubuh kami kan hampir sama, aku 60kg sementara dia 70kg. Duh sempat Ge-eR aku. "Okeh-okeh aku akan diet supaya kau bisa mengangkatku, Mas. Puas."

Ada satu tanya yang belum terjawab, "lalu siapa yang mengangkatku tadi Mas?"

"Aku dibantu dengan sopir."

Ha?

------

NB: Sumber foto dari Ayana Resort

Wednesday, August 27, 2014

Menikmati Indahnya Malam Yogyakarta Dari Atas Becak

Selfi di atas becak
Flash back kembali ketika liburan ke Jogja Mei lalu. Ada satu kegiatan yang belum aku ceritakan di blog ini, yaitu ketika malam-malam naik becak di seputaran Jogja.

Sebenarnya bukan liburan sih, waktu itu ada undangan bedah buku dari sebuah Yayasan yang menerbitkan buku dimana aku sebagai kontributornya. Serulah, karena waktu itu aku ditemani suami yang sengaja ambil cuti sambil liburan bersama.

Setelah kegiatan pokok terlaksana, malamnya kami baru bisa menikmati liburan. Enggak mau buang-buang waktu, kami memulai liburan dengan menikmati malam dari atas kayuhan becak. Dilema juga sih, enggak ngebayangin gimana capeknya pengayuh becak dengan dua penumpang yang enggak bisa dibilang kecil. Oleh karena kami mempunya tips sebelum naik becak, menyeleksi tukang becak yang kira-kira tenaganya masih strong, minimal enggak tua. Meski dilema itu masih ada, bagaimana dengan nasib pebecak tua? Hiks, jika sudah demikian, aku memasrahkan semuanya kepada sang pemberi rezeki. Baru deh enggak ada yang mengganjal ketika naik becak.

Jogja malam hari memang Indah, selalu ada yang membedakan dengan kota-kota lainnya. Seperti halnya becak, yang kini jarang aku temukan di Sidoarjo, apalagi sulitnya akses transportasi umum membuat aku lebih banyak memilih menggunakan kendaraan pribadi (baca: motor). So, excited banget ketika suami punya ide naik becak.

Setelah negosiasi harga, pertualangan kamipun dimulai dengan mengitari alun-alun selatan Jogja. Seperti pusat disco, di tempat ini kami temui warna-warni dari lampu becak gowes. Dengan dentuman musik yang mengiringi kayuhan becak. Dan ngegowesnya enggak sendiri, biasanya rame-rame dengan keluarga atau teman. Mungkin inilah yang disebut Gowes Asik, perpaduan antara musik, teman, dan olahraga membuat suasana liburan kian berwarna seperti pancaran lampu-lampu becak gowesnya.
Gowes asik dengan becak warna-warni
Setelah puas di menikmati Gowes Asik, kami keliling seputaran Jogja, ke kawasan Malioboro, sengaja untuk membeli oleh-oleh diawal liburan supaya enggak mengganggu liburan keesokannya. Kami berbelanja di pasar Beringharjo. Meski pasar tutup, depan pasar masih ramai penjual oleh-oleh, diantaranya bakpia pathok  dan batik-batik khas Jogja.

Baru deh setelah dapat oleh-oleh yang kami cari, liburan di atas becak ditutup dengan hunting kuliner Jogja. Bertebarannya tempat-tempat kuliner mulai dari yang lokal kejawa-jawaan sampai dengan makanan stranger membuat kami bingung memilih. Akhirnya bertemu dengan Oseng Mercon. Namun sayang, si tukang becak tidak mau diajak nimbrung. Bukan maksud membedakan, mungkin tukang becaknya lebih nyaman makan di atas becaknya ya. Jadi iri nih. Hehehe...

Meski begitu kami cukup puas dengan pelayanan tukang becaknya, cukup friendly dan menjadi tour guide bagi kami. Menjelaskan beberapa tempat penting yang sebelumnya tidak kami tahu, seperti taman pintar, Benteng Vredeburg, Lengkung Gading, Benteng Pojok Timur, serta kekayaan wisata lainnya dari Jogja. Meski malam hari, tempat-tempat wisata tersebut banyak yang tutup, tukang becak dengan senang menjelaskannya kepada kami yang hanya wisatawan lokal.



Tuesday, August 12, 2014

Lily Guest House Malang, Penginapan Harga Home Stay Fasilitas Hotel

Malang memang menjadi salah satu tujuan wisata yang banyak diminati. Setiap Minggu bisa dipastikan jalur ke selatan (arah Malang) macet. Memang di Malang yang terkenal sebagai kota Pendidikan juga sebagai kota wisata yang memiliki banyak sekali tempat wisata yang bisa dikunjungi. Mulai dari wisata alam, wisata edukasi, sampai tempat refreshing keluarga dengan berbagai penyewaan villa di Malang.

Mungkin bagi masyarakat sekitar Malang sudah menjadi hal biasa. Wisata ke Malang dilakukan dalam sehari. Jarang-jarang sih ke Malang pakai nginap segala. Tetapi, sejak dibukanya BNS (Batu Night Spectacular) Carnival yang bukanya hanya pada malam hari, mencari penginapan di Malang (yang murah meriah dan nyaman) menjadi salah satu yang diperhitungkan sebelum wisata.

Lily guest house bisa menjadi list penginapan recomended di Malang. Jika dilihat bentuk dan kamarnya memang seperti hotel dengan konsep sederhana. Yang paling suka manajemennya, keren banget. Enggak sembarang pasangan bisa masuk, apalagi bagi yang belum punya buku bergambar burung garuda di sampulnya (read: buku nikah). Jadi nyaman bagi single travelers yang ingin menginap tanpa khawatir salah masuk hotel.

Terdiri dari 4 lantai tanpa lift atau eskalator. Lumayan kalau nginap di lantai 4 bisa kurusan naik turun tangga. Kalau malas keluar untuk cari makan, pihak pengelola juga menyediakan pemesanan makanan meskipun emang enggak ada lounge. Makanan akan diantar ke kamar. Lumayan murah harga makanannya dibanding penginapan yang lain.

Kamarnya sendiri yang standar tarifnya Rp. 150.000 per malam. Nggak jauh beda dengan tarif home stay dengan fasilitas kamar seperti hotel.

  • Ac yang terawat (bukan yang berisik)
  • Televisi digital
  • Kamar mandi shower dengan wc duduk
  • Wastafel yang jadi satu di kamar mandi

Bersih dan rapi penataannya. Bisa diketahui pengelolanya penginapan yang ada di Ruko pasar besar Malang ini emang love lokal dan ingin mengangkat kekayaan Indonesia dengan penggunaan batik pada wallpaper serta sprei dan sarung bantal dengan kain motif lokal.

Suka deh sama kamarnya. Berkonsep gitu. Rasanya pas tahu harga 150.000 dengan kamar seperti ini, seperti enggak salah pilih penginapan. Berbeda ketika harga standart dengan fasilitas standart akan biasa saja. Apalagi yang harga mahal dengan fasilitas biasa saja, beuh rasanya tuh (di sini, nunjuk dada) pengen cepet keluar dan cari penginapan pengganti. Kata temanku, jika di Jakarta penginapan seperti ini bisa sampai 250.000 per malam.

Yes, bintang 4 deh. Recomended buat teman-teman yang akan traveling ke Malang.






Friday, June 13, 2014

Berburu Oleh-oleh Khas Jogja di Pasar Beringharjo

Oleh-oleh juga menjadi salah satu daftar belanja saat liburan, biasanya dilakukan ketika hendak mengakiri traveling. Tujuannya supaya oleh-oleh yang berbau makanan enggak basi. Tetapi oleh-oleh Jogja kali ini dijamin enggak basi, dan kami melakukannya malam hari saat kami ngebecak malam di seputaran Jogja. Niatnya emang jalan-jalan ke Pasar Beringharjo, tetapi kata tukang becak, pasar Beringharjo kalau malam tutup. Nothing to lose, toh ternyata meski tutup penjual di emperan depan pasar tetap buka dan enggak kalah ramenya dengan pasar. Apa saja oleh-oleh yang kami dapat:

Bakpia Pathok Khas Jogja
Makanan mungil isi kacang hijau ini menjadi oleh-oleh Khas Jogja yang enggak ada matinya
Namanya memang bakpia pathok, yang diabadikan oleh Project Pop dalam lagunya Lumpia vs Bakpia, menjadi makanan khas oleh-oleh dari Jogja. Bentuknya bulatan kecil-kecil, berisi berbagai varian rasa. Originalnya, bakpia pathok berisi kacang hijau. Meski kacang hijau warnanya sendiri putih karena kulitnya sudah dikupas. Kalau sekarang bisa berbagai macam warna, bisa hijau, putih, hitam dan merah. Sementara varian rasa yang lain adalah strawberry.

Ngomong-ngomong, kenapa ya namanya bakpia pahtok? Ternyata bakpia pathok ini ada pusat produksinya, dinamakan bakpia pathok karena dulunya produksi bakpia ini berada di jalan pathuk. Tetapi sekarang nama jalan itu sudah berubah nama. Makanya aneh ya, kenapa di setiap kotak bakpia selalu disertai nomor. Nomor tersebut tidak membedakan jenis ukuran bakpia, melainkan menjadi identitas dimana bakpia tersebut di produksi, yaitu nomor rumah dari pemilik rumah produksi di jalan pathuk tersebut. Hihihi, lucunya, aku ngebayangin jika itu ukuran bakpia, macam sandal pula ada ukurannya :D
Suamiku ketika bertransaksi dengan penjual bakpia

Skirt Batik Santung Perca
Skirt model perca memang sudah ngetrend sejak dulu, tapi aku gak tertarik memilikinya. Apalagi yang model suwir-suwir bikin aku nyinyir, bah pemakainya sudah gak ada bedanya dengan gembel. 

Etapi ternyata jenis kain batik santung ini colour full, memberi kesan ceria pemakainya. Dan lagi, jahitannya lebih rapi tanpa suwir-suwir. Sayangnya memang kelemahan fashion perca ada pada sambungan (jahitan) yang sering bermasalah. Kurang kuat. Sehingga kudu hati-hati makainya. (Baca juga: Menemukan Batik Santung Perca di Pasar Beringharjo)
Warna-warni batiknya cute

Kaos Identitas Jogja
Dagadu dengan tulisan alaynya D464DU merupakan salah satu brand kaos identitasnya Jogja. Tapi sekarang sudah menjamur kaos identitas di pasar dan emperan. Kaos-kaos ini yang menjadi buruan para backpacker dengan kantong pas-pasan termasuk kami. Tak perlu mahal dan merk karena aku memang sedang tidak ingin membeli merk. Kaos-kaos ini hanya menjadi sebagian jejak bahwa kami pernah menginjakkan kaki di kota Jogja. Apakah teman-teman juga suka membeli kaos identitas sebuah kota tujuan traveling seperti kami?

Tas Batik Mini
Tas batik mininya langsung berguna
Banyak sekali pilihan tas batik, mulai dari ransel, tas laptop dan tas mini yang aku beli. Alasannya tas tersebut dapat dipakai dua model, untuk pouch dan selempang. Sangat pas untuk tempat smartphone Samsung Galaxyku dan dompet. Jika ke pasar atau ke toko yang lumayan jauh dan perlu waktu lama selalu bingung membawa model hape sekarang yang lebar-lebar, masuk saku gak muat bawa tas kebesaran. Termasuk jalan-jalan waktu membeli oleh-oleh ini, terpaksa kami membawa salah satu tas ransel hanya untuk menaruh hape.

Tas mini ini cukup membantu tidak kebesaran dan tidak terlalu kecil, cukup. Bahkan tak perlu menunggu sampai rumah, tas mini ini langsung dipakai sejak kuadopsi dari penjualnya. Kami membeli sepasang untukku dan suami. Sehingga jika butuh sewaktu-waktu dengan hape bisa dijangkau dengan mudah. 

Kain Batik
Usai membayar pamit kepada si Mbah, alhamdulillah dapat doa juga
Ternyata kain bisa menjadi oleh-oleh tanpa harus menyesuaikan dengan kesukaan orang yang akan kita beri oleh-oleh. Kalau dipikir, membelikan baju jadi belum tentu si empunya suka atau ukurannya pas. Tetapi dengan kain orang bisa mengubahnya sendiri jadi apa yang dia suka. Bisa dijahit atau langsung dipakai kain. Seperti ibu mertuaku yang awalnya ragu aku membelikannya, ternyata oleh ibu kainnya langsung dipakai jarikan. Tanpa pernah kupikir memakai jarik bukan perkara umur tetapi bisa disesuaikan momentnya. (Baca juga: Nenek Penjual Kain Batik di Pasar Beringharjo)

Baju Batik Anak-anak
Penjual baju batik sering banget dijumpai di pasar Beringharjo ini termasuk baju batik untuk anak-anak. Modelnya pun kece-kece. Kami membeli untuk para ponakan kami di rumah.

Itulah beragam oleh-oleh Jogja yang kami dapatkan di pasar Beringharjo. Meskipun malam tetap membuahkan hasil. Semoga bisa menjadi petunjuk oleh-oleh ketika teman-teman mengunjungi Yogyakarta.

Wednesday, June 11, 2014

Perjalanan ke Malang Nyaman dengan Kereta Api Bima

Ketera Api Bima saat tiba di Stasiun Malang
Perubahan jadwal kereta per 1 Juni 2014 oleh pengelola KAI (Kereta Api Indonesia) yang tak kuketahui, membuatku memutuskan untuk menggunakan Kereta Api Bima ketika pergi ke Malang, Kamis, 5 Juni 2014 lalu. Baru sekali ini aku naik kereta dengan membeli tiket mendadak, coba aku beli tiket kereta api dari kemarin-kemarinnya, tentunya aku bisa memperkirakan berangkat lebih pagi lagi. Dari rumah sudah meluncur pukul 04.50 sampai enggak sempet pamitan ibu mertua karena masih belim turun dari Masjid. Eh ternyata kereta yang kukejar berangkat pukul 05.45 sudah berangkat pukul 05.15. Duh, apes! Ditinggal kereta deh.

Setelah tanya-tanya, Kereta Api Eksekutif Bima dengan tujuan Malang ini menjadi pilihanku. Meskipun rada lumayan mahal (6x lipat dari harga kereta ekonomi biasa biasanya) berangkatnya tak perlu menunggu waktu lebih lama. Daripada aku naik bis ke Malang coba. Tarif sama-sama, tetapi di kereta aku bisa bergerak dengan leluasa. Bisa jalan-jalan dan selonjoran. Sementara di bis, dudukannya sempit dan cepat capek karena goncangan hingga acara mual-mual segala. Bonusnya, naik kereta lebih cepat sampai. Hal ini yang membuatku cinta Kereta Api daripada Bis.

Sebenarnya Kerera Api Eksekutif Bima jurusan Surabaya-Malang ini merupakan trayek baru yang beroperasi sejak 6 Februari 2014 lalu. Keretanya sendiri berangkat dari Jakarta dengan tujuan Surabaya. Karena waktu balik lagi ke Jakartanya masih lama, menunggu waktu 12 jam lebih, oleh pihak pengelola dimanfaatkan untuk diteruskan ke Malang pulang pergi, Surabaya-Malang-Surabaya, baru menuju Jakarta.

Meskipun berangkat dari Jakarta, tarif ke Malang tetap menggunakan perhitungan tarif baru Surabaya-Malang, bukan Jakarta-Malang, seperti yang kita tahu tarif kereta sekarang disamakan, tidak pandang bulu naik dari stasiun terdekat maupun terjauh tetap sama. Tarif Surabaya-Malang sendiri Rp.30.000. Jika dibandingkan dengan Kereta Api Ekonomi memang jauh perbandingannya. Tetapi kita lihat bagaimana pelayanannya?
Interior keretanya bagus like new
Pertama dari interior kereta yang bikin aku betah. Tempat duduknya empuk dan hanya terdiri dua dudukan yang kesemua dudukannya menghadap depan. Enak kan ya, enggak bikin pusing.
Bantal kecil untuk sandaran leher
Kalau pusing? Disediakan bantal untuk sandaran kepala. Kalau kayak gini pusing enggak pusing tetap bikin ngantuk. Apalagi AC nya sejuk. Terasa dinginnya ke segala penjuru kereta dan kakiku yang berkaos kaki masih kena dingin.
Ketika tumpuannya melipat
Ketika tumpuannya terbuka
Yang ketiga adalah pijakan kakinya buat selonjoran enak. Ada tumpuan yang nyaman buat menopang kaki agar tidak menggantung.
Dan yang keempat ada TV nya. Etapi kayaknya enggak bisa buat nonton TV. Bisanya buat nonton video saja. Mayanlah ya, suaranya bisa buat isi telinga sambil ngantuk-ngantuk. Hehehe

Kalau kamu, suka naik kereta apa?

Tuesday, June 10, 2014

Nenek Penjual Kain Batik di Pasar Beringharjo

Saat pamit dengan nenek penjual kain batik, bonus doa dari sang nenek
Sebenarnya kain batik tidak ada dalam list belanja oleh-oleh ketika kami ke Jogja bulan lalu. Entah kenapa, lagi-lagi aku tertarik membeli kain batik ini setelah mengetahui penjualnya perempuan tua alias nenek-nenek. (Baca juga: Kisah Kakek Penjual Kerupuk) Yang aku lihat dari mereka yang berusia udzur tetapi tetap mau bermanfaat beraktivitas, adalah semangatnya. Usia tak menghalangi mereka untuk memanfaatkan diri setidaknya untuk diri sendiri. 

Padahal nenek penjual kain batik ini, ketika melipat kain saja, tertatih sekali, penuh sabar dan telaten menata dagangannya. Semua serba pelan kayak slow motion di film-film action, tapi ini bukan film, pengaruh usia. Duh, aku sampai nggak tega dan menghampirinya, meninggalkan suami yang masih memilah-milah daster batik untuk ibu.

Niatnya untuk bantu melipat-lipat, oleh si Mbah, malah dibeberkan kain-kain dan dijelaskan nama-nama kainnya, semisal jarit parang. Suami yang tadinya hampir deal harga dengan penjual daster, kupanggil dan kutunjukkan dengan memberi kode membeli kain batik ini saja buat oleh-oleh.

Lumayan mikir lama. Soalnya ibuku (baca: mertuaku) juga enggak biasa pakai jarit di rumah. Kain-kain ini memang cocok dipakai jarit oleh nenek-nenek. Sementara aku tak punya nenek-nenek lagi. Dengan kode sekali lagi, udah beli saja barang satu lembar kain, suami malah membeli dua lembar kain. Entah mau dibikin apa, dipikirin entaran.

Sementara daster yang tadi mau dibeli oleh suami enggak jadi. Rada enggak enak juga. Penjualnya bapak-bapak sangar, dan lumayan susah ditawar. Mau dikasih, suamiku kabur. Letaknya masih bersebelahan sih, hanya saja si nenek lesehan gelar tikar, bapak-bapak penjual dasternya punya lapak berdiri. Si bapak penjual daster melihatnya ke kami yang pindah ke lapak nenek, pandangannya enggak enak banget. Mau balik lagi membeli dasternya, uang juga enggak cukup. Terpaksa dengan tampang pura-pura cuek, suami kuajak ngelonyor setelah pamit dengan nenek penjual kain batik. Urusan oleh-oleh untuk ibu, InsyaAllah mau dengan kain batik ini.

Sunday, June 08, 2014

Mobil Gowes Menggerlapkan Alun-alun Selatan Yogyakarta

Mengunjungi alun-alun selatan Jogja, kita akan disuguhi gemerlap cahaya lampu warna-warna dan music disco yang menggema. Yups, suasana gemerlap tersebut bukan dari pub atau diskotik, tetapi berasal dari jejeran mobil lengkap dengan hiasan lampu dan sound systemnya. Mobil tersebut juga bukan mobil beneran ataupun mainan, melainkan becak gowes yang biasa aku lihat di kotaku, Sidoarjo. Tetapi di sini, di Yogyakarta, disulap seperti mobil yang mempunyai roda dan atap atau cap di atasnya. Sungguh kreatif, sehingga namanyapun bukan lagi becak gowes, melainkan mobil gowes karena mengendarainya seperti mengayuh sepeda. Tak perlu menghabiskan bahan bakar, mobil gowes hemat energi ini hanya butuh dikayuh bersama-sama siapapun yang turut naik diatasnya.
Penampakan mobil gowes yang beroperasi di Alun-alun Selatan Yogyakarta
Mobil gowes ini memang dipajang berjejer, sehingga amat terasa gemerlapnya. Pengunjung di alun-alun selatan Jogja, bisa mengendarai dengan menyewa Rp.30.000 sekali putaran luasnya alun-alun. Hitungannya dimulai dari tempat di mana mobil gowes ini di sewa, memutar alun-alun sampai kembali lagi ke tempat semula. Rata-rata pengunjung yang menyewa mobil gowes ini dikendarai bersama teman atau keluarga. Sambil sesekali berjoget mengikuti irama musik yang keluar dari sound systemnya. Suaranya menggema seperti sound systemnya orang hajatan. Apalagi mobil gowes yang beroperasi ini banyak sekali, tak henti-henti mobil gowes yang berlalu lalang.

Ketika kami tiba di tempat ini, suasana mendung sudah menyelimuti. Sesekali gemuruh mengingatkan kami yang masih kekeuh ingin keluar tak mau kehilangan memory dari suasana ini. Hingga hujan turun yang mengharuskan kami segera menepi dan meneduh. Beberapa penjual, juga buru-buru melipat alas yang digunakan sebagai tempat lesehan supaya tak kehujanan. Tetapi bagi pengendara mobil gowes, hujan biarlah hujan, gowes tetap "Go Wes" (baca: ayo wes).

Butik Dian Pelangi Jogja dan Kompetisi Lari

Butik Dian Pelangi di Yogyakarta
Meskipun kami tak berhasil merasai hangatnya wedang uwuh ketika di Jogja, kami bisa merasai dahsyatnya ledakan oseng-oseng mercon Bu Ria tepat di samping butik Dian Pelangi Jogja.

Awalnya aku enggak tahu. Pas tukang becak berbelok dari arah perempatan jalan. KH. Ahmad Dahlan, mata ini tertuju pada neon box. Mata ini emang rada kabur melihat logo dalam neon box dari kejauhan. Akhirnya kutanyakan suami, kali aja kenal soalnya enggak asing banget. Eh logo apa sih itu kok kayak kenal banget, tau nggak mas? 

Itu kan butik Dian Pelangi dek. Ha? Si Mas sampai hafal logo butik Dian Pelangi atau emang mata Si Mas yang lebih benderang daripada aku sampai gak bisa baca dari jauh ya? *lupakan*

Belum selesai pembicaraanku sama Si Mas, tukang becak malah memberhentikan becaknya tepat di depan butik Dian Pelangi. Dalem ati, apa karena kami membicarakan butik Dian Pelangi ya sehingga dikira aku mau belanja dimari. Duh, mana kudu bawa uang minimal sejuta kalau belanja dimari. Abis donk. Gak bisa pulang.

"Pak langsung saja ke oseng-oseng mercon," pintaku saat aku sudah turun dari becak. 

"Niki mbak oseng-oseng mercone," ujarnya menjawab permintaanku. 

Owalah. Kayak hopeless, yah gak jadi ke butik Dian Pelangi ya :(

"Mampir ayo mas," rengekku. 

"Lapar, dek."

"Iya, nanti selesai makan."

"Duwe duit piro?"


Ditanya begitu, hopeless beneran deh aku. Ternyata parkir tepat depan warung bertenda milik bu Narti ini penuh. Jadi pak becak parkirnya di depan butik Dian Pelangi. Dudul tenan aku, kenapa enggak melihat ke samping ya. Padahal warungnya penuh. Berjubel pembeli. Kami sampai enggak kebagian meja.

Beruntung pas aku pesan makanan ke mbak kasir dikasih tahu meja kosong. Itupun hampir rebutan sama orang yang kulihat dia sudah mau ambil ancang-ancang lari menuju meja. Ibu tersebut enggak tahu kalau aku juga mendekat menuju meja itu juga meski tanpa berlari. Karena aku yang lebih dekat, Aku deh yang dapat mejanya. Beuh, berasa kompetisi lomba lari di dalam warung makan. Meskipun menang tetap makan bayar sendiri. Hiks :(

Yuk makan, review belakangan :)
Letak Butik Dian Pelangi Jogja, tepat di samping kiri Lesehan Oseng-oseng Mercon

Wednesday, May 28, 2014

Menikmati Suasana Malam Sambil Ngopi Keren di Yogyakarta

Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam di atas kereta Sri Tanjung, kami tiba di Yogyakarta. Oleh petugas panitia yang menjemput, tak lain rekan kerja suamiku, kami dibawa mencari angin malam Yogya. Memang akunya yang meminta, ingin sekali menikmati wedang uwuh khas Jogja. Tapi sama sekali aku tak juga menemukan apa yang kucari. Begitu juga dua teman suamiku yang menjemput, sebagai penunjuk jalan justru enggak tahu keberadaan wedang uwuh. Agak sedikit kecewa sih, tapi tak apa, tak ada wedang uwuh wedang, wedang Joss alias wedang arang pun jadi. 

Mobil pun melaju ke arah Stasiun Tugu. Bukan, bukan untuk kembali pulang. Melainkan, disilah tempat nongkrong malam hari di Jogja selain Malioboro. Jika Malioboro adalah kawasan elit dan para bule berduit, di sekitaran Stasiun Tugu ini kawasan sebenarnya suasana malamnya Jogja. Penuh dengan makanan merakyat masyarakat Jogja ditemani suguhan para seniman jalanan.

Mobil kami pun masuk di parkiran Stasiun Tugu, karena tempat parkir yang notabene jalan raya tak muat. Sudah banyak mobil-mobil yang bertengger. Aku pernah melewati jalan ini ketika siang hari saat ke Jogja sebelumnya, jalanan ini lumayan rame lalu lalang kendaraan, tetapi saat malam juga ramai dengan keramaian berbeda. Lebih hidup suasana malamnya. 

Karena tak ada wedang uwuh, akupun juga memesan wedang Joss sama seperti suamiku. Itung-itung aku juga belum pernah minum dan merasakan sensasinya. Sementara dua teman suamiku yang dengan setia menemani kami ngopi keren meski bukan kopi lover, memesan teh hangat ditemani beberapa gorengan.

Kerap beberapa seniman turut mewarnai suasana malam di kawasan ini. Mulai sekedar pengamen dari anak-anak, remaja, sampai seniman beneran kayak sinden suaranya. Bedanya mereka nyindennya ngamen di jalan-jalanan menghibur kopi lover. 

Puas menikmati kopi Joss kamipun capcuss menuju hotel tempat kami menginap. Aku dan suamiku yang kecapaian perjalanan, sementara dua tuan rumah yang mengundang kamipun juga kecapaian karena seharian belum pulang kerja persiapan acara keesokannya. Tak lupa sebelum beranjak, foto-foto dulu depan monumen kereta api. 



Monday, May 12, 2014

Menginap Semalam di Cepuri Hotel Bersama Pacarku

Tampak dari depan Cepuri Hotel seperti rumah
Cepuri Hotel, salah satu penginapan yang terletak di kawasan Prawirotaman Yogyakarta. Banyak sekali pilihan penginapan di kawasan ini mulai dari hotel biasa sampai homestay, yang memang terkenal dengan kawasan penginapan murah di Jogja. Termasuk Cepuri Hotel.

Bentuknya memang mirip rumah. Memasuki ke dalam akan terlihat deretan kamar yang yang disewakan dengan rate harga masih dibawah Rp. 200.000.

Saat kami (aku dan suamiku) di Jogja, kami menginap di hotel ini untuk semalam. Sebenarnya sebagai tamu transfer dari hotel lain, yakni Hotel Muria yang kami tiduri malam sebelumnya. Karena di Hotel Muria enggak bisa memperpanjang penginapan untuk semalam lagi karena sudah terlanjur penuh dibooking orang lain. Pihak hotel mencarikan alternatif hotel lain yang sekelas dengan dengan Hotel Muria, berjodohlah dengan Hotel Cepuri ini.

Dari tarif harganya memang sama-sama Rp. 175.000 per malam. Tapi ternyata dari segi fasilitas Hotel Cepuri lebih nyaman. Sepertinya memang lebih profesional. Tadinya aku emang enggak punya foto-foto hotel karena emang lupa foto-foto, setelah searchibg ketemulah Hotel Cepuri yang kayaknya hotel biasa ternyata juga punya website sendiri cepurihotel.com.
Kamar 3A yang kami tempati. Meskipun foto pinjam tapi aku ingat dengan lantai dan dinding kaca sebelah kiri-kanan karena kamar ini tunggal enggak ada sisiannya.
Dari kamar yang kami tempatin di nomor 3A, tepat di samping pintu masuk. Ruangannya lebih luas. Terdapat almari pakaian, nakas rias, jemuran handuk, perlengkapan toileters sabun dan handuk, juga televisi serta sarapan walau sekedar roti dan teh hangat.

Menyenangkannya di luar kamar juga disediakan dispenser yang bisa dipakai untuk umum. Suamiku yang pecinta kopi, jadi enggak bingung mau ngopi kemana. Malam sebelumnya selalu ngajakin keluar hotel melulu untuk sekedar ngopi di warung kopi. Tapi di hotel ini suami jadi betah, tinggal keluar kamar untuk nyeduh kopi, sementara kopinya sudah siap sedua kopi sachet beli di minimarket saat keluar. Mau dinikmati di luar atau di dalam kamar suka-suka aja. Yang penting enggak capek-capek harus keluar hotel.
View dari kama kami, nampak berderet kamar hotel
Enggak nyamannya itu, ternyata hotel di kawasan Prawirotaman bebas masuk siapa saja. Maksudnya enggak peduli pasangan resmi atau enggak. Sejak masuk pertama kali di Hotel Muria, sama sekali kami tidak ditanyai tentang surat nikah. Padahal kami sudah siap-siap bawa dari rumah karena KTP kami belum serumah (sealamat), akunya yang belum pindah kewarganegaraan Sidoarjo. Cuma diminta KTP suami. Malah aku yang nawarin, "pakai surat nikah nggak mbak?" Tanya kutanya ke teman-teman, eh benar. Mungkin karena kawasan penginapan murah di Yogyakarta, banyak yang menyalahgunakan berasama pasangan tak resminya baik dari luar kota maupun dalam kota sendiri. Mirisnya penyewanya mahasiswa juga. Bisa jadi Pak Becak dan orang-orang yang pernah kami temui di kawasan tersebut mengira kami juga pasangan mesum kali ya. Padahal dia pacarku, pacar halalku.

NB: semua koleksi foto dari cepurihotel.com

Sunday, May 11, 2014

Sri Tanjung, Kereta Fajar Menuju Yogyakarta

Kereta api Sri Tanjung Ekonomi Jurusan Yogyakarta (sumber)
Merencanakan traveling tentu tak lepas dari perencanaan moda transportasi yang digunakan. Semenjak peremajaan sistem dan pengelolaan yang dilakukan PT. KAI (Kereta Api Indonesia), moda kereta menjadi favorit masyarakat. Apalagi keberadaan kereta ekonomi yang seakan naik kelas, dari segi fasilitas dari pendingin sekedar memakai kipas hingga penggunaan mesin pendingin AC, dan pelarangan penjual kaki lima di atas kereta, membuat nyaman penumpangnya.

Termasuk ketika kami (aku dan suami) ke Jogja kemarin, kami menggunakan moda kereta api ekonomi. Harga murah dengan fasilitas yang (lebih dari) sebanding.

Sejak seminggu sebelum keberangkatan aku sudah memesan tiket kereta api via online jurusan Surabaya-Yogyakarta. Karena aku menggunakan yang ekonomi, tentu aku memilih stasiun tujuan di Lempuyangan. Menurut pengalaman pernah transit sebentar di Jogja, ada dua stasiun berbeda yaitu stasiun Tugu untuk kelas selain ekonomi, sementara stasiun Lempuyangan hanya untuk kereta ekonomi saja.

Kebetulan kereta yang jam keberangkatannya sesuai adalah Kereta Api Sri Tanjung, tanpa pikir aku langsung pilih saja. Apalagi harga tiket kereta api Sri Tanjung ini termasuk kereta mendapat subsidi dari pemerintah. Tarif harganya jauh-dekat, naik dari stasiun awal (Banyuwangi) atau di stasiun manapun menuju Yogyakarta tarifnya sama, 50.000 rupiah. Enggak tahunya kereta Sri Tanjung tujuan akhirnya memang di stasiun Lempuyangan di Yogyakarta.

Kami naik via Stasiun Gubeng, Surabaya pukul 13.45. Padahal kereta api Sri Tanjung sendiri berangkat dari Banyuwangi juga lewat Stasiun Sidoarjo. Merupakan kereta timur (fajar) yang menuju Yogyakarta. Kami baru tahu ketika berada di atas kereta ngobrol dengan penumpang kereta lain yang naik dari stasiun Pasuruan.

Entah kenapa pas mencari pilihan kereta aku enggak ngetik jurusan Sidoarjo-Yogyakarta. Kupikir setiap kereta jurusan akhirnya di Surabaya dan kalau ke kota timur seperti Banyuwangi kudu oper kereta lain. Kesotoyan tanpa mencari informasi yang jelas inilah yang membuat salah paham. Seandainya sejak awal tahu, enggak akan ada acara terburu-buru ngejar kereta. Mengingat perjalanan dari rumah ke stasiun Gubeng Surabaya memakan waktu satu jam. Berutung, kami tepat sampai di Gubeng saat kereta mau berangkat.

Wisata Keraton Ngayogyakarta

Ornamen dari salah satu pagar kraton Yogyakarta
Yogyakarta memang menjadi wisata favorit di Jawa, banyak kalangan turis yang memilih Jogja sebagai destiny wisata setelah Bali. Begitupun anak sekolah, ketika libur sekolah, Jogja juga cocok sebagai wisata edukasi. Selain terdapat universitas negeri besar juga menjadi edukasi sejarah Jawa yang selalu mengikat pada karakter kota yang lebih dikenal turis dengan Jogja kota gudeg.

Libur 1 Mei hari buruh kemarin, aku yang mendapat undangan mengisi acara bedah buku "Jangan Menyerah" yang diadakan oleh Yatim Mandiri Yogyakarta, memang sengaja mengajak suami serta. Selain satu stempel dengan tempat suami kerja di cabang Sidoarjo yang juga otomatis kenal dengan rekan-rekan seperjuangannya, juga tujuan lainnya ingin liburan bersama yang belum pernah kami lakukan. Sama halnya seperti yang aku katakan pada postingan ini, lagi-lagi liburan tidak sengaja sambil kerja tapi kami happy, suami dapat cuti Jum'atnya sehingga bisa nambah berlibur satu hari di Jogja untuk eksplor keraton Yogyakarta yang kami berdua belum pernah menjamah ke dalamnya. 
Salah satu ruangan kaca berisi barang-barang Sultan
Pada malam hari sebelumnya kami bimbang antara ke keraton Jogja dengan ke pantai parangtritis. Sebenernya pengen bangetnya ke Candi Borobudur. Karena jauh dan memakan waktu satu jam, pilihan kami ke dua tempat tersebut. Mengeksplor keduanya pun tidak mungkin, hari jumat amat singkat waktunya sementara kereta kami ke Suarabaya jam 13.43. Oleh pak becak kami disadarkan, "kalau pantai dimana-mana hampir sama mbak, mending ke keraton saja. Turis di sini lebih memilih ke keraton daripada ke Parangtritis." Hehe benar juga ya? Kalau cuma sekedar pantai, di Surabaya ada pantai kenjeran, tapi keraton hanya bisa ditemukan di Yogyakarta. 
Di salah satu ruangan berisi lampu-lampu koleksi sultan 
Keraton Yogyakarta buka setiap hari mulai pukul 08.00-14.00. Jumat itu kami tiba pukul 09.00 menumpang betor (becak motor) yang kami sewa Rp. 20.000 dari penginapan di kawasan Prawirotaman. Sudah banyak pengunjung termasuk turis lokal maupun bule dan siswa sekolah yang liburan.

Kami langsung menuju Tepas Pariwisata untuk membeli 2 tiket untukku dan suamiku, @Rp. 5.000. Dan mendaftarkan ijin kamera yang kami pakai untuk memotret Rp. 1.000. untuk semua jenis kamera besar, kecil, maupun sekedar kamera Handphone. 
Di depan pintu masuk keraton
Setelah mendapatkan 2 tiket, kami menuju pemeriksaan tiket oleh petugas yang merupakan abdi dalam keraton. Lolos pemeriksaan kami disambut dengan topeng wajah yang menempel di dinding.

Semakin ke dalam terdapat beberapa bangunan dengan akses jawanya. Rata-rata berbentuk balai luas, lebih luas daripada lapangan bola, yang hampir semua lantainya terbuat dari marmer menampakkan kejayaan sang Sultan. 

Pengunjung tidak diperbolehkan naik ke atas balai marmer cukup melihatnya dari jauh. Ada batas-batas dengan warning yang ditulis dalam Bahasa maupun English. Sementara halaman keraton yang luas banyak ditumbuhi pepohonan. Panasnya Jogja siang hari tidak terasa dengan semilirnya angin. 
Depan gerbang atau pintu besar menuju area lain
Kami cukup puas wisata ke Jogja kali ini. Wisata yang biasanya hanya bisa kami lakukan dengan rombongan, bisa kami lakukan mandiri. Lebih enak tak terikat waktu. Kami bisa puas berlama-lama di keraton. Beberapa ruangan yang kami eksplor cukup banyak diantaranya, ruangan alat-alat makan Sultan, lampu-lampu koleksi sultan, koleksi guci dan keramik Sultan, singgasana Sultan, menyaksikan abdi dalam rapat, memberikan dan banyak lagi.

Berbeda dengan ketika aku wisata rombongan dengan teman-teman SMPku dulu. Jangankan untuk berlama-lama, masuk ke keraton saja tidak bisa karena kepentok waktu, keraton sudah tutup. Maka wisata ke keraton kali ini bisa menjadi unforgetable journey yang menyenangkan disamping juga bersama suami tercinya. :)

Sunday, May 04, 2014

Menikmati Sate Kelinci di Grojogan Sewu Tawangmangu

Penjual sate kelinci di Grojogan Sewu Tawangmangu Solo 
Berkunjung ke Grojogan Sewu, Tawangmangu Solo, tidak lengkap rasanya jika tidak mencicipi salah satu kuliner ini, sate kelinci. Meskipun tanpa berkunjung ke tempat inipun kita bisa mendapati sate kelinci dengan mudah. Yang menjadi berharga adalah suasananya. Makan ditemani teman-teman dari BPP FLP (Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena) 2013-2014 diiringi gemericik air terjun Grojogan Sewu yang sejuk dan menyegarkan pikiran. 

Penjual satenya seorang ibu-ibu sebaya, mangkal di dekat jembatan gantung yang terbuat dari tali. Saat memesan sate untuk makan siang inipun, beberapa teman bermain mengadu nyali melintasi jembatan sambil menunggu sate matang.

Aku sendiri duduk membaur bersama teman-teman yang lain di gelaran terpal yang disediakan penjualnya, sambil sesekali menahan liur menetes karena bau bakaran sate yang menguar kemana-mana. Sementara yang lain pun masih asyik membidikkan kamera.

Hasratpun tersalurkan saat satu persatu porsi sate dibagikan di atas piring. Satu piringnya berisi kurang lebih sepuluh tusuk sate kelinci dilahap dengan segulung lontong.

Penyajiannyapun tak pakai sendok. Cara makannya lontong yang terbungkus bulat memanjang dikupas layaknya mengupas pisang, bagian atas terkupas untuk dicelupkan ke bumbu-bumbu di atas sate. Sementara bagian bawah yang belum terkupas buat pegangan. Begitu sampai habis dengan sesekali diiringi melahap satenya.

Untuk dapat merasakan nikmatnya sate kelinci di dalam air terjun Grojogan Sewu, teman-teman hanya merogoh kocek 15.000. Murah bukan? Padahal di tempat wisata lho. Rasanya pun tak kalah. Dagingnya empuk dan bumbunya maknyus. 

Beberapa teman ada yang enggak suka sate kelinci, memilih menu sate ayam. Entah enggak suka atau enggak mau makan. Menurut kebanyakan mereka yang enggak mau makan sate kelinci karena teringat akan bayang-bayang imut kelinci yang sangat sayang jadi santapan begini. Konon katanya ketika sate kelinci disembelih, matanya selalu menangis berkaca-kaca. Cerita itu kudapat dari suamiku yang menyaksikan sendiri saat temannya menyembelih kelinci.

Tetapi ketika acara makan-makan sate kelinci usai baru berembus berita tak sedap. Katanya sate yang barusan kami makan adalah daging tikus bukan daging kelinci. Menurut mereka yang memutuskan enggak mau makan sate kelinci ternyata sudah mendengar isu ini lebih dulu. Ada bahkan yang mengenali ternyata rasa dagingnya berbeda dari sate kelinci pada umumnya. Kalau menurutku pas makan enak ya kutelan aja. Hehehe lagian sudah terlanjur masuk perut. 
Teman-teman BPP FLP saat makan siang di Grojogan Sewu Tawangmangu Solo

Terlambat Kereta? Ikhlasin Aja

Sebelum aku cerita bagaimana acara bedah buku dan kegiatanku selama di Yogyakarta, aku ingin mendahulukan tulisan ini. Pengalamanku mengenai ikhlas saat di Jogja untuk mengikuti giveaway Mbak Ade Anita.

Kata orang Jumat memang hari yang singkat, tak terkecuali bagi kami saat hari ketiga di Jogja. Tanpa terasa hari sudah panas, sehingga kami sudahi acata muter-muter keratonnya. Mengingat Adzan sholat Jumat sudah berkumandang. Kami menggantung penawaran harga daster begitu saja, meski sebenarnya tak enak hati sama penjualnya yang sudah antuasias memilihkan beberapa daster yang pantas untuk mertuaku.

"Ngapunten Bu'e, sampun Adzan, ajeng ten Mesjid Ageng," seraya mengulurkan daster yang kupegang. (maaf ibu, sudah Adzan, mau ke Masjid Agung)
"Hallah, wong isih Adzan ae mbak, dereng kutbah'e," ujarnya tak mau kalah. (Hallah, kan masih Adzan saja Mbak, belum kuthbatnya).
"Enggeh Bu'e, ngapunten ngge," tuturku bergegas menarik tangan suamiku seolah menyelamatkannya dari kandang Macam. (Iya Bu, mohon maaf ya)

Kami mempercepat langkah, disamping karena sudah Adzan, jarak Masjidnya masih cukup jauh. Apalagi kami jalan kaki di bawah matahari terik. Sementara suami Jumatan, aku menunggu di bangunan kiri sisi depan cukup jauh dari Masjid, bersama satu orang ibu-ibu istri Lurah dari Barabai, dan satu perempuan muda dari Semarang.

Perhitunganku tepat, sholat Jumat selesai pukul 12.30 saat suamiku melambai dari jauh, gerbang Masjid, untuk meminta uang bayar penitipan sandal. Masalahnya aku belum sholat dzuhur dan sisa waktu kami hanya 1 jam 15 menit untuk mengejar kereta. Bukan aku tak mau sholat, aku cukup menimbang antara jamak takdim atau jamak takhir di atas kereta dengan tayamum sembari duduk seperti biasanya.

Tapi ah nanggung, aku meminta suamiku menunggu barang 10 menit. Selain kujamak, sholatnya juga ku Qoshor 2 Dzuhur 2 Ashar. Doaku usai Sholat sekenanya dan buru-buru mengejar bus. Masih cukup jauh lagi. Kami jalan kaki lagi menuju shelter Bus Trans Jogja di depan Benteng Vredeburg tak jauh dari Kantor Pos. Baru sadar di atas Bus Trans ada jam angka menunjukkan pukul 13.20. Nggak salah nih? Perasaan usai sholat tadi baru pukul 12.40. Aku ragu, kuputuskan tanya dengan sang kenek.

"Pak Bus ini sampai di Lempuyangan berapa lama lagi?"
"Sekitar 1 jam 15 menitan lagi Mbak."
Aku terhenyak, "yang benar Pak? Kereta kami 40 Menit lagi."
"Kira-kira memang segituan Mbak. Itu tiba di Shelter, belum nanti Mbaknya harus jalan kaki lagi menuju stasiun."

Perbincanganku dengan sang kenekpun berlanjut menjadi perbincangan umum. Beberapa orang memberiku saran usang yang sudah kadaluwarsa. Intinya kami salah naik. Harusnya saat dari Kantor Pos kami jalan kaki sedikit ke Stasiun Tugu berlanjut naik kereta komuter yang membawa ke Stasiun Lempuyangan hanya butuh 10-15 menit saja. Sementara kami sudah terlanjur naik Bus Trans yang ternyata jalurnya muter kayak kekehan. Apa boleh buat, berbalik mengikuti saranpun juga tak berguna kan? Cukup menjadikannya catatan saat ke Jogja lagi.

Jelas kami ketinggalan kereta. Berkaca saat kami berangkat dari Stasiun Gubeng, kami datang pas kereta api Sri Tanjung yang akan kami naiki mau berangkat tepat pada pukul yang tercetak pada tiketnya. Apalagi ditekankan para penumpang Bus Trans yang lain jika kereta sekarang datangnya tepat waktu, tidak kayak dulu yang kebanhakan mkolornya.

Aku tak enak dengan suamiku. Keesokannya dia harus bekerja. Berkali-kali aku memandangnya dengan penuh sesal. Tapi suamiku ikhlas menjawab tatapanku, "yo ra popo, nanti pasti ada kereta yang lain."
"Ora Mas, besok kan sampean kerja."
"Ora popo Dhek. Westalah  wes barang kadung." (Tidak apa Dhek. Sudahlah, sudah terlanjur)
"Opo keporo aku kesuwen Sholat tadi yo Mas?" Tanyaku penuh rasa bersalah. (Apa karena aku kelamaan Sholat tadi ya Mas?)

Bagaimanapun bayang-bayang sebab musabab keterlambatan ini terus membayangi. Seandainya tadi gak pakai acara pilih-pilih baju, dan seandainya-seandainya yang lain sampai pikiran jelekku seandainya suamiku tidak sholat Jumat saja.

"Yo ora, ket jamanku SD sholat nomer siji liyane keri." (Ya tidak, dari zaman aku SD, sholat tetap nomor satu lainnya belakangan)

Aku baru tenang mendengarnya dan ikhlas apapun yang terjadi nanti di Stasiun Lempuyangan. Dapat ganti kereta atau bayar lagi atau juga malah terpaksa naik Bus yang kubayangkan akan lebih capeknya. Aku ikhlasin dulu semua keadaan itu. Pasrah deh pokoknya.
Ketika aku bisa mulai ikhlas, aku buat status ini di Facebook
Meskipun sudah jelas kami ketinggalan, senang banget ketika pada akhirnya Bus menepi di shelter Lempuyangan pukul 14.15 yang kemudian kami lanjutkan jalan kaki 15 menit. Pas pukul 14.30 sampai di stasiun. Banyak yang antri tiket. Dengan penuh harap aku menuju bagian pemeriksaan tiket.

"Pak, kereta ke Surabaya jam 13.43 sudah berangkat ya?"
"Kereta apa Mbak? Coba lihat tiketnya."
Aku menyerahkan seluruh 4 tiket PP yang kupegang.
"KTPnya?"
"Untuk bukti sebagai ganti tiket yang baru ya Pak?"
"Ya enggak Mbak kalau tiket ekonomi. Tiket kereta eksekutif yang dapat ganti kena potongan 10%."
"Ya sudah nggak papa deh pak. Ini KTP kami."
Penjaga justru menyetempel kedua tiket kami dengan kode stasiun LPN 3030. "Silakan masuk."
"Lho pak, serius?"
"Iya, saya tahu Mbaknya belum datang, makanya kereta tidak saya bolehin datang dulu"
"Jadi yang terlambat keretanya? Bukan saya?"
"Iya, kereta datang pukul 14.45."

Alhamdulillah, kayak menang lotre aku lompat-lompat sambil memeluk suamiku.


Tulisan ini diikut sertakan dalam GIVEAWAY TENTANG IKHLAS


Feel Free To Follow My Blog