Tuesday, March 20, 2012

Wisata ke Pulau Ketingan (Terbatas untuk 20 Orang)



Tujuan Tempat : Pulau Ketingan

Ahad/Minggu Tanggal 08 April 2012

Biaya perjalanan : 20.000 untuk sewa perahu include sanck dan tiket masuk wisata

Penyelenggara : Shabrina WS, Nunu El Fasa, Wiwik Hafidzoh

Namanya Ketingan atau lebih di kenal Kepetingan sesuai dengan nama sungai yang bermuara ke laut menuju pulaunya adalah salah satu obyek wisata yang belum banyak di jangkau wisatawan ini berada di sebeah timur kab. Sidoarjo. Pulaunya yang sangat kecil yang hanya di huni oleh puluhan kepala keluarga ini belum masuk dalam peta Kepulauan Indonesia sehingga tak banyak di ketahui orang sekalipun warga Sidoarjo sendiri.

Selama perjalanan ke sana kita naik perahu yang telah kita sewa sebelumnya dan akan di manjakan oleh pemandangan alam khas air payau. Selain itu sampai di sana kita juga akan mengunjungi situs makam sejarah kerajaan Blambangan, Dewi Sekardadu, putrid tunggal raja yang juga ibu dari Sunan Giri yang kita tahu adalah satu dari 9 wali. Konon ceritanya sangat tragis, Dewi Sekardadu yang sedang mencari anaknya, Sunan Giri meninggal di tengah lautan. Oleh ikan-ikan jasad Dewi sekardadu di bawa ke pinggiran pantai dan oleh penduduk di makamkan di sana, di tempat yang akan kita kunjungi.

Oke sedikit kisah dari Pulau Ketingan, berikt Rount Down Acaranya :d

Pukul -06.00 berkumpul di Alun-alun sidoarjo dan langsung berangkat
Pukul 06.00 - 06.30 menuju ke Dermaga Karanggayam
Pukul 06.30 – 07.30 Menyusuri sungai Ketingan (kurang ebih 1 jam)
Pukul 07.30 -  11.00 Menyusuri pantai Ketingan dan berinteraksi sedikit dengan penduduk untuk bahan tulisan
Pukul 11.00 – 12.30 Ishoma
Pukul 12.30 – 14.00 Ke Situs Sejarah : Makam Dewi Sekardadu
Pukul 14.00 – 15.00 Pulang menyusuri sungai Kepetingan

Info lebih lanjut bisa melalui inbox atau hubungi; 085730100818

Thursday, March 15, 2012

Perjalanan Pena ke Sekolah Part IV : Menebar Virus Ayok Mengawali Menulis


Untuk part 1 bisa baca di sini dan part 2-nya ada di sini

Banner yang seharusnya di pake tapi enggak jadi :D


Saya khawatir enggak bias tidur lagi, usai acara hari sabtu itupun saya enggak berani tidur ya dengan harapan bias tidur nyenyak malamnya. Dan berhasil karena saya tidur di rumah kakak saya :D hehehehe, solusi terbaik memang :D disamping itu disana saya bias ngonline untuk menulis dan mengupdate blog teramsuk update status juga. :D satu dayung dua sepuluh pulai terlampaui.
Setelah bangun pukul 3 pagi saya langsung bersiap enggak mau terjadi berantakan. Karena saya musti pulang dulu ke rumah sendiri yang jaraknya enam kilo, dan balik lagi ke rumah kakak saya satunya (cak Andik) untuk pinjam lepi, masih ingetkan di post sebelumnya saya enggak bawa lapi L. Alhamdulillah meski harus bolak-balik tapi semua teratasi dan bisa sampai di sekolah sebelum waktunya pukul 07.00. Yups satu jam saya nunggu lebih awal.
Di sekolah tak banyak yang saya temui selain pak Ngadi, tukang kebun sekolah. Secara hari minggu memang hari libur githu lho. Dan pak Ngadi dengan sangat baiknya mau membukan pintu laboratorium buat saya. Terimakasih pak.
Oh ya, saya sempet malu untuk kedua kalinya lho. Setelah saya malu di dalam ruang guru kemarin. Ternyata pak Ngadi dan istrinya yang menjaga warung (kantin milik pak Ngadi) masih ingat sama saya meski 11 tahun silam telah berlalu. Ternyata oh ternyata keluarga pak Ngadi masih keluarga saya, katanya orangtua istrinya itu masih saudara sama embah saya. Ya, saya ingat mbah saya pernah berkata kalo saudaranya banyak di desanya tempat pak Ngadi tinggal. Namun kata orang karena kepaten obor, banyak yang tidak tau kalau ternyata kita saudara. Ah, pak kenapa tidak bilang dari waktu saya sekolah dulu? Tau githu kan saya akan sering minta gratisan karena kita masih sodara kan. Hehehe
Di Laboratorium saya sendirian, setelah nyalain laptop saya, beresin buku, bikin undian, dan daftar hadir saya back to laptop lagi yang ternyata si SMP tercinta sekarang di pasang hotspot. Aih, kayak di café ya. Makin canggih sekolahan saya, tapi sayangnya ada user name password yang harus diisi dan saya enggak tau nge sms Jakapun juga enggak tau jadinya kecewa deh tabiat ngonline dan blogger saya enggak terlampiaskan.
Lama menunggu akhirnya anak-anak sudah pada datang juga dengan seragam kebesaran Dewan mereka. Ternyata meski minggu anak-anak rajin-rajin juga enggak mengurangi antusias mereka untuk mengikuti bedah buku saya meski hari libur adalah waktunya besenang-senang. Buktinya enggak ada yang terlambat semuanya hadir sebelum jam 08.00 mereka memenuhi ruangan laboratorium.
Acaranyapun berlangsung dengan sangat antusias, saya sempet kwalahan menjawab pertanyaan mereka. Seperti pertanyaan yang sering diajukan kepada saya ternyata masih banyak dari mereka yang susah mengawali untuk menulis.
Aslinya menurut saya bukan susah mengawali tapi seperti yang pernah saya alami dulu, saya terlalu sering memikirkan bagaiamana kata atau kalimat yang bagus untuk membuka tulisan. Ah, bagi saya itu mah ga penting bagus tidaknya yang penting tulis saja apa adanya. Urusan bagus mah, nanti juga bagus sendiri tinggal bagaimana kita mau menulis. Menulis seperti mengasah pisau, nggak akan pernah tajam kalau mengasahnya jarang-jarang. Seperti halnya menulis, belajar menulis itu bukan mengenai bakat tapi mengenai kemauan untuk menulis setiap hari. Semakin lama pena diasah dengan menulis saya yakin pena kita akan semakin tahu pada bagian mana tulisan kita yang harus diperbaiki nantinya.
Jika kita mengawali menulis hari ini, jangan pernah menghakimi tulisan kita jelek, lebih-lebih jika kita bangga dengan tulisan kita sendiri dengan memuji tulisan sendiri. Toh sah-sah saja, itu yang akan memunculkan semangat kita untuk menulis lagi. Hargai apa adanya tulisan kita, setidaknya jika kita belum pede untuk mengirimkan ke media, kita cukup menyimpannya saja. Dan jangan pernah membuangnya. Yakin itu nanti akan menjadi kenangan yang sangat indah ketika nantinya kita berhasil membuat tulisan yang bisa di muat media atau dibukukan. Tapi, menulislah lagi, lagi, lagi dan lagi.
Rangkaian acaranyapun di tutup dengan doorprice buku-buku dari penerbit yang telah membukukan buku saya, LEUTIKA PRIO. Peserta sangat senang sekali ketika pada akhirnya sang penanya mendapat hadiah buku-buku leutika, jadi banyak yang ingin Tanya lagi. Namun tidak menutup kemungkinan untuk ditanyakan di luar acara. Buku saya yang hanya saya bawa beberapa eksempar jadi rebutan beberapa anak yang ingin dapat buku saya. Semua buku sama, jika kita bisa mengambil ilmunya :D
Terakhir saya ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak sekolah yang telah berkenan memberikan ruang dan waktunya, meski bapak Kepala sekolah tidak bisa hadir karena berhalangan, juga Bapak Edi atas sambutannya mengawali acara yang sempat mengingatkan kembali masa saya sekolah dulu, juga kepada kak Jaka teman seperjuangan saya.
Ucapkan terimakasih kasih juga teruntuk LEUTIKA PRIO sebagai supporter acara saya ini. Yang meski acara saya sempat tertunda seminggu dari jadwal acara, pihak leutika prio masih mempercayai saya dengan mengamanahi seabrek buku-buku doorprice dan Merchandise.
Dan terakhir kepada adik-adik saya di SMP Negeri 1 Dawarblandong, mari kita berkarya dengan pena[.]

Wednesday, March 14, 2012

Perjalanan Pena ke Sekolah Part III : Pra Acara Di Tengah Pertumbuhan Sekolah


Untuk part 1 bisa baca di sini dan part 2-nya ada di sini

Banner yang seharusnya di pake tapi enggak jadi :D

  Sampai di sekolah saya celingak-celinguk kayak ayam kalkun nyari mangsa, berharap ketemu seseorang yang sudah ada janji dengan saya. Gag mungkin juga kan saya langsung nyelonong ke anak-anak yang lagi latihan pramuka, lagian saya sudah tidak tahu lagi kelas mana yang di gunakan untuk latihan. Sementara kelas yang biasanya jadi langgangan tempat latihan pramuka kini kosong melompong tapi bukan gigi ompong. Smuanya bertumbuh dan berubah.
11 tahun silam dengan sekarang perubahan yang melintas dipikiran saya lebih dari tujuh puluh persen. Mulai dari bangunan-bangunan di sana-sini banyak yang asing dan baru, taman-taman sampai dengan ruang guru, kepala sekolah dan TU yang sekarang berada di tengah lapangan. Ya, dulu di tengah-tengah sekolah kami ada semacam lapangan rumput tempat kami upacara, senam pagi, olahrahga; lari, voley, sepak boal jadi satu disana. Rupanya lapangan rumput kini pindah ke belakang sekolah dan disulap jadi bangunan tersebut plus lapangan voley di depannya gedung.
Semakin kebelakang saya mendapati ruang kelas tempat belajar saya dulu ketika kelas dua. Dulunya kelas saya ada di tengah deretan kelas bagian utara bersama dua kelas lain, kelas II-4, II-5 dan I-1. Dan termasuk deretan gedung sekolah yang berbatasan dengan lahan pertanian sebelum warungnya pak Jupri, pemilik kantin sekolah. Namun, sekarang adalagi bangunan baru di belakangnya, sehingga ruang kelas saya tidak lagi paling belakang. Ah, jadi seperti mengingat kembali masa-masa saya SMP dulu.
Bukan hanya di bagian utara dan tengah saja, pertumbuhan yang saya lihat hampir menyeluruh ke semua penjuru, barat, selatan dan paling banyak saya temukan gedung baru di sebelah timur.
Setelah menemui Jaka, saya langsung menuju TKP yang rupanya anak-anak memang sedang latihan PBB di lapangan belakang. Saya samperin untuk sedikit ngobrol tentang latihan mereka. Karena bukan acara yang formal sayapun mengajak mereka duduk lesahan beralas tikar rumput. Ini adalah posisi yang paling saya suka setelah penjelajahan panjang dulu, duduk dan beselonjor diatas rumput untuk mendapatkan materi dari kakak Pembina. :D enggak melulu di kelas. Inti acaranya hanya sekedar menyapa mereka dan memperkenalkan diri saya sebagai alumni Dewan dulunya. Ih PD ya :D hihihihi sambil sesekali saya praktekkan ilmu konsentrasi dari blognya dek Rurin disini yang ternyata saya hanya hafal bagian pertama, meski berantakan dan Cuma saya praktekkan satu itu tidak mengurangi sedikitpun keceriaan mereka setelah mereka sadar salah mengucapkan air jadi susu. :D
Seperti biasa acaranya pun berakhir dengan foto bersama, dan berasalaman untuk berjumpa lagi esoknya :D [bersambung]




Tuesday, March 13, 2012

Perjalanan Pena ke Sekolah Part II : Terjebak Kesendirian di Rumah Sendiri


Untuk part 1 bisa baca di sini

Banner yang seharusnya di pake tapi enggak jadi :D

Jadi ceritanya saya pulang kampong nih. :D pengennya lebih mempersiapkan acara saja saya ingin pulang sehari sebelum hari pelaksanaan, Minggu 11 Maret 2012. Lebih saya awali pulang pas hari jum’at sorenya. Eh, ga taunya hujan. Wah.. bagaimanapun juga musti pulang karena sudah janji dengan pihak sekolah hari sabtunya pengen melihat kegiatan pramukanya yang sekarang hari sabtu, beda ketika saya dulu latihannya setiap Minggu pagi. Supaya tidak buru-buru berangkat dari sidoarjo terpaksa saya nerabas hujan sore-sore, biar bisa tidur nyenyak untuk esoknya.
Dengan membawa dua ransel yang berisi seabrek buku-buku hadiah doorprice, buku oleh-oleh untuk ponakan, dan beberapa buku bacaan untuk saya sendiri. Sementara ransel satunya full pakaian ganti plus pernak-perniknya. Untungnya saya enggak membawa lapi, padahal awalnya saya ngotot sama suami pengen bawa. Dengan alasan suami deadline majalah menanti besok. Hwaaaaaaaaa…. Jadi ingat tugas saya di majalah yang kurang beberapa lembar. Akhirnya dengan amat sangat terpaksa saya merelakannya tinggal di rumah. Hiks L maaf ya darling saya tidak bisa menemanimu di saat-saat deadline terakhir seperti ini, apalagi saya menambahi beban tanggung jawabmu L. Jadinya saya enggak seberapa khawatir meski menerabas hujan yang enggak seberapa deras tanpa lapi. Cukup dengan Rain Coat sudah cukup melindungi saya dan ransel baju. Sementara buku-bukunya emang sengaja saya taruh  di ransel yang sudah ada pelingdung hujannya. Aman dah:D
Sampai di rumah hujan pun enggak mau berhenti. Bersyukur banget meski saya pulang sendiri tanpa di temani suami, ternyata hujanpun masih bersedia menemani perjalanan saya :D. Saya pun langsung sms jaka, sebagai perwakilan pihak sekolah yang membantu saya termasuk dia juga teman seangkatan saya dulu. Padahal seingat saya, dia dulu tidak pernah ikut latihan pramuka sekarang dia bisa jadi Pembina pramuka. Bagaimanapun pramuka memang kegiatan yang menarik, hanya orang yang belum pernah masuk pramuka saja yang mengatakan bahwa pramuka adalah kegiatan yang buang-buang waktu. Toh,  buktinya dalam buku saya “I am Proud To Be Scout” banyak yang bercerita kisahnya yang benci dengan pramuka pada akhirnya mengakui kecintaannya setelah mereka all in (lebih tepatnya terjerumus) Pramuka.
“Jak, aku sudah di rumah, besok ketemu dengan adik-adik jam berapa?” isi smsku kepada jaka.
Tak berapa lama dia membalas, “jam stgh 1 pas lathan ae nun”
ALAMAK!!!!, Jadiiiiiii………… latihannya setengah satu?! Bukannya besok pagi ya?! Lhaaaaa.. tau begitu saya pulang besok menyelesaikan dulu deadline majalah saya. Hiks.. hiks.. hiks.. sempet nangis berdarah-darah saya L
Pertama, karena kedudulan saya kenapa sms jaka setelah sampai dirumah dengan perjuangan saya  ngos-ngosan menerabas hujan, kenapa enggak tadi sebelum saya berangkat dari sidoarjo? Gilak namanya!
Kedua, saya paling takut sendirian. Dan kemiskoman saya yang dudul ini membuat jum’at malam sabtu saya terasa makin lama. Bayangkan saya sampai enggak berani mejamkan mata, saya sampai bosan melototin televisi. Bukannya saya menikmati tayangannya tapi hanya melototin supaya ada yang saya lakukan. Mulai dari acara "Kick Andy" yang seharusnya menjadi tontonan wajib dan sumber inspirasi, saya jadi mengabaikan segala hal tentang Agnes Monica dan hostnya tersebut. Benar-benar tidak bisa merekam apalagi menangkap apa yang disampaikan.
Berita-berita melampun sampe kenyang di mata saya, mulai dari TV ONE, Metro TV, Trans TV. Sesekali saya juga melototin bola RM Vs Lev yang kenyataannya pasukannya Ronaldo itu hanya menang karena Pinalty dari kartu merah yang diganjarkan untuk lawannya. Hanya itu yang menarik buat saya, kalaupun sudah bosan chanel itupun saya ganti dengan kontes dangdut. Biarlah sengaja memang saya hanya menghingari setiap menemukan chanel TV yang menayangkan film, jadi parno kepikiran jangan-jangan ini film misteri. Sampai-sampai film Flipper yang manis itu hanya kebagian akhirnya karena awalnya saya kira film misteri. Hehehehe, Nggak lucu dong kalo saya nonton film misteri sendirian yang biasanya ditemani suami. Saya jadi kepikiran, andaikan ada lapi mungkin saya tidak akan seperti ini kali ya :D
Eh ya jangan tanya bagaimana saya kebelakang untuk pipis, ini dan itu. Hoho, semuanya saya tahan dan terlaksana ketika terdengar kokok-an ayam dan suara Imsyak. Hihihi, takut macam apa ya ini. Ya sekalianlah hehehe, habis subuh baru bisa tidur nyenyak dan baru bangun sekitar pukul setengah sebelas, itupun setelah saya mendengar dering sms yang tidak segera saya buka; dari leutika, dari jaka, dari menix, dari anak pangandaran yang pengen beli buku saya termasuk telepon berkali-kali dari suami. Ah, biarlah saya masih ngambek sama suami yang tidak bisa menemani malam panjang saya walau hanya sekedar sms-an karena deadlinenya. Tapi itu tak berlangsung lama karena bagi saya deadline kan juga berharga, ujung-ujungnya honornya juga ke saya. Sayapun menelponya[bersambung]

Monday, March 12, 2012

Perjalanan Pena ke Sekolah Part I : Saya Malu Sendiri di Ruang Guru^^



Huaaaaaa.. Akhirnya bisa ngonline juga. Fyuh,,,, dua hari enggak ketemu internet serasa kehausan di tengah sahara. :D
Postingan ini sudah jadi IV part sebenarnya tapi saya ingin postingnya bertahap tiap hari satu part yang sudah saya atur jadwal postingnya. Ngomong-ngomong tentang jadwal posting, ternyata saya baru berhasil posting terjadwal ketika posting "Pesaudaraan Cinta ala Ibu dan Nyak". Hihihihi. Secara selama ini saya menganggap diatur jadwalnya trus disimpan, eh ternyata pas lewat jadwal posting kok postingan saya enggak muncul. Pasti saya yang salah pilih waktunya, jangan-jangan waktunya mundur karena saya bingung antara AM dan PM. Berkali utak-atik ini eh tetep saja gagal mulu. Ga taunya kudu di Publikasikan dahulu meski sudah di atur jadwalnya en harus muncul keterangan "terjadwal" pada daftar postingan.  Yaelah......
Meskipun terjadwal dan sudah ada jatah tulisan untuk empat hari mendatang, InsyaAllah saya akan tetap menulis disini. Termasuk rencana mau ikut GiveAwaynya penulis Kemilau Cahaya Emas, mba Nurmayati Zain. Tunggu ya mba :D. So, mungkin akan ada lebih dari satu post untuk tiga hari mendatang ding. Maaf buka empat ya, kan satunya sudah di post hari ini. Hehehehe
Banner yang seharusnya di pake tapi enggak jadi :D

Sebenarnya dari dulu pengen banget memberikan sesuatu untuk sekolah tempat saya belajar dulu, sebagai balasan atas apa yang telah mereka berikan terhadap saya. Akhirnya terlaksana kemarin, di SMP Negeri 1 Dawarblandong setelah beberapa minggu sebelumnya saya ijin dengan kepala sekolah Bapak Sunartono yang dulunya guru bahasa Indonesia kakak kelas saya :D
Entah, awalnya saya enggak merencakan untuk mengadakan acara ini. Awalnya saya hanya minta bantuan kakak untuk mengadakan acara bedah buku di Mojokerto dengan menggandeng Kwarcab Mojokerto tapi bersyukur ternyata keinginan saya yang lain yang terwujud ketika kakak bilang kepala sekolah tahu tentang buku saya dan saya di suruh ke sekolah untuk mengajukan surat ijin secara formil.
Malu juga sih waktu ke sekolah ketika itu. Ada sebagian guru yang tahu dan entah dengan takjub atau entah saking enggak percayanya saya yang kayak dulu begitu bisa jadi penulis.
“Lho, ning ndi sak iki ndok? Katanya sak iki wes sukses jadi penulis?”
Jadi saya yang spechles darimana bu Yanti tau tentang ini. Padahal setahu saya bu Yanti, guru yang saya kenal kalem dan enggak mungkin pakai yang namanya internet. Dan sekarang semakin banyak yang menganggap saya ini the real writer. Lho emangnya penulis bayangan enggak real? Bukan githu sih, setidaknya itu menambah beban saya, padahal selama ini saya bukan penulis yang seperti dalam bayangan mereka; Asma nadia mungkin, Helvy Tiana Rosa, atau the Pipiet Senja, lebih-lebih Sinta Yudisia? Ah tidak terlalu muluk-muluk jika saya menyamakan diri saya dengan mereka. Hanya sebatas dalam impian saya seperti mereka dan enggak salah kan? Saya lebih senang sebagai penulis Blogger saja seperti yang mba Anazkia bilang dalam blognya :D. Rasanya berawal dari blog saya bisa seperti ini dan dari merawat blog untuk mengupdate tulisan setiap hari yang mengajari saya bagaimana berproses ketika menulis. Jujur! Ini karena saya belum pernah sama sekali ikut kelas menulis Offline dan Online selain membaca yang mangajarkan bagaimana membuat tulisan yang bisa di baca.
Dan malu itu semakin bertambah manakala saya lupa dengan beberapa guru. Hwaaaaa? Ini sih namanya murid lupa sama gurunya, tapi tidak dibenarkan saya lupa akan jasanya lho.
Ada beberapa guru yang memang baru namun ada beberapa guru yang memang bener saya lupa dan baru inget ketika saya ingat-ingat kembali di rumah. Bu Heni, guru bahasa Daerah saya dulu kelas 2. Bu Suminah, guru bahasa Indonesia saya dulu kelas 2. Namun beliau-beliau ini masih ingat lho dengan saya. ALAMAK?! Apanya ya yang diingat?!
“lho ini kan Unun yang dulu, sak ini opo yo sik cengengesan?!”, Hahahahaha yap! Itu membuat saya lebih menutup muka, sekonyong-konyong itu perkataan yang keluar dari bu Suminah ketika saya hendak menyalami beliau. Hehehehe,
Ada benarnya sih kalau ada yang bilang begini, “Ada dua murid yang selalu diingat oleh guru; pertama anak yang paling pintar dan bersinar, kedua anak yang paling bodoh atau paling nakal, di kelas”. Jadi saya termasuk yang mana nih? Bodoh enggak. Pintarnya dikit doang. Kalo nakal? Hem, enggak pernah masuk dalam buku besar, tapi kalo sering rese bin jahil sih iya. Hehehehhe
Namun menurut saya keduanya special sih ya, buktinya masih diingat oleh guru. Hehehhe. Tapi mudah-mudahan setelah ini yang meraka ingat adalah karya saya. Owh, yang sekarang nulis itu ya. Hehehehhe [bersambung]

Sunday, March 11, 2012

Pesaudaraan Cinta ala Ibu dan Nyak



Malioboro, Djogja
Saya pernah tinggal setahun di asrama, ibarat sekolah adalah boarding school yang sekolah dan tempat tinggalnya jadi satu. Tapi ini saya lalui pasca SMA, seperti mahasiswa. Bedanya kampus kami dikhususkan untuk anak yatim (bapak sudah meninggal tapi ibu masih hidup) or yatim piatu (bapak dan ibu sudah meninggal, like me:). Piatu tidak boleh, dan pernah terjadi DO mahasiswa secara besar-besaran sebulan setelah dimulai perkualiahan karena kedapatan banyak mahasiswa yang piatu (ibu sudah meninggal, bapak masih hidup). Ya, mungkin di mata masyarakat yatim, piatu or yatim piatu adalah sama. Nyatanya beda, dan pihak kampus beranggapan yang meski ibunya sudah meninggal (piatu) tapi masih punya bapak yang memiliki tanggung jawab menyekolahkan.

Peraturan asrama sangat ketat, termasuk jadwal pulang yang diperbolehkan ketika hari libur. Membuat kami rindu dengan keluarga dan menciptakan kondisi tersebut di asrama. Apalagi semuanya dari kami adalah Yatim/Yatim Piatu yang sudah pasti panggilan Bapak/Ibu sudah tidak ada lagi. Sehingga masing-masing dari kami (penghuni asrama) yang memiliki sosok tersendiri mendapat gelar/panggilan baru sebagai bagian dari keluarga. Dan dalam foto ini adalah sosok ibu dan nyak, saya dan mereka (penghuni asrama) memanggilnya ibu juga sebaliknya saya dipanggilnya nyak. Sampai sekarang dan nanti.

NORAK: Dalam bus Trans Djogja
Boleh dibilang kami bukan sekedar sahabat, lebih dari Friendship Love saya menganggap dia seperti saudara sendiri. Orang kedua yang menjadi pertimbanganku setelah suamiku. Seperti kemarin ketika suami tidak bisa mengantarku ke Ciamis, tidak terlihat sedikitpun keluh kesahnya menemani perjalanan panjang lintas propinsi. Lelah, ngantuk, terlantar, ditipu orang adalah bagian cerita yang tidak perlu dikeluhkannya. Bahkan kami menyempatkan mampir sebentar ke Jogja, jalan-jalan sambil memanjakan mata dan menikmati bus trans Jogja yang belum ada di Surabaya.

Saya senang ibu terlihat menikmati ini, meski saya sendiri tidak banyak membelikannya apa-apa. Tapi ini adalah moment kami berdua yang sangat langka. Mengingat kesibukan kami berdua yang sudah berpisah kota, saya di Sidoarjo dan ibu di Jombang.

Ah Ibu, masihkan kau ingat tentang mimpi ketika tanpa sadar kau berujar ingin traveling menelusuri kota-kota yang belum pernah kita kunjungi, mungkin ini adalah sebagian jawaban do’amu dulu, mengunjungi kota Purwokerto dan Ciamis yang belum pernah sama sekali terjamah oleh kaki kita.

Rasanya mimpi itu kian nyata ya bu. Saya selalu meyakinkanmu, apapun keinginan kita jangan pernah putuskan do’a dan mimpi kita. Allah tidak tuli, pasti mendengar do'a kita. Percayalah Allah selalu memiliki seribu cara bagaiaman mewujudkan mimpi hambanya. Tinggal sampai di mana usaha yang kita lakukan untuk berikhtiyar, ikhtiyar dan ikhtiyar[.]
Depan Stasiun Kiaracondong, Ciamis
Jumlah kata; 394
Tulisan ini diikutkan pada GIVEAWAY :  Aku Sayang Saudaraku yang diselenggarakan oleh Susindra


Saturday, March 10, 2012

Aku ingin jadi penulis


Ada yang inbox saya intinya ingin bisa membuat novel. Lha saya sendiri saja belum punya novel, kalaupun buku tapi bukan novel. Ya supaya nggak di cap sombong saya tanggepin aja inboxnya dengan memberi berbagai motivasi dan terjadi di tengah obrolan seperti ini,
...........................
Dia; kakak bntu ya,untk memperjuangkan karya2 aku.karna cita2 ak ingn jadi PENULIS
Me; Serius mau jadi penulis?
Dia; Iya kak Aku pengen banget
Me; suka baca?
baca buku apa saja?
sudah punya buku saya or sudah punya koleksi buku siapa saja? 
(saya tanyakan ini karena kok tanyanya ke saya padahal saya kan belum jadi novelis:)
Dia; Aku blum bca krya2 kak,aplg memliki y,, (hiks :( makanya salah nanya kesaya) ak gk punya koleksi n0vel.ak hanya sering n suka bca di perpus2 sja..
(owh terang saja belum punya buku saya, tapi tak apalah. Saya kan bukan penulis yang pelit ilmu:)
Me; Ha? padahal buku itu kamusnya penulis lho!
Dia; Maf dh kak,kalo gt ak mnta dnk hasl karya kak,,
ya kn ak koleksinya bku kesehatan sja ..
Kalo bku crta2 seprt it ak ska pinjam2 sja,bgtu..
GLODAK!!!!!!
Jadi intinya minta buku gratisan ke saya... AlamaK:(
Mencoba tidak nanggepin yang ujung-ujung minta gratisan, namun rasanya bersalah amat. Membantu kok nggak tuntas. Karna saya pikir dia lebih suka dengan buku kesehatan, terbukti mengoleksinya daripada buku Novel seperti cita-citanya yang hanya dia pinjam. Akhirnya saya jawab
Me; bikin aja buku kesehatan *good idea* cocok sama buku kesukaanmu. Penulis biasanya lahir dari apa yang dia suka
Dia; Wah..iya ya
Good idea,i like it..
Thank ya kak..
He 
Intinya dia menutup pembicaran yang tidak bisa saya tanggepin. Sebuah cita-cita mulia, jadi penulis. Namun rasanya kok ironis sekali. Tidak ada usaha mengejar cita-cita. Saya jadi meragukan, benar dia mau jadi penulis? Mending jadi penulis blogger saja seperti saya :) he, syukur-syukur nanti kalau ada penerbit yang ngelirik blog saya :D



Feel Free To Follow My Blog