Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts

Sunday, July 21, 2013

Memaknai Hidup, Dari Seorang Petinju



Setiap orang selalu mendambakan masa depan yang indah dan sempurna, hidup bahagia bersama pasangan dan tak kekurangan. Meskipun untuk meraihnya, justru melakukan hal bodoh yang sebenarnya tak diinginkan.
Indah, sesosok perfectionist dan mandiri bekerja sebagai casier bank yang dengan teliti telah memperhitungkan masa depan bersama pasangannya. Kevin, pria tampan dan mapan, meskipun sebuah pengkhiatan terjadi di depannya tak dapat menampik Kevinlah pasangan yang sempurna bagi Indah.
Indah teramat kecewa terhadap Kevin. Tiga tahun lamanya hubungan yang mereka bangun tak mampu menghapus Kevin dari hatinya. Tiba-tiba Satria datang seperti malaikat penolong yang menyembuhkan lukanya, dengan terang-terangan mengakui telah menyukai Indah.
Awalnya Indah risih dengan kedatangan Satria, selain disaat hatinya kacau, Indah tidak menyukai petinju yang menjadi profesi Satria (hal. 126). Tapi apa daya, meskipun seorang petinju Satria begitu humoris, selalu pandai merebut hatinya. Setiap bersamanya, Indah selalu mendapatkan kejutan menyenangkan. Padahal Indah adalah orang yang selalu menata hidupnya, tidak seperti kejutan yang selalu membuatnya menebak-nebak.
Sementara, Kevin hadir kembali membawa sunset yang indah seperti harapan lamanya. Meski sedikit, Indah masih peduli terhadap Kevin dengan bayang-bayang Satria yang begitu baik selama ini. Bahkan Satrialah yang peduli terhadap hidupnya ketika Kevin tak mempedulikannya. Indah ingin kembali kepada Kevin, tapi ia sedang tak memperlakukan Satria seperti Plester. Membutuhkannya saat sedang terluka dan membuangnya segera setelah sembuh. (hal. 213) Hanya saja Indah tak sanggup melihat jika pada suatu saat Satrianya babak belur setelah pertandingan, atau bahkan dipukul KO hingga pingsan. (hal. 127)
Memang Satria bukanlah sunset seperti yang Indah harapkan. Jika Indah begitu memperjuangkan hidupnya dengan meraih pendidikan tinggi, mendapatkan pekerjaan yang sesuai pendidikan, serta membangun karier “lebih pasti” untuk menunjang kehidupannya, tidak demikian dengan Satria.
Satria adalah orang pada “masa ini” yang selalu berproses. Ia lebih menyukai sunrise daripada sunset. Baginya setiap fajar adalah harapan baru. Ia tidak peduli hari kemarin atau bagaimana kehidupan nantinya. Yang pasti ia selalu berusaha melakukan yang terbaik hari ini. Tidak peting baginya, apakah ia akan melihat sunset yang indah, atau sore yang mendung. Ia sangat menikmati proses yang terjadi dalam hidupnya, bahkan ia tak akan menyesal dengan hasil yang dia dapat. (hal. 170)
Novel yang begitu tebal, 369 halaman ini ditulis Kyria dengan begitu kalem menggunakan bahasa yang santun. Meskipun banyak terjadi gejolak dan konflik penulis mampu mengeksekusinya dengan sangat baik tanpa kata-kata kotor dan umpatan. Apalagi dengan setting Surabaya yang terkenal keras dan kasar, mungkin sekali dengan profesi seorang petinju yang kental dengan kekerasan.
Kejutan-kejutan yang indah juga dihadirkan penulis dari sosok Satria, bukan hanya untuk Indah melainkan juga untuk pembaca. Apalagi pada moment ulang tahun Indah yang dirayakan dengan Satria, tidak romantis tapi penuh dengan kejutan yang akan menginspirasi pembaca dalam memberikan kejutan ulang tahun bagi pasangan.
Novel ini bukan sekedar novel percintaan remaja. Beberapa pointnya terdapat problem orang dewasa yang begitu kental dengan kehidupan sehari-hari. Seperti problem cintanya Indah yang tak bisa memilih antara Kevin dan Satria, Ia ingin hidup bersama Kevin, tapi ia tak mau Satria meninggalkannya. Sama halnya seperti, Indah ingin bekerja sesuai dengan pendidikannya tapi tidak tahan dengan suasana kantornya. Indah lebih memaksakan hidupnya menjalani apa yang sebernanya tak diinginkannya, hanya demi mencapai sunset yang sempurna. Dan pada akhirnya jalan Satrialah pemenangnya, meskipun seorang petinju tapi dia berhasil mengalahkan egonya. Hidupnya sukses dengan hanya menjalani hobynya, meskipun ia tak yakin dapat meraih Indah sebagai sunsetnya[.]

Detail Buku
Judul                : My Perfect Sunset
Penulis             : Kyria
Penerbit           : Pustaka Populer (Bentang), Yogyakarta
Tahun Terbit     : Februari 2013
ISBN               : 978-602-7888-04-3
Harga               : 58.000
Genre               : Romance Komedi

Cover Buku: My Perfect Sunset by Kyria

[Renungan Ramadhan] Menyiapkan Bekal Hati, Menyambut Hari Nan Fitri

Sebuah apresiasi saya untuk mas Rafif Amir Ahnaf atas bukunya yang lahir menjelang Ramadhan. Pas sekali momentnya. Saat semua orang harusnya mampu mengendalikan hati dan diri, bangsa kita tengah dihadapkan pada permasalahan kenaikan BBM dan beragam isu lain. Lagi-lagi apapun kondisi, memang hati kita haruslah tetap terjaga. Selalu, selalu dan selalu berkhusnudzon kepada Allah SWT.

Tak bisa dipungkiri kenaikan BBM satu bulan berjalan ini membuat segala macam harga barang naik. Bahkan dari menjelang kenaikan BBM, seolah semua sudah mengambil ancang-ancang. Menyusul Ramadhan dan menjelang lebaran seperti ini bahan pokok makanan yang seringkali dikeluhkan terlalu melonjak harganya. Sebut saja cabe. Ibu rumah tangga dibuat syok atas ultimatum penjual dengan minimum pembelian cabe lima kali lipat. Itupun isinya tak lebih banyak daripada biasanya yang hanya seribuan perbungkus.
Banyak terdengar keluhan masyarakat, mulai dari jejaring sosial, radio, televisi, atau mungkin lebih banyak lagi yang tak terekspos. Akar permasalahannya bisa jadi dari pemerintah yang tidak tepat memilih waktu untuk menaikkan BBM, ditambah lagi dengan moment Ramadhan dan Lebaran.
Tapi sadarkah kita, bahwasannya siapa yang telah mentakdirkan semua ini? Sangat manusiawi kita selalu mengharapkan hidup yang nyaman. Akan tetapi kenyataannya hidup bukan tetaman yang selalu dipenuhi bunga-bunga (hal 82). Ada masa-masa kita mengalami kesulitan termasuk yang sedang dihadapi bangsa kita saat ini.
Buku setebal 103 halaman yang ditulis oleh Rafif Amir Ahaf ini memang tak ada bahasan tentang dampak kenaikan BBM atau mengulas kenapa harga-harga barang meroket. Justru tak ada sama sekali.
Buku ini berisi kumpulan 86 tulisan refleksi kehidupan memberikan banyak pelajaran dan pegangan kita dalam meniti kehidupan dan menyikapi sebuah permasalahan. Tulisan yang sederhana dan tidak menggurui sangat cocok digunakan sebagai asupan rohani dalam kondisi keterpurukan.
Dari buku ini kita akan selalu diajak meraba kedalam hati setiap memaknai hidup. Tak ada yang abadi termasuk kesusahan itu sendiri. Tak perlu merasa sedih dan paling merugi di tengah kondisi carut marutnya bangsa kita, apalagi jika sampai mematahkan semangat dan meruntuhkan dinding optimisme. Karena kita tidak sendiri, semua beban dipikul oleh seluruh bangsa kita. Bahkan kakek tua penjaga palang pintu kereta api tak pernah mengabarkan kepada dunia melalui status facebook dan twitter tentang kemiskinannya. Toh kita masih lebih baik daripada mereka dapat menikmati kecanggihan gadget terbaru, pakaian yang pantas serta makanan yang lebih enak.
Bangkit dan katakan kepada pada diri sendiri, “esok matahari masih akan menyapa pagi”. Hibur diri kita dengan motivasi ilahiah dari kitab suci (hal 50). Karena seringkali kita lupa bahwasannya ada kuasa Tuhan dibalik semua ini. Bisa jadi kita tidak tahu, dalam kesulitan Allah akan menghendaki kebaikan bagi kita. “Kesusahan sebenarnya seperti kita di atas sebuah per”. Semakin kita tertekan ke bawah seolah kita semakin terjerembab dalam kesusahan, semakin tinggi puncak kebahagiaan yang akan kita capai. Kita tak akan bisa merasakan nikmatnya makanan kecuali dalam keadaan lapar. Dan semakin kita merasakan lapar, maka makanan sederhanapun akan terasa semakin nikmat. (hal 86)
Sayangnya, daftar isi tulisannya tidak dibuat per-bab untuk tulisan yang masih dalam satu tema. Sehingga terkesan melompat-lompat dari satu pembahasan ke pembasan lainnya dan kembali lagi pada pembahasan sebelumnya. Misalnya bab tentang motivasi keluarga, motivasi akhlak, motivasi harta, motivasi hati, motivasi syukur dan banyak motivasi bidang lain yang akan kita dapatkan dari buku ini. Termasuk juga beberapa bagian editingnya yang masih kurang rapi.
Meskipun begitu buku ini sangat cocok menemani kita apalagi pas pada moment bulan Ramadhan untuk mengembalikan kita kepada kefitrahan hati. Sehingga pada saatnya, kemungkinan-kemungkinan melonjaknya lagi harga barang menjelang lebaran, kita telah menyiapkan segumpal hati penuh kesyukuran untuk menyambut kemenangan kita di hadapan sang Khalik, bukan di hadapan manusia[.]

Detail Buku
Judul Buku : Meniti Kehidupan Agung
Penulis : Rafif Amir Ahnaf
Penerbit : Cahaya Pustaka, Sidoarjo
Tahun Terbit : Cetakan 1, Mei 2013
ISBN : -
Harga : Rp. 23.500
Cover Buku Meniti Kehidupan Agung

Wednesday, May 29, 2013

Puing Referendum Timor Leste

Nikmatnya membaca
a Resensi by Nunu el Fasa (Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis)

Referendum 30 Agustus 1999 yang terjadi di Timor-Timur (Timor Leste dulunya) menyisakan sedikit luka. Rakyat Indonesia juga menyesalkan ada bagian darinya yang hilang, setidaknya itu darah dan rasa! Terjadi bentrokan dimana-mana. Suara mesiu, dentuman bom, api dan kepulan asap yang sebenarnya tak kami (rakyat Indonesia) dan mereka (sebagian dari masayarakat Timor-Timur) harapkan saat itu.

Tapi apa boleh buat, referendum telah diputuskan. Rakyat berbondong-bondong menuju bilik suara, mengajukan aspirasi tertingginya untuk masa depan Timor-Timur. Memilih antara tetap menjadi bagian bumi pertiwi Indonesia atau berdikari menjadi republik sendiri.

Marsela dan Juanito menjadi bagian sejarah dalam novel ini. Sejak kecil mereka hidup betetangga di tengah kebun kopi khas Ermera. Juanito laki-laki kecil yang selalu ingin membela Marsela, siapapun tahu dimana ada Marsela pasti ada Juanito. Bahkan ketika mereka bersekolah Juanito selalu memperkenalkan Marsela sebagai adiknya.

Kedekatan mereka membuat Mario was-was, dan menasehati Marsela yang telah gadis tidak boleh disentuh oleh laki-laki manapun termasuk Juanito. Meski alasan klasik yang biasa diutarakan seorang bapak kepada anaknya, namun pada setting ini sulit ditebak bahwa permasalahan sebenarnya adalah perbedaan pilihan kebangsaan masing-masing keluarga kalau tidak dibaca secara keseluruhan.

Hal inilah yang membuat Juanito menganggap Marsela marah kepadanya, lantas ditepis oleh ibunya Juanito, “Oh, ya Tuhan, anakku telah menjadi gadis. Ya Apa’* O’** sangat sayang sama O’. Jadi, dia buat peraturan itu untuk O’. Tapi, O’ dan Juanito tak perlu marah-marah dan saling diam begini.”(hal 40)

Hingga Marsela dan Juanito benar-benar dipisahkan oleh keputusan Mario yang menunda pernikahan mereka karena konflik bumi Lorosa’e yang tidak menentu. Bagi Marsela hal ini tidak mudah meninggalkan tempat kelahirannya bersama kenangan calon suaminya. Sementara Mario orang tua satu-satunya yang amat ia cintai, memilih mengajaknya mengungsi dan mempertahankan darah Indonesia tetap mengalir pada nadinya.
“Aku berharap bisa kembali lagi kesini. Tapi jika tidak, Juan, kamu boleh menjemput Marsela kapan saja.. dan.. aku serahkan kebun kopi ini untuk kalian.” (hal. 76) Begitu pesan ayah Marsela kepada Juanito dan keluarganya.
Sepuluh tahun berlalu banyak hal terjadi dan membuat keadaan tak lagi sama. Termasuk Ermera bumi Lorosa’e yang kini menjadi Timor Leste, menjadi kota Asing bagi Marsela. Ia tidak ingin menanti Juanito yang sudah berjanji akan menjemputnya, meski dengan keyakinan segalanya bisa berubah dalam sepuluh tahun. Mungkinkah Juanito tetap menunggu Marsela pulang ke hatinya?

Novel ini mengaduk-ngaduk rasa. Bukan hanya perasaan hati. Tapi juga pada sejarah yang telah mengubah hidup Marsela hingga pada titik teredahnya. Hari-hari Marsela berikutnya hanya berkisar antara rumah dan sungai. Mengangkat batu, menitinya hingga menjadi kecil. Pulang, istirahat, kembali lagi ke Sungai. Selalu begitu. Ada beberapa rencana di otaknya, dan pertama yang harus dia kerjakan saat ini adalah mengumpulkan batu sebanyak-banyaknya agar bisa mendapatkan uang sebanyak-banyaknya pula. (hal. 113)

Secara keseluruhan apresiasi terhadap novel sangat luar biasa karena merupakan pemenang ke-3 lomba novel sebuah penerbitan. Hanya saja, diawal-awal bab, pembaca akan dibuat agak sedikit kebingungan dengan alur campuran yang digunakan Shabrina.

Namun disitulah kepiawaian Shabrina memainkan peran, ia berhasil mengemasnya secara unik dengan karakter sastranya. Ia menciptakan konflik yang tidak biasa dengan mengambil latar belakang sejarah Timor Leste.

Bukan lagi seperti membaca novel roman tapi seperti menikmati novel sejarah dengan bumbu romantisme, tetap dengan khasnya seorang Shabrina dengan memberikan topping fabel pada novel ini hingga nampak berbeda dari novel-novel romance lainnya.

Ditambah dengan embel-embel Romance Qanita, orang akan terjebak menganggap bahwa novel ini adalah novel Cinta Islami. Padahal tidak, meskipun ajaran nilai-nilai Islam juga tergambar dari sosok Mario dan Randu di dalamnya[.]

Ket:
*Bapak, Ayah, Papa
**Kamu, Kau
Data buku :
Judul : Always be in Your Heart : Pulang Ke Hatimu
Penulis : Shabrina WS
Penerbit : Bandung, Penerbit Qanita
Cetakan I : Februari 2013
Tebal : 236 halaman

Harga Buku : 45.000
Wujud buku Always be in Your Heart (courtesy : shabrinaws.blogspot.com



Friday, May 17, 2013

Belajar dari Tumbuhan



Hati manusia yang penuh kebaikan ibarat hutan
Manjadi penyubur semangat
Menjadi penyimpan cadangan air kehidupan
Menjadi produsen oksigen untuk berbagi rezeki kepada sesama (hal. 111)

Pada klasifikasi makhluk hidup yang pernah dipelajari semasa sekolah, manusia berada dalam satu kingdom dengan hewan yaitu animalia. Tentu sangat bertolak belakang jika manusia diidentikkan dengan tumbuhan. Bahkan fakta secara ilmiahpun manusia tidak sama dengan flora yang tumbuh, mengambil nutrisi dan bereproduksi. Manusia dalah manusia yang jelas berbeda dari flora dan fauna. Manusia memiliki akal dan kehendak yang membuatnya bergerak dan berinovasi untuk lebih maju dari sebelumnya. (hal xvi)

Tetapi dari buku ini pembaca akan medapati beragam perilaku flora yang bisa dijadikan inspirasi untuk memperbaiki karakter manusia. Seperti yang sering banyak orang lakukan di pagi hari. Bercermin pasti akan menimbulkan bayangan diri didalamnya untuk mengoreksi kekurangn yang ada pada diri manusia. Terdiri dari 4 Cermin yang memang disusun oleh penulis secara berurutan sesuai tahap yang paling mudah dalam perbaikin diri manusia yaitu; Personalitas, Mentalitas, Moralitas dan Spiritualitas.

Cermin pertama. Dalam memperbaiki personalitas, pentingnya pola pikir dan pola sikap yang baik akan menentukan karakter yang dimiliki manusia. Sementara pola pikir yang tergantung dari indra, otak, adanya fakta dan pengetahuan sebelumnya bisa membentuk suatu pemahaman yang sempurna. Yang akan menentukan pola sikap sebagai wujud pola pikirnya. Sehingga penulis menyimpulkan pribadi yang positif adalah pribadi yang pola sikapnya sejalan dengan pola pikirnya. (hal 20) Seperti halnya para koruptor yang memahami korupsi itu kejahatan dan merugikan rakyat, akan tetapi masih melakukan korupsi adalah bentuk pola sikap tidak sejalan dengan pola pikirnya adalah contoh dari pribadi yang negatif. Cerminan personalitas ini tergambar dari gerak fototropisme bunga matahari, lingkar tahun batang, lumut kerak, hidro dan aerophonic.

Cermin Kedua. Tentu tidak semudah itu untuk meraih karak terbaik manusia, perlu adanya mentalitas yang baik ketika menghadapi masalah setiap harinya. Satu hal yang harus diyakini yaitu mampu dan bisa menyelesaikan besar kecilnya masalah (hal 65). Dan tidak perlu ragu untuk belajar mengatasi masalah yang sama dengan orang lain. Inilah pentingnya tiga guru kehidupan (Guru Inspirasi, Guru Spiritual, Guru keahlian) yang disarankan penulis untuk memecahkan masalah sesuai dengan pangkalnya. Dan mentalitas yang sedang di bangun bisa di pelajari dari si segala bagian tanaman pepaya mulai dari batang daun hingga buah, baik kulit, daging buah maupun bijinya. Juga dari ritme siklus tanaman sakuran serta proses imbibisi tanaman.

Cermin Ketiga. Sedangkan untuk memperbaikin moralitas, penulis mengadaptasi Tung Desem Waringin tentang bicara dan interaksi yang terdiri dari tiga type yaitu visual, perasaan-gerak dan pendengaran. Ketiga type bisa kita terapkan dengan lawan bicara. Selain itu cerminan moral dari karbondioksida, simbiosis organisme, maupun dari tanaman bakau untuk membangun moralitas.
Cermin Keempat adalah tentang spiritualitas diri terhadap janji Tuhan amat mempengaruhi untuk selalu manabur kebaikan dimanapun dan kapanpun. Dan peribahasa apa yang tumbuh dihalam rumah adalah sesuai dengan apa yang kita tanam tidak sesuai lagi dengan kesadaran yang terjadi setelah membaca buku ini. Ternyata menanam melati itu yang tumbuh bukan hanya melati melainkan bersamaan juga tumbuhnya rumput teki, padahal kalau menanam rumput teki, tidak satupun tumbuhan melati yang tumbuh. Ini menandakan bila menanam keburukan hanyalah keburukan yang akan tumbuh, sementara jika menanam kebaikan, kebaikan pasti tumbuh. Hati-hati selalu ada keburukan yang turut serta. (hal 172). Cerminan ini terlihat sekali dari rumput teki dan corolla.

Selain keempat cermin flora, disetiap cerminan Dhony juga melengkapi buku ini dengan worksheet yang bisa diisi pembaca sebagai tolok ukur perbaikan karakter sebelum dan setelah membaca buku ini.

Sidoarjo, 29 Oktober 2012
Unun Triwidana (Duta Buku Ibu-ibu Doyan Nulis dan Koorwil Jawa Timur)

Tentang buku :
Judul                    : 4 Cermin Flora
Seri ISBN/EAN : 9789792287547 / 9789792287547
Author                 : Dhony Firmansyah
Publisher              : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Publish                 : 30 Agustus 2012
Pages                   : 208
Weight                 : 234 gram
Dimension (mm)  : 140 x 210
Tag                      : Filsafat

Saturday, April 06, 2013

Vienna, Mengajarkan Sikap Menghadapi Orang Ketiga

Judul buku : Yang Kedua
Penulis : Riawani Elyta
Penerbit : Bukune, Jakarta
Tebal : v+243 halaman
Cetakan I : Maret 2012
Harga : 37.000
ISBN : 9786022200406

Aku dan Novel Yang Kedua
Menjadi pemenang dalam ajang mencari bakat seperti yang sering kita nikmati akhir-akhir ini, adalah salah satu jalan cepat menjadi kaya raya. Apalagi kompetisi tarik suara, iming-iming kontrak rekaman dan jaminan terkenal jelas menjadi daya tarik peserta untuk menjadi pemenangnya. Tapi, tidak semua orang bisa menikmatinya. Kebahagiaan materi yang berhasil didapatkan tokoh utama dalam Novel ini, bisa menjadi cermin bagi pembaca bahwa segalanya memang butuh uang tapi uang bukan segalanya.

Vienna, perempuan yang hidup sederhana dan bersuamikan Haris berhasil menjadi juara kedua dalam kompetisi menyanyi local di kota Batam, tempat ia tinggal. Prestasi itu sangat berarti baginya mengingat selama ini ia hanya mampu menjadi penyanyi kamar mandi, atau penyanyi kondangan di pesta hajatan ulang tahun teman. Tapi tidak bagi Haris, itu tak lebih dari ambisinya selama ini untuk merebut hadiah rumah yang ditawarkan bagi juara satu.

Kekecewaan Harispun sedikit terguyur tatkala, Vienna mendapatkan tawaran mengikuti ajang kompetisi yang lebih tinggi, tingkat asia di Singapura mewakili perusahaan yang menyelenggarakan kompetisi sebelumnya. Namun siapa sangka, bagi Vienna kesempatan itu menjadi tekanan batin baginya karena dia harus duet bersama dengan pemenang pertama yang tak lain adalah Dave, pria yang dia temui ketika dia nyasar di toilet pria. Dengan segala kemampuan dan tekanan dari suaminya untuk menjadi juara, kali ini Vienna berhasil hingga mereka menjadi pasangan duet yang cukup terkenal di Asia.

Hari-hari yang mereka lalui sebagai pasangan duet, sedikitpun tidak mengusik Haris yang percaya sepenuhnya kepada Vienna bisa menjaga diri. Ketika tatapan dan pujian yang so hearthly harusnya meluncur hanya dari bibis Haris, sisi batin Vienna yang lemah menjadi risih ketika pada kenyataannya Davelah yang ada di hadapannya. Sementara Haris selalu menolak ketika diminta menemani kemanapun Vienna Pergi.
“Orang bilang, pasangan hidup itu seperti belahan jiwa, biar klise, tapi nyata adanya. Jiwa kita nggak sepenuhnya terisi pada saat pasangan hidup kita nggak selalu ada di sisi kita, walau ada banyak hal yang telah kita jalani bersama, dan nggak semua hal berjalan sesuai yang kita harapkan.” (hal 128 paragraf 2)
Juga bagaimana Dave menggendongnya ketika dia Pingsan karena tekanan Haris yang menginginkan kemenangan itu. Sama sekali, Haris tidak memperdulikan keadaannya. Haris yang manja dan ambisius hanya mero-rong Vienna seperti sapi perah, dia harus bekerja keras sementara Haris dengan mudah mendebet uangnya dengan alasan investasi. Itu karena Vienna harus membayar ketidakmampuan dia memberi keturunan setelah lima tahun menikah.

Di tengan kondisi yang seperti ini. Dave yang sudah menaruh hati sejak pertemuan pertama mereka, mengutarakan cinta yang tidak pernah diharapkan oleh Vienna. “Andai saja takdir bisa di tarik mundur, aku pasti melakukan apapun untuk menjadikanmu milikku selamanya. Aku bukan pria pengecut yang hanya bisa mengambil kesempatan untuk merebut wanita yang sudah menjadi milik orang lain meski aku mencintainya” (hal 144)
Vienna menepis angan tentang Dave, Ia terlanjur terdoktrin oleh suaminya, “Ingat Vienna, tidak ada pria di dunia ini yang mau menerima kekuranganmu selain aku. Tidak juga, Dave Ananta” (hal. 162)
Meski demikian Vienna adalah istri yang setia, tidak sedikitpun lubang hatinya menganga oleh sikap Haris. Dia selalu berpikiran positif dan memaafkannya.

Novel setebal 243 halaman ini berbeda dengan Persona Non Gatra, novel Riawani Elyta sebelumnya yang sangat imajinatif. Yang Kedua ini, penulis lebih realis dalam menghadirkan cerita dan konflik yang ditimbulkan dalam dunia rumah tangga. Termasuk dia cerdas menempatkan sikap tokoh utama untuk menghadapi orang ketiga. Meski perasaan Vienna yang pada akhirnya bisa ditebak juga jatuh cinta terhadap Dave, tapi Vienna mampu menjaga diri dan membentengi dirinya saat jauh dari Haris. Ini menjadi pelajaran berharga bagi pasangan yang mungkin sedang menjalani puber “kedua”. (Unun Triwidana, Korwil Ibu-ibu Doyan Nulis Jatim dan anggota FLP Sidoarjo).


Friday, February 08, 2013

Bunda, seks itu apa sih?

Sebuah Resensi : pernah dimuat di majalah potret

Majalah Potret Rubrik Resensi edisi 65 tahun IX : www.potret-online.com
Bicara Seks Kepada Anak! Kenapa Tidak?
A resensi by : Nunu el Fasa (Duta Buku - Ibu-ibu Doyan Nulis)

Pandangan lama bahwa membicarakan seksualitas pada anak adalah hal tabu, membuat banyak orang tua merasa risih dan sungkan membicarakan hal-hal sensitif tersebut. Tak jarang orang tua menghindar jika anak bertanya seputar seksualitas, bahkan diantaranya seringkali orang tua memarahi si anak dan mewanti-wanti untuk tidak bertanya seputar itu lagi. Padahal menurut buku “Bunda Seks Itu Apa?”, saat-saat tersebut adalah saat yang paling tepat bagi orang tua menjelaskan seputar seksualitas secara edukatif. Justru sangat dianjurkan orangtualah yang seharusnya memulai diskusi agar anak mengetahui hal-hal yang pantas mereka ketahui, jika sang anak dirasa malu menanyakan kepada orang tua.

Hal ini tidak lepas dari perkembangan tekhnologi berbasis keterbukaan saat ini, mereka bisa mendapatkan informasi dari mana saja dan tidak menutup kemungkinan ketika seorang anak merasa tidak nyaman menanyakan hal-hal yang ingin mereka ketahui kepada orang tua, mereka akan berusaha mencari jawaban dari tempat lain. Padahal orang tua harusnya bisa menjadi sumber informasi pertama dan utama yang harus bisa dipercaya oleh anak, daripada melalui teman, televisi, lebih-lebih melalui internet. Karena informasi yang salah tanpa edukasi yang benar, bisa menimbulkan perilaku seksualitas yang menyimpang. Inilah perlunya komunikasi edukatif dari orang tua, agar anak bisa membentengi diri sendiri dan lebih bertanggung jawab dengan segala perilakunya.

Dalam buku ini dikupas beragam pengenalan seksualitas menurut perkembangan dan rentang masing-masing usia anak hingga beranjak remaja. Bahkan pentingnya pendidikan seksualitas bisa dimulai sejak dini, sejak anak-anak mulai mengenal alat kelaminnya sendiri. Karena minat terhadap masalah seks sebenarnya muncul pada setiap anak pada setiap tahapan usia.


Seringkali kita mendapati bayi laki-laki yang sedang disusui ibunya, senang memainkan alat kelaminnya. Pada tentang usia 18 – 36 bulan, aktivitas ini bukan merupakan reaksi seksual, lebih ke arah eksplorasi mengenal tubuh si bayi. Dan alangkah baiknya jika si ibu juga mulai memperkenalkan setiap bagian tubuh kepada anak, termasuk area genital atau alat kelamin dan memberitahukan fungsinya masing-masing. Bahkan ketika anak dilatih untuk belajar mandi sendiri mereka juga belajar mengenai anggota tubuh, dan untuk anak yang lebih besar situasi ini selain belajar tentang kebersihan juga mengajarkan membedakan antara sentuhan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan, baik diri sendiri maupun oleh orang lain.


Tidak hanya edukatif, buku yang ditulis oleh Ellen Tjandra dan psikolog anak Nahda Kurnia, juga menyajikan contoh kasus dari para orang tua yang umum terjadi pada anak, termasuk bagaimana menjawab agar perilaku seksualitas menyimpang anak bisa dihentikan dan menanamkan nilai moralnya.
Ibu : “Kenapa Penisnya di pegang dik?” 
Anak : “Geli Ma” 
Ibu : “Geli ya? Memang enak, tapi gak baik kalau dipegang terus, apalagi digaruk-garuk. Nanti bisa luka, kalau ada kuman di tangan masuk akan bikin lebih gatal lagi. Penis adik kan juga untuk buang air kecil, jadi kotor. Nah kalau lupa cuci tangan, nanti kumannya bisa masuk ke mulut waktu adik makan.”
Dan kebiasan-kebiasaan lain yang perlu diubah dari perilaku si anak diantaranya; masih tidur dengan orang tua, memeluk teman lawan jenis, membuka rok teman perempuan, telanjang di luar kamar mandi, bahkan sampai seorang ibu kesulitan menghentikan kebiasaan masturbasi anaknya yang berumur 5 tahun. Juga masih banyak juga contoh kasus lainnya yang akan mewarnai buku ini berdasarkan pembahasannya.

Selain contoh kasus, buku ini juga dilengkapi dengan pertanyaan-pertanyaan anak yang sulit dijawab orang tua. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak seringkali muncul secara spontan dari apa yang dilihat dan didengar dari lingkungan sekitarnya. Akibatnya, orang tua yang dianggap anak sebagai manusia serba tahu, seringkali ragu memberikan jawaban. Alih-alih menjawab bisa jadi memicu rasa penasaran anak dan menimbulkan pertanyaan berikutnya. Berdasarkan survey yang dilakukan, penulis mengelompokkannya menjadi 5; pertanyaan seputas alat kelamin dan payudara, pertanyaan seputar datangnya bayi, pertanyaan seputar menstruasi dan mimpi basah, pertanyaan seputar interaksi dengan lawan jenis, dan pertanyaan seputar hubungan seksual. Semuanya di sertai dengan pembahasan dan cara menjawab yang tepat berdasarkan rentang usia anak.


Dari semua itu yang lebih penting adalah bagaimana komunikasi yang dibangun dengan anak. Menciptakan kehangatan di lingkungan keluarga dengan saling terbuka mengenai seksualitas membuat anak merasa nyaman mengkomunikasikan segala bentuk perubahan seksualitasnya, jangan sampai peran gadget yang semakin canggih bisa menyilaukan jarak komunikasi orang tua yang lebih memilih lebih banyak bersosialisasi di dunia maya.

Bagaimanapun berkomunikasi dengan anak bukanlah sesuatu hal yang mudah, apalagi berbicara mengenai seksualitas yang sangat sensitif. Kuncinya adalah berlatih secara bertahap melalui situasi sehari-hari dan pembiasaan dari orang tua kepada anak memegang peran penting. Termasuk pembiasaan yang dicontohkan orang tua melalui sikap akan lebih diterima oleh anak. Jangan sampai anak membalik kebiasaan yang diterapkan kepadanya, kepada orang tua yang hanya bisa menyuruh. Anak selain foto copy orang tuanya, pola pikir dan otak anak ibarat CD blank. Informasi apapun yang dilihat dan didengar lebih mudah merasuk dan akan bisa mempengaruhi pola pikirnya ketika dewasa. Anak yang diberi bekal pemahaman seksualitas sejak dini, ketika dewasa akan mempunyai pola pikir kuat mengenai batasan-batasan yang boleh dan yang tidak, yang benar dan yang salah, diharapkan mampu membentengi dirinya sendiri dari kerusakan moral yang menagncamnya[.]

Data buku :
Judul buku : Bunda Seks Itu Apa Sih? (Cara Cerdas dan Bijak Menjelaskan Seks Pada Anak)
Penulis : Nahda Kurnia dan Ellen Tjandra
Terbit : Jakarta, 2012
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-8953-4
Harga : 50.000


cover buku, Bunda Seks Itu Apa Sih?




Wednesday, February 06, 2013

Gagasan KorJak : Menuntun Ibu Rumah Tangga Berkarier

Sebuah Resensi, Pernah Dimuat di Koran Jakarta

"Pendek kata, jauh lebih banyak manfaat jika seorang ibu rumah tangga dapat utuh menjalani peran sebagai istri, sekaligus mengekspresikan diri lewat pendidikan dan karya" 


Judul : Virus Mompreneur
ISBN/EAN : 9789792289299 / 9789792289299
Penulis : Indari Mastuti dan Julie Nava
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 29 November 2012
Tebal : 238 Halaman
Berat : 234 gram


Ketika seorang perempuan memutuskan untuk menikah, dia harus memilih antara karier dan fokus menjadi ibu rumah tangga. Setiap keputusan ada konsekuensi. Sering kali menjadi ibu rumah tangga menjadi pilihan kedua.

Menjadi ibu rumah tangga memang tidak mudah, meski statusnya yang kerap kali dipandang sebelah mata karena dianggap tidak banyak berkontribusi pada ekonomi keluarga. Padahal, tanggung jawab sebagai ibu di rumah tak kalah banyak. Sesungguhnya ibu menjadi tulang punggung demi kualitas pemimpin bangsa nantinya.

Kaum wanita seharusnya mengutamakan peran ibu rumah tangga. Peran itu harus diprioritaskan. Indari Mastuti dan Julie Nava berharap para wanita menjadi ibu hebat dengan mementingkan peran membina anak-anak di rumah, namun tetap memiliki penghasilan tanpa meninggalkan keluarga dengan jalan menjadi momspreneur. "Pendek kata, jauh lebih banyak manfaat jika seorang ibu rumah tangga dapat utuh menjalani peran sebagai istri, sekaligus mengekspresikan diri lewat pendidikan dan karya" (halaman 4 alenea 3).

Penulis sendiri berpengalaman lebih dari lima tahun di dunia bisnis. Dia telah memperoleh beragam penghargaan dan dinobatkan sebagai salah satu perempuan inspiratif. Dia juga menyandang penghargaan Wirausaha Muda Mandiri tahun ini, sementara Julie Nava adalah seorang relawan di sebuah rumah sakit di Amerika Serikat.

Buku ini mengajari wanita membangun bisnis. Para pengarang tidak hanya bercerita, tetapi mengajarkan cara memulai tahap demi tahap dari mencari peluang, menggali ide bisnis dan memilih bisnis yang cocok, sampai manajemen keuangan. Maka, ini sangat cocok bagi ibu rumah tangga yang ingin memulai karier menjadi mompreneur.

Selain itu, Indari Mastuti tidak pelit membagi rahasia dapurnya. Dia berbagi cara berkarier dan menyertakan beragam kompetisi bisnis tahunan dan membuka peluang bagi pemula untuk membesarkan bisnisnya.

Memang, dari semua itu, yang lebih penting adalah cara seorang mompreneur bisa mempertahankan kariernya di tengah beragam persaingan pasar. Kegagalan dan kerugian selalu membayangi para pengusaha. Akan tetapi, tidak ada kegagalan dalam bisnis selain kita sendiri yang memutuskan berhenti dalam berbisnis (hal 159).

Maka, rugi itu biasa dan bagian dari proses belajar untuk menatanya kembali dan tidak mengulang kesalahan. Yang terpenting adalah cara ibu rumah tangga bisa tetap menjaga semangat tetap menyala. Bukan tidak mungkin segala kejadian dalam dunia bisnis juga berimbas pada keluarga.

Semua bergantung pada sikap dan jiwa seorang mompreneur sejati yang bisa dipelajari dari buku ini.
Diresensi Unun Triwidana, tinggal di Mojokerto, Jatim

(Pernah dimuat di Koran Jakarta, 21 Desember)

Tuesday, September 11, 2012

Menyingkap Hikmah di Balik Gradasi Kehidupan


Sebuah Resensi buku bacaan saya
Membaca buku Sejuta Pelangi saat menunggu pesanan Pizza
Mungkin masyarakat sudah tahu siapa Oki Setiana Dewi. Aktris berjilbab lebar dengan senyum khasnya telah membuktikan bahwa dunianya bukan hanya akting saja. Terbukti dua bukunya hadir di tengah kesibukannya sebagai public figure setelah sebelumnya buku “Melukis Pelangi” berhasil menjadi best seller.
Ya, jika di buku sebelumnya Oki banyak menceritakan tentang liku-liku hidupnya serta kerja kerasnya untuk mencapai keberhasilan yang dia gambarkan sebagai Melukis sebuah keindahan Pelangi itu, di buku “Sejuta Pelangi” ini dia masih menceritakan tentang Pelangi juga. Namun, warna-warni yang dipancarkan Oki Setiana Dewi bukan hanya dari dirinya. Dia banyak menceritakan tentang orang-orang sekitar yang telah banyak memberikan inspirasi yang terangkum hanya dalam empat bab yang seirama, diantaranya; Bermimpilah Untuk Memeluk Bulan Sekalipun, Yang Benderang Seperti Bintang, Cinta Sehangat Mentari, Dan Pernik Cinta Oki Setiana Dewi.
Diawali dengan kisah luar biasa dari sahabat dekat Oki Setiana Dewi yang dengan IPK Cumlaudenya ternyata  dia adalah siswa terbodoh ketika masih sekolah dasar. Siapa mengira, gadis lulusan S-2 yang diceritakan berhasil membuktikan kekuatan Man Jadda Wajadda*[1] ketika SMA. Disamping itu, kisah mbak Siwi, teman Oki Setiana Dewi lainnya yang selalu menggunakan kursi roda ketika kuliah, tak kalah luar biasa. Di tengah kekurangannya mbak Siwi masih tetap semangat menamatkan pendidikannya, padahal dia juga harus dibantu dengan alat perekam suara untuk memperlancar belajarnya karena kekurangan fisik pada tangannya yang tidak bisa mencatat. Tekadnya cuma satu, “Kalau aku ingin maju, aku harus mengejar ilmu”. (hal. 53)
Juga bagaimana seorang guru besar Oki mampu bertahan dengan penyakit ginjal yang setiap tiga minggu sekali harus menjalani cuci darah, masih ingin bermanfaat bagi orang lain ditengah sakitnya. Ditutup oleh kisah Muhammad Sandi Ramdana Akbar, si loper Koran berusia 12 tahun yang bermimpi menjadi presiden.
Saya suka sama cover ini :D, apalagi aksen kancing diatas itu bikin manis dan so cute. Sumber gambar : dari sini

Di bab berikutnya Oki Setiana Dewi menceritakan tentang orang-orang yang hatinya seperti bintang (hal. 77). Orang-orang yang patut dijadikan contoh, dan menilai bahwa setiap manusia itu istimewa. (hal 87) Seperti kisah adik kandungnya Oki, Ria Yunita yang selalu ceria namun masih minder jika dibandingkankan dengan kedua kakaknya. Kisah si Rakan kecil yang bersemangat ibadah akan membuat pembaca semakin bercermin diri.
Dan yang paling menampar adalah kisah penjual kelontongan dengan duduk kursi rodanya yang di ceritakan teman Oki Setiana Dewi. Bapak paruh baya itu memangku barang dagangannya dan mengikatkannya di atas kursi roda. Namun, dengan kekayaan hatinya bapak itu mampu memberi selembar uang duapuluh ribuan kepada pengemis lain seraya berkata, “Bapak belum makan kan? Ini uang buat Bapak makan, sisanya untuk Bapak sarapan besok”. (hal. 105) Subhanalloh, padahal kita sebagai manusia yang lengkap fisiknya, jangankan uang duapuluh ribuan uang receh lima ratusan kadang masih pikir-pikir untuk dikeluarkan.
Lalu, kisah dari orang-orang terdekat; seperti ayah, ibu, adik, kakak…. dengan ketulusannya mampu mengalirkan cinta sehangat mentari yang mungkin tidak pernah kita sadari. Pembaca bisa belajar bagaimana menghargai kasih sayang mereka dengan cara yang paling sederhana yang bisa kita lakukan. Si Fikri yang selalu giat beribadah untuk mendoakan bapaknya yang telah tiada, menghargai masakan ibu, membalas sms atau bahkan menelepon ibu sesibuk apapun kodisinya, juga bagaimana seorang anak tetap bisa mencintai ayahnya, padahal dia harus membayar uang 50 juta kepada sang ayah agar mau menjadi wali nikah.
Dalam setiap kisah-kisahnya dia selalu menyelipkan catatan yang mengajak pembaca untuk melihat kedalam diri sendiri. Juga bagaimana keteladanan Rasulullah dan para sahabat mampu memotivasinya untuk melihat jauh dan mengambil makna dalam setiap kisah yang diceritakan. Sehingga akan banyak kita temukan, ayat-ayat Al-Quran dalam terjemahan, nukilan hadits, dan sirah Rasulullah dan para sahabat dalam buku ini.
Oki Setiana Dewi memintal dengan indah setiap kalimatnya. Ringan, mengalir, dan lincah seperti berbicara dengan Pembaca. Dia tidak hanya berkisah, kadang dia menjadikan tokoh itu sebagai dirinya seakan itu adalah kisahnya sendiri. Gradasi warna-warni yang nampak, bukan lagi tujuh warna. Ada suka, duka, semangat, senyum juga menebar cinta dalam menyingkap hikmah. Jauh berbeda dengan buku sebelumnya yang mungkin banyak orang mencibir keberhasilannya dalam dunia kepenulisan karena sosok dia sebagai artis, tapi di buku ini sisi keartisannya sama sekali tidak nampak. Justru menguatkan sosok dia sebagai salah satu penulis berbakat yang dimiliki Indonesia[.]

Diresensi : Unun Triwidana, Korwil Ibu-Ibu Doyan Nulis Jatim dan anggota FLP Sidoarjo

Judul Buku    : Sejuta Pelangi
Penulis           : Oki Setiana Dewi
Penerbit        : Mizania, Bandung
Tebal               : 294 Halaman
Cetakan I       : Februari 2012
ISBN                : 978-602-9255-17-1



[1]  Siapa bersungguh-sungguh pasti berhasil

Saturday, July 07, 2012

Ajakan Menyelamatkan Orang Utan

Astaghfirullah aku tertidur lama sekali...
Apa kabar semua? :D

Dimuat di harian nasional Koran Jakarta, Senin 02 Juli 2012
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/94613

Ajakan Menyelamatkan Orang Utan

Masih segar dalam ingatan beberapa waktu lalu masyarakat dikejutkan berbagai pemberitaan mengenai pembantaian orang utan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk mengambil keuntungan pribadi. Berita tersebut akan terbawa ketika membaca buku PING!: A Message from Borneo.

Buku ini mengisahkan seorang gadis penyayang binatang, Molly, yang nekat pergi sendiri ke hutan Borneo menemui teman-teman bulenya untuk meneliti orang utan yang hampir punah. Misi penyelamatannya pun terhalang oleh Archie, sahabat SMA Molly, yang ayahnya pemilik lahan perkebunan sawit terbesar di Kalimantan.

Pengusaha sawit ini sering membakar hutan belantara untuk memperluas lahan dan menganggap satwa orang utan sebagai pengganggu. Tak ayal primata itu pun sering menjadi korban perluasan lahan sawit.

PING! Anak orang utan yang ibunya menjadi korban keberingasan para pemburunya harus berjuang dan bertahan hidup sendiri di tengah hutan liar. Beruntung dia masih bertemu dengan Jong yang baik hati untuk berbagi kasih dengannya. Jong memberi makan, kasih sayang, dan kehangatan pelukan yang selalu Ping rindukan setiap malam.

Namun, kebahagiaan Ping tidak seberapa lama. Meski dia kini lebih aman dengan keluarga barunya, itu tak lantas menjamin keselamatannya. Nasib Ping dan ibu barunya tak berbeda dengan orang tuanya dulu, sementara Ping benar-benar hidup sendiri dengan berbagai ilmu yang didapat dari kedua ibunya walau pada akhirnya dia pun terperangkap dalam kurungan besi yang paling menakutkan bagi semua orang utan.

Dalam buku ini, pembaca juga bisa memperoleh berbagai pengetahuan tentang orang utan. Mungkin tak banyak orang tahu kehidupan orang utan yang sebenarnya di dalam hutan liar. Salah satu penulisnya, Shabrina WS, yang memang aslinya pecinta fabel menceritakan detail bagaimana mereka hidup berpindah-pindah dari satu dahan ke dahan lainnya mencari tempat istirahat yang layak dan aman. Setiap senja mereka harus membuat sarang-sarang baru di pohon yang berbeda untuk mengecoh dan menghindar dari incaran musuh dan para pemburu liar.

Membaca buku ini masyarakat seakan dibawa ke hutan sebenarnya untuk melihat kebiasaan-kebiasaan orang utan, cara mereka ketika tidur, mengunyah, minum, berayun dari ranting ke ranting, membuang kotoran, dan alasan orang utan perlu makan tanah untuk mengusir racun (hlm 45 alinea 4).

Pembaca juga bisa mengetahui alasan orang utan jantan melolong yang ternyata untuk menunjukkan keperkasaannya. "Hanya orang utan dewasa yang bisa bersuara sekeras itu. Mereka begitu karena ingin memberi tahu pejantan lain daerah kekuasaannya," jawab ibuku waktu itu (hlm 23 alinea 3).

Melihat cover, sekilas pembaca akan mengira buku ini fiksi anak-anak. Namun, sesungguhnya ini adalah novel remaja. Berbeda dengan Shabrina yang lebih fokus pada fabelnya menceritakan sosok Ping, Riawani Elyta yang memang novelis menceritakan kehidupan Molly sebagai manusia sehingga mampu menghidupkan keremajaan novel ini dari sisi fiksinya dan bumbu kisah asmara.

Buku ini bagus untuk mengingatkan masyarakat agar mencintai dan melestarikan orang utan yang semakin minim jumlahnya. Hanya bagian akhir lebih mudah ditebak dan kekurangan pada editing di halaman 31. "Sejak awal perjalanan lagi," kata lagi lebih pas menggunakan kata tadi untuk kesesuaian dengan paragraf sebelumnya.

Uniknya, meskipun buku ini ditulis dua orang dengan jarak bermil-mil di antara mereka, kedua penulis mampu bersatu dan tetap konsisten dengan karakter masing-masing. Pembaca juga mudah mendeteksi mana tulisan Shabrina dan mana yang merupakan buah pikir Riawani Elyta. Namun, keduanya tetap memiliki "misi" yang sama: menyelamatkan orang utan.

Diresensi Unun Triwidana

Judul Buku : PING!: A Message from Borneo
Penulis : Riawani Elyta & Shabrina WS
Genre : Remaja
Penerbit : Bentang Belia, Yogyakarta
Cetakan I : Maret 2012
Tebal : X 139 halaman




Thursday, March 08, 2012

My Idiot Brother


Sebenarnya saya pengen upload ini kemarin, berhubung saya lagi ada gawe untuk ngumumin sesuatu di sini jadinya postingan ini saya pending dan baru saya posting sekarang. Aslinya pengen banget sih posting ini kemarin mengingat postingan pengumman yang hanya sebatas deret nama akhirnya saya bikin sedikit curhat supaya ada usaha mengasah keyboard (read; pena). *Ngeles lagi aslinya supaya tidak dibilang Blogger Musiman seperti yang sudah saya dengungkan pada postingan ini "Masih mau jadi bukan blogger musiman?" Terpaksa deh postingan ini mundur dulu, :D

Sebuah Resensi
My Idiot Brother,

Saya mengenal Agnes Davonar dari novelnya yang berjudul "Sahabat" dan "My BlackBerry Girl Friend" hadiah dari karya saya ini. Meskipun hanya pemenang nominasi dalam lomba menulis 1000 kisah tentang ibu yang diadakan ungu, saya mendapat seabrek hadiah; ada coklat Chocolatos, voucher,  buku, hingga merchendes Ungu kesukaanku dan lain-lain tak ketinggalan fulus :) *mata langsung ijo*. Tapi saya bukan Cliquers, hanya ngefans sama Ungu dan Lagunya :)  Dan baru saya tahu ketika itu bahwasannya salah satu sponsor yang tertera Agnes Davonar adalah Penulis. Dan kerennya lagi dia penulis online yang karya-karyanya hampir selalu fenomenal. Wow.... *)Lagi-lagi saya kena tabok, ngakunya Blogger Sedjatie tapi Agnes Davonar aja kagak tau J(*. Specialnya juga buku ini saya dapat GRATIS dari Chocolatos karena mejengin foto ponakan disini :D
Eh ya, ngomongin Agnes saya jadi ngiri bener. Disetiap bukunya selalu ada sponsor. Entah itu Chocholatos, XL, apalagi ya? Ehm.. beruntung deh. Sebagai blogger yang ngaku penulis, hiks beneran saya ngiler.

Back to topic
Seperti judulnya "My Idiot Brother" adalah novel remaja yang mengisahkan tentang seorang gadis bernama Angel yang memiliki kakak idiot. Di sinilah uniknya seorang Agnes Davonar, dalam setiap novel dan cerpen-cerpennya yang pernah saya baca dia selalu konsisten dengan pemakaian nama-nama ini; Angel, Agnes, Hendra dan Martin. Request dong sekali-kali pake nama saya gitu kek! hihihi protes. Empat nama tersebut hampir tidak pernah absen, dan dia berhasil membawa nama-nama tersebut dalam berbagai peran yang kadang di bolak-balik dia. Kadang Agnes jadi baik, Angel yang jahat atau sebaliknya. 
Hari-hari Angel selalu diisi dengan menjaga kakaknya, suatu pekerjaan yang sangat dibencinya ini hanya memiliki satu-satunya alasan untuk menadapatkan uang saku lebih dari ibunya.  Angel merasa tidak adil dengan perlakuan ibunya yang selalu jatah uang saku kakaknya lebih banyak, sedangkan dia harus membanting perasaan dengan cara seperti ini agar dapat lebih. Tidak adil, bagaimanapun Angel bukan anak kecil lagi yang masih suka bermain monopolian, permainan yang sangat digemari kakaknya. Ia malu jika teman-teman sekolahnya, terutama Agnes lawan tokohnya tahu tentang kondisi kakaknya yang Idiot menjadi bahan ketawaan dia di sekolah.
Dan itu terjadi ketika ibunya dengan sengaja membawa kakaknya ke sekolah untuk menjemputnya karena ibunya harus pergi arisan mendadak. Dari situ Angel tidak bisa menutupi tentang kondisi keluarganya. Lebih-lebih tentang nilai Angel yang kurang, menjadi pelengkap bagi Agnes bisa memgang kartu As Angel untuk ngetawain Angel sebagai  perempuan bodoh nan Idiot seperti kakaknya.
Ini memperparah kebencian Angel terhadap kakaknya. Diusir dari kamar, di omelin, di kata-katain, tentu saja itu hanya berani dilakukannya ketika di belakang ibunya. Sangat bertolak belakang dengan Hendra, kakaknya yang Idiot itu. Meski Angel menaruh kebencian lebih terhadapnya, Hendra tidak pernah luput memberikan kado boneka Babi Pink kepada Angel setiap ulang tahunnya Angel. Sedangkan Angel, ingat ulang tahun Hendra saja tidak.
Ya, buku ini membuat saya berdecak kagum. Ini adalah cerita sederhana namun mengandung pesan yang mendalam tentang bagaimana ketulusan menerima keluarga kita apa adanya. Agnes Davonar selalu berhasil mengangkat cerita dari realita yang hampir dekat dengan kehidupan kita, mengingat dalam keluarga kakak ipar saya ada anggota keluarga yang mengalami hal yang sama. Bukan berarti lantas membuangnya, cinta dan kasih sayang dalam keluarga ini patut di tiru meski hanya sebuah cerita. Sosok Ibunya Angel meski sangat keras terhadap Angel, terbukti  ibu selalu menyiapkan pesta ulang tahun Angel. Hanya saja ibu selalu memiliki cara tersendiri bagaimana  mengajarkan Angel untuk menerima Hendra apa adanya, meski di depan teman-temannya.
Novel ini juga komplit dilengkapi dengan kisah cinta seperti novel-novel lainnya. Yang meski tema keluarga atau persahabatan rasanya kurang afdol kalo tidak ada kisah cintanya. Namun di endingnya saya kurang sepakat dengan Agnes Davonar, dengan caranya pengorbanan Hendra yang menusukkan jarum suntik ke tubuhnya hanya agar dokter mau mengambil darahnya untuk menolong Angel. Ya, namanya juga novel fiksi bagaimanapun itu adalah imajinasi penulis yang patut kita berikan apresiasi.
Meski sangat fenomenal buku ini juga memiliki kekurangan di beberapa halaman yang sempat saya tandai. Seperti kesalahan pada editing, saltik, atau terdapat kalimat-kalimat yang kurang pas menurut saya.
1.      Tiga cewek norak itu saling melambaikan tangan mesra untuk pada Aji
2.      Tapi demi agar Aji tidak jatuh padanya, ................
3.      Sepekan Agnes ikut bermain kami di lapangan dan tiba hingga akhirnya Aji mulai merasa jenuh melatih Agnes yang bodoh itu
4.      belum bisa masukin bola ke ranjang
5.      Agnes merasakan pahitnya kata-kata arti bodoh
Kalimat di atas rasanya kurang sreg meskipun dalam novel ini memang menggunakan bahasa gaul. Rasanya ketidakbakuannya sangat saya rasakan. Dan yang berikut ini hanya saltik saja.
1.      Emang gal punya sopan santun!
2.      Dan yang jadi pertanyaan, lok gue mau ya diperbudak dia?
Hanya itu kekurangannya yang saya temukan, dan saya rasa itu nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan nilai dari sebuah kisah yang sangat inspiratif. Ya nggak?! Apalagi dalam buku ini juga dapat bonus 6 cerpen di dalamnya yang tak kalah inspiratif juga. So, buku ini recomended banget buat pembaca yang doyan novel dramatis dan percintaan buru saja novel-novelnya Agnes Davonar lainnya[.]

Tentang Buku
Judul buku : My Idiot Brother : Love and Live Chocolatos
Penulis : Agnes Davonar
Penerbit : Inandra Published
Tahun : Cetakan Pertama Nopember 2011
ISBN : 978-979-18346-8-1
-->

Feel Free To Follow My Blog