Monday, February 20, 2012

RESENSI BUKU : SAKTI DAN SAPI REBO

Resensi ini diambil dari catatan Facebook saya, dan pernah diikutkan dalam lomba resensi buku anak yang diselenggarakan Orin Keren di Facebook mendapat apresiasi pemenang ke-3. Alhamdulillah :D

Judul Buku : SAKTI DAN SAPI REBO
Penulis : SHABRINA WS.
Penerbit : Leutika Prio
Tahun : Februari 2011
Cover novel Sakti dan Sapi Rebo

Resensi :
Karena Kegigihan Sakti

Rebo. Begitulah nama pemberian dari Sakti, sang pemelihara yang begitu penyayang dan telaten merawatnya. Maklum, Rebo adalah sapi malang yang terlahir premature dan harus hidup tanpa Ibu karena dijual oleh pemiliknya. Padahal sapi premature belum tentu bisa hidup normal apalagi tanpa asupan air susu dari induknya. Walau akhirnya Rebo memiliki keluarga baru, Ia tinggal dalam satu kandang bersama kambing-kambing peliharaan sakti dan menganggap Induk kambing itupun sebagai Ibunya, ya Ibu kambing sang ibu tiri.

Namun sapi tetaplah sapi yang meski masih bayi, Rebo tetap tidak bisa menyusu kepada kambing yang masih terlalu kecil ukuran tubuhnya bagi Rebo. Untuk itu, setiap hari Sakti harus memerah susu kambing agar gizi Rebo yang premature tetap tercukupi. Hingga akhirnya Rebo bukan hanya sekedar Sapi biasa, ia bisa menjadi sumber inspirasi bagi siapapun. Baik bagi sakti maupun bagi teman-temannya terutama Tati yang mempunyai masalah dengan ibu tirinya.

Yang tak kalah menarik bagi saya dalam buku ini juga diajarkan bagaimana tentang mengikhlaskan bagian yang kita sayangi untuk menolong orang. Dialah Sakti menjadikan sapinya sebagai Rebo Penolong bagi kelahiran tetangganya, hingga Rebo hampir disembelih. Kerja keras sakti dalam merawat Rebo juga petualangan Sakti dalam mendapatkan Rebo inilah yang menyimpan banyak pesan moral yang bisa diambil pembaca sampai Rebo bisa didapatkannya kembali dan beranak-pinak hingga dapat membiayai sekolah sakti. Semua memang karena kegigihan Sakti.

Kebaikan itu jangan ditunda-tunda



[edisi wejangan kepada sahabat]


Ha?!


Apaaahhh?!


Kamu mau balikan sama mantanmu?!


Aku sudah pasti akan mendukungmu. Bagaimanapun balikan itu lebih positif daripada berpisah atau bercerai. Kecuali kamu berpisahnya dari pacar, sudah pasti itu lebih baik. Daripada kamu lebih banyak menanam dosa dengan pacaran yang nggak ada syariatnya dalam agama. Ingatlah ini disaat kalian berdua :


“Jika ada dua sepasang kekasih berdua-duaan maka sudah pasti ada orang ketiga, yaitu syetan”, Setan menggoda anak manusia hingga jarak pandang terdekatnya. Dari pegangan tangan itu step dari strategi manusia dalam rangka melancarkan aksinya. Naudzubillah.


Dan, karena kamu ingin balikan dengan mantan suamimu. Maka aku sudah pasti akan sangat amat teramat mendukungmu sekali pake banget.


‘’’’’’’


Berbicara mantan suami sudah pasti yang keinget adalah hal negative dari dia. Namanya juga mantan, kesalahan-kesalahan diantara kalian itulah yang membuat status mantan.


Jika kita mau belajar dari masa lalu maka kamu tidak perlu mengungkit-ngungkit masa lalunya. Cukuplah saja kau berbalik sejenak selepas itu lihatlah masa depanmu bersama. Ingatah kebaikannya yang telah dia perbuat kepadamu.


Konon ada cerita dua orang sahabat karib yang sedang mengembara. Suatu hari kedua sahabat itu bertengkar, hingga salah seorang sahabat yang tidak terima memukul sahabat lainnya. Sahabat yang di pukul tidak membalas, namun ia merasa sakit hati. Lalu ia menulis tulisan di atas pasir, “Hari ini sahabatku telah memukulku”, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan lagi.


Di tengah perjalanan karena sengat terik matahari membuat mereka haus dan lapar. Itu sebabnya mereka berhenti di tepi sungai untuk menyantap makanan. Tatkala sahahat yang di pukul itu pergi ke sungai mengambil air, tiba-tiba ia terpeleset ke dalam sungai dan ia tidak bisa berenang. Ia menjerit minta tolong, dan sahabatnya dengan sigap dan cekatan terjun ke sungai menolong dan menyelamatkannya dari maut. Setelah siuman, ia menulis lagi tulisan di atas sebuah batu, bunyinya demikian “Hari ini sahabatku menyelamatkan aku”


Si sahabat yang tadi memukul dan menyelamatkan ini bertanya, kenapa sahabatnya tadi menulis di atas pasir, sekarang menulisnya di atas batu? Kemudian sahabat itu menjawab demikian “Jika ada orang yang berbuat salah cukuplah kita tulis di atas pasir saja, sebab sebentar akan datang angin kencang, hujan deras dan ombak air melenyapkan tulisan itu, sehingga engkau segera melupakannya. Namun jika ada orang berbuat baik kepadamu, tulislah di atas batu, supaya kalau ada angin kencang hujan dan badai menerpa, tulisannya tidak pernah akan hilang dan kamu akan ingat selalu kebaikannya”*


Pelajaran ini sangat berharga bagi kita setiap rumah tangga. Bagaimanapun suami/istri kita tentunya sudah lebih dari sekedar sahabat baik. Biarlah kesalahan-kesalahan pasangan kita tulis di atas pasir, supaya semua itu cepat dihanyutkan dan hilang, dengan demikian kita segera melupakannya untuk mencapai pernikahan barokah seperti tujuanmu semula menikah dengannya.


Ingatlah suamimu tanpa pamrih berjuang demi kehidupanmu dan anak-anakmu. Hanya dengan kekhilafan yang sekecil itu sungguh mulianya jika kau mau memaafkan dan memulai lembaran baru.


Jikapun itu tak mampu menggugah hatimu, ingatlah anak-anakmu. Kasih sayang dan perhatian dari kamu dan suamimu sangat dibutuhkan mereka. Bukan hanya perhatian darimu, atau dari ayahnya saja. Tapi dari kalian.


Pesanku Cuma satu:


“Kebaikan itu jangan ditunda-tunda, segera gih”[.]


Tulisan ini diikutkan dalam kontes menulis Blogger Bicara Cinta yang diadakan blog detik dengan tema “Kenapa sih harus balikan dengan sang mantan?”




*dari berbagai sumber


Blog Writing Competition : Berkat Axis Nikah gue jadi Eksis





Gimana presepsi kalian jika ada sepasang kekasih yang sama-sama kuliah di luar pengawasan orang tua? Mungkin sebagian anak muda yang lagi di madu asmara bilang, “So, Sweet”. Dan, pasti juga ada yang bilang, “hati-hati” atau mungkin teriak dengan lantangnya “JANGAAAAAAANN”, dialah Salah satunya mama.

Sejak berangkat dari rumah ke Bandara untuk mengantarku terbang ke kota Pahlawan ini. Mama mewanti-wanti hingga ratusan kali untuk tidak berpacaran apalagi dengan warga lokal yang belum gue kenal.

Ya, lo bayangin aja. Tinggal jauh dari pengawasan orang tua, sedikit banyak membuat seseorang lebih leluasa melakukan apa saja yang disuka. Maklum aja orang tua gue agama ngentel banget, yang bisa ngawasin gue 24 jam di rumah untuk tidak meninggalkan sholat. Dan gue termasuk anak penurut apa yang orang tua gue bilang termasuk kuliah disinipun juga atas keinginan mereka.

Namun, satu hal diatas yang jadi problema gue. Gue baru saja jadian sama cowok yang sama-sama dari tempat gue tinggal. Bedanya gue kesini buat kuliah tapi dia sudah bekerja mapan. Dan, Gue gak tau gimana nyokap gue ketika tau gue disini pacaran. Apalagi nyokap gue termasuk netter. Gila bok! Gue aja kalah. Blognya seabrek saingan dengan artis yang baru aja jadi trending topic di twitter gara-gara perang twiit kemarin.

Status-status gue jadi pantauan mama setiap hari. Setiap apa yang gue share baik foto, video dan tautan apapun ga pernah absen dari like-nya mama. Tuhan! Sempit amat dunia.

Pernah suatu ketika gue blokir akun mama. Gila! Sehari gue di telponin dan di cerewetin macem-macem.

“Ritaaa, fb kamu kenapa kok menghilang nak?. Mama jadi sering kangen sama kamu lho! Cuma dari fb kamu mama bisa melampiaskan kangen dengan kamu”. Heeemm.. mama.. mama.. bilang aja ga bisa ngontrol gue kan?!

“Iya ma lagi kena suspend adminnya, nanti rita benerin”, asal aja gue ngeles.

Dan gue orang yang paling nggak bisa kalo nggak ngeksis sehari saja di facebook. Nggak tau sejak kapan pastinya gue jadi gila facebookan. Padahal dulu gue paling tidak suka show up di depan umum. Gue lebih suka di belakang panggung daripada main opera yang di toyor-toyorin dan di ketawa-ketawain di depan umum. Ya, itu kan emang acara tipi, lagian mana mungkin juga, pintu masuk ke tipi aja gue kagak tau.

Tapi, di dunia maya gue bisa ngelakuin apa saja yang tidak bisa gue lakuin di dunia nyata. Kalo dulu, gue paling jauh punya temen tinggalnya di kabupaten. Sekarang temen gue diluar negeripun gue bisa jangkau hanya dalam satu klik untuk menghubungi mama, adhe, papa, dan teman-teman yang lagi aku kangenin. Hanya dengan bermodal lepi pinjeman plus modem AXIS yang bertarif anti mahal.

Mau tidur, mau makan, mau eng-ing-eng (baca: ngeden di wc), dan mau ngapain ajah kurang afdol rasanya kalo belum update status. Pengennya seluruh dunia tau tentang aktivitas gue, termasuk mama yang selalu kepengen tahu tentang apa yang gue lakuin.

Ya, mau bagaimana lagi facebook sudah menjadi irama hidup gue bersama Axis. Alhasil di facebookpun gue jalan backstreet dengan pacar gue.

Aslinya pengen juga sih. Pasang status di facebook “Rita YonSu berpacaran dengan Fandi YonSu”. Kalo lagi baca status teman yang lagi kangen pacarnya, gue jadi galau sendiri. Apalagi sekarang Fandi yang lagi mudik, ga mungkin banget gue ngungkapinnya di status. Bisa-bisa jambul “KawulMawul”nya mama bisa kebakaran. Ah, mending gue simpen sendiri.
Bukan Fandi kalau dia tidak mengejutkan gue, tiba-tiba nomor Axis Fandi menelpon.

“Yank, gue sudah di rumah kamu sekarang bersama Bokap dan Nyokap Lu”

“Loh, Ngapain yank kamu disana? Kok kamu nggak bilang-bilang sih”

“Nanti gue certain, buruan gih online skype sebentar. Gue, Mama, dan Papamu ingin ngomong sesuatu sama kamu”

Duh, Fandi ini apaan sih. Sudah pasti nanti gue kena omel mama lagi kalo Fandi bilang macem-macem sama mereka.
“Ogak ah, mama langsung ngomong aja”

“Sudah nurut Fandi, mama yang suruh nih”, Suara cempreng mama menggema tiba-tiba di telinga.

Nyalain laptop, colokin Modem AXIS, dan Online…

Gue nggak ngerti apa maksud mereka. Gue lihat dari layar laptop, Ada banyak orang dirumah. Termasuk mama dan papanya Fandi. Emang sih, Fandi pernah bilang katanya mau di jodohkan dengan teman papanya. Dan ternyata teman papanya itu mama gue. Subhanalloh ternyata Fandi pulang untuk di jodohkan dengan gue. Gue nggak ngerti apa di balik semua ini. Yang pasti gue bersyukur banget.

Tapi, mama tetep nggak mau gue pacaran di luar jangkauannya Mama. Mama selalu begitu tidak pernah percaya dengan gue dan Fandi, sekalipun Fandi adalah calon yang dipilihnya untuk gue. Tapi mama inginnya gue menikah saja sama Fandi. Supaya Mama tidak lagi kuatir dengan gue yang tinggal jauh.

Jalan terakhir keputusan saat itu, gue dinikahkan besoknya sebelum Fandi Balik kesini. Mimpikah ini?! Dalam waktu kurang dari satu minggu gue akan menikah dengan Fandi, lebih tepatnya kemarin aku mengalaminya. Menikah dengan Fandi via online melalui skype. Aku benar-benar tidak percaya ini terjadi dalam hidupku. Dan tidak pernah membayangkan jika pernikahanku hanya didepan laptop bermodalkan modem Axis doang dengan ditemani teman-teman kost.

Aku melihat Fandi begitu tegas menyambung salam tangan Papa dan dengan lancarnya Fandi membaca Akad Nikah untuk gue. Subhanalloh gema shahadatnya sampai menyebrang bermil-mil jarak menembus udara dan melintasi laut.

Pernikahan sederhana yang begitu unik. Saking uniknya teman-teman kost gue yang mengunggah video pernikahan yang tadinya live ke You Tube di likes ratusan ribu orang dan jadi trending toppic di Twitter. Subhanalloh, :D gue bersyukur banyak yang memberi doa dan ucapan atas pernikahan gue.

Dan hari ini gue sedang menunggu Fandi pengantin priaku menjemput gue untuk tinggal bersama dalam rantauan bersama kekasih yang sudah Allah rencanakan dengan Indahnya[.]

Tulisan ini diikutkan dalam Blog Writing Competition!


Saturday, February 18, 2012

Membaca, baru kemudian Menulis











Bisa menulis (bukan menjadi penulis?) adalah impian terpendamku sejak SMA. Maklum aku memiliki teman duduk yang hobi sangat dengan menulis. Ira namanya. Setiap kali punya tulisan dia selalu menyodorkannya kepadaku. Dan aku menjadi satu-satunya orang (teman mungkin) yang mengagumi karyanya sebelum dia jadi penulis nantinya, pikirku saat itu. Yap, itu karena tulisan-tulisan Ira bukan untuk konsumsi umum, dipasang di madding mungkin, atau dikirim ke majalah? Tidak. Ira hanya senang menulis, kalau bukan aku yang merebut kertasnya saat itu, mungkin aku tidak pernah menghargai tulisannya yang sudah memotivasiku untuk menulis saat ini.

Tapi, aku heran darimana Ira bisa menulis? Dia juga bukan anggota kru Mading, dia sama seperti aku yang sama-sama mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi selembarpun aku belum pernah bisa menulis. Jangankan iseng-iseng menghasilkan tulisan. Menulis cerita liburan untuk sebuah tugas saja aku sulit memulainya.

Dan aku baru mengetahui kuncinya ketika aku sudah lulus SMA -(Kuharap teman-teman yang membaca ini bisa sadar lebih awal, supaya tidak seperti aku), jauh setelah SMA aku sempat kerja melalang buana, kuliah dan baru kemudian mulai mengenal blog. Blog bagiku rumah di dunia maya. Seperti halnya rumah yang harus diisi dengan berbagai macam perabotan, memiliki blog juga harus rajin mengisinya dengan berbagai tulisan. Tulisan yang selalu terupdate inilah yang menandakan rumah maya ini berpenghuni dan selalu hidup.

Di dunia orang mengatakan “Dunia tak selebar daun kelor”, tapi di dunia maya aku bisa bicara “Dunia maya tak sesempit di dunia nyata”. Sekali meng-klik bisa saja aku tersesat, dan kenyataannya demikian benar aku tersesat dalam komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) yang entah darimana aku menemukan.

Aku bersyukur, aku beruntung walau hanya sebatas via online, aku tergabung di dalamnya. Beragam tulisan narsis setiap harinya dalam inbox emailku. Aku iri, aku juga ingin seperti mereka yang bisa menulis, kemudian di baca banyak orang. Apalagi jika aku menemukan tulisan dari mba Helvy atau mba Asma Nadia yang menceritakan dirinya sedang traveling, Subhanalloh kapan aku seperti mereka. Dari membaca beragam tulisan teman-teman inilah aku mulai tergerak untuk memulai menulisya alamat grupnya yangerak untuk memulai menulisinya sedang traveling, subhanalloh kapan aku

Dan menyesalnya,ternyata aku baru tahu darimana Ira bisa menulis. kuncinya sederhana, Ira lebih sering ke perpustakaan daripada ke kantin ketika jam Istirahat sekolah. Ira lebih banyak membaca dari pada aku yang lebih banyak makan di kantin.
Aku memulai menulis dari membaca. Aku tidak hanya membaca artikel-artikel online yang disodorkan teman-teman di inbox emailku. Aku juga membeli beragam buku yang aku suka, mulai dari cerita komedinya Dewi Dedew Rieka, Novel-novelnya mba Ifa Avianty, sampai buku beratnya Filosofis Islam Modern Agus Mustofa. Aku membeli buku bukan karena penulisnya, tapi dari apa yang ia tulis yang bisa aku baca dari sinopsisnya, dan dari sanalah kadang buku tersebut bisa memikatku.

Untuk apa buku itu? Selain dibaca dan mengoleksinya. Buku-bukuku bisa jadi kamus tersendiri bagiku. Yap… itu ketika aku kesulitan untuk memulai menulis, atau kadang ketika ideku putus di tengah jalan. Aku mengambil energy dengan membaca kembali buku yang cocok dengan genre yang aku tulis.

Misalnya ketika aku kesulitan ingin memulai menulis buku catatan harian komedi, buku-buku Raditya Dika yang sudah tertata rapi di rak buku bisa saja melompat berserakan di kamar tidur. Atau kadang bisa juga sampai lecek kebanyakan aku lipat-lipat untuk menandai halaman tulisan-tulisan atau quote yang aku suka. Dan aku juga tidak ragu untuk membeli buku dari para penulis baru, hanya ingin belajar banyak tentang gaya penulisan masing-masing penulis.

Setelah tulisanku jadi satu halaman, subhanalloh seneng banget ternyata aku bisa nulis juga. Namun aku masih belum pede dengan tulisanku. Setelah aku mencetaknya menjadi buku yang lebih mirip foto copyan itu, aku memberikan tulisanku kepada teman-teman di kantor dan aku di tertawakan. Aku belum gagal. Menulis memang tidak mudah, tapi bukan berarti aku tidak bisa. Oleh karena itu aku mencoba lagi, dan mencoba lagi.

Ketika aku mengedit tulisanku, ada sebuah lomba yang temanya sama dengan tulisan yang aku tulis. Iseng-iseng aku mengirimkannya. Dan subhanalloh tanpa kuduga, tiga bulan waktu yang hampir tidak pernah kunantikan. Seorang memberitahuku, bahwa aku masuk menjadi pemenang nominasi 30 besar. Senang bukan main, walau hanya 30 besar dan bukan juara. Karena ini penghargaan pertama dari apa yang kutulis.

Dari sana aku mencoba lagi hal sama yang pernah ku lakukan dengan gambaran diagram di bawah ini, yang mungkin lebih mirip dengan rantai makanan tikus. Tapi tak apa yang penting mengerti maksudnya:

Membaca ==> Menulis ==> Edit ==> Kirim ==> lupakan ==> membaca lagi==> dst.

Bisa juga berubah menjadi seperti ini.

Membaca ==> membaca ==> membaca==> menulis ==> biarkan mengendap di file==> menulis ==> membaca ==> buka file lama kemudian edit ==> kirim ==> lupakan.

Pada intinya menulis itu selalu diawali dengan membaca, darimana bisa menulis kalau tidak pernah membaca? Bisa juga sih. Namun aku rasa hanya penulis Egois yang hanya mau menulis saja tanpa pernah mau membaca. Membaca karya orang lain bagi aku adalah sebuah penghargaan terbesar dari seorang pembaca kepada penulis.

Dan semua tulisan harusnya juga diakhiri dengan Send atau kirim. Terserah penulis mau dikirim kemana tulisannya. Ada banyak media yang bisa di pilih. Majalah, penerbit, blog, notes Facebook, atau sekedar mencetak dan membagi kepada teman seperti yang pernah aku lakukan, penulis yang memilih. Yang penting tulisan tersebut bisa dibaca orang Karena karya yang bisa di baca oleh banyak pembaca akan menjadi kebanggan penulis tersendiri tentunya[.]



Saturday, February 11, 2012

Di Masjid Hatiku Terkait



Alhamdulillah :D
Telah terbit di LeutikaPrio!!!

Judul : Di Masjid Hatiku Terkait
Penulis : Nunu El Fasa, dkk
Tebal : xxiv + 188 hlm
Harga : Rp. 44.300,-
ISBN : 978-602-225-263-4


Sinopsis:

Di pojok masjid ini kami banyak menemukan keajaiban. Ada cerita sederhana, reflektif dan keindahan hati yang sulit terlukiskan. Kadang, barisan itu punah, menyisakan puing tanpa manusia. Tapi sungguh tangisan hari ini menjadi sangat perih dirasakan, karena tak ada lagi semangat juang, rasa bangga, ledakan emosi, pandangan kritis yang cerdas dan keberanian penuh tanggung jawab menampilkan “warna” dakwah yang bersih cemerlang khas Remaja Masjid dapat tampak ternikmati secara kasat mata oleh kebanyakan umat.

Ke mana semua itu sekarang bersembunyi? Tulisan buku ini mencoba menggerakkan hati, membingkai masa depan dan menaklukan masa lalu. Ada kobaran cinta, tetesan air mata yang membasahi sajadah. Semua menyatu dalam optimisme, semerdu optimisme Rasulullah SAW mengibarkan dakwahnya.


Ps : Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via website http://www.leutikaprio.com/produk/110210/true_stories/1202424/di_masjid_hatiku_terkait/11092151/nunu_el_fasa_dkk , inbox Fb dengan subjek PESAN BUKU, atau SMS ke 0821 38 388 988. Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- GRATIS ONGKIR seluruh Indonesia. Met Order, all

Friday, January 13, 2012

Orang Pintar VS Orang Bodoh

Sumber gambar dari sini

Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis.
Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang pintar.
Alhasil boss-nya orang pintar adalah orang bodoh.

Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah.
Alhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.

Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya mencari kerja.
Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.

Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato, maka dia menyuruh orang pintar untuk membuatnya.
Orang bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH). Oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.

Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan, sementara itu orang pintar percaya.
Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh.
Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada di atas.

Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu yang dipikirkan panjang-panjang oleh orang pintar.
Alhasil orang orang pintar menjadi staf-nya orang bodoh.

Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang berkerja. 
Tapi orang-orang pintar DEMO. Alhasil orang-orang pintar 'meratap-ratap' kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.
Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.

Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit.
Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.

Bill Gate, Dell, Henry Ford, Thomas Alfa Edison, Tommy Suharto, Liem Siu Liong
Adalah orang-orang yang tidak pernah dapat S1, tapi kemudian menjadi kaya raya.
Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka. Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.

PERTANYAAN :
Mendingan jadi orang pinter atau orang bodoh?
Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh?
Mana yang lebih mulia antara orang pinter atau orang bodoh?
Mana yang lebih susah, orang pinter atau orang bodoh?

KESIMPULAN:
Jangan lama-lama jadi orang pinter, lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.
Jadilah orang bodoh yang pinter dari pada jadi orang pinter yang bodoh.
Kata kunci nya adalah 'resiko' dan 'berusaha', karena orang bodoh perpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil.
Orang pinter perpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut.

Feel Free To Follow My Blog