Friday, May 17, 2013

Belajar dari Tumbuhan



Hati manusia yang penuh kebaikan ibarat hutan
Manjadi penyubur semangat
Menjadi penyimpan cadangan air kehidupan
Menjadi produsen oksigen untuk berbagi rezeki kepada sesama (hal. 111)

Pada klasifikasi makhluk hidup yang pernah dipelajari semasa sekolah, manusia berada dalam satu kingdom dengan hewan yaitu animalia. Tentu sangat bertolak belakang jika manusia diidentikkan dengan tumbuhan. Bahkan fakta secara ilmiahpun manusia tidak sama dengan flora yang tumbuh, mengambil nutrisi dan bereproduksi. Manusia dalah manusia yang jelas berbeda dari flora dan fauna. Manusia memiliki akal dan kehendak yang membuatnya bergerak dan berinovasi untuk lebih maju dari sebelumnya. (hal xvi)

Tetapi dari buku ini pembaca akan medapati beragam perilaku flora yang bisa dijadikan inspirasi untuk memperbaiki karakter manusia. Seperti yang sering banyak orang lakukan di pagi hari. Bercermin pasti akan menimbulkan bayangan diri didalamnya untuk mengoreksi kekurangn yang ada pada diri manusia. Terdiri dari 4 Cermin yang memang disusun oleh penulis secara berurutan sesuai tahap yang paling mudah dalam perbaikin diri manusia yaitu; Personalitas, Mentalitas, Moralitas dan Spiritualitas.

Cermin pertama. Dalam memperbaiki personalitas, pentingnya pola pikir dan pola sikap yang baik akan menentukan karakter yang dimiliki manusia. Sementara pola pikir yang tergantung dari indra, otak, adanya fakta dan pengetahuan sebelumnya bisa membentuk suatu pemahaman yang sempurna. Yang akan menentukan pola sikap sebagai wujud pola pikirnya. Sehingga penulis menyimpulkan pribadi yang positif adalah pribadi yang pola sikapnya sejalan dengan pola pikirnya. (hal 20) Seperti halnya para koruptor yang memahami korupsi itu kejahatan dan merugikan rakyat, akan tetapi masih melakukan korupsi adalah bentuk pola sikap tidak sejalan dengan pola pikirnya adalah contoh dari pribadi yang negatif. Cerminan personalitas ini tergambar dari gerak fototropisme bunga matahari, lingkar tahun batang, lumut kerak, hidro dan aerophonic.

Cermin Kedua. Tentu tidak semudah itu untuk meraih karak terbaik manusia, perlu adanya mentalitas yang baik ketika menghadapi masalah setiap harinya. Satu hal yang harus diyakini yaitu mampu dan bisa menyelesaikan besar kecilnya masalah (hal 65). Dan tidak perlu ragu untuk belajar mengatasi masalah yang sama dengan orang lain. Inilah pentingnya tiga guru kehidupan (Guru Inspirasi, Guru Spiritual, Guru keahlian) yang disarankan penulis untuk memecahkan masalah sesuai dengan pangkalnya. Dan mentalitas yang sedang di bangun bisa di pelajari dari si segala bagian tanaman pepaya mulai dari batang daun hingga buah, baik kulit, daging buah maupun bijinya. Juga dari ritme siklus tanaman sakuran serta proses imbibisi tanaman.

Cermin Ketiga. Sedangkan untuk memperbaikin moralitas, penulis mengadaptasi Tung Desem Waringin tentang bicara dan interaksi yang terdiri dari tiga type yaitu visual, perasaan-gerak dan pendengaran. Ketiga type bisa kita terapkan dengan lawan bicara. Selain itu cerminan moral dari karbondioksida, simbiosis organisme, maupun dari tanaman bakau untuk membangun moralitas.
Cermin Keempat adalah tentang spiritualitas diri terhadap janji Tuhan amat mempengaruhi untuk selalu manabur kebaikan dimanapun dan kapanpun. Dan peribahasa apa yang tumbuh dihalam rumah adalah sesuai dengan apa yang kita tanam tidak sesuai lagi dengan kesadaran yang terjadi setelah membaca buku ini. Ternyata menanam melati itu yang tumbuh bukan hanya melati melainkan bersamaan juga tumbuhnya rumput teki, padahal kalau menanam rumput teki, tidak satupun tumbuhan melati yang tumbuh. Ini menandakan bila menanam keburukan hanyalah keburukan yang akan tumbuh, sementara jika menanam kebaikan, kebaikan pasti tumbuh. Hati-hati selalu ada keburukan yang turut serta. (hal 172). Cerminan ini terlihat sekali dari rumput teki dan corolla.

Selain keempat cermin flora, disetiap cerminan Dhony juga melengkapi buku ini dengan worksheet yang bisa diisi pembaca sebagai tolok ukur perbaikan karakter sebelum dan setelah membaca buku ini.

Sidoarjo, 29 Oktober 2012
Unun Triwidana (Duta Buku Ibu-ibu Doyan Nulis dan Koorwil Jawa Timur)

Tentang buku :
Judul                    : 4 Cermin Flora
Seri ISBN/EAN : 9789792287547 / 9789792287547
Author                 : Dhony Firmansyah
Publisher              : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Publish                 : 30 Agustus 2012
Pages                   : 208
Weight                 : 234 gram
Dimension (mm)  : 140 x 210
Tag                      : Filsafat

Thursday, May 16, 2013

Patuhi Ajaran Islam, Agar Terlindungi dari Musibah

Catatan setelah renungan

Era sekarang, kita tidak bisa memprediksi orang itu baik atau jahat. Seperti pepatah, segalanya tidak bisa dilihat hanya dari sisi cover, tampang dan penampilan. Kejahatan semakin beragam yang semakin tidak bisa ditebak oleh korban. Oleh karenanya kita harus mewaspadai setiap orang yang baru saja kita kenal. Baik dijalan raya, di angkutan umum, atau bahkan yang paling membahayakan kejahatan dengan modus pura-pura bertamu kerumah dengan sasaran kelemahan para ibu rumah tangga atau pembatunya.

Waktu antara pagi hingga siang hari dimana suami masih kerja sementara anak-anak masih disekolah, adalah waktu incaran mereka untuk melancarkan aksinya. Bisa saja berpura-pura survey dari instansi pemerintahan, sales, atau seperti yang baru saja saya alami ketika rumah hendak dijual dengan berpura-pura melihat sisi bagian dalam. Beragam macam orang datang survey, mulai dari dua ibu-ibu, laki-laki paruh baya sendirian, pasangan, sampai keluarga lengkap dengan anaknya.

Ada atau tidak ada suami dirumah sebagai ibu rumah tangga, kita wajib meningkatkan kewaspadaan. Jika yang bertamu perempuan biasanya saya lebih rileks menghadapinya, akan tetapi berbeda ketika yang bertamu laki-laki, baik bersama perempuan maupun sendirian apalagi yang rame-rame berdua atau bertiga. Saya selalu menyampaikan permohonan maaf dan berkenan jika datang lagi sore hari ketika suami sudah pulang. Kita tidak perlu menyampaikan beragam alasan, setidaknya begitulah agama mengajarkan ketika menerima tamu sementara suami tidak ada dirumah agar kita terlindungi dari musibah[.]

Wednesday, May 15, 2013

Menengok Pesta Laut ala Rakyat Pesisir Sidoarjo

mejeng sebelum berlayar
Kepetingan –Pulau kecil bagian tenggara dari kabupaten Sidoarjo ini tak banyak orang tahu akan keberadaannya sekalipun penduduk Sidoarjo sendiri. Ketika suami berkesempatan pergi kesana untuk sebuah urusan kerja, saya tertarik dengan hasil liputannya yang mengabarkan ada sebuah makam Dewi Sekardadu, ibunda dari Raden Paku atau yang kita kenal dengan Sunan Giri yang berada di Gresik. Dan hari Minggu awal Februari ini saya berkesempatan pergi kesana lengkap dengan pengalaman baru, melihat secara langsung ritual Nyadran yang dilakukan oleh penduduk setempat.
suasana di atas perahu
Seremonial dimulai dari dermaga Desa Bluru Kidul oleh Bupati Sidoarjo dengan ditandai pelepasan puluhan balon ke udara. Suasana tampak meriah dengan iringan dangdut dan tepukan pengiring di pinggiran sungai. Perahu-perahu tradisional nelayan dihias berdasarkan kreativitas masing-masing, terparkir di pinggir-pinggir sungai telah siap melaju menunggu aba-aba pemandu acara. Tepat sebelum itu saya bersama empat orang rombongan pecinta petualang, Wiwik, Happy, Karni, dan Lukman dititipkan seorang teman setempat kepada pemilik perahu agar dapat mengikuti prosesi Nyadran sampai ke muara sungai yang diikuti lebih dari dua puluhan perahu nelayan.
Petualangan di Perjalanan Sungai
menikmati pesona sungai dan hawa sejuknya
Sebuah perahu tradisional dengan tenda penahan panas yang dihiasi bendera umbul-umbul dan beragam makanan dapur, sudah berkumpul ibu-ibu dan anak-anak yang siap menikmati panorama indah perjalanan sungai yang mungkin bukan pertama kalinya bagi mereka, tetapi mereka tetap sama antuasiasnya seperti kami yang baru mengalaminya saat ini.
Mesin diesel dari perahu-perahu mulai di nyalakan. Beberapa penonton yang tidak saling kenal di pinggiran suangi tampak melambaikan tangan kepada kami saat perahu mulai melaju. Meski saya tahu lambaian-lambaian mereka bukan sepenuhnya untuk kami yang merupakan pendatang, saya tak ragu untuk membalasnya bahwa kami akan kembali lagi ke dermaga ini. Ah, rasanya benar-benar tak jauh berbeda dengan naik kapal pesiar yang kami tonton di film Titanic itu. Lambaiannya tetap kami rasakan sepanjang bantaran sungai yang berpenduduk.
Arus sungai yang tenang, memberikan rasa nyaman pada perjalanan kali ini meski suara bising diesel membuat kami tak bisa banyak bercengkrama dan saling mengenal dengan ibu-ibu peserta Nyadran. Namun keakraban di dalam perahu terasa sangat kental. Perbekalan yang mereka bawa terhidang disana, mulai dari kerupuk udang dan petisnya yang terkenal dari Sidoarjo sampai gorengan, kacang rebus, serta tak ketinggalan air mineral yang memang telah dipersiapkan. Sementara kami sambil makan, sibuk membidikkan kamera kesegala arah penjuru sisi perahu.
Perjalanan baru dimulai, tiba-tiba mesin diesel di matikan, beberapa dari kami termasuk saya yang penasaran semburat berdiri dan ke luar atap melihat keadaan sekitar.
“Awas... Mbaaaaak, menunduuuuuuk,” teriak sopir perahu yang menjaga mesin diesel di belakang.
salah satu perahu besar
Saya sontak menunduk seketika. Rupanya perahu-perahu kami melewati bawah jembatan yang pembangunannya kurang tinggi. Sehingga ketika air sungai penuh banyak perahu yang kesusahan melewatinya. Segala pernah-pernik perahu yang tadinya didesain unik, terpaksa pada bagian yang menjulangnya harus di lepas, bahkan yang perahunya memang besar juga terpaksa melepas atapnya dan penumpangnya harus menundukkan kepala sampai dek perahu. Beruntung perahu yang kami tumpangi masih cukup melewatinya asal tidak ada yang berdiri seperti saya tadi.
Selepas itu tidak ada kendala berarti yang kami lewati. Setiap sisi perjalanan yang kami lihat tampak beragam tanaman bakau, juga beberapa burung bangau berleher jenjang berterbangan saat perahu kami mulai mendekatinya.
Pesona Kepetingan Dengan Dewi Sekardadu
jalanan setapak menuju makam
Satu setengah jam perjalanan mengikuti arus sungai, pukul 9.30 sampailah kami di tujuan wisata utama kali ini, makam Dewi Sekardadu. Konon, saat Syekh Maulana Ishaq, suaminya diusir raja Blambangan karena menyebarkan ajaran Islam, Dewi Sekardadu sedang hamil tua. Sehingga ia tidak ikut serta bersama suaminya.
Setelah anak laki-lakinya lahir. Bayi tersebut tidak diingikan oleh sebagian orang yang tahtanya terancam oleh kelahiran anaknya. Bayi mungil itu diculik, dimasukkan kedalam peti dan dipaku pada setiap tepinya, sehingga inilah yang membuat bayi mungil ini dikemudian hari dipanggil sebagai Raden Paku. Lantas melarungkan bayi dalam peti tersebut ke laut.
Dewi Sekardadu yang tahu hal ini, turut menceburkan dirinya ke laut untuk mengejar peti tersebut hingga dirinya meninggal di tengah laut karena tak mampu mengejarnya sementara Raden Paku sudah ditemukan oleh Dewi Pinatih dari Gresik.
Nelayan yang sedang melaut saat itu, menemukan mayatnya mengapung. Anehnya mayat tersebut mengapung karena di arak beramai-ramai oleh banyak ikan keting mengarah menuju sungai dimana disisi tersebut terdapat perkampungan warga. Oleh warga mayat tersebut dimakamkan dan menamakan daerah tersebut sebagai Kepetingan atau Ketingan, tempat transit Nyadran kali ini. 
depan pintu masuk sebelah timur
Sayangnya, ketika saya mencoba menerobos masuk agar lebih dekat dengan nisan. Banyak orang-orang yang memanfaatkannya untuk hal kesyirikan, menambah kekuatan, atau meminta pesugihan. Seperti pengakuan seorang ibu-ibu yang sempat saya tanyai ketika meminta sekar (bunga makam) kepada pak Samadi penjaga makam, hal itu ia lakukan untuk menambah penglaris dagangannya.

Cara Mereka Mensyukuri Nikmat
Karena tak banyak yang tahu, wisatawan yang datang ke tempat ini kebanyakan adalah warga lokal sekitar kecamatan Buduran, dan sebagian orang-orang Madura yang datang untuk mendoakan.
Kebetulan bertepatan saat acara Nyadran, tempat ini menjadi ramai. Meski jalanan setapak menuju makam masih berupa tanah liat, apalagi di musim hujan begini saat berjalan tanah seringkali menjerembab sepatu, saya tetap tak mau melewatinya. Bahkan rela melepaskan sepatu agar bisa berjalan lebih cepat.
Diatas balai-balai orang berkerumun yang terbagi dalam beberapa grup mengitari makanan yang sengaja turut serta mereka bawa. Nasi ayam panggang dalam tumpung yang amat sederhana dan beragam buah-buahan serta makanan lain.
Makanan-makanan ini bukan sesajen untuk makam atau untuk hal sirik. Makanan ini adalah tanda kesyukuran nelayan selama satu tahun yang mereka lewati kemarin. Sama halnya ketika saya mentraktir teman-teman saat ulang tahun untuk mensyukuri nikmat hidup selama satu tahun melewati umur saat itu. Saya bebas menentukan tempat dan memilih menu makanan, membeli atau membuatnya sendiri.
Suasana di makam Dewi Sekardadu
Begitupun orang-orang ini, mereka memilih membuat makanan sendiri dan membawanya kesini untuk makan bersama. Barulah setelah selesai membacakan doa, semua orang siap menyerbu makanan. Ada yang dimakan di tempat secara ramai-ramai, ada pula yang membungkusnya untuk dibawa pulang.
Karena tak mau menyia-nyiakan kesempatan di tempat ini yang cuma singgah sebentar, kamipun memanfaatkannya dengan menimkati es krim nostalgia di pinggiran tambak. Ya, es krim korek yang dijual keliling saat masa kecil saya ini sudah sangat langka, ditambah dengan udara sejuk yang masih sangat alami adalah dua perpaduan yang tidak dapat kami temukan jika kembali ke kota.
Meriahnya Pesta Nelayan di Atas Air Payau
Meski belum puas di Kepetingan, kami terpaksa mengakhirinya karena khawatir ketinggalan perahu. Perjalananpun berlanjut menuju muara sungai, pertemuan antara air sungai dan air laut.
Pukul 11.30 matahari bersinar terik diatas kami, cuaca cerah meski banyak mendung menggelanyuti langit biru. Akan tetapi sengatan panasnya masih bisa terbungkus oleh angin dan udara yang diberikan tanaman bakau di tepi-tepi sungai. Melihat berbagai perahu lain yang kami salip atau menyaksikan perahu lainnya yang saling salip menjadikan pemandangan unik bagi saya untuk dijadikan bidikan kamara. Tetapi akhirnya semua perahu memelan dan mematikan dieselnya, nampak puluhan perahu mengapung di tengah-tengah setelah menempuh 30 menit perjalanan dari Kepetingan.
Pada prosesi inilah moment yang ditunggu anak-anak. Mereka melepas semua baju hingga menyisakan celana dalam dan atasan kaos kutang bersiap untuk berenang. Saya yang tidak bisa berenang, diam-diam mengagumi anak-anak ini yang tak takut tenggelam. Rupanya saya salah, pada muara sugai kedalaman sungai sudah tidak seberapa. Bahkan hanya sebatas pinggang anak kecil.
susana makan-makan di atas goyangan perahu
Puluhan perahu dibiarkan terapung dengan pemandangan anak-anak saling bermain melempar air, atau bahkan ada yang memanfaatkannya dengan mencari kerang. Tak ketinggalan dengung bunyi dangdutan pun terdengar dari sebuah perahu yang sengaja khusus membawa sound system. Layaknya sebuah pesta sebenarnya, bedanya ini dilakukan diatas air.
Sementara kami dan para orang tua hanya bisa menyaksikan dan menunggui mereka dari atas perahu. Satu tumpeng makanan yang tidak diikutkan dalam syukuran sebelumnya, menjadi santapan kami siang ini. sungguh nikmat dan berbeda rasanya makan diatas laut seperti. Apalagi dengan perahu yang dibiarkan terombang-ambing. Memang beginilah pestanya nelayan, sungguh ini moment paling mengasyikkan dari semua prosesi ini.
Puas berenang dan kenyang makan, dengan sengatan matahari semakin terasa. Kamipun kembali ke dermaga bluru degan membawa satu ember kecil kerang dan satu ekor ikan yang baru saya tahu, mereka menyebutnya ikan mimi.
Capek dan lelah begitulah yang terlihat, banyak penumpang perahu yang tertidur ketika perjalanan pulang, sementara mesin diesel masih menjadi musik pengiring meski kebisingannya sangat mengganggu dan memekakkan telinga.
Perjalanan Mecapai Ketingan dan Estimasi Biaya :
papan petunjuk ke pasar ikan/ketingan
Tempat ini tidak jauh dari pusat kota Sidoarjo, arah timur alun-alun kota Sidoarjo menuju jalan Yos Sudarso, lurus menuju Pasar Ikan baru. Untuk mencapai ke tempat ini kebanyakan dari penduduk setempat mengandalkan motor kemudian diparkir di rumah-rumah warga dengan tarif beragam, mulai dari Rp. 2.000 – Rp 5.000 per hari.
Atau jika memanfaatkan jasa angkutan umum, dari terminal purabaya menuju Sidoajo cukup ditempuh dengan angkot dan berhenti di alun-alun Sidoarjo dengan tarif Rp. 3.000 – Rp. 3.500. Kemudian dilanjutkan dengan naik becak menuju dermaga Bluru Kidul atau Pasar Ikan baru dengan tarif Rp. 10.000 – Rp. 15.000. Selanjutnya bisa menyewa perahu motor nelayan seharga Rp. 300.000, bisa untuk mengangkut kurang lebih 20 orang, sudah include ongkos dua orang supir perahu dan keneknya. Penyewaan ini juga bisa sehari penuh, sampai sore atau sampai malam tergantung kebutuhan dan perjanjian di awal sewa. Dan jika berminat berkunjung ke tempat ini saya menyarankan untuk membuat rombongan agar bisa menekan budget yang di keluarkan.
selamat berlayar: melajulah perahuku

Saturday, April 06, 2013

Vienna, Mengajarkan Sikap Menghadapi Orang Ketiga

Judul buku : Yang Kedua
Penulis : Riawani Elyta
Penerbit : Bukune, Jakarta
Tebal : v+243 halaman
Cetakan I : Maret 2012
Harga : 37.000
ISBN : 9786022200406

Aku dan Novel Yang Kedua
Menjadi pemenang dalam ajang mencari bakat seperti yang sering kita nikmati akhir-akhir ini, adalah salah satu jalan cepat menjadi kaya raya. Apalagi kompetisi tarik suara, iming-iming kontrak rekaman dan jaminan terkenal jelas menjadi daya tarik peserta untuk menjadi pemenangnya. Tapi, tidak semua orang bisa menikmatinya. Kebahagiaan materi yang berhasil didapatkan tokoh utama dalam Novel ini, bisa menjadi cermin bagi pembaca bahwa segalanya memang butuh uang tapi uang bukan segalanya.

Vienna, perempuan yang hidup sederhana dan bersuamikan Haris berhasil menjadi juara kedua dalam kompetisi menyanyi local di kota Batam, tempat ia tinggal. Prestasi itu sangat berarti baginya mengingat selama ini ia hanya mampu menjadi penyanyi kamar mandi, atau penyanyi kondangan di pesta hajatan ulang tahun teman. Tapi tidak bagi Haris, itu tak lebih dari ambisinya selama ini untuk merebut hadiah rumah yang ditawarkan bagi juara satu.

Kekecewaan Harispun sedikit terguyur tatkala, Vienna mendapatkan tawaran mengikuti ajang kompetisi yang lebih tinggi, tingkat asia di Singapura mewakili perusahaan yang menyelenggarakan kompetisi sebelumnya. Namun siapa sangka, bagi Vienna kesempatan itu menjadi tekanan batin baginya karena dia harus duet bersama dengan pemenang pertama yang tak lain adalah Dave, pria yang dia temui ketika dia nyasar di toilet pria. Dengan segala kemampuan dan tekanan dari suaminya untuk menjadi juara, kali ini Vienna berhasil hingga mereka menjadi pasangan duet yang cukup terkenal di Asia.

Hari-hari yang mereka lalui sebagai pasangan duet, sedikitpun tidak mengusik Haris yang percaya sepenuhnya kepada Vienna bisa menjaga diri. Ketika tatapan dan pujian yang so hearthly harusnya meluncur hanya dari bibis Haris, sisi batin Vienna yang lemah menjadi risih ketika pada kenyataannya Davelah yang ada di hadapannya. Sementara Haris selalu menolak ketika diminta menemani kemanapun Vienna Pergi.
“Orang bilang, pasangan hidup itu seperti belahan jiwa, biar klise, tapi nyata adanya. Jiwa kita nggak sepenuhnya terisi pada saat pasangan hidup kita nggak selalu ada di sisi kita, walau ada banyak hal yang telah kita jalani bersama, dan nggak semua hal berjalan sesuai yang kita harapkan.” (hal 128 paragraf 2)
Juga bagaimana Dave menggendongnya ketika dia Pingsan karena tekanan Haris yang menginginkan kemenangan itu. Sama sekali, Haris tidak memperdulikan keadaannya. Haris yang manja dan ambisius hanya mero-rong Vienna seperti sapi perah, dia harus bekerja keras sementara Haris dengan mudah mendebet uangnya dengan alasan investasi. Itu karena Vienna harus membayar ketidakmampuan dia memberi keturunan setelah lima tahun menikah.

Di tengan kondisi yang seperti ini. Dave yang sudah menaruh hati sejak pertemuan pertama mereka, mengutarakan cinta yang tidak pernah diharapkan oleh Vienna. “Andai saja takdir bisa di tarik mundur, aku pasti melakukan apapun untuk menjadikanmu milikku selamanya. Aku bukan pria pengecut yang hanya bisa mengambil kesempatan untuk merebut wanita yang sudah menjadi milik orang lain meski aku mencintainya” (hal 144)
Vienna menepis angan tentang Dave, Ia terlanjur terdoktrin oleh suaminya, “Ingat Vienna, tidak ada pria di dunia ini yang mau menerima kekuranganmu selain aku. Tidak juga, Dave Ananta” (hal. 162)
Meski demikian Vienna adalah istri yang setia, tidak sedikitpun lubang hatinya menganga oleh sikap Haris. Dia selalu berpikiran positif dan memaafkannya.

Novel setebal 243 halaman ini berbeda dengan Persona Non Gatra, novel Riawani Elyta sebelumnya yang sangat imajinatif. Yang Kedua ini, penulis lebih realis dalam menghadirkan cerita dan konflik yang ditimbulkan dalam dunia rumah tangga. Termasuk dia cerdas menempatkan sikap tokoh utama untuk menghadapi orang ketiga. Meski perasaan Vienna yang pada akhirnya bisa ditebak juga jatuh cinta terhadap Dave, tapi Vienna mampu menjaga diri dan membentengi dirinya saat jauh dari Haris. Ini menjadi pelajaran berharga bagi pasangan yang mungkin sedang menjalani puber “kedua”. (Unun Triwidana, Korwil Ibu-ibu Doyan Nulis Jatim dan anggota FLP Sidoarjo).


Friday, February 08, 2013

Narsisis Sangat! Artistik Sangat!

Artistik sangat orangnya hi :)

Hey, jangan ada yang protes yaa dengan foto di atas. Sumprit itu saya lhoooo..... Artistik kan? Kayak model-model eropa itu, eksostis. Awalnya saya enggak nyadar sih. Tapi ketika suami memuji akan minyak goreng yang pindah ke pipi dagu dan jidat, hihihi jadi punya pembelaan kalau ini ada nilai artistiknya.

Coba lihat mesin yang mau soak itu, nah itu diaaaaaaa..... nilai artistik sebenarnya terbantu dari keartistikan mesin diesel dan pak Ghofar, nelayan yang mengemudikan perahu yang kunaiki ini. Coba lihat gayanya pak Ghofar, artistik juga kan. Pose yang bener-bener pose, bukan dibuat-buat, arahan apalagi rekaan. Heuheuheu. Yap, ini sedang diatas perahu lho, ketika perjalanan ke pulau Ketingan kemarin.

Oke itu aja pembelaan akan keartistikan foto ini, jika ada yang protes silahkan layangkan di surat pembaca majalah dinding sekolah.

"Postingan ini diikutsertakan di Narsisis-Artistik Giveaway."

Bunda, seks itu apa sih?

Sebuah Resensi : pernah dimuat di majalah potret

Majalah Potret Rubrik Resensi edisi 65 tahun IX : www.potret-online.com
Bicara Seks Kepada Anak! Kenapa Tidak?
A resensi by : Nunu el Fasa (Duta Buku - Ibu-ibu Doyan Nulis)

Pandangan lama bahwa membicarakan seksualitas pada anak adalah hal tabu, membuat banyak orang tua merasa risih dan sungkan membicarakan hal-hal sensitif tersebut. Tak jarang orang tua menghindar jika anak bertanya seputar seksualitas, bahkan diantaranya seringkali orang tua memarahi si anak dan mewanti-wanti untuk tidak bertanya seputar itu lagi. Padahal menurut buku “Bunda Seks Itu Apa?”, saat-saat tersebut adalah saat yang paling tepat bagi orang tua menjelaskan seputar seksualitas secara edukatif. Justru sangat dianjurkan orangtualah yang seharusnya memulai diskusi agar anak mengetahui hal-hal yang pantas mereka ketahui, jika sang anak dirasa malu menanyakan kepada orang tua.

Hal ini tidak lepas dari perkembangan tekhnologi berbasis keterbukaan saat ini, mereka bisa mendapatkan informasi dari mana saja dan tidak menutup kemungkinan ketika seorang anak merasa tidak nyaman menanyakan hal-hal yang ingin mereka ketahui kepada orang tua, mereka akan berusaha mencari jawaban dari tempat lain. Padahal orang tua harusnya bisa menjadi sumber informasi pertama dan utama yang harus bisa dipercaya oleh anak, daripada melalui teman, televisi, lebih-lebih melalui internet. Karena informasi yang salah tanpa edukasi yang benar, bisa menimbulkan perilaku seksualitas yang menyimpang. Inilah perlunya komunikasi edukatif dari orang tua, agar anak bisa membentengi diri sendiri dan lebih bertanggung jawab dengan segala perilakunya.

Dalam buku ini dikupas beragam pengenalan seksualitas menurut perkembangan dan rentang masing-masing usia anak hingga beranjak remaja. Bahkan pentingnya pendidikan seksualitas bisa dimulai sejak dini, sejak anak-anak mulai mengenal alat kelaminnya sendiri. Karena minat terhadap masalah seks sebenarnya muncul pada setiap anak pada setiap tahapan usia.


Seringkali kita mendapati bayi laki-laki yang sedang disusui ibunya, senang memainkan alat kelaminnya. Pada tentang usia 18 – 36 bulan, aktivitas ini bukan merupakan reaksi seksual, lebih ke arah eksplorasi mengenal tubuh si bayi. Dan alangkah baiknya jika si ibu juga mulai memperkenalkan setiap bagian tubuh kepada anak, termasuk area genital atau alat kelamin dan memberitahukan fungsinya masing-masing. Bahkan ketika anak dilatih untuk belajar mandi sendiri mereka juga belajar mengenai anggota tubuh, dan untuk anak yang lebih besar situasi ini selain belajar tentang kebersihan juga mengajarkan membedakan antara sentuhan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan, baik diri sendiri maupun oleh orang lain.


Tidak hanya edukatif, buku yang ditulis oleh Ellen Tjandra dan psikolog anak Nahda Kurnia, juga menyajikan contoh kasus dari para orang tua yang umum terjadi pada anak, termasuk bagaimana menjawab agar perilaku seksualitas menyimpang anak bisa dihentikan dan menanamkan nilai moralnya.
Ibu : “Kenapa Penisnya di pegang dik?” 
Anak : “Geli Ma” 
Ibu : “Geli ya? Memang enak, tapi gak baik kalau dipegang terus, apalagi digaruk-garuk. Nanti bisa luka, kalau ada kuman di tangan masuk akan bikin lebih gatal lagi. Penis adik kan juga untuk buang air kecil, jadi kotor. Nah kalau lupa cuci tangan, nanti kumannya bisa masuk ke mulut waktu adik makan.”
Dan kebiasan-kebiasaan lain yang perlu diubah dari perilaku si anak diantaranya; masih tidur dengan orang tua, memeluk teman lawan jenis, membuka rok teman perempuan, telanjang di luar kamar mandi, bahkan sampai seorang ibu kesulitan menghentikan kebiasaan masturbasi anaknya yang berumur 5 tahun. Juga masih banyak juga contoh kasus lainnya yang akan mewarnai buku ini berdasarkan pembahasannya.

Selain contoh kasus, buku ini juga dilengkapi dengan pertanyaan-pertanyaan anak yang sulit dijawab orang tua. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak seringkali muncul secara spontan dari apa yang dilihat dan didengar dari lingkungan sekitarnya. Akibatnya, orang tua yang dianggap anak sebagai manusia serba tahu, seringkali ragu memberikan jawaban. Alih-alih menjawab bisa jadi memicu rasa penasaran anak dan menimbulkan pertanyaan berikutnya. Berdasarkan survey yang dilakukan, penulis mengelompokkannya menjadi 5; pertanyaan seputas alat kelamin dan payudara, pertanyaan seputar datangnya bayi, pertanyaan seputar menstruasi dan mimpi basah, pertanyaan seputar interaksi dengan lawan jenis, dan pertanyaan seputar hubungan seksual. Semuanya di sertai dengan pembahasan dan cara menjawab yang tepat berdasarkan rentang usia anak.


Dari semua itu yang lebih penting adalah bagaimana komunikasi yang dibangun dengan anak. Menciptakan kehangatan di lingkungan keluarga dengan saling terbuka mengenai seksualitas membuat anak merasa nyaman mengkomunikasikan segala bentuk perubahan seksualitasnya, jangan sampai peran gadget yang semakin canggih bisa menyilaukan jarak komunikasi orang tua yang lebih memilih lebih banyak bersosialisasi di dunia maya.

Bagaimanapun berkomunikasi dengan anak bukanlah sesuatu hal yang mudah, apalagi berbicara mengenai seksualitas yang sangat sensitif. Kuncinya adalah berlatih secara bertahap melalui situasi sehari-hari dan pembiasaan dari orang tua kepada anak memegang peran penting. Termasuk pembiasaan yang dicontohkan orang tua melalui sikap akan lebih diterima oleh anak. Jangan sampai anak membalik kebiasaan yang diterapkan kepadanya, kepada orang tua yang hanya bisa menyuruh. Anak selain foto copy orang tuanya, pola pikir dan otak anak ibarat CD blank. Informasi apapun yang dilihat dan didengar lebih mudah merasuk dan akan bisa mempengaruhi pola pikirnya ketika dewasa. Anak yang diberi bekal pemahaman seksualitas sejak dini, ketika dewasa akan mempunyai pola pikir kuat mengenai batasan-batasan yang boleh dan yang tidak, yang benar dan yang salah, diharapkan mampu membentengi dirinya sendiri dari kerusakan moral yang menagncamnya[.]

Data buku :
Judul buku : Bunda Seks Itu Apa Sih? (Cara Cerdas dan Bijak Menjelaskan Seks Pada Anak)
Penulis : Nahda Kurnia dan Ellen Tjandra
Terbit : Jakarta, 2012
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-8953-4
Harga : 50.000


cover buku, Bunda Seks Itu Apa Sih?




Feel Free To Follow My Blog