Tuesday, March 06, 2012

Masih mau menjadi blogger semusim?

-->
Bukan Blogger Semusim? Pertanyaan ini nabok banget ke saya. Beneran! Ini seperti menelanjangi blog saya sendiri yang pernah terkena virus Blogger Musiman akut. Apalagi belajar dari beberapa bulan februari lalu yang gue lakuin cuman copas file-file cerpen simpenan saya di laptop. Ada yang memang fresh orisinil saya bikin dan sengaja saya endapkan di file laptop, namun ada juga yang tandonan file-file naskah lomba nulis yang lolos tidak terpilih alias reject. Hem daripada laptop saya megap-megap karena kepenuhan, saya share file-file tersebut di bulan februari.
So What? Itu kan file saya sendiri bukan file copas milik orang lain lalu apa hubungannya dengan Blogger Semusim?
Bagi saya blogger semusim adalah blogger yang nulisnya wayahan (read; wayah = waktu). Seperti halnya musim hujan, ketika waktunya musim hujan. Hampir setiap hari tanpa jeda air terus menghujani tanah-tanah. Bahkan kadang bisa sehari dua tiga kali hujan. Hujan, reda, hujan, reda. Namanya saja musim hujan. Begitupun dengan musim-musim yang lain; musim nangka, duren, musim rambutan dll. Jadi musiman bisa diartikan sesuatu yang adanya intens dan terus menerus pada rentan waktu. Kenapa aku jadi merindukan musim juet ya? Ah itu buah kesukaan saya waktu kecil dan sekarang sudah jarang ditemukan:)
Lha untuk blogger apa hubungannya?
Tentu saja ada. Hubungannya Blogger dengan penulis. Dan itu bisa di lihat dari intensitas tulisan yang nampang di Blog. Saya kok jadi mempermalukan blog sendiri *sigh.aum pim panaserawan  kekali hujan. Hujan, reda, hujan, reda. namany menghujani tanah-tanah. bahkan file t Coba saja lihat arsipnya; januari, februari, maret sampai desembernya. Bisa menyimpulkan sendiri pada bulan keberapa mental Blogger Musiman itu kambuh. Atau malah ada juga yang tidak terloncati bulannya. #aduh>,< ketauan.
Memang sih awal-awal saya getol banget ngeblog. Apalagi pas jamannya blogwalking segala. Malam-malam pun rela jalan-jalan sendirian di dunia maya tanpa takut dirampok. Hihihihi sampai ngebelain ngos-ngosan sehari posting tiga sampai lima kali. Huh marathon bok!
Bukan hanya itu blogger musiman juga bisa di lihat dari tulisannya lho?
Coba perhatikan, ada berapa banyak tulisan yang hampir sama dalam rentan waktu sekian. Dan itu ada di blogku juga. Yaitu ketika musimnya GA, jenis tulisannya beragam sih tapi ternyata ujung-ujung eh untuk Give Away :D Ah, itu sih mending yang penting tulisan kita fresh kan ya?
Yang lebih parah adalah ketika lomba menulis yang kudu memosting info lomba di blog pasti yang sering saya share adalah info lomba. Hiks :(  ketauan benar nie Blogger ngga banget. Nggak ada apa secuil kata dan kalimat yang bisa di share selain info lomba yang copasan. Untuk variasi gitu kek. #memprotes blog sendiri. Iyalah masak blognya orang, bisa kena sambit saya.
Akhirnya saya tersadar ketika mengunjungi blog sahabat pena saya di nganjuk ini. Dia bukan hanya mengaku blogger tapi dia memang Bukan Blogger Semusim seperti yang sudah saya ketik diatas. Postingan-postingannya selalu original dan tidak mengikuti trend musim yang sedang ada. Kadang hanya secuil paragraph atau bahkan ungakapan dan kalimat retorika. Tidak tertoleh dengan GiveAway ataupun tergiur dengan hadiah lomba-lomba blog yang menjamur. Dia tetap menulis meski tidak ada itu semua.
Sampai pernah ketika kami sedang melakukan perjalanan pena bersama ke Ciamis dalam rangka bedah buku saya. Dia sudah mempersiapkan dua postingan dua tulisan yang di post terjadwal untuk dua hari, eh itupun bisa-bisanya dia kebelet ke warnet karena ingin cek blognya. Huh dasar Blogger Sejati.
-->
-->
Ngiri *sigh. Saya ingin seperti dia yang menulis tidak hanya ketika ada lomba nulis dan Give Away saja. Padahal kan harusnya selalu ada hal untuk ditulis setiap harinya. Ah, bulshit kalau bilang tidak ada Ide Menulis. Kalau saya mengatakan, mungkin itu cukup menjadi alasan satu-satunya yang bisa mentupi bahwa saya sedang malas nulis. Ya kan?! Kamu juga tidak?! Ah mudah-mudahan saya saja.
Coba apa yang kau lihat? Nah, itu dia kan inspirasi menulis. Apa yang kau pikirkan saat ini? Seperti yang dipertanyakan dalam setiap status facebook. Itu juga inspirasi menulis. Setiap saat setiap waktu setiap menit selalu ada inspirasi untuk menulis. Bahkan satu tetes hujanpun yang menjatuhi kepala itu bisa menjadi satu ide cerita yang bisa di tulis berlembar-lembar.
Menulis itu tidak perlu muluk-muluk dan mikir merangkai kata yang indah karena melihat postingan teman yang katanya selalu meliuk-liuk dengan indah. Tidak. Maka saya cukup menulis dengan keyboard saya sesuai dengan hati dan keinginan saya kemana arah blog yang saya inginkan.
Setiap yang terlihat bisa jadi kata
Setiap peristiwa bisa terucap dengan kata
Dan bentuklah menjadi kalimat,
Maka menulislah tanpa perlu memikirkannya
Masih mau menjadi blogger semusim? Ah, tidak yang lebih penting artikel ini bukan semusim belaka tapi, Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Tiga Kata Bukan Blogger Semusim di BlogCamp.


NB: yang lebih parah ternyata blogger semusim itu benar-benar ada. Semusim, hanya semusim. Getol ngeblog namun hilang di telan bumi. Siapakah? Penulis yang lahir dari blogger dulunya getol ngeblog setelah jadi penulis terkenal eh blognya isinya itu-itu saja. #Promosi buku. Sssstttt Yang ini bukan saya.. Swear saya penulis tapi belum terkenal xixixixixi

Yang Salah Sopir Apa Letak Museumnya *Sigh?

-->
Hari itu minggu 15 May 2011 (aku lupa tanggalnya, ini data dari tanggal foto diambil) suamiku minta ditemenin untuk sebuah acara yang digelar di Museum Mpu Tantular Sidoarjo. Acara yayasan tempat suamiku bekerja, semacam baksos kesehatan. Tapi bukan bakti social lah ya, ini menjadi rutinitas setiap bulannya bahkan bisa jadi setiap minggu suamiku full kegiatan untuk santunan kepada anak yatim. Kadang berupa pembagian uang saku, beasiswa sekolah, pembagian alat-alat sekolah, atau seperti ketika itu acara cek kesehatan dan peningkatan gizi anak-anak dengan memberikan suplemen dan makanan-makanan bergizi.
Lho kok tempatnya di Museum sih?
Suamiku memang kreatif, inovatif tapi tidak naïf. Baginya memberikan bantuan langsung ke panti seperti yang sering dilakukan dengan mengadakan acara seperti ini paling tidak, ada sedikit edukasi kepada anak didik (anak yatim) tentang sejarah mulai dari senjata, transportasi, telekomunikasi sampai tekhnologi. Atau sekedar mereka tau keberadaan museum Mpu tantular di daerah sendiri itu dimana sih?
Lho?
Eh iya lho, banyak yang belum tau keberadaan Museum Mpu Tantular ini. Setahuku saja museum Mpu tantular itu adanya di jalan Taman Mayangkara No. 6 Surabaya, bukan di Sidoarjo seperti yang sempat aku bersitegangkan dengan suami. Aku sendiri ngotot kalau Museum itu ada di Surabaya, tidak mau kalah dengan Suami yang bilang kalau di sidoarjo juga ada. Padahal suami sendiri sudah cek lokasi pesan tempat acara. Xixixixi dan terbukti aku yang salah, setelah membuktikan bersamanya.
Menurutku emang keberadaannya yang tidak strategis berada di Jalan Buduran, Sidoarjo. Tepat di bawah jembatan layang sebelah baratnya. Ibaratnya kalau kita mau belok ke museum tidak bisa langsung belok (kan berada di bawah jembatan, bisa-bisa mobinya terjun bebas) musti puter balik lewat bawah jembatan. Kalau sudah hafal daerahnya sih mungkin bisa langsung banting setir ke arah bawah jembatan. Kalau orang yang belum tahu mungkin akan lewat jembatan dulu baru keliahatan letak museumnya yang jauh dari jangkauan jalan besar.
Jangankan orang luar, sopir rent car orang sidoarjo yang disewa suami untuk membawa perlengkapan acara jadi ambradul gara-gara masalah sepele seperti ini, nyasar! Apalagi sopirnya pake acara ngambek nggak mau nganter lagi barangnya. Padahal dari awal sudah di tunjukin ancer-ancer letak museumnya yang di jawabnya dengan manggut-manggut. Karena percaya dia orang Sidoarjo pasti taulah, maka aku dan suami melaju duluan untuk mengkondisikan persiapan registrasi di tempat.
Namun, sampai selesai registrasipun barang-barang yang diangkut rent car tak juga muncul di museum. Padahal suamiku sejak awal sudah celingak-celinguk di pintu gerbang museum biar  sopir rent car yang ditunggunya ga bablas. Yang ada suamiku malah kayak ayam kalkun nyari mangsa. Nomor HP rent car dihubungipun tidak ada jawaban sama sekali dari pemilik hape. Nie Hape tarok sampah apa ya?. Panggilan puluhan kali kagak ada jawaban.
Karena waktu tempuh Jalan KH. Mukmin (kantor suami) ke Museum yang  terlalu meleset jauh dari prediksi maka aku yang tidak sabar segera nancap motor ke rumah pemilik rent car yang memang sudah langganan suami itu.
Tidak ada yang bisa ku temui di rumah selain, anak kecil yang nonton doraemon kupaksa untuk manggil bapak atau ibuknya.
Tak lama ibuknya keluar dan aku menceritakan apa yang terjadi kepada istrinya.  Eh ternyata istrinya bilang katanya suaminya tidak bisa menemukan tempat museum, alias nyasar bablas alas dan mengembalikan barang-barang perlengkapan acara kembali ke kantor. JEDUEEEEERRR.. 
-->
What the....?  Hei untuk apa ada HP kalo pake acara nyasar segala. Alasan klasik yang katanya Hape tertinggal. Mulut? Mulut kemana mulut? Tidak bisakah berhenti sebentar dan bertanya kepada orang? dimana letak museum? Apa susahnya ngomong? Aku nggak punya pulsa!
APA-APAAN INI? Pikirku yang meski tidak ikut punya gawe namun geli sendiri dengan sikap sopir rent car yang tidak bertanggung jawab dengan seenaknya mengembalikan barang ke kantor tanpa confirm telpon kek. Tidak tau apa dengan keterlambatannya dia saja acara jadi kocar-kacir ini pake acara mengembalikan dengan alasan karena ada yang rent car ke Pasuruan.
Aku emosi, ingin aku meluap-luap dirumahnya namun aku urungkan sejenak melihat tingkah polah Doraemon dalam layar tipi yang ditonton anaknya. Akhirnya aku berlalu tanpa pamit dan tanpa terimakasih sekalipun. Aku langsung menuju kantor cek barang, ada tidaknya atau malah di bawa kabur karena belom di bayar suami. Untungnya ada.
Daaaaaaannnn….
Dalam perjalanan menuju kantor aku melihat dengan jelas mobil yang terparkir di warung kopi adalah mobil yang disewa suamiku. Masak sih aku lupa baru juga pagi tadi, termasuk sopirnya yang ketauan banget kalo lagi ngumpet di belakang. Secara tubuhnya yang gendut tidak mudah disembunyikan. HAHAHAHAHA  GAK PROFESIONAL BANGET, tawaku keras-keras dalam kesendirian nyetir motor menuju lokasi museum
Beruntung di jalan aku nemu rent car dan langsung aku sebet. Tak mau terulang lagi, sopirnya aku minta buntutin di belakangku dari kantor suami sampai museum. Ckckckckck.. ini yang salah sopir apa letak museumnya sigh?
-->
Begitulah kisah perjalananku menuju ke Museum Mpu Tantular Sidoarjo yang penuh dengan liku. Di kerjain sopir yang barang dikembaliinlah, sampai dibohongin yang nyatanya sopir tersebut ngopi di sebelah ruko. Tapi seru kan, jadi ada sesuatu yang aku ceritain disini coba kalo ngga ada, bisa-bisa melongo :D. Semoga ada pemerintah ataupun pengelola Museum Mpu Tantular yang membaca kisahku ini dan bisa memberikan petunjuk arah yang jelas ke arah Museum. Lebih-lebih ketika berada mau nanjak ke atas jembatan layang harusnya di situ di beri papan nama menuju museum. Supaya pengunjung tidak bablas. Dan kalau bisa sih bukan hanya papan nama tapi baliho besar tentang gambar museum yang menandakan museum Mpu Tantular sudah berada tak jauh dari baliho tersebut.
 And Finaly Barang yang dibawa rent car akhirnya sampai di museum tepat acara hampir habis dan  aku kelewat untuk jepret-jepret ketika acara cek kesehatan anak yatim berlangsung, dan itu gara-gara nguber sopir si-alan yang ga bertanggung jawab. Alhasil dokumentasinya hanya ada di kamera poket milik kantor hasil jepretan suami ketika kutinggal yang ada di file komputer di kantornya sana. Dan dalam kamera poket samsung pribadiku ku temukan beberapa foto yang juga ku upload di facebook dulu. Namanya saja kamera narcism pasti foto diri dong yang di tonjolkan. Hihihihihi... afdol yang di muat yang ada fotonya kalo nggak ada fotoku simpen aja di lepi. Xixixixixi
Oh ya.. nie link album fotoku di facebook klik aja disini, kalau berkenan yang monggo di add sekalian. Welcome saja :D

dari kirin; aku, kacab yatim mandiri sda, staff yatim mandiri (disamping fosil Dinosaurus)


dari kiri; kacab yatim mandiri sda, staff yatim mandiri dan aku (disamping sepeda kuno satu roda)

Aku disamping MOGE Jadul

Motor dulunya seperti ini:D

Habis acara; aku dan suami makan siang

Aku dan suami di depan topeng-topeng
Eh ya, foto terakhir ini, bukan foto di Museum Mpu Tantular tapi ini banner punnyanya Monda Siregar yang punya hajat:D

“Tulisan ini diikutkan  pada  Giveaway Pertama di Kisahku bersama Kakakin


Monday, March 05, 2012

Happy Birthday To Me


Ah sudah tanggal 5 Maret lagi. Yang artinya umur gue nambah lagi. Bukannya umur itu bertambah setiap hari ya? Dan di hari ini umur gue jangkep (pas) 25 tahun. Wahh, sudah mencapai angka perak rupanya. Nggak kerasa. Sesuatu yang patut di syukuri.

Bicara ulang tahun pasti nggak luput dengan yang namanya pengharapan, padahal pengharapan/doa harusnya dipanjatkan everyday. Iya juga sih. Tapi paling tidak semoga semua pengharapan yang belum terkabulkan bisa terkabulkan di umur gue ini. Amin :D

Berharap gue mendapat dukungan doa dari sobat Bloggerku untuk mengamini doaku semoga cepat terkabul. Apa saja sih?

1. Keharmonisan Rumah Tangga Gue

Bulshit jika sebuah rumah tangga seperti jalan tol lurus yang mulus, termasuk rumah tangga gue. Pasti ada kerikil, tikungan, tanjakan, atau bahkan palang melintang di depan kami . Namun gue ga berharap itu menjadi penghalang kami untuk tetap bersyukur kepada Allah Zat yang sudah mempertemukan kami. Dan apapun yang terjadi dalam rumah tangga kami semoga kami selalu diingatkan akan komitmen awal kami saat bersyahadat kepada-Nya dulu. Diberikan keberkahan dalam rumah tangga kami, kesehatan kami dan rejeki yang halal dan terus mengalir sedekah dari rumah tangga gue.

2. Momongan

Cukup satu, kalaupun diberi banyak gue bersyukur banget karena sudah setahun setengah ini kami menantikannya. Ga muluk-muluk, yang sehat wal afiat jasmani dan rohani.

3. Mandiri

Bukannya kami tidak bisa mandiri, tapi masih terhalang restu mertua untuk keluar dari rumah ini. Semoga restu orang tua segera mengalir untuk kami menempati rumah saya sendiri.

4. Buku Solo Gue Terbit

Dilancarkan ide dan pena gue untuk tetap mengisi Blog tercinta gue ini. Termasuk planing gue membuat novel solo ataupun Non Fiksi bisa segera terbit


Amin :D
Dan gue mengucapkan terimakasih kepada keluarga, teman, sohib gue atas semua doa kalian. Baik yang di wall fb, Inbox, Tag, Twitter, Mention, sms, BB, semuanya thanks dan amin untuk doa kalian yang baik :D

#dalam kamar menantikan kado suami berupa rak buku

Sunday, March 04, 2012

Ayam Cemani, enak tapi nggilani

Ayam Cemani Hitam
Minggu ini kedatangan tamu dari keluarga calom besannya mertua, tapi bukan orang tua saya. Adek suami saya yang paling kecil hari ini akan (sudah) mendapat kepastian jawaban tentang lamarannya tempo lalu kepada pacarnya.

Layaknya akan menjamu tamu pasti tidak terlepas dari acara masak-memasak. Dan dua masakan andalan ibu mertua saya Kare Ayam plus Sop Iga Sapi yang terkenal enak di kampung saya. Secara ibu mertua memang sering kedapatan bagian masak untuk acara-acara masjid seperti menjamu Kiayinya . Hem nggak di ragukan enaknya, tapi bisa di pastikan berapa banyak kandungan vetsinnya :D.

Nah, ketika menguliti tiga ekor ayam ada satu ayam yang sangat berbeda. "Ih, dekil banget ayamnya". Mungkin kalo orang, rasnya ras Afrika. Mulai dari bulu, cucuk (mulut), hingga buntutnya hitem banget. Itupun hingga daging dan tulangnya ikutan hitam.

Ini yang namanya Ayam cemani. Katanya sih, ayam yang begini ini biasanya untuk obat end bisa juga untuk tolak balak. Harganya bisa 3 hingga 4 kali lipat ayam biasa. Bahkan di yakini ayam yang cucuk tembus jembrutu (kloaka)nya hitam, bisa manjur untuk obat. Dan, jika dihargai harus sepengucap yang punya ayam harus di beli tidak boleh ditawar. Katanya sih.

Namun, saya pikir-pikir. Ayam begini kok di buat jamuan untuk tamu sih. Emang sih ayamnya mahal, tapi tidak semua orang tahu tentang ayam cemani dan khasiatnya. Saya saja baru tahu tadi. Bukan apa-apa penampilannya saja tidak menarik, apalagi untuk disuguhkan kek ayam penyakitan meski di beri Garnish sekalipun. hehehe :D

Eh, benar ternyata. Ada tamu yang protes;
"Pak, ayam penyakitan begini kok disuguhkan si pak"
"Lho, itu ayam cemani..............", belum selesai sudah diputus si bapak yang nanya.
"Maksudnya, nggak ada lagi yang hidup lagi ta pak, sini tak bawa e pulang"

Geerr...

#Moral Of the day; Ayam Cemani Sayang dimakan, mending di jual



Saturday, March 03, 2012

Cerita Jodoh : Diantara Dua Pilihan


-->
Ilustrasi okezone


Oleh : Nunu El Fasa
Ibu sakit juga gara-gara aku. Semenjak ayah meninggal, ibu jadi memikirkan semuanya sendiri  termasuk memikiran diriku. Bukannya aku membantu malah menyusahkan begini sampai ibu sakit.
Siapa lagi yang disalahkan kalau bukan aku? Kakak sudah menikah dan tinggal bersama istrinya sementara adikku masih kecil. Dan aku yang paling dewasa harusnya bisa ngertiin ibu. Huh aku mengutuk diriku!
Kalau saja aku tidak patah hati, mungkin ibu masih sehat wa’afiat seperti dulu. Setiap hari aku mengurung di kamar, tidak mau keluar. Sekalipun untuk sekedar mencari pekerjaan yang lebih layak daripada sekedar pengajar Ekstrakulikuler Drum Band di sekolah. Tapi, ibu mengira aku ngambek gara-gara menginginkan motor baru. Ibu salah! Ibu sudah terhasut omongan tetangga. Aku masih suka dengan motor peninggalan ayah meski butut begitu. Aku bukan ngambek ibu tapi aku patah hati. Dan aku nggak berani bilang seperti itu kepada ibu. Aku cuek tidak perduli dengan yang orang lain pikirkan termasuk ibu. Ah Ibu, aku begitu menyesal. Sungguh!
Saat itu aku sedang bingung berkali-kali putri membujukku untuk melamarnya, tapi aku tak bisa berkata.
“Aku belum siap menikah, put”, jawabku mengharap pengertiannya.
Baru saja ibu menikahkan putra sulungnya. Bukan beban yang ringan bagi seorang janda tiga anak meski pesta perkawinan kakakpun sederhana. Ditambah lagi dengan permintaan putri agar aku melamarnya. Rasanya aku tidak sanggup mengatakannya kepada ibu. Mengenalkan putri kepada ibu saja, aku masih menunggu waktu yang tepat. Apaagi melamarnya?
“Aku tidak mau menikah dengan mas Rangga, dia sudah izin kepada orang tua untuk melamarku mas. Tapi ibu tak berani menjawab menunggu jawaban dariku. Dan aku menunggu jawaban darimu mas", penjelasan putri malam itu.
Aku hanya menunduk semakin bingung,
“orang tua tidak berani menolak mas Rangga, pun tidak berani mengiyakan. Setidaknya kalau mas sudah melamarku, ada alasan kuat untuk menolaknya.”
“Tapi put,,,,”
“Hanya lamaran, kita tidak buru-buru menikah”, potong putri sebelum kulanjutkan perkataanku.
Huuuuuffffffttttt…..
Aku menghela nafas panjang mengingat kejadian itu yang hanya bisa ku pendam sendiri tanpa pernah kubicarakan kepada kakak ataupun ibu. Dan kini ibu terkapar dirumah sakit karena kesalahpahaman itu.
Namun, sudah terlanjur. Akupun tidak bisa mengatakannya sekarang, itu hanya akan memperparah kondisi ibu. Sudah dua kali ibu keluar masuk rumah sakit demi kesembuhan ibu. Setelah seminggu opname di tumah sakit Karangmenjangan Surabaya. Kondisi ibu semakin membaik. Ibu sudah bisa menggerakkan tangan kirinya setelah sebelumnya tak dapat digerakkan sama sekali akibat struk yang dideritanya.
Kini ibu kembali harus masuk rumah sakit lagi. Kali ini aku tidak membawanya ke rumah sakit terbesar di Asia itu. Aku tidak kuat membayar biayanya. Disana, peralatannya lengkap dan canggih namun biaya berobat masih mahal bagi kami orang desa. Juga biaya hidup di Surabaya yang tidak sedikit bagi yang menjaga ibu disana. Apalagi kakak ipar dan kedua mertua kakak ikut menjaga bergantian. Aku harus menjaga harga diri ibu dan kakakku untuk tidak merepotkan mereka lagi.
Sehingga ibu hanya kubawa ke rumah sakit Umum di tempatku. Toh mungkin ini hanya kambuhan penyakit ibu saja dan butuh pemulihan pasca dari karangmenjangan. Tempatnyapun tak jauh dari kontrakanku, dan aku juga bisa merawatnya, hanya butuh satu asisten untuk menggantikanku. Tapi siapa?
Tidak mungkin putri, pasca kejadian itu aku tidak pernah mengabarinya kalau ibu sakit. Adikku apalagi, dia tidak dapat diandalkan.
Akhirnya aku mencomot salah satu mantan muridku yang kini mau masuk kuliah. Dia sedang libur satu minggu setelah ospek. Dan aku memintanya membantunya menjaga ibuku bergantian dengan aku. Itung-itung aku memperpanjang masa ospeknya. Hehehe
Mila namanya, bukan seorang pendiam seperti putri, namun berjilbab. Aku suka dengan keteguhan prinsipnya dalam menjaga aurat. Diam-diam aku memimpikan putri bisa seperti dia nantinya.
Setiap hari mila menjaga ibu, menyuapi ibu, memberi obat, memcuci bajunya termasuk pakaian dalam ibu. Mila juga yang memandikan ibu dan mencebokinya. Aku tidak pernah mengira mila melakukan ini. Bahkan dia rela dikerubung nyamuk ketika tidur di kolong tempat tidur rumah sakit.
Hingga ibu mengatakan sesuatu kepadaku, “Ibu tidak bisa membalas kebaikan Mila. Hanya kamu yang bisa membalaskan untuk ibu. Segera Nikahi Mila, Nak?” Pinta ibu kala itu yang menjadi wasiat satu-satunya yang ditinggalkan untukku.
Aku tidak bisa memilih lagi. Putri atau Mila. Tentu aku memilih Mila, bukan maksud aku menyakiti hati Putri. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk ibu, Cinta bisa mendurhakakann orang tua, namun restu orang tua tentu bisa menghadirkan cinta dan kebahagiaan ibuku.
40 hari setelah wafatnya ibu, aku menerima undangan pernikahan Putri dan Rangga yang malamnya itupun aku mempersunting Mila.
Subhanalloh, aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Selain bisa membuat ibu tersenyum di alam kubur, aku bisa membalas budi untuk Ibu yang tidak pernah aku merasa lunas untuk menebus kebaikannya meski aku menikahinya[.]

Friday, March 02, 2012

Dia Bukan Jodohku, Sebab Cinta Tak Harus Memiliki


-->(;cerpen yang tidak pernah lolos dalam lomba;)
By. Nunu El-Fasa
Okti, Mahasiswa baru yang berhasil memikatku. Sejak awal menjadi panitia Ospek, mataku sudah tertuju padanya. Padahal Okti juga berasal dari Aliyah yang sama denganku di Jombang. Bahkan satu pondokan, aku di pondok putra dan Okti di pondok putri. Tapi aku tidak pernah melihatnya mungkin karena kesederhanaanya, Okti tidak terlihat olehku yang ketika itu sering menjadi idola karena kepawaianku dalam kejuaraan Voley di sekolah. Dan entah dengan caraku tak kubiarkan orang lain mempermainkannya seperti boneka ospek anak-anak baru lainnya. Tanpa menunggu lama setelah aku tahu tentang dirinya, kuputuskan untuk menembaknya meski aku belum pernah pacaran sekalipun menembak lawan jenis karena sifatku yang pemalu. Namun ajaib kali ini aku berhasil memacarinya.
Empat tahun lebih kujalani kisahku bersama Okti. Bisa kubilang hampir sempurna tanpa cacat. Bukan berarti tidak pernah ada masalah, selayaknya hubungan di antara manusia, semua itu ada tapi tidak akan ada artinya.
Jalinan cinta kami bukan seperti Romeo-Juliet, Rama Shinta ataupun Laila-Majnun. Lebih dari itu, jika dalam agama Islam ada syari’at, hakikat dan ma’rifat maka cinta kami telah memasuki gerbang hakikat di hati kami masing-masing.
Allah SWT yang menjadi pengikat cinta kami dan Rosululloh-lah teladan untuk saling menjaga cinta ini.
Yaa, aku hanya ingin lebih bertanggungjawab pada komitmen awal hubunganku, untuk selalu menjaga Okti. Hanya aku orang terdekatnya di kota ini, jauh dari orang tua dan keluarga membuatku ingin lebih menjaganya. Dan akan kujaga calon mahkotaku. Begitu aku selalu meyakinkan diriku bahwa Okti adalah calon Istri yang paling tepat untukku.
Hingga di setiap kepulangannya ke desa tak kubiarkan Okti sendirian. Empat tahun tidak pernah bosan pulang-pergi Magetan-Malang hanya untuk memastikan Okti akan baik-baik saja dari rumah hingga kembali ke tempat kosnya.
Pacar! Mungkin itu status yang kami sandang di mata teman-teman. Pacar-pacaran yang banyak menjamur di kampus sebagai penghibur kuliah. Tidak! Tidak akan pernah ada yang mengerti tentang ini, tentang hati kami, tentang semua yang terjadi dan yang kami alami. Tidak akan pernah mengerti sekalipun detail aku ceritakan. Dan memang biarlah hanya kami yang mengerti dan merasakannya.
Hingga tak ada keraguan, kami saling mengenalkan keluarga masing-masing. Aku yang sering bertandang kerumahnya tidak adil jika Okti tidak kukenalkan dengan keluargaku.
Hangat dan ramah sambutan keluargaku terhadapnya. “Alhamdulillah, aku tidak salah pilih. Memang Okti wanita sempurna dan calon istri Sholikha untukku” begitu batinku.
Namun beberapa minggu setelah kedatangannya ke rumah. Ibu berucap, “ada firasat ibu yang tidak baik nak, Okti bukan untukmu. Kalian tidak akan bisa bersama”
Astagfirullah, ibu yang selalu aku nantikan kebaikan doanya, mengatakan hal yang seharusnya tidak beliau ucapkan. Tapi aku yakin ibu tidak asal bicara. Ibu sangat merestui hubungan kami begitu pula ayah. Kriteria calon menantu yang diharapkan, semua ada padanya. Lalu apa maksudnya ucapan ibu??
Aku terus mencari jawaban yang sebenarnya tidak kuinginkan. Tapi aku penasaran dan akan kubuktikan ucapan ibu tidak benar. Kuamati kesalahan-kesalahan terkecil barangkali aku kurang teliti terhadapnya. Tidak juga kutemukan.
Berharap dapat jawaban darinya aku ceritakan apa yang terjadi. Oktipun sama sepertiku, tidak percaya akan ceritaku. Aku percaya Okti, Oktipun percaya penuh kepadaku. Tidak ada yang disembunyikan di antara kami.
Sampai menjelang wisudanya, baru Okti mengatakan sesuatu yang belum pernah ia tahu sebelumnya. Sesuatu yang tidak Okti kehendaki. Sesuatu yang benar-benar menyakiti kami, ternyata Okti sudah ditunangkan dengan pria pilihan orang tuanya sejak awal kuliah yang tidak pernah ia tahu. Okti tidak bisa memilih antara aku dan orang tuanya. Aku orang yang dicintainya dengan orang tua yang selalu diharapkan kebahagiaannya.
Tipisnya perbedaan antara sedih dan bahagia membalikkan kisah yang telah kami rajut sejak awal hingga akhir kuliah.
Dan Allahpun benar-benar membuka mataku, membuka hatiku bahwa jodoh memang kuasa Allah. Bukan haq-ku mengatur jodohku. Bukan haq-ku pula mengatur jodohnya Okti. Sebab cinta tak harus memilikinya, maka kubiarkan Okti pergi dengan setumpuk doa agar Okti lebih bahagia bersama calon keluarganya[.]

Thursday, March 01, 2012

Dariku Selalu Ada Cinta Untuk Pengamen

-->

 Bersama sahabatku, aku terdampar disebuah kota asing yang belum pernah ku kunjungi sebelumnya. Bogor! Kota dingin sedingin kantongku.
Entahlah. Kedudulan atau kenekatan kami melalang buana tanpa mikir banyak modal untuk bertahan hidup di kota segedhe metropolitan dan bogor. Yang ada dipikiran kami saat hendak berangkat hanyalah menggunakan kesempatan. “Kapan lagi kita dapat kesempatan naik pesawat ke Jakarta, lagian kita kan belum pernah kesana”. Celetuk Rinta sahabatku, saat ditawari dua ticket pesawat Surabaya-Jakarta. Dan aku langsung mengiyakan tanpa pikir panjang mengenai kepulanganku. Dudul banget kan?! Dan itupun kita masih nekat pergi ke Bogor.
Belum juga pulang, uang saku yang hanya cukup makan dua hari itu sudah nipis. Dan ini sudah hari ketiga tapi uang kita masih sisa. Memang kita tidak terlalu memikirkan urusan perut. Dan yang membuat kami bisa sampai Bogor tanpa mengurangi uang saku kami adalah dengan “Ngamen”.
Bayangin aja kami bisa naik bis Gratis dan dapat tambahan uang pula sepanjang Jakarta-Bogor, ya butuh pengorbanan juga kita harus Naik-Turun sebanyak lima bus. Wah, jangan Tanya tentang kemaluan kami. Kami nggak kenal kok dengan bapak, ibu, mas-mas dan mba-mba yang naik bus ini. Sudah kami bungkus rapat-rapat demi sebuah petualangan.
Sewaktu kembali ke Jakarta mungkin kami bisa naik bis gratis lagi. Sedangkan untuk ke Surabaya?!, tidak mungkin jika kami harus ngamen lagi. Jarak tempuh yang sangat lama, memungkinkan kami bisa sampai lima hari tiba di Surabaya dan pindah naik turun bisa sampai berapa puluh kali?. Sedangkan keesokanya kamipun harus kembali kuliah.
Pertolongan Tuhanpun tiba, saat ngamen antara kota Bogor-Jakarta kami nyasar pada sebuah bus yang penumpangnya semua berbaju putih. Syetan?! Bukan kelihatannya baik semua. Jin?! Bukan juga, tapi penumpangnya adalah sekumpulan club haji yang sedang kembali dari tour menuju Semarang.
Tidak seperti kebiasan ngamen, usai nyanyi kami tidak langsung minta royalty. Tapi Rinta sahabatku yang penuh cinta, menawarkan jasa pijat kepada para penumpang yang kelelahan itu. Subhanalloh, dapat respon positif. Di tengah memijat kami selipkan cerita perjalanan kami, banyak yang tidak percaya dengan kenekatan kami. Ada juga yang tidur terlelap oleh cerita kami. Huh! Capek tidak kami rasakan, asal kami bisa pulang. Dan sampai di kota Semarang kami bisa menghabiskan lima belas, ya habis capeknya berpindah ke kami. Dan Alhamdulillah akhirnya terkumpul uang untuk beli ticket kereta yang akan membawa kami ke Surabaya setelah salah seorang yang baik hati melengkapi kekurangannya.
Karena petualanganku inilah, aku tidak pernah membenci pengamen. Hidupku pernah terselamatkan dari mengamen. Dan dariku selalu ada cinta untuk Pengamen[.]

Feel Free To Follow My Blog