Tuesday, August 21, 2012

Bebagi kebahagiaan di Rahmatalill'alamin (StoryCake For Ramadhan Part 5)



Minggu, 12 Agustus 2012, Pukul 15.30 saya bangun dengan setengah ruh masih diambang batas, alias dengan kesadaran belum sempurna. Tapi indra saya bisa menangkap dengan benar kalau ini sudah sangat terlambat ke Panti Asuhan. Padahal sebelumnya sudah bilang kepada bu Mamik, pengurus panti, acara akan dimulai pukul 15.00 alias jam 3 tepat.
  
Tanpa persiapan apa-apa, tanpa mandi dan gosok gigi (yaiyalah kan lagi puasa), saya langsung berangkat setelah sholat Ashar terlebih dahulu. Makanya muka saya rada kunyel dengan kudung bergo instan. Banyak yang protes dan tidak percaya setelah saya upload foto ke fb. Xixixixi,, emang susah jadi orang cantik kalau enggak dandan yaa. (hihihi biar jelek yang penting PD)

Padahal biasanya untuk dandan rapi saya butuh waktu minimal setengah jam. Sementara waktu persiapan saya saja sudah habis. Harusnya jam setengah empat acara sudah berjalan setengah jam, belum waktu perjalanan saya hampir setengah jam. Saya langsung telepon mbak Afin, yang sudah saya todong untuk mengisi acara. Ternyata mbak Afin juga baru mau berangkat, huft,,, beruntungnyaa pikir saya bisa menutupi kesalahan ini. Padahal tidak seharusnya, nampak sekali kekurangsiapannya.

Sampai di lokasi, saya disambut oleh bu Mamik. Ini merupakan pertemuan ketiga dengan beliau, menemani suami mengadakan acara di panti asuhan ini.

Awalnya memang bukan di Panti ini, sesuai perkiraan lokasi yang bisa dijangkau anggota IIDN saya memilih PA. Al-chusaini. Akan tetapi karena acara akan diselingin dengan materi kreasi hijab dan tutorialnya langsung dari buku yang baru saja dirillisnya. Materi ini cocok untuk PA perempuan usia SMP-SMA. Saya mengonfirmasi pengasuh panti tersebut untuk menanyakan kondisi anak asuhnya, lama tidak mendapatkan jawaban saya langsung putar arah ke PA. Rahmatallilalamin ini. Mengingat disini saya tidak perlu repot-repot cari catering, tinggal pesan di Catering panti yang merupakan usaha sampingannya.

Ya.. dari dulu saya salut dengan panti asuhan ini. Mungkin kalau dilihat dari depan panti ini terlihat mewah dan berada. Kebersihannyapun terjaga, semua barang tertata rapi tidak akan berbeda dari penampakan luarnya. Mungkin itu karena penghuninya yang semuanya perempuan, terutama didikan penagsuhnya. Tidak mudah mengarahkan anak-anak usia remaja yang masih labil seperti mereka. Beruntung pengasuhnya mampu mengarahkan mereka ke arah yang positif dengan membuka usaha catering. Anak-anak asuhnya diajari memasak dan mengelola catering. Menurut cerita bu Mamik, mulai dari belanja kesemuanya anak-anak. Bahkan untuk makanan sehari-hari, mereka masak sendiri secara bergantian sesuai piket. Subhanalloh, tidak heran jika panti ini benar-benar mandiri.

Saya tidak salah, sesuai dengan komunitas kami "Ibu-ibu Doyan Nulis" yang niat awalnya untuk memberdayakan perempuan dari rumah melalui menulis ini. Selain ingin memberdayakan perempuan-perempuan generasi bangsa melalui pena, ternyata bantuan kami yang tidak seberapa kepada panti asuhan ini tidak serta merta. Saya merasakan perbedaan tersendiri ketika saya membatu langsung memberi uang dengan nilai nominal besar, dengan membantu memberi "kail" meski nominalnya kecil akan terasa manfaatnya yang akan terus berkelanjutan.

Acarapun berlangsung antusias dari adik-adik PA yang ternyata sebagian dari mereka juga hoby menulis diary. Memang, menulis sebagai refleksi diri bisa jadi pengobat rindu kepada ayah ibu yang sudah meninggal atau jauh dari mereka. Bahkan mungkin diusia yang masih nge“pink”-nge”pink”nya, menjadi keindahan tersendiri jika dituliskan. Apalagi jika sedang patah hati.. hmmm.....

Akhirnya acara itupun ditutup dengan bagi-bagi dooprice bagi adik-adik panti yang mengajukan pertanyaan dan mau didandani ala hijabers. Dan tanpa meninggalkan acara foto-foto meski saya benci dengan sesion foto kali ini karena muka saya yang tidak bersahabat. hehehhe apa boleh buat.





Monday, August 20, 2012

Pers Release Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis

PRESTASI MELIMPAH DI KOMUNITAS IBU-IBU DOYAN NULIS:  
RUMAH SEJUTA PENULIS PEREMPUAN INDONESIA, BAHKAN DUNIA

Siapa yang akan menduga jika di bulan Mei 2010 menjadi awal mula terjangkitnya virus menulis di kalangan ibu rumah tangga? Ya, tahun 2010 sebuah komunitas bernama Ibu-ibu Doyan Nulis dibentuk, dalam satu bulan menyedot 1000 anggota ibu rumah tangga dan secara bertahap virus menulis menjangkiti para ibu rumah tangga lainnya.
Kini, komunitas yang didirikan oleh Indari Mastuti, seorang ibu rumah tangga dan juga penulis lebih dari 60 judul buku ini semakin digandrungi para perempuan khususnya ibu rumah tangga setelah satu persatu anggota komunitas berhasil produktif melalui aktifitas menulis.
Ulang tahun kedua di bulan Mei 2012 bulan lalu, komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis setelah dua tahun secara intens komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis melakukan pembinaan dan pendampingan kepada  para ibu rumah tangga, kini komunitas ini menuai hujan prestasi dari ibu rumah tangga yang berhasil menjebol berbagai media cetak hingga penerbitan. Bahkan beberapa majalah ternama di Indonesia telah bekerjasama secara intens untuk penyaluran tulisan para anggota komunitas.
Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) adalah komunitas yang lahir melalui sosial media yaitu Facebook. Komunitas ini lahir dilatarbelakangi oleh niat untuk meningkatkan produktifitas para ibu di berbagai hal khususnya MENULIS. Kini IIDN telah memiliki 15 titik kordinator wilayah di Indonesia dan 10 titik di luar negeri. Berikut titik-titik penyebaran komunitas:
Nasional dan Internasional             : Indari Mastuti
Jabodetabek                                         : Ita Puspitasari, Levina Nyt Sylwette, Tia Marty
Medan                                                  : Evi Andriani
Riau                                                      : Neti Suriana
Palembang                                           : Alen Chi
Bengkulu                                             : Milda Solihin
Lampung                                             : NaqiyyahSyam 
Bandung                                              : Vivera Siregar
Purwakarta                                          :  Fitry Laila
Tasikmalaya                                        : Irzi Gunawan Azzahra
Semarang                                             : Dewi Rieka
Solo                                                       : Bu Lan
Makasar                                               : Erlina Ayu
Balikpapan                                          : Tri Wahyuni Rahmat
Surabaya                                              : Nunu El Fasa dan Annisa Ae
Luar Negeri
Jepang  (Pusat)                                                            :Nurul Asmayani
Malaysia, Singapore, Brunei, dan Hongkong        : Sri Widyastuti
Amerika                                                                       : Atik Herwaning Widiyanti
Eropa                                                                            : Lufti Kesha
Timur Tengah                                                             : Arien Ratih
Australia                                                                      : Iti de Veha
Jepang                                                                          : Risahmawati Thalib

Dengan penyebaran anggota komunitas di seluruh dunia maka semakin beragam pula karya dari anggota komunitas yang kini berjumlah lebih dari 200an buku telah terbit, namun semuanya tidak lepas dari keseharian pekerjaan ibu rumah tangga. Misalnya saja buku FOR THE LOVE OF MOMS dan LUCKY BACKPACKER  dimana pada penerbitan buku ini Agensi Naskah Indscript Creative, yang menjadi wadah penyaluran bakat para anggota komunitas bekerjasama dengan Penerbit Imania, penerbit yang berdomisili di Depok ini mendukung penuh aktifitas pemberdayaan perempuan khususnya ibu rumah tangga melalui facebook. Dukungan ini dibuktikan dengan peran aktifnya untuk menerbitkan sejumlah karya para ibu rumah tangga.

                                
Dua buku yang akan segera terbit dari penerbit Imania:

Disamping kerjasama dengan penerbit Imania, komunitas ini pun melalui Indscript Creative, agensi naskah yang telah bekerjasama menerbitkan lebih dari 1000 judul buku di berbagai penerbitan nasional bekerjasama dengan penerbit Gramedia Pustaka Utama, Elex Media, Cahaya Atma, Hifest Publishing, Grasindo, Rumah Ide, Penebar Plus, Calista  Woman In Biz Directory, Zygma Exa Media, Mizan, Gradien Mediatama, dan penerbit lainnya. Beberapa buku diantaranya:









Liputan media cetak dan media elektronik yang terus berdatangan ke komunitas ini, cukup membantu komunitas untuk menumbuhkembangkan anggota. Berbagai kerjasama bermunculan, dan berbagai prestasi siap diraih.
Pada tahun 2012 ini, selain menggeliatnya prestasi menulis para anggota IIDN di berbagai media cetak dan penerbitan. Founder IIDN, Indari Mastuti pun telah mendapatkan penghargaan luar biasa. Beliau menjadi Perempuan Indonesia Terinspiratif tahun 2012 di bidang kreatif versi Majalah Kartini, Juara 3 Perempuan Wirausaha dalam Kartini Award 2012, Finalis Kartini Next Generation 2012, dan Finalis Wanita Wirausaha Mandiri – Femina 2012 setelah sebelumnya Indari Mastuti telah menerima penghargaan Perempuan Inspiratif Nova 2010, Nomine Kusala swadaya, dan Juara kedua Wirausaha Muda Mandiri 2011.
Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis kini beranggotakan 4.303 orang dan setiap hari lebih dari 5 orang bergabung dalam komunitas. Dengan tagline komunitas: AKTIF – KREATIF – PRODUKTIF, IIDN memang berkembang sangat aktif, kreatif, dan produktif.
Harapan ke depannya IIDN ingin memiliki sebuah “Rumah Sejuta Perempuan” yang merupakan rumah tempat beraktifitas semua perempuan Indonesia untuk meningkatkan eksistensi dan produktifitasnya. Rencananya kami akan menduplikasikan seluruh kegiatan yang notabene online menjadi bentuk offline.
Kegiatan online IIDN sebagai berikut:
SENIN :
1. Curnyol (Curhat Konyol), PJ : Skylashtar Maryam  & Lygia Pecanduhujan (08.00-09.00)
2. Script for broadcast, PJ: Sarah Ismullah (20.00 - 21.00)
3. Nulis di Blog (eNBe), PJ : Bang Aswi & Ima Emak ALif (13.00-14.00)
SELASA :
1. Kelas Nonfiksi (Nonfiksi), PJ : Firmanawaty Sutan  (11.00-12.00)
2. Dunia Penerbitan dan Kepenulisan (DPK), PJ : Dydie P  (14.00-15.00)
RABU :
1.  Fotografi (JDF), PJ : Vivera Siregar, Windri Fitria & Rika Tjahyani (10.00-11.00)
2 Mendesain dengan WORD, PJ: Apriyanti Larenta  (16.30-17.30)
3. Menulis Bacaan Anak (MBA), PJ : Ali Muakhir, Erlina Ayu (19.00-20.00)
KAMIS :
1. Jurnalistik, PJ: Rika Tjahyani (10.00 -11.00)
2. Kelas EYD, PJ : Anisa & Anna Farida (14.00-15.00).
3. Kelas Craft, PJ: Roza Rianita (16.00 - 17.00)
4. Managemen Bisnis, PJ : Ari Kurnia, Tri Wahyuni Rahmat, Dewi Muliyawan (19.00-20.00). JUMAT :
1. Berbagi Pengalaman Menembus Media, PJ :Arin- Murtiyarini (11.00 - 14.00)
2. Griya & Kriya, PJ : Mia Falida & Ita Puspitasari (14.00-15.00).
3. Zona Bebas, PJ : Honey Miftahuljannah & Cani Casmara (19.00-21.00).
4. Teknik Menulis Cepat, PJ: Afin Murtiningsih (Jam 09.00 - 10.00)
SABTU
1. Ngubek Cerpen, PJ: Indah Hanaco (13.00 - 15.00)
2. Bedah Buku & Promo (BeBeP), PJ : Lygia Pecanduhujan  (16.00 - 17.00).
3. Mendongeng yuuuk, PJ: Nia Kurniawati (20.00 - 21.00)
Jadi, ibu rumah tangga tidak perlu lagi khawatir sekarang tanpa perlu keluar rumah bisa tetap eksis dan produktif berkarya melalui facebook di komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis.

Facebook Korwil Jatim : IIDN Jatim

Sunday, August 19, 2012

Norak-norak Mengudara (StoryCake For Ramadhan Part 4)










 
Di tengah jalan, HP saya bergetar. Dengan membonceng seorang ibu dan anak balita yang atraktif diatas motor membuat saya kesusahan untuk mengangkatnya. Akhirnya saya menepi tapi getaran itu sudah hilang. Saya menelpon balik nomer yang memanggil tadi, rupanya masuk Customer Service. Mungkin ini konfirmasi proposal kemarin, begitu pikir saya.

Benar, itu panggilan dari Radio Suara Muslim Surabaya yang lebih di kenal dengan Sham FM. Singkat cerita mereka meminta IIDN Jawa Timur ikut on air dalam acara talk show program Hobby dan Kreasi. Karena bassic komunitas kami yang penulis dan konsern bagi Ibu Rumah Tangga, pihak radio mengambil tema “Hobby Menulis bagi Ibu Rumah Tangga” pada hari minggu 12 Agustus 2012 pukul 09.00-10.00 full 1 jam.

Wow.. saya terperangah. Saya sendiri pernah on air sekali, itupun dengan pengalaman yang tidak mengenakkan karena hanya via HP, dan itu pernah saya ceritakn disini. Tapi, bagi komunitas IIDN yang kemudinya saya kendalikan sejak epat bulan lalu, ini baru yang pertama kali apalagi acara Talk Show atau interaktif dengan pendengar. Saya langsung mengiyakan dengan berbagai syarat yang telah kami sepakati.

Tapi masalahnya saya benar-benar tidak tahu dimana alamat studionya. Nama radionya saja lupa-lupa ingat waktu itu, karena yang mengirim proposal bukan saya sendiri, atas bantuan mbak Tri Nurhidayati. Mau bilang apa adanya, enggak enak sama suara di seberang sana yang ternyata direkturnya langsung. Apa boleh buat, ternyata keder juga bilang terus terang itu. Ketahuan banget enggak pernah dengerin radionya. Aslinya sering mendengarkan tapi tidak pernah tahu namanya. Lha wong ketika habis Subuh saya selalu mendengarkan lantunan Al-Ma’tsurot dari sebuah radio. Dan setelah saya cocokkan gelombangnya 93,8 FM, ternyata itu merupakan program siaran Sham FM ini. Hihihi Kalau malampun, pengantar tidur kami juga mendengarkan lantunan murotal yang diputar Sham FM, dan terbangun tengah malam tepat ketika program siaran Qiyamul Lail yang sampai sekarang entah saya belum pernah tahu itu dari masjid mana. Tapi saya suka bacaan suratnya yang panjang-panjang bahkan sampai misek-misek imamnya. Bikin saya terharu. :D

Hari H Mengudara saya sampai rela nggak tidur lagi habis subuh, bahkan takut untuk tidur karena seringnya kebablasan. Nggak lucu dong kalau saya telat siaran. Apalagi membawa teman-teman komunitas yang sudah kami ramu 7 orang harus dipangkas 4 orang setelah konfirmasi dari sang produser kemarin harinya, ruangan studio memang sempit bahkan mikrofon untuk siaran harusnya untuk tiga orang, sampai diambilkan mikrofon dadakan :D.

Pukul 8 saya sudah sampai di Darmo-Surabaya. Saya berhenti sebentar. Teringat, belum mengonfirmasi teman-teman dan memastikan mereka juga tidak akan terlambat. Setelah beres saya baru melanjutkan perjalanan. Kali ini tidak langsung masuk ke studio tapi survei lokasi terlebih dahulu dan mengirim ancer-ancernya ke tiga rekan IIDN lainnya. Dan lebih memilih menunggu mereka di luar, di sebuah dudukan garasi yang sedang tutup. Enak-enakin fb-an dan smsan dengan teman-teman tiba-tiba ada bapak-bapak yang menghampiri saya dengan gaya SKSDnya menyapa saya.

“Mbak lagi nunggu yaa”

Saya pikir bapak-bapak itu pemilik garasi dan mau membuka lapak. Saya baik-baikin dengan senyam-senyum supaya saya tidak diusirnya. Rupanya saya salah. Dengan muka rada bertanya-tanya saya menatap dia, lalu apa maksudnya nyamperin saya. Bahkan menurut ceritanya dia sampai berbelok arah karena melihat saya menunggu disini. Kalau disamperin si Dude Herlino sih wajar –

“Saya Wahyudi mbak, teman/suami/kakaknya *(lupa saya pokoknya salah satu) mbak,, Istianah... Masak lupa sama saya”

Ha? Istianah yang mana? Pikir saya. Apa yang dikatakan mbak Shabrina semalam, perasaannya namanya Isnah deh. Dan salahnya saya, saya membenarkan nama mbak Isnah (beneran! jangan pernah melakukan ini, jika memang yakin tidak kenal). Dia langsung membenarkan.

“Iya mbak Isnah mbak, masak lupa. Yang pernah ketemu sama sampean waktu itu”

Curiga deh, masak nyebutin nama teman dekatnya saja lupa. Dan saya benar-benar tidak ingat sama sekali dengan orang ini. Rupanya dekil, seperti kuli bangunan. Sementara mbak Isnah, meski ibu-ibu mukanya terawat dan cute abis.

Bapak-bapak itu pamit tapi sebentar kemudian dia kembali lagi dengan menyodorkan uang dua ratus ribu untuk tuker uang dengan lima puluh ribuan. Entah kenapa saya spontan menjawab tidak ada, meski dalam tas ada uang IIDN untuk acara sore harinya. Rupanya bapak-bapak itu tidak percaya. Dikiranya dengan penampilan saya yang ala hijabers itu banyak duit di dompet. Aha, saya terpaksa benar-benar membuka dompet yang memang isinya hanya dua ribuan.

“itu didalam mbak...”

Masya Allah bener-bener deh kelewatan banget nie bapak, sampai saya sebel.

"Mau bapak saya tuker dengan uang dua ribuan?"

Beruntung sms mbak Afin masuk yang mengabarkan sudah di dalam studio. Saya langsung pamit dan bapak-bapak itu kecewa dengan mengatakan, “ya sudah mbak tak tukerkan di Pom Bensi saja”

Mampus lo!

"Ya pak ke Pom saja," pungkas saya dan berlalu

Huaa bener-bener parno orang-orang yang beginian, harus hati-hati menjelang lebaran. Sayapun nggak tahu tiba-tiba keingat, seandainya saya tadi nukerin dan uang itu palsu. Mungkin saya gulung-gulung di dalam studio menceritakan hal ini kepada mbak Afin dkk.
Sampai di studio saya cipika-cipiki dengan mbak Afin, yang merupakan kopdar kedua kalinya ini. Kami berdua langsung membeber buku-buku yang kami bawa. Subhanalloh dia produktif sekali, bener-bener iri saya. Padahal dia ibu dua anak yang diurus sendiri, juga termasuk pegawai yang bisa menyisihkan waktunya dengan baik untuk menulis. Sementara saya? HiksL belum apa-apa sama sekali.

Tepat mau masuk dapur studio, personil kami sudah lengkap; saya, mbak Afin, mbak Ria, dan mbak Nita duduk menghadap penyiar yang telah kami kenal sebelum bernama mbak Aisy. Seru dan heboh suasana studio, apalagi dengan ibu-ibu super di sisi kiri-kanan saya. Energi mereka luar biasa menjawab satu per satu pertanyaan penyiar. Apalagi berinteraksi dengan pendengar yang mendengarkan suaranya langsung dari mikrofon. Kebanyak mereka bertanya tentang ke IIDN-an dan caranya bergabung. Sebenarnya mudah saja, tinggal searching di Facebook dengan nama Ibu-ibu Doyan Nulis - Interaktif dan bikin request.

Bahkan ada beberapa dari mereka yang mengaku memang senang menulis namun masih malu untuk mempublikasikan karya. Padahal ada banyak cara untuk mempublikasikan karya kita, lewat media, koran, majalah, blog, facebook atau bahkan jika masih malu-malu disodorkan ke sahabat terpercayapun bisa. Minimal ada yang membaca karya kita. Darimana kita tahu kemampuan menulis kita kalau karya kita tidak pernah dibaca orang? Dari sana akan kita dapat berbagai respon, mulai dari acungan jempol, sampai gebrakan meja di meja eksekusi “bedah karya”. Itupun bukan sebagai ancaman, justru cambukan yang akan meruncingkan mata pena kita.

Pembicaraan interaktif itupun diakhiri dengan salam, ya tentu sajalah. Maksudnya sebelum itu, dari IIDN diberi kesempatan itu mempublikasikan kegiatan Ramadhannya yang bertajuk “StoryCake For Ramadhan” di panti Asuhan Rahmatallil’alamin pada sore harinya. Berujung mempublikasikan nomor HP saya, hingga berkali-kali bergetar oleh sekedar misscall-an atau sms yang isinya keluhan. Saya jadi trauma menjawabnya, mengingat bapak-bapak yang nyamperin saya sebelum siara dengan mengait-ngaitkan banyaknya spam email yang isinya hampir mirip, ujung-ujungnya minta bantuan materiil. Hihihi. Benar-benar hidup harus waspada[.]


Saturday, August 18, 2012

Bagi-bagi takjil bergembira... [StoryCake For Ramadhan Part 3]






Telah sepakati menu takjilnya es timun, kurma dari LMI dan tambahan roti dari IIDN Jatim yang akan dibagikan di sekitaran Alun-alun Sidoarjo. Semua persiapan sudah beres, aslinya terima jadi sih dari bu Tatit si pemilik resep es timunnya. Sepertinya saya melupakan sesuatu, baru teringat kalau hari ini saya sudah di booking mamas *pinjem panggilannya manda* untuk bukber anak yatim dengan sebuah perusahaan di daerah Legok-Sidoarjo jauh sebelum rencana bagi takjil ini saya buat.
 
Bingung. Antara menepati janji kepada mamas atau ke alun-alun. Sementara kehadiran saya di alun-alun sebagai anggota FLP yang dihitung sebagai absensi KM (Kelas Menulis) masih bisa saja saya ijin kepada pak Rafif. Tapi terlibatnya IIDN dalam acara tersebut menuntut kehadiran saya. Tidak fair kalau saya lepas tangan begitu saja. Harus ada ikon IIDN yang mewakili, dan itu tidak mungkin dari teman-teman FLP yang juga anggota IIDN. Jika saja teman-teman IIDN dari luar FLP bisa dipastikan kehadirannya, tentu saya tidak segalau ini.

Sementara mamas masih kekeuh saya harus ikut ke Legok. Kemana-kemana kalau diluar urusan pekerjaan dan muktamarnya dengan para kopi-ers, saya selalu ada dibalik punggung boncengan motornya. Beginilah memang cara mamas memperlakukan keberadaan saya sebagai istrinya, bagaimana saya bisa menolak? Walau harus putar arah dua kali akhirnya saya bersedia menemani mamas. Karena saya yang paling jauh, saya yang ngedrop mamas dan motor saya bawa.

Uh, sudah pukul 16.00 kami baru berangkat. Padahal kumpul di alun-alun harusnya pukul 16.30, mana cukup waktu hanya 30 menit dengan dua kali perjalanan. Itupun saya harus melewati jalan tikus dari Legok untuk tembus alun-alun.

Saya tidak yakin hafal jalannya. Sementara dulu ketika mamas memboceng saya melewati jalan tikus itu. Posisi dibonceng dan membonceng memang sangat mempengaruhi pengetahuan tentang jalan-jalan yang pernah kita lewati. Sementara kalau dibonceng biasanya terima pasrah kita sampai di tujuan.

Disinilah insting saya bekerja ketika pentunjuk yang diberikan mamas dalam perjalanan ke Legok, tidak sesuai dengan keadaan laju motor yang saya kendarai sendiri. Saya lebih memilih membuntuti pengendara lain yang saya yakin dari gaya berkendaranya pasti mengarah kekota.

Trap!.. diujung tikungan jalan yang lebih mirip pertigaan karena ditengah-tengah terdapat gang bergapura besar. Haduuhh... pasti nyasar ini. Harus lurus menikung, atau lurus masuk gang? Sementara pengendara motor dari lurus masuk gang, sedangkan beberapa motor dan mobil lainnya lurus menikung? Ikut jamaah apa ikut insting pertama? Rasulullah selalu berpesan untuk meninggalkan keragu-raguan dan keyakinan saya tetap pada insting pertama. Weeeennnngggg.... legaaa akhirnya saya sampai tepat di sebuah rumah diujung tikungan dan ada tulisannya “Di jual”, hanya itu yang bisa saya ingat ketika di bonceng mamas. Pertanda saya akan segera sampai di alun-alun.

Ciiittt... saya memberhentikan motor di taman sebelah selatan alun-alun dan membuka HP. Ternyata lebih cepat dari perkiraan, masih pukul setengah lima lebih. Teman-teman yang datangpun masih segelintir orang, takjil dkk-nya masih dalam perjalanan. Rata-rata merekapun angkatan saya yang datangpun mungkin juga karena alasan kewajiban KM, hihihihi bahkan ada yang baru pertama kalinya bertemu.

Waktu merambat semakin jingga tapi kebutuhan yang ada belum juga sempurna, hanya ada es timun. Tiba-tiba kerumuman pengemis dan pengguna jalanan berlarian kearah lampu merah, rupanya mereka memburu takjil juga yang dibagikan oleh beberapa pemuda dari komunitas lain. Sementara kita belum apa-apa, kita harus mengakui kalah persiapan dengan mereka. Menjelang maghrib baru kami bergerak ke lampu merah yang lain dengan pembagi takjil yang sudah mencuri start kami, arah surabaya sebelah selatan, meski hanya ada es timun yang kami bagikan.

Satu persatu es timunpun ludes, menyusul kurma dan roti. Mulai dari pengguna motor, pick up, mobil mewah, pejalan kaki, semua menerima apa yang kami ulurkan kepada mereka. Tak satupun yang menolak, meski kadang beberapa pengguna mobil mewah itupun hanya membuka sedikit kaca mobilnya untuk menerima takjil yang kami bagikan. Tak apa. Sebuah kepuasan tersendiri melihat kesenangan terpancar dari senyum terimakasih mereka yang berbuka tanpa harus menunggu sampai di rumah untuk mendapatkan kesegaran.


Saking antusiasnya sampai kami lupa menyisakan untuk buka diri sendiri, sampai-sampai ada yang rela joinan es timun atau malah tidak kebagian. Huhuhu... kalau saja tidak teringat untuk menjemput mamas saya masih ingin puas-puasin foto narsis di tengah jalan. Hehhehe kapan lagi bisa foto di jalan begini[.]

Friday, August 17, 2012

Kesesatan Salah Baca SMS (StoryCake for Ramadhan bag.2)

Sebenarnya acara bagi takjil sudah saya coret dari daftar kegiatan IIDN. Mengingat *tanpa menimbang dan memutuskan* sulitnya penggalangan donasi. Apalagi pengiriman proposal yang terlalu mepet begini saya jadi psimis. Saingannya terlalu banyak bahkan beberapa instansi yang saya datangi menolak terlebih dahulu dengan mengatakan sudah terlalu banyak proposal yang masuk. Beruntung ada mbak Sri Rahayu yang membantu membawa proposal tersebut, dan menawarkan ke tetangga-tetangganya. Bahkan mbak Tri Nurhidayati yang baru saja bergabung beberapa hari gabung dengan IIDN dengan ikhlas menghibahkan waktu dan tenaganya mengirimkan proposal ke beberapa tempat sekaligus. Subhanallah, biarkan aku mengulangi terimakasihku sekali lagi kepada kalian. Dan tanpa canggung dengan semangatnya teman-teman sayapun mengagendakan takjil gratis ini.

Dimulai dari kenyasaran saya ke acara FLP sore itu. Tanpa pikir panjang ketika menerima sms dari mbak Wiwik yang mewajibkan angkatan 2 datang di acara bagi takjilnya FLP di Alun-alun tepat pada sore harinya sebagai ganti KM (Kelas Menulis) yang ditiadakan, saya langsung berangkat. Alih-alih ini karena saya tidak boleh absen lagi di KM, mengingat kehadiran juga menentukan keanggotaan saya di sana. Tidak mau dong saya di DO hanya gegara absen, hihihihi *murid teladan apa penakut yaa. Tapiiii, setelah sampai tempat tidak saya temukan seorangpun yang memiliki stempel FLP di jidatnya. Hem, semakin curiga sayapun menelepon mbak Wiwik dengan mengabaikan *suku, agama, ras* -eh maksudnya perbedaan SIM diantara kami.

Dan benar saja, saya salah tempat ternyata tidak di alun-alun. Teman-teman sudah merangsek memburu di Rumah Yatim Ukhuwah di daerah candi. Omegat, dimana lagi itu, sama sekali belum pernah saya menginjakkan kaki ke sana.
Kesal dan sebal. Saya masih manyun sambil memutar motor, kenapa bisa salah informasi begini? Katanya bagi takjil kok jadi buka bersama? Huh, ini juga gara-gara semangat tidak mau di DO tadi, pemaksaan nih FLP.

Sampai di tempat, saya sudah melewatkan serangkaian acara. Tapi, alhamdulillah tinggal sebentar udah mau buka, jadi perjalanan panjang saya tadi sambil ngabuburit tanpa menunggu lama waktu buka. Hahahaha


Dari situ saya tahu, ternyata saya yang salah baca sms. Ternyata agenda hari ini sudah benar, buka bersama dengan anak yatim sedangkan sms yang saya baca adalah agenda besok. Huaaa... pengen nangis saya. Awalnya saya pikir saya sudah melewatkan acara bagi-bagi takjil, beruntungnya masih besok. Ternyata saya masih diberikan kesempatan untuk bersinergi acara alias joint dengan FLP. Mengingat kebanyakan perempuan-perempuan di FLP juga ibu-ibu di IIDN Jatim. Pikir saja sekalian saja, sekali jalan dua kegiatan hihihi. Perjuangan sayapun terbayar, tidak lagi manyun, sebal, dan kesal. Akhirnya saya besok jadi bagi-bagi takjiiilll... Yeay... [bersambung yaa..]

Thursday, August 16, 2012

StoryCake For Ramadhan; Berbagi Kebahagiaan di Bulan Suci (Part 1)













Luar biasa, mungkin ini bisa dibilang kegiatan pertama kalinya semenjak saya menjabat sebagai *(presiden) koordinator wilayah IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis) – Interaktif Jawa Timur empat bulan lalu. Tepat 26 April 2012 teh Indari menjawil *ngetag* saya di grup tertutup IIDN Jawa Timur menawari saya posisi tersebut menggantikan mbak Afin yang mengundurkan diri kala itu. Saya serasa terbang melayang kemudian jatuh tepat di samping bayang. Ingat dengan diri saya, apa yang saya bisa? Toh saya hanya sekedar penulis amatiran yang hanya bergentayangan di dunia maya tanpa pernah merasa berdosa mengakui kalau saya juga manusia biasa.

Mewakili teh Indari di wilayah komunitas sekaliber IIDN yang sudah mendu(a)nia adalah tanggung jawab yang sangat berat. Bagaimana tidak, hanya beberapa bulan berdiri IIDN sudah semakin berlari dan melesat hingga keluar negeri. Bagaimana mungkin saya mampu mengejarnya sedangkan untuk menjejari langkah beliau dengan seabrek Awardnya, saya masih ngos-ngosan. Sementara sepatu roda yang saya punya masih terkunci dan saya belum mampu membukanya. Akhirnya dengan mengajukan syarat untuk membimbing saya mengguanakan sepatu roda itu, sayapun menerima dengan berkolaborasi semangatnya mbak Anisa Ae.

Satu, bulan dua bulan, tiga bulan,, saya sedikit minder dan malu dengan mbak Anisa. Diawal masa jabatannya langsung bergerak membuat acara, dan itupun tak sekedar acara yang selama ini hanya mamapu saya rencanakan. Tapi, ibu satu balita ini selalu berhasil membuat event kopdar di Malang dan bahkan sambil menenteng anaknya kesana-kemari naik kereta, angkot, atau kadang menyusuinya di Jalan. Semangatnya menegakkan pena tetap menyala bersama si kecil Asma.

Sedangkan saya, tak satupun dapat terealisasi. Selain sulitnya menemukan waktu ngumpul ibu-ibu yang juga kebanyakan pekerja, kendala tempat juga termasuk kesepakatan materi kopdar sering menjadi perdebatan. Ujung-ujungnya hari H tiba, cuma saya saja yang datang celingak-celinguk kayak kalkun mencari indukan*. Hihihihihi

Hingga awal Ramadhan kemarin tercetuslah idea yang awalnya hanya ingin berbagi takjil dengan para pengguna jalanan. Respon yang luar biasa berdatangan terutama teteh saya yang cute abis mengkompori dengan menggebuk-nggebuk di keyboard. Dan saya selalu tanpa pernah lupa untuk
sharing dengan si jenggot lebat di samping. Subhanalloh, support yang tak terduga itupun datang dengan syarat kegiatan ini harus diselenggarakan dengan anak ayam –eh anak yatim menjelang akhir Ramadhan agar tidak mengganggu agenda kerja suami saya yang notabene kalau Ramadhan begini tidak pernah libur. Itupun harus komplit dengan sharing kepenulisan yang selama ini memang belum pernah ada dari Yatim Mandiri.

Emang bener ya semua kalau diawali dengan niat pasti dimudahkan, begitu teh Lygia selalu menyemangati. Dan kemudahan-kemudahan itupun mengalir hingga terkumpul dana Rp. 3.425.000 dari kalangan IIDN sendiri termasuk berbagai bantuan non materiil berupa baju bekas, buku, ta’jil bahkan tenaga dan pikiran yang disisikan dalam kegiatan mulia ini. Hingga kesempatan mengudara dari Suara Muslim Surabaya 93,8 FM berbagi cerita tentang hobby kepenulisan bagi ibu rumah tangga dari IIDN Jatim kepada pendengarnya. Subhanallah, matur tengkyu ya semua. Benar-benar Allah yang hanya mampu membalas melalui tangan-tangan keberkahanNya di dunia hingga akhirat nantinya. [bersambung dab... :]
  1. Royalti Kamus Indonesia (Afin, Cs)                              Rp.   250.000
  2. Yatim Mandiri                                                                Rp. 1.000.000 
  3. Dana dari pusat                                                            Rp.    200.000
  4. Mbak Donna Dwinita                                                     Rp. 1.000.000
  5. Mbak Wasiah Ardi   5 x ta'jil                                          Rp.      25.000
  6. (mbak Faizatin)                                                             Rp.     250.000 --> 10(ta'jil),6 nasi box), 5(air mineral),1(paket sembako)
  7. tetangganya mbak Sri Rahayau (takjil)                        Rp.       50.000
  8. Mbak Sri Rahayu dkk...                                                Rp.     300.000
  9. Mbak Shabrina WS                                                       Rp.      150.000
  10. Mbak Isna Zulvia                                                          Rp.      200.000
Total akhir dana Rp. 3.425.000

Saturday, August 04, 2012

On Jawa Pos : Aku Ingin Menyelamatkan Buku

Dimuat di koran Jawa Pos, Kamis 2 Agustus 2012 rubrik For Her Jawa Pos

Link versi digital http://digital.jawapos.com/shared.php?type=imap&date=20120802&name=H8-A224100

dan dibawah ini versi asli sebelum terjamah proses editing

Aku ingin Menyelamatkan Buku
Unun Triwidana, IIDN Korwil Jatim dan FLP Sidoarjo
Jujur, aku mengenal buku baru lima tahun terakhir ketika pertama kalinya aku hijrah ke Surabaya. Dulu, aku hanya berminat dengan buku pelajaran, selain itu no way. Jangankan membaca buku, pinjam majalah teman saja aku tidak pernah ingin tahu isinya, entah itu cerpen, cerbung, liputan atau apalah. Barisan huruf-huruf itu tidak pernah menarik di mataku, aku hanya membolak-balik melihat warna-warni gambarnya yang selalu nampak eye catching.

Apalagi ke perpustakaan sekolah. Sama sekali bisa dihitung jari, aku terpaksa ke sana hanya ketika ada tugas saja. Bagiku di perpustakaan itu membosankan. Selain suasananya yang bertolak belakang dengan diriku. Aku tidak begitu tertarik dengan koleksi buku-bukunya yang tidak up to date. Kebanyakan lusuh, berdebu, warnanya pudar dan tidak terawat.

Tapi sejak aku terjebak di salah satu mall Surabaya, entah kenapa serasa ada yang menuntunku ke toko buku. Buku-bukunya baru, cantik, tertata rapi, dan tidak berdebu. Aku seperti berada di dalam surganya buku. Apalagi aku diperbolehkan membaca sebelum membelinya. Kalaupun tidak dibeli aku juga tidak dimarahi, sehingga aku bebas memilih buku-buku yang kusuka.

Aku tidak pernah menemui yang seperti ini sebelumnya. Tidak terbayang bagaimana toko buku itu ketika aku masih hidup dan bersekolah di desa. Kalaupun ada, jangan harap aku akan mampu membelinya. Uang sakuku tidak pernah cukup. Aku hanya mampu membeli buku-buku pelajaran saja. Itupun hanya sebagian, tidak semua. Kali ini lain, aku tidak ingin hanya membaca-baca buku yang terpajang rapi di rak buku itu. Suatu saat aku ingin datang lagi dan memilikinya. Begitu azamku dalam hati, kala itu.

Hingga sekarang, aku tidak pernah melewatkan setiap bulannya untuk membeli buku-buku baru. Bukan perkara sekarang lebih mudah untuk membeli buku karena aku sudah bersuami yang menyokong perekonomianku. Justru sekarang aku harus lebih berhati-hati dalam mengatur uang belanja. Bagaimanapun ibu rumah tangga harus cerdas untuk memilih dan memilah mendahulukan kebutuhan rumah tangganya, setidaknya satu buku satu bulan itu yang aku tetapkan juga masuk dalam daftar anggaran kebutuhan utama yang harus aku beli. Dan jika akhir bulan ada sisa uang belanja lebih, barulah mampu membeli buku lebih dari itu.

Buku adalah sahabat paling setia rela mendampingi sepanjang waktu di mana pun aku berada tanpa pernah memikirkan dirinya*. Dia menemaniku 24 jam. Ketika sendirian dirumah, menunggu suami pulang kerja, menunggu nasi masak, saat antri di salon, menemani menanti atau ketika di dalam angkot, dialah pedang yang sangat tajam untuk membunuh waktuku.

Bagiku buku juga bukan sekedar bahan bacaan yang setelah selesai membaca, buku kembali ke tempat peraduannya, rak buku. Itulah yang menjadi alasan sebagian banyak orang kenapa mereka lebih senang meminjam daripada membeli buku untuk dimiliki atau di koleksi.

Tidak. Buku tidak pernah ada tanggal kadaluwarsanya, kecuali memang sengaja dibakar. Bagiku, memiliki buku itu asset. Selain memberiku banyak informasi dan pengetahuan. Dia membawaku berkelana jauh, lebih jauh dari kakiku yang hanya terdiam ketika membacanya. Dan dalam setiap lembaran kalimat yang kubaca, dia mengajariku bagaimana aku harus bertutur lewat tulisan.

Aku tidak akan pernah mampu menulis jika aku tidak membaca buku. Lima buku antologi lahir, itu juga sejak aku mencintai buku. Dari sana tersimpan motivasi luar biasa yang membangunkan semangat menulisku. Saat semua ide tersumbat dan tak mau mengalir. Aku mengambilnya satu dari tumpukan di rak buku. Aku memilih bacaan yang sesuai dengan apa yang ingin aku tulis dan membacanya penuh hati. Aku tidak bosan meski aku harus membacanya lagi dan lagi. Sehingga tak jarang aku membeli buku yang bahkan aku sudah khatam membacanya dari buku pinjaman seorang teman agar aku bisa memilikinya secara utuh, yang bebas aku baca sesukaku kapan saja ketika aku membutuhkannya.

Apalagi keberadaannya di era modern ini, sudah tergeser oleh kemajuan digital. Banyak penerbitan yang menawarkan e-book yang notabene harganya jauh lebih murah daripada buku. Penerbit bisa menekan biaya percetakan, dan tidak membutuhkan banyak tenaga kerja. Cukup tenaga ahli. Sedangkan di pihak pembaca, harganya terjangkau menjadi pilihan juga lebih memudahkan untuk menggantikan bertumpuk-tumpuk buku hanya dengan segenggam HP atau computer tablet yang bisa dibawa kemana-mana.

Disisi lain karena factor lingkungan, buku sering menjadi kambing hitam karena banyaknya pohon yang ditebang sebagai bahan baku utama kertas. Sehingga era digital sedikit menjadi alasan untuk menggantikan keberadaan buku. Lantas bagaimana nasib buku nantinya? Bisa jadi suatu saat buku akan menjadi barang langka yang susah dijumpai. Dan sebelum itu terjadi aku ingin menyelamatkan buku dan memilikinya untuk asset kehidupan yang akan kuwarisankan untuk anak cucuku.

Bagaimapun juga aku lebih mencintai buku, masalah effect global akibat bahan baku utama kertas, pasti ada cara lain untuk mengatasinya. Ah, aku jadi menyesal kenapa aku terlambat mencintai buku.
Foot note: *Abdurahman Faiz, Aku Ini Puisi Cinta

Feel Free To Follow My Blog