Showing posts with label My Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label My Ramadhan. Show all posts

Thursday, July 24, 2014

Keriuahan Ramadhan di Masjid Al Akbar Surabaya

Ramadhan enggak asyik rasanya tanpa berkunjung ke Masjid Al Akbar Surabaya. Masjid nasional yang memiliki 5 kubah ini menjadi magnet tersendiri bagiku dan mungkin bagi sebagian masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Pasalnya di areal masjid yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Agung, terdapat beragam tradisi Ramadhan yang menjadi pusat kegiatan selama ramdhan.

Tausiyah Ramadhan
Sayang, hari hampir gelap ketika aku dan suamiku sampai di Masjid Nasional Al Akbar. Pas waktunya adzan Maghrib. Sehingga melewatkan tausiyah yang setiap hari ada di Masjid ini menjelang berbuka. Bahkan sempat acaranya disiarkan langsung Global Tv dan stasiun TV lain. Tetapi aku cukup mendapat pencerahan sejenak karena tausiyahnya menggunakan microfon yang menggema ke seantero sekitarnya. Lamat-lamat aku dengarkan dari jalan raya menuju Masjidnya.

Buka Puasa Bersama
Banyak yang menjadikan Al Akbar sebagai tempat buka bersama dengan keluarga, teman atau pasangan. Seperti halnya aku dan suamiku, Al Akbar memang menawarkan beragam pilihan menu berbuka khas dari berbagai kota di Indonesia yang ada di Bazar Ramadhan. Selain juga Al akbar menyediakan takjil gratis bagi Jamaah tausiyah menjelang berbuka.

Tetapi setelah sholat maghrib, di halaman masjid sisi timur, aku disuguhi pemandangan berbeda. Pelatarab masjid dipenuhi orang duduk-duduk. Beberapa saling bergerombol. Ada yang sekedar istirahat, tak sedikit yang sengaja membawa bekal dari rumah untuk disantap bersama. Yap, seperti piknik iftar.

Aku sendiri ketika berada di sini sedang menunggu suami yang sudah janjian bertemu di pelataran timur masjid, untuk kemudian mencari menu santap buka di area bazar Ramadhan Al Akbar.

Bazar Ramadhan
Bazar inilah yang menjadi magnet kemeriahan Al Akbar. Hampir setiap tahun Al Akbar membuka peluang bagi yang punya usaha untuk membuka stand di Bazar Ramadhan Al Akbar Surabaya. Mulai dari baju, makanan, sampai dengan layanan perbankan. Bazar dibuka sejak menjelang maghrib dengan keramaian berpusat di kuliner Ramadhannya, menjelang sholat tarawih sampai dengan tengah malam stand-stand fashion banyak antri. 

Dari hari ke hari pengunjungnya tak kalah banyak, bahkan mungkin lebih banyak dari orang sholat di dalam masjidnya. Apalagi moment menjelang lebaran seperti ini, jalan setapak depan stand yang dilalui pengunjung seringkali macet. Dalam keadaan seperti ini pengunjung harus benar-benar ekstra hati-hati agar tak kecopetan.

Lomba-lomba Ramadhan
Patrol atau kreasi musik dan bunyi-bunyian untuk membangunkan orang sahur menjadi jenis lomba yang dikompetisikan beberapa Ramadhan terakhir. Acaranya  berpusat di pintu masuk sebelah timur Masjid menjadi iringan musik pengunjung yang sedang belanja.

Iktikaf Bersama
Meskipun di luar masjid tak ubahnya pasar tumpah, hari-hari terkahir Ramadhan seperti ini dalam masjid juga tak kalah ramai. Ramainya dengan penuh kekhidmatan dengan beragam kegiatan itikaf dari beberapa organisasi maupun perorangan. Ada yang sholat sunnah, tilawah, bahkan sampai tidur di Masjid. Dulu saat masih aktif di organisasi BKPRMI (Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia) aku sering mengikuti i'tikaf termasuk di masjid agung ini, menginap dengan membawa bekal untuk sahur keesokan harinya.
Masjid Agung dengan segala keriuhannya di bulan Ramadhan menimbulkan pro dan kontra. Diakui memang menawarkan pesona berbeda bagi setiap orang. Ada yang dengan niat beribadah, berbelanja, jalan-jalan, ataupun beribadah sambil berbelanja dan sebaliknya. Kita tak bisa mengahakimi hak setiap orang, masing-masing memiliki penilaian tersendiri. Begitu kepada pihak masjid, justru dengan ini menjadikan nilai lebih bagi mereka yang meniatkan diri berbelanja sembari beribadah di Masjid.

Kalian pernah ke masjid ini?

Wednesday, July 23, 2014

Masjid Ar-Rohman Jalan Raya Trosobo

Masjid terletak di jalan raya Trosobo
Masjid Ar Rohman terletak di tepi jalan Raya Trosobo, jalur Mojokerto-Surabaya. Jika dari arah Mojokerto kurang terlihat karena letaknya yang agak serong. Kami yang hendak mencari-cari masjid untuk sholat tarawih sempat terlewat, tetepi bahu jalan yang lebar membatu mempermudah putar kemudi tanpa harus putar balik ulang. Mengingat jalan raya Trosobo merupalan jalan besar, atau bisa dibilang jalan nasional antar propinsi selalu padat dengan kendaraan besar-besar seperti bus dan trailer. Meski demikian keramaian jalan raya sama sekali enggak mengganggu kekhusyukan sholat.

Beruntung ketika kami sampai masjid, masih adzan Isya'. Sehingga masih ada waktu mencari mukena dan peralatan sholat. Waktu itu memang dalam perjalanan pulang mudik awal puasa. Padahal lokasinya sudah dekat banget dengan rumah, sekitar 10 menit sudah sampai. Tetapi kami ingin sholat taraweh dengan suasana berbeda, tidak di masjid dekat rumah tempat kami biasanya sholat.

Pelataran parkir yang luas sangat tepat dengan posisi masjid yang dekat jalan raya. Ini memungkinkan jamaah safar yang ingin singgah sholat seperti kami tak ragu berhwnti karena ada tempat parkirnya yang kondusif. Begitu juga dengan tempat wudhu, tersedia kamar mandi dengan konsep kolam (bak) qullah. Sehingga kamar mandinya bisa dipakai untuk wudhu tanpa khawatir tidak suci. Karena konsep qullah sudah diatur dalam hadits, dimana air dengan volume 2 qullah boleh digunakan bersuci meskipun sudah terkena percikan sabun atau percikan bekas air wudhu.

Kolam qullah di masjid ini menyatu dari kamar mandi laki-laki menyambung dengan perempuan. Bedanya pintu tempat wudhu, bagi laki-laki di depan (samping sisi kiri masjid atau sebelah selatan) sementara untuk perempuan di samping sisi kanan masjid atau sebelah utara. Sehingga untuk masuk ke kamar mandi perempuan harus masuk masjid terlebih dahulu. Jika digambarkan, kamar mandi ini membentang di sisi barat masjid atau ruang imam.

Karena masih baru awal-awal ramadhan, suasana masjidnya masih semarak anak-anak dan orang dewasa. Full baik laki-laki maupun perempuan.

Untuk tarawehnya sendiri, masjid ini menganut imam Syafii atau yang disebut masjid Nu dengan 20 rakaat taraweh dan 3 witir. Suka dengan suasana ruang sholat perempuan, terbuka dan luas. Meski agak panas tapi enggak mengganggu. Kurang pendinginan karena kipas anginnya cuma beberapa di sisi samping. Sehingga anginnya enggak sampai tengah.

Hmmm... Bisa dibilang ini kali pertama kami sholat di masjid Ar Rohman yang merupakan masih masjid tetangga. Kadangkala entah karena sudah ada masjid di lingkungan, atau lebih suka dengan masjid yang lebih jauh sembari jalan-jalan, kita lupa dengan masjid tetangga. Adakah yang sering melakukan safari masjid ke masjid-masjid tetangga?
Bedug Masjid Ar Rohman
Jamaah perempuan masjid Ar Rohman
Kondisi tempat wudhu dan kamar mandi
Bentuk bangunan masjid Ar Rohman

Piknik Iftar di Masjid Agung Surabaya

Suasana di pelataran timur masjid
Sudah menjadi tradisi tahunan, di Masjid Al Akbar Surabaya menyelenggarakan kegiatan Ramadhan. Mulai dari ngabuburit dengan suguhan tausiyah ustadz dan ustdzah, sampai dengan bazar Ramadhan dan lomba-lomba Ramadhan. Ini yang menjadi magnet orang berbondong-bondong ke Masjid yang biasa di kenal dengan Masjid Agung Surabaya, pada malam-malam Ramadhan.

Satu hal yang luput dari pengamatanku selama ini, rupanya Masjid Agung juga menjadi sarana piknik iftar bagi beberapa orang beserta keluarganya. Biasanya, usai sholat aku yang ditunggu suami, sehingga ketika mendapati suami langsung capcus ke bazar tak memperhatikan sekitar. Sore itu usai maghrib justru aku yang menunggu suami.

Sambil duduk-duduk di tangga pelataran masjid aku mengedarkan pandangan diantara banyaknya orang yang melakukan hal sama. Mereka bukan hanya duduk-duduk saja, nampak di tengah lingkaran duduknya mengahadap makanan buka puasa. Ada yang makanan bungkus dan ada yang makanan rantangan. Nampak kesengajaan membawa bekal dari rumah.

Memang pengunjung Masjid bukan hanya pengendara motoran seperti kami, banyak mobil-mobil berjejer parkir di pelataran masjid. Mereka datang berkeluarga untuk melakukan ibadah sekaligus buka puasa bersama keluarga. Sungguh sebuah kebersamaan yang indah. Seperti halnya piknik keluarga, iftar menjadi moment kebersamaan. Ditambah dengan mempersiapkan bekal sendiri dari rumah menjadikannya lebih spesial, piknik iftar keluarga. Apalagi ada sarana shopingnya lho di depan masjid. Lengkap deh suasana piknik religinya, buka puasa bersama, sholat berjamaah, taraweh bersama hingga ditutup dengan shoping belanja lebaran. Sepertinya seru ya.

Ada yang tertarik melakukan piknik iftar di Masjid Agung Surabaya?

Tuesday, July 15, 2014

Masjid Jami Nurul Huda Belahan Rejo dengan Seribu Kenanganku


Sejenak kami mampir sholat maghrib di Masjid Jami Nurul Huda di desa Belahan Rejo, Kedamean Gresik. Sudah lumayan temaram. Karena sebelumnya memang mampir sebentar untuk menyantap kesegaran berbuka dengan takjil dawet di pinggir jalan. 

Jamaah maghrib sudah hampir selesai saat kami tiba. Masih lumayan lengang, mungkin karena hari puasa pertama sehingga banyak yang berbuka di rumah terlebih dahulu.

Masjidnya sendiri sama seperti masjid pada umumnya. Merupakan satu-satunya masjid desa yang digunakan untuk jamaah besar, seperti sholat jumat dan sholat hari raya. Namun yang menjadi ciri khas utama masjid di daerah sana adalah adanya pohon besar yang berada di sekitarnya, tepat berada di samping depan masjid. 

Aku memang tidak punya sejarah dengan masjid ini. Tetapi kenangan tentang desa Belahan Rejo amat kuat. Dulu aku sering menyabaninya. Almarhum emak dulu jualan baju dan dikreditkan termasuk sampai ke desa ini. Sehingga ketika emak meninggal masih tersisa beberapa tagihan kreditur, dan aku yang harus menagihnya satu-satu dari rumah ke rumah. Bahkan sebenarnya masih banyak tagihan yang tak tertagih dan kubiarkan sebagai amal emak. Ya Allah terimalah....

Dan yang kedua, karena sering menyabani kemari, aku jadi kenal cowok-cowoknya. Dikenalin oleh teman-teman dan sering diajak mampir bahkan nongkrong sejenak di tongkrongan mereka. Aish.. Ketahuan ya, tabiat masa laluku.

Sehingga dengan masjid ini sebenernya nampak biasa. Justru yang paling dikenal adalah, waduknya, waduk Belahan Rejo. Yang terletak di seberang jalan tak jauh dari masjid. 

Jika masa kemarau akan kering dan akan meluap pas musim hujan. Dan yang enggak bisa dilupakan tahun 90-an di tempat tersebut pernah terjadi meletusnya balon udara yang dibuat oleh para mahasiswa Untag yang sedang KKN di Belahan Rejo. Sampai heboh, karena meletusnya pas dengan acara pemilihan kepala desa dengan masa yang rame. Hingga menimbulkan beberapa korban, yang konon mendapat pertanggungjawaban dari pihak Untag. 

Itulah secuil ingatanku akan seribu kenangan yang hadir saat di masjid Belahan Rejo ini. 

Wednesday, July 02, 2014

Tumis Labu Siam Kuah Santan Bekalan Sahur


Suamiku demen banget sama lodeh timun. Kalau pas aku bikin lodeh tanpa timun, biasanya dia tanya, kok nggak dikasih timun? Padahal dulu saat masih single jarang banget aku menemui timun dibuat lodeh. Baru tahu ya dari masakan ibu mertuaku, menurun ke suami yang suka lodeh timun.

Nah malam kemarin, untuk bekalan sahur niatnya mengolah lodeh timun. Apa daya, kayaknya males buat ngulegnya. Alternatifnya aku bikin tumisan labu siam sembari ditambah timun demi menuruti selera suami. Bagi yang mau coba berikut nih resep tumis labu siam kuah santan dengan cara membuatnya;

Bahan:
2 bungkus labu siam sudah irisan
1/2 mentimun segar iris setengah lingkaran
1/2 ons ebi kering rendam dengan air, tiriskan

Bumbu:
3 siung bawang merah cincang
1 siung bawang putih cincang
2 buah cabai rawit iris serong
3 buah cabai merah besar iris serong
1 cm lengkuas keprak
2 lembar daun salam
2 lajur bawang prei iris
1 bungkus santan cair
Garam
Gula
Margarin
Bawang goreng

Cara membuat:
  1. Panaskan margarin dan tumis bawang merah, bawang putih, cabai rawit, cabai merah besar, lengkuas dan daun salam.
  2. Masukkan ebi dan tumis hingga harum
  3. Tambahkan santan dan air secukupnya.
  4. Bumbui dengan garam dan gula.
  5. Masukkan timun dan biarkan hingga setengah matang baru kemudian masukkan labu siam.
  6. Masak dengan api kecil sampai labu siam matang.
  7. Sebelum diangkat masukkan bawang prei dan tutup sebentar.
  8. Angkat dan sajikan dengan taburan bawang goreng.
Happy cooking ;)

Romantisme Iftar

Enggak mau di foto, jadinya nyingkur :p
Iftar atau berbuka puasa menjadi rutinitas musiman yang hanya terjadi di bulan Ramadhan. Musim yang sama yang terjadi di seluruh belahan bumi manapun dengan rutinitas iftar yang berbeda. Enggak terkecuali di keluarga kecil kami, moment iftar kami berbeda dari Ramadhan sebelum-sebelumnya. 

Jika tahun sebelumnya kami menikmatinya di rumah kontrakan atau di rumah ibu mertua, kali ini kami menikmati Ramadhan di rumah sendiri, rumah yang kami bangun atas rezeki Allah SWT. Sangat berbeda suasananya, kami lebih bersemangat menjalankan ibadah Ramadhan terlebih karena syukur kami dengan kemurahan Allah SWT.

Bila dibandingkan dengan rumah kontrakan, di sini masih ada areal terbuka hijau. Suasananya masih asri dan jauh dari hingar bingar kendaraan. 

Nah, di rumah ini, kami memiliki tempat favorit untuk menghabiskan senja. Yaitu tempat cuci baju dan jemur pakaian yang berada di samping rumah. Kerap keponakanku pun turut menghabiskan sore di sini sembari menghitung pesawat lewat. Yup, rumah kami memang jalur pesawat Bandara Juanda, Sidoarjo. 

Termasuk Ramadhan ini. Jika biasanya (di kontrakan atau rumah mertua) kami beriftar di depan televisi sambil menunggu adzan, suamiku mendapat ide untuk iftar di tempat favorit kami ini. Tau-tau pulang kerja langsung menuju samping sambil mengulurkan selang air membersihkan kotoran-kotoran ayam. Iyup karena tempat terbuka jadi banyak ayam berkeliaran yang bebas eek di mana-mana.

Di hari pertaman, karena kurang persiapan, kami menikmatinya dengan lesehan. Berbekal meja kecil dan dingklik yang biasa aku gunakan mencuci pakaian. Begitu paham dengan maksud suami, di hari kedua akupun menyambut idenya dengan mempersiapkan sebelum suami datang, bersih-bersih dan menatanya dengan kursi santai. Begitu suami pulang tinggal menata panganan dan minuman iftar.

Romantis sekali suasananya. Seperti moment candle light di senja hari tanpa lilin. Sambil ngobrol merencanakan agenda Ramadhan suami serta perbincangan lain. Enggak terasa, tahu-tahu sudah adzan saja. Karena kami memang menikmati suasananya. Melihat burung-burung kembali ke sarang, pesawat yang merendah akan landing di Bandara Juanda serta menggemanya suara adzan menjadi backsound yang benar-benar mendukung suasana. 

Sangat berbeda ketika kami melakukannya di dalam rumah, apalagi dengan menunggu adzan. Semakin ditunggu akan semakin lama. Waktu lima menit rasanya seperti menghitung pasir.

Iftar di alam terbuka seperti ini membuat kami lebih bisa memberi makna pada Ramadhan kami. Terbesit keinginan semoga di Ramadhan ini aku bisa ngadain iftar bareng di sini. Belum kepikiran dengan siapa, entah dengan kekuarga besar kami, anak-anak yatim, atau bahkan teman-teman blogger? Hua seru kali ya, apalagi dilanjut barbequean.

Hmmm... 

Bagaimana dengan iftar di keluarga kalian teman? 
Suami menata makanan, akunya motret :p

Sunday, June 29, 2014

Kesungguhan Wong Bodho Dalam Berbagi

Nampak santri mengahadang para musafir jalan raya
Apa yang ada di benak kita ketika mendengar kata Wong Bodho? Pasti yang negatif-negatif. Tetapi bagi sebuah pesantren Salafy di daerah Menganti, Wong Bodho digambarkan sebagai hamba yang rendah hati dalam segi apapun. Itu yang tergambar di benakku dari kaos yang mereka pakai bertuliskan; Nyengit, Medit, Pelit gak pantes dadi wong bodho. (Baca: Jahat, kikir, pelit tidak layak jadi orang bodoh)

Mereka adalah santri yang telah menghadang motor kami saat balik dari kampungku tadi. Dari penampakannya tak terlihat sama sekali sosok santrinya yang identik dengan peci dan sarung. Justru celana pendek atau katok komprang, serta kaos biasa dan rata-rata berambut gondrong.

Kata suamiku yang paham benar dengan anak pondokan, mereka adalah santri pondok laku. Dalam artian segala ilmu mereka dipraktekkan dalam laku, bukan hanya teori.

Seperti malam tadi, mereka mengahadang kami tidak hanya membagikan takjil gratis melainkan makanan buka bagi musafir yang melintas di Jalan Raya Kedamaian-Krian.

Jika biasanya takjil atau buka puasa yang dibagikan dalam bentuk bungkus. Para santri ini menyajikannya dalam bentuk layanan seperti layaknya melayani pembeli di warung makan. Mobil yang disulap jadi warung, dengan tikar lesehan untuk tempat menikmati hidangan. Sangat terlihat bagaimana kesungguhan mereka ingin benar-benar melayani sesama ummat Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.

Jika dibayangkan memang sangat merepotkan, perlu banyak wadah makanan, piring, belum lagi harus mencuci bekas-bekasnya. Tetapi, beramal dengan Allah tak pernah ada kata rugi. Sungguh jika dihitung pahala mereka akan lebih banyak, dengan banyaknya pekerjaan yang mereka lakukan.

Sayangnya, banyak pengendara yang ragu berhenti. Padahal kalau makanan gratis begini paling banyak diserbu. Pasalnya, lokasinya memang di jalan raya yang bukan pemukiman. Melainkan sisi jalan berupa lahan kosong dan sawah. Aku sendiri awalnya mengira ada operasi polisi. Melihat gelaran tikar dan orang makan dengan piring kami jadi berubah pikiran.

Pilihan kami untuk berhenti bukan karena ingin dapat makan gratis tetapi kami salut, aku benar-benar salut dengan cara mereka. Bahkan kami dipersilakan jika ingin nambah makan atau ingin membungkus makanan. Benar-benar cara berbagi dan bersedekah yang baru kutemui. Semoga mampu menginspirasi yang lain untuk berbuat hal positif lainnya. 
Mobil yang disulap jadi warung buka puasa gratis
Kostum yang mereka pakai

Perantara Sedekah

Aku mulai puasa hari ini, Minggu 29 Juni 2014. Seperti biasanya puasa pertama kulewati di kampung kelahiranku, Madureso, Dawarblandong Mojokerto. 

Eh, enggak ding pas kebetulan aja hari Minggu, dan suami enggak ada jadwal. Beuh, bisa dipastikan minggu-minggu depan suamiku banyak konser (baca: acara buka puasa). Dari kegiatan buka puasanya kantornya sendiri bersama anak-anak yatim bisa sampai 4 kali, belum bersama para duta guru yatim dan undangan dari para donatur. Undangan dari donatur ini yang kadang selalu dipasin hari Minggu. Jadi jarang bisa pulang ke kampung halaman. Apalagi semenjak kami disibukkan membangun rumah sendiri di Sidoarjo, membuat kami tak sempat pulang. mumpung masih belum padat, kesempatan ini tak kami sia-siakan. 

Rumah di kampung halamanku itu kosong. Tak ada yang menempati. Semua kakak-kakakku sudah berkeluarga. Dan rumah ini adalah emang sudah bagianku. Tapi apa daya, suamiku diberikan rezeki pekerjaan di Sidoarjo hingga membuat kami hanya bisa pulang seminggu bahkan sebulan sekali di hari libur. Jadi puasa pertama kami di sini tanpa persiapan. Tanpa alat masak karena sudah pada berdebu. Paling masak air untuk bikin teh dan kopi. Itupun bahan-bahan sudah kami persiapkan dari Sidoarjo termasuk bekal makan malam kemarin, dan sahur cukup beli dari warung di pasar Randegan. 

Enggak kaget karena emang bukan pertama kalinya. Sebelum-sebelumnya malah lebih parah deh. Kami belum punya sumber air sendiri. Masih pakai sumur kerek. Dan kalau panas begini kering kerontang. Kudu ngambil air dari sumur bawah yang lumayan jauh letaknya. Kadang-kadang ini yang membuat suami enggak kerasan dan ogah pulang. 

Emang daerahku itu tandus. Kalau bikin sumur bor kudu pakai pompa yang besar, orang bilang namanya Zat Pom. Alhamdulillah, ulang tahunku 5 Maret kemarin kakak pertamaku menghadiahi sumur bor tersebut. Jadi enggak perlu ngerek atau menimba lagi. 

Karena aku jarang di rumah, mata air tersebut di salurkan selain ke dalam, ke luar rumah untuk tetangga-tetangga jika masa kekurangan air begini. 

Bagiku air bukan cuma milikku sekalipun ngebor di tanah milik keluargaku. Tetapi juga merupakan hak tetangga yang ada di sekelilingku. Enggak mungkin aku yang berlimpah air sementara tetanggaku kelimpungan, aku umpetin begitu saja, sementara sehari-haripun aku tak pernah pakai. Kalau masalah listrik aku menganggap itu sedekah saja. Toh mata air yang mengalir juga bagian sedekah kakak. Hitung-hitung aku menjadi perantara sedekah baginya. 

Friday, June 27, 2014

Khimar, Trend Hijab Ramadhan dan Lebaran 2014

Selain syar'i, khimar membuat pemakainya nampak lebih anggun
Transformasi gaya berkerudung saat ini lebih dikenal dengan kata hijab, daripada pendahulunya kerudung ataupun jilbab. Begitupun dengan istilah khimar ini, masing-masing kata tersebut sejatinya memiliki makna sama, yaitu penutup kepala (aurat). Sementara jika dalam dunia fashion memiliki makna serupa tapi tak sama.
(Baca juga; Trend Busana Lebaran 2014)

Hijab identik dengan gaya pemakaian baik itu menggunakan jilbab segi empat, pashmina panjang dan berbagai macam jenis hijab lain, termasuk khimar. Yaitu sebuah hijab lebar hingga menutup dada, biasanya berbentuk setengah lingkaran, sehingga jika dipakai akan melingkari tubuh pemakainya. Tak salah jika banyak yang menyebut khimar sebagai hijab syar'i.

Padahal hijab model khimar ini sudah ada sejak dulu sebelum metamorfose hijab. Hanya saja perbedaannya pada good looking. Jika dulu pemakai khimar dianggap hanya pada orang penganut aliran tertentu, dengan bentuk yang monoton dan dengan warna itu-itu (umumnya hitam) saja, khimar sekarang mengalami metamorfose menjadi model hijab menawan, indah dan fashionable sehingga mampu diterima oleh kalangan hijaber. Tak sedikit pula yang tertarik memakai hijab syar'i ini dari yang sekeder untuk kepuasan fashion sampai mereka yang benar-benar ingin lebih menutup auratnya, terutama mereka yang dulu disebut sebagai kalangan jilbaber, khimar memikat selain lebih good looking juga lebih simple pemakaiannya.

Khimar sudah mulai merebak sejak awal tahun 2014 justru bukan dari kalangan designer. Mereka adalah para pemakai jilbaber yang menjadikan dunia fashion sebagai media dakwah. Mereka mencoba mengenalkan cara berhijab lebih syar'i tanpa belibet leher seperti kebanyakan para hijaber, yang tetap fashionable meski panjang dan menutup dada. Mereka lebih memainkan bahan dan kombinasi warna.

Tetapi di tangan industri kreatif para designer, khimar yang dirasa sebagai model hijab baru yang akan mewarnai dunia fashion muslim, memiliki model beragam. Mereka memainkan potongan serta memadukan model hijab hoodie dan layer dengan warna-warna lembut seperti warna pastel. Sebut saja brand fashion muslim Indonesia, Shabila dan Miss Marina. Keduanya mengeluarkan seri hijab syar'i model khimar. Meskipun bukan merupakan koleksi untuk Ramadhan dan Hari Raya Iduel Fitri 2014, hijab syar'i ini masih tetap diburu oleh kalan fashionista muslimah. Bahkan mungkin bisa jadi masih akan menjadi trend hijab Ramadhan hingga Hari Raya nanti.
(Baca juga: Jajanan Paling Diserbu Saat Lebaran)

Tuesday, July 16, 2013

Renungan Ramadhan: Ngelmu Kepada Pak Imam, Guru Ngaji

Seiring waktu berjalan suami kerap kali menguji saya, yang paling sering adalah masalah agama. Seperti kemarin, ketika dalam sholat suami menambahnya dengan sujud Syahwi. Usai sholat rupanya suami menunggu saya bertanya tentang hal tersebut, karena bagi saya sujud syahwi itu hal biasa, lantas suami menanyakan doa yang saya baca, ya saya jawab, suami tersenyum tipis mengira saya tidak bisa.

Memang sujud Syahwi akan sangat jarang dilakukan orang, bahkan mungkin ada yang tidak pernah, oleh karena doanya kerap kali disepelekan, mungkin itu dalam pikiran suamiku.

Tapi bagi saya, sujud Syahwi adalah bagian kecil dari ilmu yang diberikan oleh guru ngaji saya, pak Imam Samuji. Guru ngaji yang luar biasa. Padahal dulu SPP ngaji hanya "750" Perak tapi kami mendapatkan banyak hal. Bukan ngaji formal seperti sekarang, sehabis sholat ashar-ngaji-pulang dan libur pada sabtu minggu. Sudah mirip kayak sekolah.

Kami ngaji tak terbatas kemampuan pak Imam dan muridnya, bahkan mungkin hanya libur ketika Pak Imam sakit atau ada kepentingan dan santri tidak masuk karena sakit. Itupun jika lebih dari tiga hari pak Imam beserta semua santri akan menjenguk ke rumah.

Waktu ngaji kami estafet mulai dari sholat ashar, waktu ngajinya anak jilid (dulu masih memakai jilid), kalau sudah Al-qur'an waktu ngajinya bisa bertingkat habis sholat maghrib lanjut habis isya' dengan beragam metode, sema'an satu ayat satu orang secara bergiliran memutar, atau mungkin setoran ke pak Imam dan senior yang sudah dipercaya bacaannya.

Jangan tanya bagaimana kami mengajinya, satu orang bisa lamaaaaaaa..... karena bukan hanya bacaannya yang harus lancar, makhrojul huruf dan tajwidnya harus tepat juga Gharib tidak pernah ketinggalan juga ditanyakan. Bisa jadi kami ngaji hanya satu ayat saja suatu waktu. Kalau salah dan itu dilakukan berulang-ulang kami bisa mendapat hadiah cetot (cubit) di paha.

Ah cubitan, itu yang membuat kami belajar dan bisa menjadi seperti sekarang. Orang tua kami tak pernah risau dengan hal tersebut juga tak pernah ada yang menuntut kenapa kami dicubit. Karena memang semua orang tua telah memasrahkan kami dididik kebenaran oleh guru ngaji kami. Bukan hanya karena ngaji, paling banyak yang mendapatkan cubitan karena sholat yang bolong. Setiap kali usai mengaji dilanjut sholat Isya, adalah saatnya kami dihisab, selalu ditanyakan sholatnya, juga tentang hafalan, doa-doa dan surat pendek juz 30. Saya masih ingat paling tidak bisa menghafal surat Al-Falaq sering kebolak-balik soalnya, hingga mengulang berkali-kali. Awalnya di maafkan sama pak Imam karena lebih dari tiga kali tidak hafal juga akhirnya kena cetot juga. Hehehe.

Kadang hukuman itu bukan hanya cetot, jika santri yang dihukum banyak daripada yang tidak, kami diminta membersihkan masjid sampai gleaming. Bisa dipastikan masjid waktu itu selalu terjaga, baik kebersihan maupun kemakmurannya.

Tidak berhenti setelah habis Maghrib dan Isya', usai subuh juga masih ada ngaji. Ngajinya lebih santai untuk anak-anak tertentu yang dipilih pak Imam. Biasanya cuma ngaji bersama surat Ar-Rahman atau Al-Waqiah untuk hari biasa, sampai kami terbiasa dan hafal dua surat itu. Kalau sekarang bagaimana yaa? *Maluu

Ketika hari tertentu, kalau nggak salah Selasa dan Kamis, habis subuh waktunya ngaji kitab. Sudah mirip kayak pondoklah, bedanya kami tinggal di rumah masing-masing. Karena Pak Imamlah saya bisa mengenal dan membaca kitab yang hurufnya miring-miring. Waktu itu sampai habis 5-an kitab. Yang masih saya ingat, kitab sulam safinah, sulam safinatunnajah, dan sulam taufiq. Sementara khusus hari Jum'at adalah waktunya bersih-bersih masjid, dan membakar tumpukan sampah daun di samping dan belakang masjid.

Kalau sabtu minggu? Sabtu Minggu memang libur ngajinya, kegiatannya cuma diganti dengan yang lain. Sabtu, setelah maghrib saja kami membaca sholawat, kami menyebutnya diba'an. Anak-anak sangat kreatif membuat lagu-lagu bahkan lagu dangdutpun syairnya diganti dengan sholawat, hehehehe. Dan Minggunya khataman atau tadarus bergilir dari rumah ke rumah santri yang ketiban giliran. Mulai dari pagi jam 7 sampai pukul 5 sore. Tapi tidak full all day long, setiap santri Al-quran mendapat jatah ngaji 20-30 menit dengan speker yang terdengar seantero kampung Madureso. Sampai orang hafal masing-masing suara kami. Setelah waktunya habis, kami harus melanjutkan sendiri tanpa speaker sampai satu juz yang dibaca habis. Ya, kami datang hanya pada jam giliran yang telah ditentukan saja. Tapi ketika sorenya, semua santri berkumpul untuk membaca bersama surat-surat akhir juz 30.

Hmmm..... kayak maraton ya ngjinya, dari maghrib sampai subuh, dari senin hingga senin lagi. Apakah capek? Kadang capek juga sih, tapi seneng banyak temannya. Yang paling sebel bagi saya pas ngaji habis subuh saja, soalnya ketika tiba di sebuah persimpangan hawanya serem dan paling ditakuti sama anak-anak. Waktu itu saya masih SD kelas 2, teman-teman selalu lari pas sampai tempat tersebut membuat saya selalu tertinggal di belakang kalau lari. Dan suamiku tidak pernah percaya kalau kelas 2 SD saya sudah bisa membaca Al-qur'an. Secara suami baru mau ngaji ketika sudah SMP, hehehe. Tapi saya malu juga, masa kecilku begitu semangat meraih ilmu, tapi dengan tanggapan suamiku seperti diatas membuatku menyadari ternyata aku mengalami kemunduran :(

Padahal menurut Rasulullah, orang yang paling merugi adalah yang tidak lebih baik dari hari kemarin. Naudzubillah mindzalik, mungkin ini karena kesibukan duniawi saya yang lebih daripada ukhrawi saya. Ya Allah jagalah hati dan iman saya agar tetap menjadi lebih baik untuk esok dan selamanya. Amin.

Itu terjadi ketika santri TPQ Sunan Giri, nama tempat ngaji saya, dipindahkan dari masjid ke sebuah gudang milik orang. Bahkan kami sampai berpindah-pindah tempat, kadang dirumah pak Imam juga, dan pernah juga di gudang tempat menimbun lombok/cabe punyanya tengkulak setempat yang masih saudara dengan pak Imam. Jadwal ngaji menjadi kacau. Apalagi setelah pak Imam mendapat tugas dinas ke Madura, kami menjadi seperti kehilangan. Setiap santri menangis kala perpisahan dengan pak Imam. Saya memberikan sebuah kenang-kenangan kepada pak Imam yang entah saya lupa apa, tapi pak Imam memberikan kenangan yang begitu berharga kepada kami terutama saya, yaitu ilmu dan amalannya yang begitu membekas sampai sekarang.

Entah bagaimana kabarnya pak Imam Samuji, walaupun kami satu kampung, pak Imam seperti jarang pulang dan kabar juga dipindahkan ke Kalimantan. Ya Allah, berikan selalu kesehatan dan keberkahan hidup pak Imam dunia dan akhirat dimanapun beliau berada. Amin.

Ilustrasi : Koleksi foto suami 

Tuesday, August 16, 2011

Renungan Ramadhan II : Lima Waktu Taddarus Yang Tepat

Lima Waktu Tadarus Yang Tepat
By : Nunu El Fasa
Taddarus di setiap usai shalat wajib dilakukan oleh salah satu temanku
Salah satu amalan yang tidak pernah ditinggalkan selama bulan Ramadhan adalah Tadarus. Dan bulan Ramadhan merupakan moment yang tepat untuk mengkhatamkan Al-qur’an minimal satu kali selama Ramadhan adalah target terburuk yang harus ditetapkan walaupun itu yang sering terjadi.

Padahal tadarus seharusnya tidak hanya dilakukan ketika bulan Ramadhan. Kalau saja kita bisa Istiqomah mengaji setiap hari, bisa dihitung dalam setahun harusnya kita bisa khatam empat kali dengan asumsi khatam tiga bulan sekali. Dan dalam sebulan, target mengaji sepuluh juz dengan asumsi tiga sampai empat halaman per hari.


Apakah bisa? InsyaAllah bisa! Selama Ramadhan kita mewajibkan diri bisa khatam sebulan dibanding dengan khataman tiga bulan yang lebih longgar tiga kali watunya. Dan berikut waktu-waktu tadarus yang bisa dijalani untuk mencapai target Tadarus Ramadhan.


Pertama,

Setelah makan sahur adalah waktu yang tepat untuk memulai mengaji. Perut dalam keadaan kenyang biasanya membuat mata mengantuk. Apalagi dibuat nonton TV bukannya kita yang menonton acara Televisi lama-lama malah membuat kita tertidur dan ditonton oleh TV. Dan membuat tidur tidak bisa pulas, bisa-bisa membuat kepala migrain saat bangun sholat subuh. Padahal kalau dibuat mengaji bisa dapat tiga sampai empat halaman, dan tidak lupa menyediakan air minum di dekat kita, untuk sekali-kali diminum sebelum imsyak berakhir. 

Kedua,

Tadarus setelah Sholat subuh. Bukan tanpa alasan mengaji setelah sholat subuh meskipun bukan bulan Ramadhan merupakan sunnah Rosululloh yang barang siapa mengaji setelah sholat subuh, lantunannya dapat menggetarkan Arsy Allah SWT. 

Ketiga,

Kebiasaan tidur setelah sholat dzuhur saat jam istirahat di kantor akan membuat tubuh lemas dan semakin dehidrasi. Lebih baik diisi dengan tadarus menggunakan Al-qur’an terjemah sembari mengambil mutiara hikmah dari ayat kauniyah yang dibaca InsyaAllah lebih bermanfaat. 

Keempat,

Ngabuburit paling asyik adalah dengan tadarus. Selain waktu buka puasa yang semakin singkat, lumayan jika kita gunakan untuk menambah halaman tadarus. Daripada sekedar muter-muter tidak jelas yang hanya akan membuat kita ngiler dengan berbagai makanan dari para penjul di jalan-jalan. 

Kelima

Luangkan waktu sebentar untuk membaca Al-qur’an setelah sholat maghrib, jangan buru-buru makan. Makan ta’jil sebelum sholat sudah cukup untuk membatalkan puasa, ditambah dengan makanan berat bisa membuat tubuh tidak kuat melaksanakan sholat tarawih. Tidak perlu banyak-banyak secukupnya satu sampai dua halaman saja. 

Dan terakhir tadarus setelah sholat tarawih bisa dilakukan di masjid secara bersama-sama. 
InsyaAllah jika kita bisa mengambil tiga dari lima waktu tadarus diatas, sehari bisa tadarus lebih dari satu juz. Apalagi jika bisa menjalankan kelima waktu tersebut dan setiap waktu luang yang kita miliki digunakan untuk tadarus InsyaAllah dalam tempo tiga puluh hari target tadarus bisa terpenuhi meskipun ada halangan haid bagi seorang wanita. Sedangkan bagi laki-laki harusnya bisa khatam lebih dari satu kali mengingat waktunya yang juga lebih fleksibel. 

Kalau kita sudah bisa khatam satu bulan pada bulan Ramadhan, kenapa tidak bisa pada bulan-bulan lain? Alangkah serakahnya jika itu hanya karena pahala yang dilipatgandakan di bulan suci ini. Setidaknya target empat kali khatam dalam setahun, atau sekali dalam setahun ketika Ramadhan saja lebih baik daripada tidak sama sekali. 

Agaknya, yang paling sulit memang menjalankan istiqomah. Apalagi bagi seorang wanita yang terbentur dengan masa haid. Setelah masa cuti ibadah, Istiqomah mengaji yang dijalankan sebelumnya bisa jadi menurun. Harusnya, bukan lagi halangan bagi jika masih mengharap cinta-Nya. Namun, yang lebih utama bukanlah kuantitas dari hasil kita mengaji melainkan kualitas yang bisa diamalkan untuk kehidupan sehari-hari. Dan akan lebih utama jika kita bisa seimbang antara kuantitas dan kualitas dalam membaca dan mengamalkan ayat-ayat Allah SWT. Wallahu ‘alam bisshowab[.]

Renungan Ramadhan : Tips Bershodaqoh dengan Ikhlas

Bulan Ramadhan bagi para Muzakki adalah bulannya Shodaqoh. Dari yang beramal hanya satu minggu sekali ketika sholat Jum’at di Masjid sekarang bisa menjadi setiap hari. Dari yang hanya beramal lima ratus perak kini tak segan mengeluarkan uang seribuan, atau bahkan puluhan ribupun tidak sayang jika untuk Shodaqoh di bulan Ramadhan. Dimana semua umat Islam sedang mencari bekal sebanyak-banyaknya di bulan ini yang semua amal memang dilipatgandakan.



Dan bagi para mustahik, merupakan bulan berkah bagi mereka. Terlihat, semakin meningkatnya para mustahik di jalanan. Di perempatan jalan, lampu merah, atau sering kita menjumpai di Pom bensin dengan seragam putih mereka sambil berdiri membawa sebuah kotak amal yang tidak kita jumpai hanya ketika Ramadhan saja. Namun, hanya beberapa yang memang benar-benar mengais berkah bulan Ramadhan dan sebagian lagi memanfaatkan moment Ramadhan untuk mencari uang. Bukannya saya Suudhon, sebagai Muzakki tentunya saya juga ingin uang yang saya keluarkan bermanfaat bagi mereka. Tentunya akan lain kemanfaatannya bagi yang benar-benar membutuhkan meskipun nilainya sangat kecil. 

Saya pernah punya pengalaman demikian ketika saya sedang ziarah ke Sunan Ampel. Karena disana banyak mustahik, saya selalu menyediakan uang recehan disebuah dompet khusus yang saya sendirikan supaya lebih mudah mengambilnya ketika saya bertemu para mustahik. Namun, sebelum memberi saya selalu memastikan bahwa orang yang akan saya beri adalah benar-benar mustahik. Tapi sangat sulit membedakannya, sehingga untuk bershodaqoh saya selalu memilih orang tua dan anak-anak saja. 

Dan ketika mau pulang. Seorang ibu-ibu muda mendatangi saya, meminta sumbangan untuk ongkos pulang. Dengan berurai air mata ibu tersebut menceritakan dirinya sedang kehabisan uang dan tidak bisa pulang ke Tuban tempat asalnya, serta bagaimana dia terlantar selama berhari-hari di masjid Ampel. 

Saya yang tadinya tidak pernah memberi selain kepada orang tua dan anak-anak, akhirnya luluh juga hati saya dan timbul rasa kasihan kepadanya. Dengan kondisinya yang demikian tidak mungkin juga memberinya uang recehan. Isi dompet yang tinggal dua puluh lima ribu rupiah saya berikan dua puluh ribu rupiah untuk ibu tersebut dan sisa lima ribu rupiah untuk ongkos saya pulang. Meskipun saya rasa uang dua puluh ribu rupiah tidak akan cukup untuk ongkos hingga sampai ke Tuban, Namun itulah uang terakhir yang saya punya akhir bulan itu. 

Kemudian saya memanggil teman-teman yang satu rombongan dengan saya. Setelah saya membantu dengan menceritakan kembali cerita ibu tersebut kepada teman-teman, teman-teman ada yang mengeluarkan lima ribu rupiah, sepuluh ribu rupiah, dan lima belas ribu rupiah. Hingga kalau dihitung terkumpul uang sekitar tujuh puluh ribu rupiah. Dengan jumlah itu sudah cukup rasanya untuk ibu tersebut bisa pulang sampai di rumah. Dan kamipun meninggalkannya setelah sempat berpesan untuk berhati-hati. 

Sampai di pintu keluar makam, ada sesuatu yang ketinggalan di makam. Sayapun kembali ke dalam untuk mengambilnya. Alangkah terkejutnya ketika saya melihat dari jauh ibu yang kami bantu tadi sedang menghitung jumlah uang yang dikeluarkan dari sakunya bersama rekannya ibu-ibu sebaya. Bukan tujuh puluh ribu rupiah lagi, segepok uang yang juga ada nilai ratusan ribu rupiahnya. Agak lama saya megamatinya kemudian ibu-ibu tersebut berpencar dan melakukan aksi yang sama seperti mereka melakukannya kepada kami. Seketika saya melihat isi dompet saya yang hanya tinggal lima ribu rupiah. MasyaAllah. Lalu bagaimana dengan teman-teman saya? Saya tidak tega menceritakan hal ini kepada mereka. Biarlah hanya saya yang keikhlasannya menguap dan membiarkan keikhlasan teman-teman menjadi pahala bagi mereka. 

Kejadian tersebut lantas tidak membuat saya berhenti bershodaqoh, banyak pelajaran berharga yang bisa saya ambil hingga saya membuat prinsip shodaqoh :

  1. Jangan memandang siapa yang diberi Shodaqoh. Sodhaqoh bukan atas dasar kasihan untuk membantu mustahik, melainkan shodaqoh untuk membantu diri sendiri. Menabung amal yang insyaAllah bisa menyelamatkan di akherat kelak. 
  2. Jangan pernah memikirkan untuk apa uang Shodaqoh saya? Jika ternyata yang diberi shodaqoh bukan benar-benar mustahik dan menggunakan uang tersebut tidak sesuai harapan. Itu bukan lagi urusan saya. Urusan saya dalam bershodaqoh hanyalah Ikhlas. Dan biarlah Allah yang mengurus semuanya. 
  3. Bershodaqoh sesuai kemampuan, tidak memaksakan bershodaqoh lebih jika belum mampu. Beshodaqoh lebih dalam keadaan tidak mampu dapat menjauhkan hati dari Ikhlas. Dan itu tidak akan mencapi esensi shodaqoh yang sebenarnya. 

Dan Terakhir Lupakan! InsyaAllah bershodaqoh dengan tidak memandang siapa dan untuk apa, berapapun besar kecilnya Shodaqoh yang dikeluarkan, kesempurnaan Ikhlas akan tercapai dengan sendirinya setelah melupakannya. Semoga[.]

Feel Free To Follow My Blog