Saturday, December 06, 2014

Panggilan Sayang Yang Unik

"Jo, buatkan kopi Jo."

Begitulah panggilan sayang suami ketika meminta dibuatkan kopi. Panggilan yang sama juga kualamatkan kepadanya.

Jo, berasal dari kata "Bojo", kalau dalam bahasa jawa artinya suami/istri. Bukan Jo ketika manggil "Bedjo".

Kami menggunakan panggilan sejak awal menikah. Suamiku yang paling susah dibangunin kerap aku mengeluh begini, "bojoku rek." Hingga kebiasaan jadi panggilan kalau lagi sebel. Eh, suamiku malah ngikutin jadi terbiasa manggil Jo untuk percakapan sederhana sehari-harinya.

Kadang sampai kelupaan pas didepan mertua, tetangga atau bareng teman-temannya kebablasan manggil Jo. Pertamanya banyak yang melongo keheranan. Katanya panggilan kami unik. Jika pasangan biasanya akan memanggil Mas atau Dek, aku dan suami yang notabene belum punya anak kok malah panggilannya gak ada mesra-mesranya.

Cuma nyengir saja. Menurut kami inilah panggilan paling mesra. Memang panggilan Jo terdengar kurang hormatnya pada suami. Tapi kami ngerasa enjoy dengan panggilan ini. Kami jadi merasa kayak teman, atau sahabat yang sudah akrab banget.

Gara-gara panggilan ini pernah kami ditegur sama atasan suami ketika kumpul saat acara family gathering kantornya. Karena panggilan Jo dianggap kayak "wadanan" alias olokan kepadaku maupun sebaliknya. Setelah dijelasin kalau Jo itu "Bojo", yang merupakan panggilan sayang, masih tetap menginginkan kami supaya mengubah panggilan yang lebih mesra, seperti Mas, Dek, atau Yank. Hihi tapi gimana ya, udah kebiasaan. Malah jadinya aneh kalau suami gak manggil aku Jo.

Memang sih panggilan Jo itu nggak serta merta. Itu hanya panggilan saat percakapan sederhana. Ketika dalam percakapan serius dengan orang atau cuma berdua, suami keluar wibawanya. Yang tadinya manggil Jo berubah jadi "Dek". So, jika sudah begini aku juga ngikutin irama suami dengan manggil "Mas".

Friday, December 05, 2014

Terapi Pijat Tusuk Jari Abah Ali Mustofa Sidoarjo



Terapi pijat ini termasuk yang dikunjungi bapak, pijat tusuk jari Abah Ali Mustofa di kawasan Bluru Kidul. Jauh sebelum bapak minta antar ke sini, aku sudah dikasih tahu sama seorang teman yang sedang program hamil dengan pijat tusuk jari di sini. Belum sempat ke tempat ini bapak mertuaku ternyata tahu juga tempat terapi ini dari temannya, dan minta diantar ke sini untuk terapi pemulihan sakit stroke-nya.

Waktu itu bulan Ramadhan, kami sudah pindah ke rumah sendiri dan lebih dekat engan mertua. Yang anter 3 orang, suami, kakaknya jadi sopir dan aku penggembira. Berangkatnya menjelang maghrib, sampai-sampai kemaghriban dan buka di tengah jalan.

Walaupun juga menerima program hamil dan kami berniat akan mencoba ikhtiyar di sini, suamiku tetap tidak mau pijat sekalian sama bapak waktu itu. Disamping alasannya mengganggu waktunya mepet karena Ramadhan, aku yakin suamiku gak mau karena yang memiliki niat ke tempat ini adalah bapak, bukan kami. So, walaupun waktu itu suami menjanjikan akan kembali lagi sendiri untuk niatan promil, sampai sekarang belum juga balik.

Saat memasuki area terapi pijat, suasananya seperti padepokan. Area parkirnya luas dan tempat terapinya bersih. Terdapat tiga baris tempat tidur yang berjejer rapi dengan sprei seragam. Sementara dinding-dindingnya beronamen kayu, begitu juga kamar mandinya. Selain lantai bawah, masih ada lantai atas dengan desain serupa. Sepertinya tempat terapi ini akan selalu siap untuk para rombongan yang datang dari jauh. Karena ada beberapa terapis yang dipekerjakan di tempat ini.

Saat pasien datang, langsung disambut dan ditangani oleh karyawannya Abah Ali. Pijatnya kayak di betot-betot dan sambil ditekan-teman dengan satu jari. Kayaknya si sakit. Beberapa kali bapak jejingkatan, begitupun pasien perempuan lain yang sedang terapi. Tapi katanya setelah dipijat badan jadi enteng.

Usai di pijat, pasien langsung diberi jamu. Aslinya jamunya buat umum, bisa ambil sendiri, kalau nggak salah satu gelas nggak sampai 5.000. Sementara untuk biaya langsung masuk kotak amal tergantung pasien.

Ruangannya bersih



Thursday, December 04, 2014

Pertimbangan Sebelum Membeli Mesin Cuci

Akhirnya kami membeli mesin cuci juga setalah mempertimbangkannya selama dua tahun. Hihi lama banget yak. Di awal-awal si suami selalu nawarin buat beli mesin cuci. Aku selalu menolak karena saat itu kami pertama kali pindah kontrak dan belum punya kulkas. Mending beli kulkas, kalau mencuci bisa sambil olahraga. Pikirku.

Sampai pindah ke rumah sendiri, suami masih nawarin buat beli mesin cuci. Naluri perempuan selalu berbeda. Selama aku masih kuat mencuci kenapa harus pakai mesin cuci? Mending uangnya buat beli perhiasan. Hehe

Baru saat hamil aku ngerasain apa yang dirasain suami. Kenapa selama ini dia selalu nawarin buat beli mesin cuci melulu? Melihat suami yang setiap hari nyuci tanpa mau aku bantu rasanya tuh nyesek. Aku gak bisa ngapa-ngapain selain nungguin dia di depan kamar mandi. Dia capek-capek pulang kerja harus nyiram tanaman, ngepel, masak belum tengah malam mencuci. Melihatnya berjibaku seperti ini rasanya sudah mulai butuh mesin cuci. Eh giliran, si suami yang nunda-nunda. Katanya sayang, uangnya buat biaya lahiran.

Duh enggak tega aku, langsung deh aku minta diajak ke toko elekteonik meski pun sambil jalan kayak siput. Nah sebelum membeli aku sudah cari informasi tentang mesin cuci supaya gak bingung milihnya. Apa saja sih pertimbangannya?
  1. Top Load or Front Load?
  2. Mesin cuci bukaan atas atau bukaan depan? Ini yang galau. Kalau kata temen suami yang punya uasaha laundry nyaranin buat beli yang bukaan depan. Menurut informasi di internet emang bukaan depan lebih maksimal. Nyucinya lebih bersih dan lebih kering. Tapi kenapa aku beli yang Top Load alias bukaan atas? Hmm... pertimbangannya sih supaya lebih awet. Hehe. Logikanya kalau tutup atas bermasalah mesin cuci masih bisa dipakai. Emang sih tutup ada sensor yang kalau kebuka mesin gak bisa nyala. Tapi kan bisa diakalin, sementara kalau bukaan depan kalau rusak ya bener-bener gak bisa dipakai. Lagian siapa juga mau beli mesin cuci cepet rusak ya, hehe, pengennya sekali beli buat sumur hidup sih kalau bisa. wkwkwk. Tapi alasan yang lebih rasional, untuk rumah tangga emang cocok yang bukaan atas. Yang enggak nuntut kudu kualitas. Karena pakaian rumah tangga umumnya gak kotor-kotor amat. Paling juga keringat. Kalaupun ada yang kotor membandel enggak ada salahnya sesekali sikat pakai tangan. Yang pasti top load lebih murah deh. Ini yang menurutku bukaan atas lebih favorit lebih banyak pembelinya daripada bukaan depan.



  3. Mesin cuci dua tabung atau satu tabung?
  4. Ini yang awalnya enggak aku tahu perbedaannya. Jadi ternyata mesin cuci itu ada yang bertabung dua dan bertabung satu. Ada yang pengeringnya jadi satu dalam satu tabung, ada juga yang terpisah. Beberapa bulan lalu ada tetangga yang nawarin mesin cuci dua tabungnya mau dijual murah. Karena masih sayang-sayangna sama uang buat ditabung, untung aku tolak. Ternyata mesin cuci dengan satu tabung lebih membantu. Jadi kita nggak perlu repot-repot buat mindahin hasil cucian ke tabung satunya. Pengalaman aku pernah pakai mesin cuci dua tabung punya mertua, hasil cuciannya kudu peras sendiri sebelum dipindah ke pengering. So kadang ada air yang netes-netes ke dalam mesin, jadi mesinnya kadang konslet suka nyetrum gak jelas. Lagipula kalau masih mengandung air spin (mesin pemutar)nya sering gak imbang karena keberatan, spinnya jadi susah buat mutar. Tapi kalau dengan satu tabung, setiap habis nyuci selalu diakhiri dengan spin. Mau itu dalam kondisi mencuci, maupun pembilasan.



  5. Kapasitas mesin cuci
  6. Kalau kapasitas aku milih sesuai kebutuhan yang paling kecil, kebetulan yang paling kecil ukurannya 7kg. Juga menyesuaikan dengan tempat dimana mesin cuci kami letakkan. Sehingga pas dan tidak memenuhi ruangan.



  7. Mesin cuci otomatis atau manual?
  8. Kebanyakan mesin cuci dengan satu tabung memiliki tekhnologi lebih tinggi dengan penggunaan mesin otomatis. Sistem kerjanyapun seperti komputer yang menggunakan memory sehingga dapat merekam perintah kerja. Sehingga sambil mencuci bisa ditinggal buat ngerjain yang lain, mesin cuci akan berjalan sendiri sampai perintah kerjanya selesai. Mulai dari pengisisan air, kapan waktunya membutuhkan air mesin cuci akan mengirimkan perintah membuka kran atau sebaliknya menutup kran ketika tidak membutuhkan air. Jadi memang membutuhkan pompa air otomatis. Kebetulan pompa air di rumah tidak otomatis, dan suami belum sempet benahin. Jadi sementara ketika mencuci aku kudu jaga-jaga nyalakan-matikan kran kalau sewaktu-waktu mesin cuci ngasih signal butuh air.



  9. Budget berapa untuk mesin cuci merk apa?
  10. Sebelum merk yang aku tentuin dulu budget yang aku punya berapa? Kebetulan dari awal sudah sepakat sama suami nggak beli mesin cuci yang lebih dari 2,5 juta. Beli yang standart saja. Kalau sudah nentuin budget, nggak bakalan bingung buat beli mesin cuci merk apa. Tinggal kitanya nggak boleh lapar mata. Harus patuh pada budget yang ditentuin. Prinsipnya memang harga nggak boleh lebih dari budget yang ditentukan. Kalaupun nambah-nambah sedikit gak lebih dari 10% dari budget menurutku masih wajar. Alhamdulillah dengan uang segitu masih lebih buat beli mesin cuci yang sesuai keinginan. Awalnya kepincut buat beli yang tekhnologi korea saja, tetapi karena masih cukup akhirnya beli yang katanya merk terbaik costomer's choice. Merknya apa ya? Rahasia ah, aku nggak dibayar buat review. :D

Sengaja nggak diliatin merknya :p

Program Hamil Dengan Berbhakti Pada Orang Tua

Aw miss my blog. Rasanya sudah banyak debu yang kudu dibersihkan di blog ini. Dari kemarin tiba-tiba kebangun jam 3 dini hari, bedanya kalau kemarin mabok sampai lemas, pagi ini malah kelaparan minta makan. Untung nasi bebek "Purnama" yang semalem dibelikan suami aku makan separoh, jadi gak mubadzir. Ceritanya, semalem emang masih runtutunan mabok, jadi gak bisa makan banyak. Sekarang tinggal lapernya. Abis makan enggak bisa tidur, langsung buka hape dan pengen nulis sambil nunggu subuhan.
sumber: hamiltips.blogspot.com
Hamil setelah 4 tahun menanti emang berjuta rasanya ya. Kadang aku sendiri enggak percaya jika aku sedang hamil. Sering ditanya sama tetangga-tetangga, "periksa dimana?" atau kalau teman-teman yang sedang program hamil, "promil apa?"

Jujur, aku enggak kepikiran buat promil sebelumnya. Istilah promil saja baru terdengar baru-baru ini setelah hamil. Taunya aku, ikhtiyar. Itupun kami lakukan di pertengahan dan cuma sebentar.

Setahun pernikahan bayang-bayang momongan masih belum seberapa dekat, meskipun ada juga rasa berharap. Baru terasanya pas tahun kedua, sejak kami ngontrak rumah sendiri. Kepikiran buat mencoba saran beberapa teman ke beberapa pengobatan alternatif salah satunya di Mojokerto dekat pabrik Ajinomoto. Itu pertama kalinya aku promil dan cuma bertahan di 3 kali kunjungan saja.

Paling susah memang meyakinkan suami buat percaya. Kalau kata orang, keyakinan itu bisa membawa keberhasilan. Padahal pengobatannya juga jauh dari hak syirik. Cuma dipijat dan dikasih racikan jamu yang diseduh sendiri.

Memang sih, saat aku membujuk untuk memulai promil suami seringkali mengingatkan aku, bahwa keyakinan utama hanya kepada Allah. Promil adalah jalah ikhtiyar. Kalaupun promil berhasil yang perlu mendapat syukur hanya Allah, bukan mendewakan promilnya atau orang yang sudah membantu promil, terapis. Misal kebanyak orang-orang yang pijat di tempat ini-itu kemudian hamil, biasanya akan woro-woro kalau pijat tersebut ampuh dan bisa membuat orang cepat hamil. Sekalipun banyak juga berhasil promil menggunakan di kedokteran, mereka cukup sebagai perantaranya saja.

Kondisi suami yang seperti inilah yang juga meruntuhkan kepercayaanku pada program hamil. Lama-lama kegiatan promil ini berhenti sendiri. 

Sampai pada suatu ketika bapak mertua selalu 'ngalem' alias manja pada kami. Apa-apa manggil kami. Mau berobat kesini kesana minta diantar kami. Padahal aku dan suami tinggal lumayan jauh dari rumah mertua. Masih ada kakak dan adik-adik ipar yang dekat dan seatap sana mertua. Apa-apa mintanya sama suamiku.

Dan si bapak mertua kerap minta aku ikut. Padahal posisiku kadang sebagai penggembira saja diperjalanan. Sudah ada suami yang mapah bapak. Paling-paling nyiapin sendal kalau mau turun mobil.

Pengobatan yang dikunjungi bapak macam-macam. Namanya ikhtiyar, segala macam alternatif dicoba, mulai dari pijat, bekham dan beberapa diantaranya termasuk menerima program hamil.

Seringkali aku dan suamiku dipaksa buat nyoba. Tetap saja suami menolak. Alasannya karena tujuan utamanya memang untuk berobat bapak bukan promil. Suami selalu tidak suka jika sudah menyimpang dari tujuan utama. Tetapi kalau sedekar misal pijat masih mau dan dibolehin, tetap memang bukan tujuan promil. Dan sesekali selain pijat di beberapa alternatif itu, kami juga kerap ikut minum jamu yang di suguhin. Mulai jamu beneran, kopi susu kambing, sampai air minun yang sudah didoain. Kami jadi ikut ngerasa sehat ikut nganterin bapak mertua.

Jadi kalau ditanya aku promil apa, aku bingung ngejawabnya. Karena promilnya mencar-mencar saat ikut bapak mertua berobat. Kalau promil kan gak sekali dua kali, kudu rutin, itu kali ya alasan si suami enggak mau nyoba meski dipaksa orang tuanya.

Tapi kalau aku boleh bilang, program hamil yang coba dijalankan suami kepadaku adalah bentuk kebaktian kepada orang tuanya. Diawal-awal emang rasanya terpaksa banget buat ikut nganterin mertua. Rasanya kok nggak adil, masak selalu aku yang disuruh-suruh. Masih ada ipar-ipar yang lain. Tetapi si suami dengan sabar membujuku untuk selalu ikut. Katanya bapak mertua suka sama aku. Seneng kalau aku ikut. Jadi rame. Entah bener atau tidak tapi kadang ngerasa cuma cara suami membujuk aku doang. Lama-lama aku terbiasa dengan tingkah manja bapak mertua yang kadang nyebelin itu. Iya sih, kadang suami juga ngerasa bapaknya nyebelin juga. Tapi aneh, si suami selalu nurutin si bapak.

Memanh, dari sejak aku dijodoh-jodohin sama suami dulu, suami terkenal dengan ketawadhu'annya kepada orang tua. Ini yang membuatku kepincut, hihi. Hal itu yang selalu membuat mertua manjanya ke suami. Jarang sekali membantah sekalipun diluar kehendaknya. Terlepas dilakukan atau tidak perintahnya, itu masalah lain. Yang penting didepan orang tua tidak membantah. Makanya, di keluarga suami terkenal juga yang paling mokong alias bandel, tapi paling sayang dan disayang orang tuanya.

Kalau suami bilang orang tua itu seperti panitia ospek, "point pertama, orang tua selalu benar. Point kedua, jika orang tua salah maka kembali ke point pertama". Orang tua benar atau salah, suami jarang sekali melihatnya ngeyel depan mertua, ngeyelnya pasti di belakang sama aku doang.

Hihi jadi panjang ya. Mungkin ini lebih tepatnya.

"RidhoNya Allah juga ridhonya orang tua"

Karena didalamnya termasuk ridhonya suami ada dalam ridhonya orang tuanya
hal itu yang memposisikan istri harus taat kepada suami

Thursday, November 13, 2014

Fase Menanti Kehamilan

"Kamu kok Belum Hamil?"

Entah jawaban seperti apa yang diharapkan dari si penanya. Memang kondisinya demikian. Adik ipar yang menikahnya baru 2 tahun, anaknya sudah berumur satu tahun. Logikanya memang aku sudah tersalip, bahkan oleh beberapa kawan yang baru saja menikah. Tapi salahnya dimana? Apakah hamil itu seperti Motto GP yang saling balap? Atau seperti antrian di pom bensin, siapa yang lebih dahulu menikah dia akan lebih dulu hamil?

Tidak.

Memang tidak. Hamil bukan semudah membuat kue, dibuat kapan dan bisa jadi seperti kue setelah proses pembuatan kue itu selesai. Tetapi hamil? Ada proses ilahi yang tidak disadari manusia. Itu yang orang bilang karunia. Dan mungkin belum saatnya saja karunia itu diberikan. Sehingga pertanyaan di atas itu hanya bisa dijawab oleh Yang Maha Pemberi Karunia?

Sayangnya tidak semua orang memahami setiap kondisi lawan bicara, maunya kita yang memahaminya. Mungkin bagi sebagian orang itu seperti pertanyaan biasa, tetapi bagi yang 2 tahun, 3 tahun, 7 tahun bahkan 15 tahun menanti momongan bisa menjadi hal sensitif. Saking seringnya pertanyaan tersebut, akan timbul 3 fase dalam diri ketika menghadapi kondisi ini:
  • Fase biasa: pertanyaan tersebut akan nampak biasa sehingga dengan mudah meladeni segala macam pertanyaan yang muncul. Karena pada dasarnya manusia tidak pernah merasa puas dengan sekali jawaban. Akan muncul pertanyaan-pertanyaan lain.
  • Fase sensitif: dimana kondisi mulai jengah dengan segala macam pertanyaan serupa. Kadang jawaban-jawaban yang meluncur justru terkesan sinis. Pada fase ini seringkali timbul lupa diri bahwa yang mereka tanyakan bukan kepada diri ini, melainkan kepada Sang Pemberi Karunia. Jika aku juga meladeninya dengan sinis, bukankah kesinisanku juga kutujukan kepada-Nya? Akan tidak seimbang dengan doa-doa yang aku minta selama ini.
  • Fase kebal: ini yang kusebut fase pasrah. Saking seringnya menerima pertanyaan serupa, pada daun telinga sudah mulai kapalan. Memang aku tidak bisa menemukan jawaban yang benar dari kamus manapun, tetapi setidaknya aku bisa memberikan senyumku, sehingga tak timbul pertanyaan-pertanyaan lainnya. Karena pada fase ini, aku mulai mencoba tidak memusatkan pikiran pada satu hal itu. Bukan karena putus asa, tawakkallah lebih tepatnya. Semua sudah kami serahkan pada Yang Memberi Karunia. 

Sunday, November 09, 2014

Mitos Mimpi Air

Sumber: kehidupan-disekitarkita.blogspot.com
Ketika SMA temanku pernah cerita bahwa setiap dia mimpi air dia akan mendapat datang bulan pada hari itu. Sialnya, itu tertanam dalam alam bawah sadarku. Sejak itu, aku selalu mengingat-ingat, ketika malamnya mimpi air, pagi-malam aku siap-siap dengan tamu bulanan itu. Ah ya dan itu terbawa hingga sekarang.

Mimpi air yang kumaksud, entah mimpi berenang, mimpi kehujanan, diguyur orang hingga badan basah semua. Jika sudah mimpi seperti itu, entah bawaannya murung terus seharian. Tiba-tiba perut kram dan punggung sakit, tak lama aku ke kamar mandi dan sudah muncul noda tanda si tamu sudah datang.

Bisa dibayangkan, 4 tahun aku menantikan kehamilan, tentu mimpi air menjadi mimpi yang menyeramkan bagiku. Seringkali aku tertangis setelah mendapatkan mimpi air. Rasanya ingin sekali aku menghapus air dalam alam mimpiku agar dia tak pernah datang.

Pernah juga cerita tentang ini ke suami, yang namanya lelaki sangat jarang yang percaya mitos. Dengan sabar ia selalu membesarkan hatiku, mimpi air ataupun tidak, jika sudah waktunya Allah memberi kehamilan aku akan hamil.

Setelah hamil, mimpi air bukannya hilang, malah kerap datang sampai usia 9 minggu ini. Anehnya, dalam mimpi meskipun aku sedang berenang atau kehujanan, tubuhku tak pernah basah. Atau ketika hendak mandi tiba-tiba salah masuk kamar mandi atau air di bak mandinya kosong yang menjadikan aku gagal mandi. Dan yang paling aneh, mimpi berenang di laut, tiba-tiba airnya surut.

Ada yang bilang mimpi memang bunganya orang tidur, tetapi kadang mimpi itu juga memiliki arti. Kalau mimpi setiap hari? Duh Gusti Allah, hamba selalu percaya Engkau yang akan menjaga kehamilan ini.

Sunday, November 02, 2014

Dikunjungi Paman Bule Ausie

Bersama Paman Bule
Namanya Billy warga kebangsaan Australia yang kukenal sejak 4 tahun silam. Sudah beberapa kali mengunjungi Indonesia, khususnya Surabaya. Sayangnya, aku selalu tidak punya waktu untuk meet him. Pertama memang nggak punya waktu. Kerja dari pagi sampai sore. Sementara uncle Bill jika ke Surabaya selalu ingin diajak jalan-jalan. Dari jauh hari sebelum datang, kami (teman-teman satu kost) harus punya jadwal akan kemana saja saat uncle Bill di Surabaya.

Jadi kami anak satu kost kayak keponakannya. Semua teman-teman kostku seperti mendapatkan kegembiraan kala uncle Bill datang. Karena pada saat itu adalah waktunya liburan dan makan-makan. Ke Malang, ke Bromo, ke Madura. Cuma aku saja yang enggak pernah ikut serta, paling-paling kebagian oleh-oleh ceritanya.

Yap, kebanyakan teman kostku itu anak kuliah dan pekerja part time jadi bisa ikut traveling seharian rame-rame dengan paman bule itu. Setelah 4 tahun, baru kemarin aku bisa berjumpa dengan paman bule yang aku panggil Paman Bill.

Aslinya kasihan juga. Bisa dibilang kedatangannya kali ini dia kesepian. Enggak ada yang bisa menemani dia kemana-kemana karena kondisinya yang sudah berubah. Diantaranya sudah ada yang menikah dan bekerja. Jadilah kegiatan paman bule cuma di seputaran Mall Surabaya.

Aku berinisiatif mengundangnya ke rumah. Dan kemarin dia benar-benar datang dengan Annisa my besties friend, suaminya Mr. Singapore, dan Dina.

Untung ada Mr. Singapore yang bisa berbahasa dan menjadi translater paman Bill. Kadang paman Bill ngomongnya terlalu cepat, Annisa dan Dina yang jago bahasa inggris sering kwalahan. So, kalau ngobrol kadang pakai ditulis dulu supaya paham.

Seru banget, enggak ada persiapan apa-apa. Aku sediain gado-gado dan cemilan tradisional plus jus kelapa. Mereka (paman Bill dan Mr. Singapore) menyebut es kelapa muda sebagai jus kelapa, wkwkwk.

Yang awalnya aku kuatir suamiku bakalan mati kutu depan mereka ternyata salah. Justru suami memiliki ketertarikan ngobrol dengan Mr. Singapore. Suamiku paling pemalu apalagi gak bisa bahasa inggris. Jadi betah karena Mr. Singapore ngobrolnya pakai bahasa. Gak kayak aku bisa gak bisa tetap malu-maluin. Hehehe

Suamiku, Mr. Singapore, Paman Bill, Aku, Mrs Singapore and Dina
Welfie minus suami dan Mr. Singapore
Mr. Singapore asyik ngobrol agama dan politik dengan suami. Oh iya Mr. Singapore ini muslim


Feel Free To Follow My Blog