Wednesday, May 14, 2014

Haus

Wordless Wednesday: Primata di kawasan air terjun Grojogan Sewu, Tawangmangu, Solo ketika berkunjung kemari bersama teman-teman BPP FLP 2013-2017. Foto diambil oleh Mas Aferu Fajar

Tuesday, May 13, 2014

Lace Outfit

Courtesy Foto dari ummu Nawazim
Awalnya ragu juga sih, memakai atasan dan bawahan sama-sama berbahan lace. Meskipun bukan baju baru, sebelumnya aku belum pernah memadukan keduanya. Dalam bayanganku terkesan monoton. Apalagi outfit yang kupakai ini untuk acara formal "Bedah Buku Jangan Menyerah" di Yogyakarta, dan aku sendiri sebagai nara sumbernya. Outfit juga masuk hitungan supaya aku percaya diri.

Maka dari itu ketika berangkat aku siapkan packing 2 outfit. Jika sewaktu-waktu aku berubah pikiran. Outfit lace ini dan satunya Luela Mae dress Shabila yang sering banget kupakai, salah satunya ketika foto di Landmark Malang ini.

Melihat teman-teman ketika bedah buku outfitnya enggak melulu harus formal, malah beberapa penulis hanya menggunakan kaos. Luela Mae dress yang biasanya kupadukan dengan blazer, kali ini cukup memakai dalaman. Hanya saja dalamannya yang kurang kece. Justru outfit ini yang kucoba pertama kali di hotel ini. Untuk menguji kepercayaan diriku, kupakai jalan-jalan sebentar dengan berinteraksi dengan petugas hotel. Rasanya kok enggak PeDe ya. Akhirnya lace outfit inilah yang kupilih, meskipun dalam hati ada perasaan sedikit enggak "matching" tapi aku Pede memakainya. Aneh ya.

Eh tapi kok usai acara ketika kulihat di dalam kamera hasilnya lumayan juga. Kalau dalam game fesyen disebut Signature outfit. Mungkin karena pengalaman ketika aku salah memadukan lace skirt ini dengan atasan drapery berpeplum. Sehingga membuat tubuhku nampak gemuknya. Seperti timbul trauma ketika memakai lace skirt ini.
Tuh kan yang kiri enggak banget karena salah padu padan :(
Dan enggak hanya di acara, atasan lacenya juga kupakai jalan-jalan arround Jogja malam di Malioboro dan siangnya Wisata Keraton hingga pulang terlambat naik kereta masih menempel nih baju. Jadilah dua hari enggak ganti pakaian saking cintanya sama atasan lace ini. Padahal warnanya sudah bulukan dan di beberapa bagian benangnya lepas tapi aku tetap suka. Jadi pengen nambah koleksi lace lagi hehehe.
Outfit saat Wisata Keraton tetap mamakai outter lace
Outfut :
Hijab : handmade rajut buatan sendiri
Lace outter and inner : unbranded
Skirt lace : Moshaict

Monday, May 12, 2014

Taman Bungkul Rusak, Bu Risma Bersikap

Bu Risma mengambil sikap pembenahan langsung pada Taman Bungkul yang rusak (source:detik.com)
Seminggu ini, televisi rasanya jauh banget dari kehidupanku. Sejak persiapan acara syukuran lebon (memasuki) rumah sampai sekarang sudah beberapa hari pindah, belum juga menjamah televisi karena emang enggak ada. Sebagian barang masih ada di kontrakan termasuk televisi. Hingga aku ketinggalan berita dan baru tahu dari sumber pendatang blog ini dengan kata kunci, "Bu Risma marah, Taman Bungkul rusak." yang mengarah ke post "Bu Risma dan Taman Bungkul".

Lumayan kaget, ada-ada saja sih pencipta keyword ini. Dan tidak cuma satu dua tetapi ada puluhan keyword berbeda dengan maksud serupa. Searching-searching ternyata benar. Taman Bungkul yang pernah mendapatkan predikat taman terbaik se Asia itu rusak akibat terinjak-injak massa. Ya iyalah pasti diinjak, setiap aku ke sana pasti menginjak Taman Bungkul. Tetapi di sini yang diinjak tanamannya. Massa berebut es cream gratis yang dibagikan oleh sebuah perusahaan es cream internasional ternama hingga mengabaikan himbauan yang dipasang di setiap areal tanaman. 

Inilah pentingnya dipasang petugas keamanan yang senantiasa ditugaskan untuk mengingatkan pengunjung agar tak menginjak tanaman. Aku kerap ditegor petugas gegeara pengen foto dengan angel yang bagus hingga melanggar batas. Kadang ciut dan greget juga sih. Masa sebentar aja enggak boleh. Etapi kalau sudah begini baru aku sadar ternyata penting ya peran petugas?

Mungkin ketika itu koordinasi panitia dan petugas penjaganya kurang dibanding dengan massa yang ribuan. Namanya bagi-bagi gratis selalu menarik masyarakat untuk datang meskipun harga es cream konon katanya enggak sampai Rp. 2.000 lho. Apa mau nyalahin massa? Berani dengan ribuan orang?Hihihi bukan gitu sih, tentu yang bertanggung jawab kudu panitianya dong dong dong.

Dan aku apresiasi sikap Bu Risma yang tanggap langsung datang ke TKP pas kejadian. Wajar sih. Namanya usaha menjaga kelestarian alam Surabaya yang panasnya mulai menggila hingga tahunan, bisa rusak dalam sehari? Kupikir itu bukan kemarahan tapi sikap sebagai pemilik ibu kota. Aku yakin kita semua tentu tak ingin apa yang kita punya diporak porandakan begitu saja. Begitupun Bu Risma, walikota yang memang memiliki jiwa kepemilikan terhadap Surabaya ini. Berbeda jika tak ada rasa kepemilikan. Rusak yo ben, walikota ngurusi yang lain toh Taman Bungkul sudah ada yang ngurus. Pemimpin tinggal urusan belakang, Wani Piro?

Menginap Semalam di Cepuri Hotel Bersama Pacarku

Tampak dari depan Cepuri Hotel seperti rumah
Cepuri Hotel, salah satu penginapan yang terletak di kawasan Prawirotaman Yogyakarta. Banyak sekali pilihan penginapan di kawasan ini mulai dari hotel biasa sampai homestay, yang memang terkenal dengan kawasan penginapan murah di Jogja. Termasuk Cepuri Hotel.

Bentuknya memang mirip rumah. Memasuki ke dalam akan terlihat deretan kamar yang yang disewakan dengan rate harga masih dibawah Rp. 200.000.

Saat kami (aku dan suamiku) di Jogja, kami menginap di hotel ini untuk semalam. Sebenarnya sebagai tamu transfer dari hotel lain, yakni Hotel Muria yang kami tiduri malam sebelumnya. Karena di Hotel Muria enggak bisa memperpanjang penginapan untuk semalam lagi karena sudah terlanjur penuh dibooking orang lain. Pihak hotel mencarikan alternatif hotel lain yang sekelas dengan dengan Hotel Muria, berjodohlah dengan Hotel Cepuri ini.

Dari tarif harganya memang sama-sama Rp. 175.000 per malam. Tapi ternyata dari segi fasilitas Hotel Cepuri lebih nyaman. Sepertinya memang lebih profesional. Tadinya aku emang enggak punya foto-foto hotel karena emang lupa foto-foto, setelah searchibg ketemulah Hotel Cepuri yang kayaknya hotel biasa ternyata juga punya website sendiri cepurihotel.com.
Kamar 3A yang kami tempati. Meskipun foto pinjam tapi aku ingat dengan lantai dan dinding kaca sebelah kiri-kanan karena kamar ini tunggal enggak ada sisiannya.
Dari kamar yang kami tempatin di nomor 3A, tepat di samping pintu masuk. Ruangannya lebih luas. Terdapat almari pakaian, nakas rias, jemuran handuk, perlengkapan toileters sabun dan handuk, juga televisi serta sarapan walau sekedar roti dan teh hangat.

Menyenangkannya di luar kamar juga disediakan dispenser yang bisa dipakai untuk umum. Suamiku yang pecinta kopi, jadi enggak bingung mau ngopi kemana. Malam sebelumnya selalu ngajakin keluar hotel melulu untuk sekedar ngopi di warung kopi. Tapi di hotel ini suami jadi betah, tinggal keluar kamar untuk nyeduh kopi, sementara kopinya sudah siap sedua kopi sachet beli di minimarket saat keluar. Mau dinikmati di luar atau di dalam kamar suka-suka aja. Yang penting enggak capek-capek harus keluar hotel.
View dari kama kami, nampak berderet kamar hotel
Enggak nyamannya itu, ternyata hotel di kawasan Prawirotaman bebas masuk siapa saja. Maksudnya enggak peduli pasangan resmi atau enggak. Sejak masuk pertama kali di Hotel Muria, sama sekali kami tidak ditanyai tentang surat nikah. Padahal kami sudah siap-siap bawa dari rumah karena KTP kami belum serumah (sealamat), akunya yang belum pindah kewarganegaraan Sidoarjo. Cuma diminta KTP suami. Malah aku yang nawarin, "pakai surat nikah nggak mbak?" Tanya kutanya ke teman-teman, eh benar. Mungkin karena kawasan penginapan murah di Yogyakarta, banyak yang menyalahgunakan berasama pasangan tak resminya baik dari luar kota maupun dalam kota sendiri. Mirisnya penyewanya mahasiswa juga. Bisa jadi Pak Becak dan orang-orang yang pernah kami temui di kawasan tersebut mengira kami juga pasangan mesum kali ya. Padahal dia pacarku, pacar halalku.

NB: semua koleksi foto dari cepurihotel.com

Sunday, May 11, 2014

Sri Tanjung, Kereta Fajar Menuju Yogyakarta

Kereta api Sri Tanjung Ekonomi Jurusan Yogyakarta (sumber)
Merencanakan traveling tentu tak lepas dari perencanaan moda transportasi yang digunakan. Semenjak peremajaan sistem dan pengelolaan yang dilakukan PT. KAI (Kereta Api Indonesia), moda kereta menjadi favorit masyarakat. Apalagi keberadaan kereta ekonomi yang seakan naik kelas, dari segi fasilitas dari pendingin sekedar memakai kipas hingga penggunaan mesin pendingin AC, dan pelarangan penjual kaki lima di atas kereta, membuat nyaman penumpangnya.

Termasuk ketika kami (aku dan suami) ke Jogja kemarin, kami menggunakan moda kereta api ekonomi. Harga murah dengan fasilitas yang (lebih dari) sebanding.

Sejak seminggu sebelum keberangkatan aku sudah memesan tiket kereta api via online jurusan Surabaya-Yogyakarta. Karena aku menggunakan yang ekonomi, tentu aku memilih stasiun tujuan di Lempuyangan. Menurut pengalaman pernah transit sebentar di Jogja, ada dua stasiun berbeda yaitu stasiun Tugu untuk kelas selain ekonomi, sementara stasiun Lempuyangan hanya untuk kereta ekonomi saja.

Kebetulan kereta yang jam keberangkatannya sesuai adalah Kereta Api Sri Tanjung, tanpa pikir aku langsung pilih saja. Apalagi harga tiket kereta api Sri Tanjung ini termasuk kereta mendapat subsidi dari pemerintah. Tarif harganya jauh-dekat, naik dari stasiun awal (Banyuwangi) atau di stasiun manapun menuju Yogyakarta tarifnya sama, 50.000 rupiah. Enggak tahunya kereta Sri Tanjung tujuan akhirnya memang di stasiun Lempuyangan di Yogyakarta.

Kami naik via Stasiun Gubeng, Surabaya pukul 13.45. Padahal kereta api Sri Tanjung sendiri berangkat dari Banyuwangi juga lewat Stasiun Sidoarjo. Merupakan kereta timur (fajar) yang menuju Yogyakarta. Kami baru tahu ketika berada di atas kereta ngobrol dengan penumpang kereta lain yang naik dari stasiun Pasuruan.

Entah kenapa pas mencari pilihan kereta aku enggak ngetik jurusan Sidoarjo-Yogyakarta. Kupikir setiap kereta jurusan akhirnya di Surabaya dan kalau ke kota timur seperti Banyuwangi kudu oper kereta lain. Kesotoyan tanpa mencari informasi yang jelas inilah yang membuat salah paham. Seandainya sejak awal tahu, enggak akan ada acara terburu-buru ngejar kereta. Mengingat perjalanan dari rumah ke stasiun Gubeng Surabaya memakan waktu satu jam. Berutung, kami tepat sampai di Gubeng saat kereta mau berangkat.

Wisata Keraton Ngayogyakarta

Ornamen dari salah satu pagar kraton Yogyakarta
Yogyakarta memang menjadi wisata favorit di Jawa, banyak kalangan turis yang memilih Jogja sebagai destiny wisata setelah Bali. Begitupun anak sekolah, ketika libur sekolah, Jogja juga cocok sebagai wisata edukasi. Selain terdapat universitas negeri besar juga menjadi edukasi sejarah Jawa yang selalu mengikat pada karakter kota yang lebih dikenal turis dengan Jogja kota gudeg.

Libur 1 Mei hari buruh kemarin, aku yang mendapat undangan mengisi acara bedah buku "Jangan Menyerah" yang diadakan oleh Yatim Mandiri Yogyakarta, memang sengaja mengajak suami serta. Selain satu stempel dengan tempat suami kerja di cabang Sidoarjo yang juga otomatis kenal dengan rekan-rekan seperjuangannya, juga tujuan lainnya ingin liburan bersama yang belum pernah kami lakukan. Sama halnya seperti yang aku katakan pada postingan ini, lagi-lagi liburan tidak sengaja sambil kerja tapi kami happy, suami dapat cuti Jum'atnya sehingga bisa nambah berlibur satu hari di Jogja untuk eksplor keraton Yogyakarta yang kami berdua belum pernah menjamah ke dalamnya. 
Salah satu ruangan kaca berisi barang-barang Sultan
Pada malam hari sebelumnya kami bimbang antara ke keraton Jogja dengan ke pantai parangtritis. Sebenernya pengen bangetnya ke Candi Borobudur. Karena jauh dan memakan waktu satu jam, pilihan kami ke dua tempat tersebut. Mengeksplor keduanya pun tidak mungkin, hari jumat amat singkat waktunya sementara kereta kami ke Suarabaya jam 13.43. Oleh pak becak kami disadarkan, "kalau pantai dimana-mana hampir sama mbak, mending ke keraton saja. Turis di sini lebih memilih ke keraton daripada ke Parangtritis." Hehe benar juga ya? Kalau cuma sekedar pantai, di Surabaya ada pantai kenjeran, tapi keraton hanya bisa ditemukan di Yogyakarta. 
Di salah satu ruangan berisi lampu-lampu koleksi sultan 
Keraton Yogyakarta buka setiap hari mulai pukul 08.00-14.00. Jumat itu kami tiba pukul 09.00 menumpang betor (becak motor) yang kami sewa Rp. 20.000 dari penginapan di kawasan Prawirotaman. Sudah banyak pengunjung termasuk turis lokal maupun bule dan siswa sekolah yang liburan.

Kami langsung menuju Tepas Pariwisata untuk membeli 2 tiket untukku dan suamiku, @Rp. 5.000. Dan mendaftarkan ijin kamera yang kami pakai untuk memotret Rp. 1.000. untuk semua jenis kamera besar, kecil, maupun sekedar kamera Handphone. 
Di depan pintu masuk keraton
Setelah mendapatkan 2 tiket, kami menuju pemeriksaan tiket oleh petugas yang merupakan abdi dalam keraton. Lolos pemeriksaan kami disambut dengan topeng wajah yang menempel di dinding.

Semakin ke dalam terdapat beberapa bangunan dengan akses jawanya. Rata-rata berbentuk balai luas, lebih luas daripada lapangan bola, yang hampir semua lantainya terbuat dari marmer menampakkan kejayaan sang Sultan. 

Pengunjung tidak diperbolehkan naik ke atas balai marmer cukup melihatnya dari jauh. Ada batas-batas dengan warning yang ditulis dalam Bahasa maupun English. Sementara halaman keraton yang luas banyak ditumbuhi pepohonan. Panasnya Jogja siang hari tidak terasa dengan semilirnya angin. 
Depan gerbang atau pintu besar menuju area lain
Kami cukup puas wisata ke Jogja kali ini. Wisata yang biasanya hanya bisa kami lakukan dengan rombongan, bisa kami lakukan mandiri. Lebih enak tak terikat waktu. Kami bisa puas berlama-lama di keraton. Beberapa ruangan yang kami eksplor cukup banyak diantaranya, ruangan alat-alat makan Sultan, lampu-lampu koleksi sultan, koleksi guci dan keramik Sultan, singgasana Sultan, menyaksikan abdi dalam rapat, memberikan dan banyak lagi.

Berbeda dengan ketika aku wisata rombongan dengan teman-teman SMPku dulu. Jangankan untuk berlama-lama, masuk ke keraton saja tidak bisa karena kepentok waktu, keraton sudah tutup. Maka wisata ke keraton kali ini bisa menjadi unforgetable journey yang menyenangkan disamping juga bersama suami tercinya. :)

Friday, May 09, 2014

Memotivasi Anak-anak Yatim Yogya dalam Bedah Buku Jangan Menyerah

Dalam sesion bedah buku Jangan Menyerah, memotivasi anak-anak Yatim Yogyakarta
Menjadi Yatim bukan sebuah pilihan, jika aku boleh memilih aku juga ingin hidup sempurna seperti yang lain bersama Bapak Emak sampai mereka tua menyaksikan aku lulus sekolah, menikmati hasil kerjaku, menjadi wali nikah, atau bahkan juga merasakan bagaimana merawat mereka saat tua. Namanya takdir, sebagai yatim aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya, pasrah dan tetap bersyukur apapun kondisinya.

Tetapi tidak semua anak Yatim demikian, termasuk aku dulu sempat psimis dengan kehidupanku sendiri. Bayang-bayang bagaimana aku akan melanjutkan sekolah? Bagaimana aku bisa makan dan bagaimana-bagaimana-bagaimana yang lain, hingga 1 Mei kemarin dihadapan anak-anak yatim Yogyakarta, pengasuh panti, dan teman-teman panitia dari Yatim Mandiri Yogyakarta aku flash back kembali tentang bagaimana perjuanganku menakhlukkan semuanya. Dan aku baru menyadari ternyata semua bisa kulewati dengan baik, hingga aku bisa menjadi seperti sekarang.

Memang tidak mudah, terkadang masyarakat masih memandang sebelah mata dengan keyatiman. Menganggap anak yatim perlu dikasihani sehingga yang dibutuhkan hanya uang dan makan. Padahal jauh lebih baik bila kami diberi kail daripada ikannya. Apalagi kerap ketika anak yatim hidup di panti asuhan, setiap hari dijejali ikan matang tanpa tahu bagaimana proses mendapatkannya, tanpa dibekali bagaimana ia bisa bertahan hidup di tengah masyarakat nantinya.

Bapak memang tempat mencari nafkah, tempat bergantung ketika kami butuh uang jajan atau bayar sekolah. Begitupun, ibu juga tempat jujukan ketika kami kelaparan, masakan-masakannya selalu kami rindukan. Tetapi tahukah? Saat kami kehilangan salah satu atau keduanya, kami kehilangan segalanya. Bukan tentang hanya makan dan uang, lebih dari itu yatim amat mendambakan kasih sayang terutama semangat hidup yang sama ketika Bapak Ibu masih hidup.

Dan semangat itu bisa didapatkan ketika kita mempunyai cita-cita. Bagiku cita-cita bukan ada di langit atau menggantung di awan yang tak dapat kita raih. Tapi ia tertanam dalam hati (read: jantung) pemiliknya. Ketika langkah hidup mulai goyah. Alarm cita-cita akan berdenyut mengingatkan pemiliknya. Dan ketika itu terjadi semangat akan mengepul kembali. Tinggal kita mau bergerak atau tidak.

Menerima plakat kenang-kenangan dari Yatim Mandiri Yogya oleh Bapak Eko Pambudi Kacab Yatim Mandiri Yogyakarta
Foto bersama moderator Mbak Floweria, Bapak Eko Pambudi, Mas Eko Prayitno Penulis Orang Miskin Dilarang Sakit dan Aku

Feel Free To Follow My Blog