Pejalanan Pena ke Sekolah Part IV : Menebar Virus Ayok Mengawali Menulis


Untuk part 1 bisa baca di sini dan part 2-nya ada di sini

Banner yang seharusnya di pake tapi enggak jadi :D


Saya khawatir enggak bias tidur lagi, usai acara hari sabtu itupun saya enggak berani tidur ya dengan harapan bias tidur nyenyak malamnya. Dan berhasil karena saya tidur di rumah kakak saya :D hehehehe, solusi terbaik memang :D disamping itu disana saya bias ngonline untuk menulis dan mengupdate blog teramsuk update status juga. :D satu dayung dua sepuluh pulai terlampaui.
Setelah bangun pukul 3 pagi saya langsung bersiap enggak mau terjadi berantakan. Karena saya musti pulang dulu ke rumah sendiri yang jaraknya enam kilo, dan balik lagi ke rumah kakak saya satunya (cak Andik) untuk pinjam lepi, masih ingetkan di post sebelumnya saya enggak bawa lapi L. Alhamdulillah meski harus bolak-balik tapi semua teratasi dan bisa sampai di sekolah sebelum waktunya pukul 07.00. Yups satu jam saya nunggu lebih awal.
Di sekolah tak banyak yang saya temui selain pak Ngadi, tukang kebun sekolah. Secara hari minggu memang hari libur githu lho. Dan pak Ngadi dengan sangat baiknya mau membukan pintu laboratorium buat saya. Terimakasih pak.
Oh ya, saya sempet malu untuk kedua kalinya lho. Setelah saya malu di dalam ruang guru kemarin. Ternyata pak Ngadi dan istrinya yang menjaga warung (kantin milik pak Ngadi) masih ingat sama saya meski 11 tahun silam telah berlalu. Ternyata oh ternyata keluarga pak Ngadi masih keluarga saya, katanya orangtua istrinya itu masih saudara sama embah saya. Ya, saya ingat mbah saya pernah berkata kalo saudaranya banyak di desanya tempat pak Ngadi tinggal. Namun kata orang karena kepaten obor, banyak yang tidak tau kalau ternyata kita saudara. Ah, pak kenapa tidak bilang dari waktu saya sekolah dulu? Tau githu kan saya akan sering minta gratisan karena kita masih sodara kan. Hehehe
Di Laboratorium saya sendirian, setelah nyalain laptop saya, beresin buku, bikin undian, dan daftar hadir saya back to laptop lagi yang ternyata si SMP tercinta sekarang di pasang hotspot. Aih, kayak di café ya. Makin canggih sekolahan saya, tapi sayangnya ada user name password yang harus diisi dan saya enggak tau nge sms Jakapun juga enggak tau jadinya kecewa deh tabiat ngonline dan blogger saya enggak terlampiaskan.
Lama menunggu akhirnya anak-anak sudah pada datang juga dengan seragam kebesaran Dewan mereka. Ternyata meski minggu anak-anak rajin-rajin juga enggak mengurangi antusias mereka untuk mengikuti bedah buku saya meski hari libur adalah waktunya besenang-senang. Buktinya enggak ada yang terlambat semuanya hadir sebelum jam 08.00 mereka memenuhi ruangan laboratorium.
Acaranyapun berlangsung dengan sangat antusias, saya sempet kwalahan menjawab pertanyaan mereka. Seperti pertanyaan yang sering diajukan kepada saya ternyata masih banyak dari mereka yang susah mengawali untuk menulis.
Aslinya menurut saya bukan susah mengawali tapi seperti yang pernah saya alami dulu, saya terlalu sering memikirkan bagaiamana kata atau kalimat yang bagus untuk membuka tulisan. Ah, bagi saya itu mah ga penting bagus tidaknya yang penting tulis saja apa adanya. Urusan bagus mah, nanti juga bagus sendiri tinggal bagaimana kita mau menulis. Menulis seperti mengasah pisau, nggak akan pernah tajam kalau mengasahnya jarang-jarang. Seperti halnya menulis, belajar menulis itu bukan mengenai bakat tapi mengenai kemauan untuk menulis setiap hari. Semakin lama pena diasah dengan menulis saya yakin pena kita akan semakin tahu pada bagian mana tulisan kita yang harus diperbaiki nantinya.
Jika kita mengawali menulis hari ini, jangan pernah menghakimi tulisan kita jelek, lebih-lebih jika kita bangga dengan tulisan kita sendiri dengan memuji tulisan sendiri. Toh sah-sah saja, itu yang akan memunculkan semangat kita untuk menulis lagi. Hargai apa adanya tulisan kita, setidaknya jika kita belum pede untuk mengirimkan ke media, kita cukup menyimpannya saja. Dan jangan pernah membuangnya. Yakin itu nanti akan menjadi kenangan yang sangat indah ketika nantinya kita berhasil membuat tulisan yang bisa di muat media atau dibukukan. Tapi, menulislah lagi, lagi, lagi dan lagi.
Rangkaian acaranyapun di tutup dengan doorprice buku-buku dari penerbit yang telah membukukan buku saya, LEUTIKA PRIO. Peserta sangat senang sekali ketika pada akhirnya sang penanya mendapat hadiah buku-buku leutika, jadi banyak yang ingin Tanya lagi. Namun tidak menutup kemungkinan untuk ditanyakan di luar acara. Buku saya yang hanya saya bawa beberapa eksempar jadi rebutan beberapa anak yang ingin dapat buku saya. Semua buku sama, jika kita bisa mengambil ilmunya :D
Terakhir saya ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak sekolah yang telah berkenan memberikan ruang dan waktunya, meski bapak Kepala sekolah tidak bisa hadir karena berhalangan, juga Bapak Edi atas sambutannya mengawali acara yang sempat mengingatkan kembali masa saya sekolah dulu, juga kepada kak Jaka teman seperjuangan saya.
Ucapkan terimakasih kasih juga teruntuk LEUTIKA PRIO sebagai supporter acara saya ini. Yang meski acara saya sempat tertunda seminggu dari jadwal acara, pihak leutika prio masih mempercayai saya dengan mengamanahi seabrek buku-buku doorprice dan Merchandise.
Dan terakhir kepada adik-adik saya di SMP Negeri 1 Dawarblandong, mari kita berkarya dengan pena[.]

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pejalanan Pena ke Sekolah Part III : Pra Acara Di Tengah Pertumbuhan Sekolah


Untuk part 1 bisa baca di sini dan part 2-nya ada di sini

Banner yang seharusnya di pake tapi enggak jadi :D

  Sampai di sekolah saya celingak-celinguk kayak ayam kalkun nyari mangsa, berharap ketemu seseorang yang sudah ada janji dengan saya. Gag mungkin juga kan saya langsung nyelonong ke anak-anak yang lagi latihan pramuka, lagian saya sudah tidak tahu lagi kelas mana yang di gunakan untuk latihan. Sementara kelas yang biasanya jadi langgangan tempat latihan pramuka kini kosong melompong tapi bukan gigi ompong. Smuanya bertumbuh dan berubah.
11 tahun silam dengan sekarang perubahan yang melintas dipikiran saya lebih dari tujuh puluh persen. Mulai dari bangunan-bangunan di sana-sini banyak yang asing dan baru, taman-taman sampai dengan ruang guru, kepala sekolah dan TU yang sekarang berada di tengah lapangan. Ya, dulu di tengah-tengah sekolah kami ada semacam lapangan rumput tempat kami upacara, senam pagi, olahrahga; lari, voley, sepak boal jadi satu disana. Rupanya lapangan rumput kini pindah ke belakang sekolah dan disulap jadi bangunan tersebut plus lapangan voley di depannya gedung.
Semakin kebelakang saya mendapati ruang kelas tempat belajar saya dulu ketika kelas dua. Dulunya kelas saya ada di tengah deretan kelas bagian utara bersama dua kelas lain, kelas II-4, II-5 dan I-1. Dan termasuk deretan gedung sekolah yang berbatasan dengan lahan pertanian sebelum warungnya pak Jupri, pemilik kantin sekolah. Namun, sekarang adalagi bangunan baru di belakangnya, sehingga ruang kelas saya tidak lagi paling belakang. Ah, jadi seperti mengingat kembali masa-masa saya SMP dulu.
Bukan hanya di bagian utara dan tengah saja, pertumbuhan yang saya lihat hampir menyeluruh ke semua penjuru, barat, selatan dan paling banyak saya temukan gedung baru di sebelah timur.
Setelah menemui Jaka, saya langsung menuju TKP yang rupanya anak-anak memang sedang latihan PBB di lapangan belakang. Saya samperin untuk sedikit ngobrol tentang latihan mereka. Karena bukan acara yang formal sayapun mengajak mereka duduk lesahan beralas tikar rumput. Ini adalah posisi yang paling saya suka setelah penjelajahan panjang dulu, duduk dan beselonjor diatas rumput untuk mendapatkan materi dari kakak Pembina. :D enggak melulu di kelas. Inti acaranya hanya sekedar menyapa mereka dan memperkenalkan diri saya sebagai alumni Dewan dulunya. Ih PD ya :D hihihihi sambil sesekali saya praktekkan ilmu konsentrasi dari blognya dek Rurin disini yang ternyata saya hanya hafal bagian pertama, meski berantakan dan Cuma saya praktekkan satu itu tidak mengurangi sedikitpun keceriaan mereka setelah mereka sadar salah mengucapkan air jadi susu. :D
Seperti biasa acaranya pun berakhir dengan foto bersama, dan berasalaman untuk berjumpa lagi esoknya :D [bersambung]




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pejalanan Pena ke Sekolah Part II : Terjebak Kesendirian di Rumah Sendiri


Untuk part 1 bisa baca di sini

Banner yang seharusnya di pake tapi enggak jadi :D

Jadi ceritanya saya pulang kampong nih. :D pengennya lebih mempersiapkan acara saja saya ingin pulang sehari sebelum hari pelaksanaan, Minggu 11 Maret 2012. Lebih saya awali pulang pas hari jum’at sorenya. Eh, ga taunya hujan. Wah.. bagaimanapun juga musti pulang karena sudah janji dengan pihak sekolah hari sabtunya pengen melihat kegiatan pramukanya yang sekarang hari sabtu, beda ketika saya dulu latihannya setiap Minggu pagi. Supaya tidak buru-buru berangkat dari sidoarjo terpaksa saya nerabas hujan sore-sore, biar bisa tidur nyenyak untuk esoknya.
Dengan membawa dua ransel yang berisi seabrek buku-buku hadiah doorprice, buku oleh-oleh untuk ponakan, dan beberapa buku bacaan untuk saya sendiri. Sementara ransel satunya full pakaian ganti plus pernak-perniknya. Untungnya saya enggak membawa lapi, padahal awalnya saya ngotot sama suami pengen bawa. Dengan alasan suami deadline majalah menanti besok. Hwaaaaaaaaa…. Jadi ingat tugas saya di majalah yang kurang beberapa lembar. Akhirnya dengan amat sangat terpaksa saya merelakannya tinggal di rumah. Hiks L maaf ya darling saya tidak bisa menemanimu di saat-saat deadline terakhir seperti ini, apalagi saya menambahi beban tanggung jawabmu L. Jadinya saya enggak seberapa khawatir meski menerabas hujan yang enggak seberapa deras tanpa lapi. Cukup dengan Rain Coat sudah cukup melindungi saya dan ransel baju. Sementara buku-bukunya emang sengaja saya taruh  di ransel yang sudah ada pelingdung hujannya. Aman dah:D
Sampai di rumah hujan pun enggak mau berhenti. Bersyukur banget meski saya pulang sendiri tanpa di temani suami, ternyata hujanpun masih bersedia menemani perjalanan saya :D. Saya pun langsung sms jaka, sebagai perwakilan pihak sekolah yang membantu saya termasuk dia juga teman seangkatan saya dulu. Padahal seingat saya, dia dulu tidak pernah ikut latihan pramuka sekarang dia bisa jadi Pembina pramuka. Bagaimanapun pramuka memang kegiatan yang menarik, hanya orang yang belum pernah masuk pramuka saja yang mengatakan bahwa pramuka adalah kegiatan yang buang-buang waktu. Toh,  buktinya dalam buku saya “I am Proud To Be Scout” banyak yang bercerita kisahnya yang benci dengan pramuka pada akhirnya mengakui kecintaannya setelah mereka all in (lebih tepatnya terjerumus) Pramuka.
“Jak, aku sudah di rumah, besok ketemu dengan adik-adik jam berapa?” isi smsku kepada jaka.
Tak berapa lama dia membalas, “jam stgh 1 pas lathan ae nun”
ALAMAK!!!!, Jadiiiiiii………… latihannya setengah satu?! Bukannya besok pagi ya?! Lhaaaaa.. tau begitu saya pulang besok menyelesaikan dulu deadline majalah saya. Hiks.. hiks.. hiks.. sempet nangis berdarah-darah saya L
Pertama, karena kedudulan saya kenapa sms jaka setelah sampai dirumah dengan perjuangan saya  ngos-ngosan menerabas hujan, kenapa enggak tadi sebelum saya berangkat dari sidoarjo? Gilak namanya!
Kedua, saya paling takut sendirian. Dan kemiskoman saya yang dudul ini membuat jum’at malam sabtu saya terasa makin lama. Bayangkan saya sampai enggak berani mejamkan mata, saya sampai bosan melototin televisi. Bukannya saya menikmati tayangannya tapi hanya melototin supaya ada yang saya lakukan. Mulai dari acara "Kick Andy" yang seharusnya menjadi tontonan wajib dan sumber inspirasi, saya jadi mengabaikan segala hal tentang Agnes Monica dan hostnya tersebut. Benar-benar tidak bisa merekam apalagi menangkap apa yang disampaikan.
Berita-berita melampun sampe kenyang di mata saya, mulai dari TV ONE, Metro TV, Trans TV. Sesekali saya juga melototin bola RM Vs Lev yang kenyataannya pasukannya Ronaldo itu hanya menang karena Pinalty dari kartu merah yang diganjarkan untuk lawannya. Hanya itu yang menarik buat saya, kalaupun sudah bosan chanel itupun saya ganti dengan kontes dangdut. Biarlah sengaja memang saya hanya menghingari setiap menemukan chanel TV yang menayangkan film, jadi parno kepikiran jangan-jangan ini film misteri. Sampai-sampai film Flipper yang manis itu hanya kebagian akhirnya karena awalnya saya kira film misteri. Hehehehe, Nggak lucu dong kalo saya nonton film misteri sendirian yang biasanya ditemani suami. Saya jadi kepikiran, andaikan ada lapi mungkin saya tidak akan seperti ini kali ya :D
Eh ya jangan tanya bagaimana saya kebelakang untuk pipis, ini dan itu. Hoho, semuanya saya tahan dan terlaksana ketika terdengar kokok-an ayam dan suara Imsyak. Hihihi, takut macam apa ya ini. Ya sekalianlah hehehe, habis subuh baru bisa tidur nyenyak dan baru bangun sekitar pukul setengah sebelas, itupun setelah saya mendengar dering sms yang tidak segera saya buka; dari leutika, dari jaka, dari menix, dari anak pangandaran yang pengen beli buku saya termasuk telepon berkali-kali dari suami. Ah, biarlah saya masih ngambek sama suami yang tidak bisa menemani malam panjang saya walau hanya sekedar sms-an karena deadlinenya. Tapi itu tak berlangsung lama karena bagi saya deadline kan juga berharga, ujung-ujungnya honornya juga ke saya. Sayapun menelponya[bersambung]

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Share It

Komentar Terbaru