Saturday, May 31, 2014

Penjual Krupuk; Tolong Jangan Acuh pada Mereka

ilustrasi (sumber)
Salah satu hal yang membebani hatiku ketika pindah adalah penjual krupuk yang kerap lewat depan rumah kontrakan.

Krupuk bawang khas Sidoarjo, tahu kan? Juga berbagai krupuk lain untuk cemilan. Bukan krupuk-krupuk untuk pendamping lauk makan. Aku berpikir lebih sulit menjajakan krupuk cemilan daripada krupuk makan yang setiap hari orang butuh untuk makan setidaknya 3 kali sehari. Atau bahkan jika ingin lebih laris titip saja krupuk makan tersebut di warung nasi tabokan dan warung-warung lainnya.

Berbeda dengan krupuk cemilan, siapa yang doyan bisa dihitung jari. Dan tidak semua orang doyan cemilan krupuk, beragam cemilan lebih enak sudah bertebaran. Aku yakin, jika bukan orang yang mempunyai semangat tinggi tidak akan memilih pekerjaan ini, bisa jadi akan tersisihkan jika punya pilihan pekerjaan lainnya.

Penjualnya bukan orang kuat yang gigih perkasa. Melainkan kakek ringkih sambil jalan menuntun sepeda bergerobak. Entah sudah beratus kilo beliau mengayuh. Pernah kutanyakan rumahnya sekitaran Candi Sidoarjo yang otomatis itu cukup jauh dengan ditempuh motor, apalagi mengayuh sepeda? Sampai perumahan tempatku tinggal sudah petang, kadang habis maghrib, kadang juga larut jam 9 baru lewat. Kadang dengan isi gerobak kosong sisa satu atau dua bungkus, yang mampu kubeli semua dan membuat beliau lekas pulang. Kadang juga masih menggunung.

"Mbah, kok masih banyak?" Tanyaku perih.

Sudah hampir pukul 9 malam, akan sampai di rumah pukul berapa ya si Mbah. Gelisahku dalam hati. Lebih perih lagi tetanggaku cuek dan acuh. Setiap beliau lewat hampir tak ada yang memggubris. Si Mbah sudah hafal, akan berhenti setiap sampai depan rumah hingga aku keluar.

Pertamanya aku sampai mengejar karena mungkin pendengarannya sudah berkurang. Suara paraunya termakan usia mendengungkan dagangan tak berhenti dari ujung gang ke ujung gang. Tanpa melihat, aku yang masih warga baru mengenali bahwa penjualnya kakek-kakek. Tidak adakah yang mau membeli sekedar untuk penghias hati sekalipun sedang tidak minat dengan krupuknya?

Dan aku tak tahu, saat pintu rumah kontrakan yang kutinggalkan sudah terbuka oleh penghuni baru akankah kakek itu tetap berhenti dan mendapati kekecewaan jika nyatanya aku tidak pernah keluar lagi dari pintu rumah tersebut.

Duh, Allah memang sebaik-baik penggegam rezeki setiap manusia. Sudah tertakdir oleh Allah aku membeli kerupuknya ataupun tidak. Tapi aku tak akan pernah berhenti berpikir bahwa takdir rezeki kakek tersebut bisa jadi juga dititipkan kepadaku, kepada anda, dan kepada kita. Tolong, jangan acuhkan mereka.

Friday, May 30, 2014

No Money

Tabungan receh kami
Sawang sinawang kata orang jawa. Maksudnya, kebahagiaan dan kesusahan orang lain hanya bisa dilihat (sawang) dari luar. Kenyamanan atau keenakan seseorang hanya dalam pandangan mata orang lain saja, berbeda dengan yang mengalami sendiri.

Seperti kami, selalu dipandang orang enak dan tak pernah kekurangan. Aku cukup mengamini dan mengucap alhamdulillah, karena kupikir hal tersebut adalah doa untuk keluargaku. Tapi orang tak pernah tau jika kamipun sama. Kerap kekurangan uang alias no money. Kejayaan hanya dalam pandangan mata, mereka tak pernah tahu kebutuhan kami ataupun tanggungan kami.

Kerap kami memang menjadi jujukan mereka yang butuh uang untuk berhutang. Sekedar ratusan ribu atau jutaan. Jika yang berhutang saudara berat rasanya menolak. Kalaupun tak ada, selalu kami sisihkan semampu kami untuk membantu mereka walaupun tidak banyak sesuai yang mereka butuhkan. Bahkan pernah ada yang meminjam sekedar 25.000 padahal tanpa ia (yang hutang) tahu uangku cuma 30.000. Aku cukup membawa 5.000 asal bisa untuk ongkos pulang dari Surabaya, kalau-kalau aku kehabisan bensin di tengah jalan.

Bagiku membantu tidak menunggu ketika harus ada uang. Keadaan no money pun sebisa mungkin turut membantu. Bagaimanapun ketika orang berhutang minimal dia sudah mempunyai keberanian, keberanian untuk menungungkapkan hutang. Eh iya lho. Kerap kalo aku kehabisan uang dalam keadaan no money, justru aku lebih memilih kelaparan. Tidak belanja, suami cukup kuberi makan dengan lauk sambal. Pernah ketika 3 hari sebelum gajian, uang belanja sudah menipis. Uang cukup untuk jatah rokok suami, akupun memutar otak bagaimana caranya kita bisa tetap makan tanpa belanja dari berhutang.

Seperti bulan ini, sejak awal bulan sudah pengeluaran habis-habisan untuk finishing rumah dan acara syukuran lebon omah. Sama sekali uang sudah menipis-pis-pis. Bagiku itu bukan masalah, untuk makan bisa diatut. Justru yang jadi pikiranku ketika orang berhutang sedangkan aku dalam keadaan no money seperti ini.

Sudah dua kali tetangga depan rumah sekaligus istri dari ce-est suamiku datang untuk berhutang. Yang pertama uang yang dipinjam cukup besar, jelas aku tidak punya. Ini yang kadang disebut orang sawang sinawang, mereka tak menyadari bahwa ini masih bulan yang sama saat syukuran rumah. Tentu aku banyak pengeluaran. Namanya orang berhutang, yang mereka kedepankan adalah keberanian, entah berani atau memang memberanikan diri, mereka tak pernah mengetahui kebutuhan kami lebih besar bulan ini.

Hal inipun diulangi lagi, hari ini datang kepadaku lagi dengan maksud sama. Tapi lain, hanya sekedar 10.000 saja. Jangan dilihat kecilnya nominal. Justru aku melihay nominal 10.000 ini lebih urgent daripada yang ratusan ribu sebelumnya. Mungkin saking enggak ada uangnya, sampai untuk makan sang anak yang hanya 10.000 saja harus berhutang. Apesnya lagi aku yang diharapkan memberi hutang, justru tak punya uang sepeserpun. Semua lembaran uang terbawa suami. Ada, itupun uang koin dalam celengan botol yang tak pernah kubedol meski aku sendiri butuh uang. Ah, betapa tidak berharganya aku, dua kali mengecewakan. Mungkin yang kali ini dia lebih kecewa lagi, sirat wajahnya bisa mengatakan, betapa pelitnya aku uang 10.000 saja tak mau menghutangi. Kalaupun ada ngapain berhutang kalau cuma sepuluh ribu, aku ikhlas memberikan tanpa akad hutang.

Duh, aku sendiri menyesal. Tak bisakah uang gajian suami dimajukan Jumat pagi tadi? Atau hutangnya petang saja ketika suami sudah gajian?

Sak sugih-sugihe uwong mesti ono mlarate
Sak mlarat-mlarate uwong mesti ono celengane. 
Mulane uwong ojo mandang bondo. Kita tak pernah tahu, apa yang nampak di depan mata tidak berarti demikian.

Rumah Bocor

Setiap pasangan pasti ingin memiliki rumah. Terlepas bagaimana bentuk dan rupanya, harapan agar anak dan isteri tidak kehujanan dan kepanasan hati pasti tenteram. Nggak kebayang jika rumah sebagus atau segedhe apapun jika nyatanya setiap hujan selalu kebocoran. Dalam iklan sebuah cat sudah digambarkan bagiamana tidak nyamannya tidur dengan kondisi kebocoran.

Hiks, sedih sekaligus bersyukur jika mengingat masa-masa kebocoran. Di rumah kontrakan sebelumnya (Kebon Agung) hampir tidak pernah tidak kebocoran setiap kali hujan. Bahkan hujannya pagi, rembesan air yang menetes bisa sampai sore, atau sebaliknya ketika hujan malam tidak bisa tidur nyenyak, kebangun keingat tandon bocor jangan sampai kepenuhan dan meluber kemana-mana.

Kalau rumah kontrakan kutinggal kosong, selalu ini yang menjadi pikiran. Dan bisa dipastikan sesampai di rumah air sudah melebar kemana. Tahu lah, kudu dipel untuk mengeringkannya. Dan angkut-angkut airnya juga. Capek bray. Bukan cuma capek angkut-angkutnya, capek dari luar yang enggak bisa langsung istirahatnya ini yang berat.

Bagai makan buah simalakama, aku sendiri bingung harus berbuat apa. Rumah tersebut bukan rumah kami. Sementara orang yang (merasa) diberi tanggung jawab, terkesan angkat tangan. Masak selalu beralibi, "ini bocor kalau hujan angin saja Te, kalau enggak angin nggak bocor, sama dengan rumahku."

Ngadu ke pemilik rumah juga akan membuat orang yang diberi tanggung jawab ini sakit hati. Katanya aku dibilang enggak beretika melangkahi dia. Bahkan ketika aku minta ketemu langsung sama pemilik rumah, ybs merasa aku enggak percaya sama dia. Ya keleus aku ngontrak rumah bodong.

Duh capek berurusan sam orang itu, dan emang kata tetangga-tetangga orangnya memang suka mencampuri urusan orang lain mulu.

Lama-lama aku capek ngomong sama orang tersebut. Omdo, ngomongnya kemana-mana diberi amanat rumah tersebut, tapi enggak pernah ngasih solusi. Mau aku benerin sendiri (bayar tukang maksudnya) juga ini bukan rumahku. Karena yang bocor ini butuh bongkar. Harus pemilik rumah.

Bahkan kerap aku sudah membenahi di sana sini untuk meminimalisir kebocoran. Padahal kata tetangga-tetangga itu tanggung jawab pemilik rumah. Termasuk salah satu alasan tersebut kami memilih pindah cepat.

Bersyukur banget aku enggak lama di sana cuma 1,5 tahun dari dua tahun perjanjian kontrak. Ternyata rumah yang aku planing akan bisa ditempati tahun depan, sudah bisa kami tempati sejak 3 minggu yang lalu. Enggak ada yang bocor. Bahkan crocohan (jatuhnya) air di tepian genting kerap membuat lantai kotor karena terkena tanah, langsung dibenahi, diplester dengan semen. Sehingga crocohan air yang ke latai cuma dalam bentuk air. Enggak pakai ngepel-ngepel lagi kalau hujan. 

Wednesday, May 28, 2014

Menikmati Suasana Malam Sambil Ngopi Keren di Yogyakarta

Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam di atas kereta Sri Tanjung, kami tiba di Yogyakarta. Oleh petugas panitia yang menjemput, tak lain rekan kerja suamiku, kami dibawa mencari angin malam Yogya. Memang akunya yang meminta, ingin sekali menikmati wedang uwuh khas Jogja. Tapi sama sekali aku tak juga menemukan apa yang kucari. Begitu juga dua teman suamiku yang menjemput, sebagai penunjuk jalan justru enggak tahu keberadaan wedang uwuh. Agak sedikit kecewa sih, tapi tak apa, tak ada wedang uwuh wedang, wedang Joss alias wedang arang pun jadi. 

Mobil pun melaju ke arah Stasiun Tugu. Bukan, bukan untuk kembali pulang. Melainkan, disilah tempat nongkrong malam hari di Jogja selain Malioboro. Jika Malioboro adalah kawasan elit dan para bule berduit, di sekitaran Stasiun Tugu ini kawasan sebenarnya suasana malamnya Jogja. Penuh dengan makanan merakyat masyarakat Jogja ditemani suguhan para seniman jalanan.

Mobil kami pun masuk di parkiran Stasiun Tugu, karena tempat parkir yang notabene jalan raya tak muat. Sudah banyak mobil-mobil yang bertengger. Aku pernah melewati jalan ini ketika siang hari saat ke Jogja sebelumnya, jalanan ini lumayan rame lalu lalang kendaraan, tetapi saat malam juga ramai dengan keramaian berbeda. Lebih hidup suasana malamnya. 

Karena tak ada wedang uwuh, akupun juga memesan wedang Joss sama seperti suamiku. Itung-itung aku juga belum pernah minum dan merasakan sensasinya. Sementara dua teman suamiku yang dengan setia menemani kami ngopi keren meski bukan kopi lover, memesan teh hangat ditemani beberapa gorengan.

Kerap beberapa seniman turut mewarnai suasana malam di kawasan ini. Mulai sekedar pengamen dari anak-anak, remaja, sampai seniman beneran kayak sinden suaranya. Bedanya mereka nyindennya ngamen di jalan-jalanan menghibur kopi lover. 

Puas menikmati kopi Joss kamipun capcuss menuju hotel tempat kami menginap. Aku dan suamiku yang kecapaian perjalanan, sementara dua tuan rumah yang mengundang kamipun juga kecapaian karena seharian belum pulang kerja persiapan acara keesokannya. Tak lupa sebelum beranjak, foto-foto dulu depan monumen kereta api. 



Sunday, May 25, 2014

Pisah Ranjang

Ilustrasi (sumber)

Setelah awal bulan lalu kami (aku dan suamiku) liburan bersama ke Jogja, menjelang akhir bulan Mei ini, kami pisah ranjang. Bahkan kesempatan menginap bersama di hotel Yogyakarta, tak mengubah keputusanku untuk pisah ranjang darinya.

Sudah sekitar seminggu ini, aku tidur di kamar depan, suamiku tidur di kamar belakang. Bukan karena dipicu sebuah pertengkaran, itu sudah menjadi makanan kami setiap hari, cek-cok, adu mulut, lempar opini, atau sekedar saling ledek. Tapi kami melakukannya dengan cinta, tak pernah menjadi besar. Kalaupun iya, diantara kami harus ada yang sadar lebih dahulu untuk mengalah. Kebanyakan sih suamiku, sementara aku kalau dia udah kadung buntu, aku yang pelan-pela mengalah.

Pisah ranjang ini terjadi ketika beberapa hari aku kerap tertidur di kamar depan padahal kamar utamanya (untuk kami) adalah kamar belakang. Desain rumah kami yang memanjang membuatku bingung bagaimana menjelaskannya. Memang kamar depan tapi dekat dengan pintu belakang yang hanya terdapat di samping kanan, juga berhadapan dengan kamar mandi. Aksesnya yang mudah membuat kamar ini menjadi tempat jujukan ganti baju dari kamar mandi, yaitu almari pakaian yang harusnya nyatu dengan kamar yang ditempatin (kamar belakang), termasuk meja riasku juga sebagai tempat kerjaku jadi satu di kamar ini. Sehingga waktuku lebih sering terbagi di kamar ini, pun juga suamiku, ganti baju dan merias diri juga di kamarku.

Padahal di kamar utama sudah amat nyaman, hanya berisi tempat tidur (berdipan,  kamarku enggak hanya spring bed tanpa dipan) dan sebuah meja kursi. Di desain untuk istirahat saja. Tapi aku kadung cinta dengan kamarku. Gegaranya kerap, ketika aku membersihkan muka saat menjelang tidur di kamar ini, aku sambi dengan blogwalking sambil rebahan di kamar ini sampai tertidur. Ini terjadi tiga hari berturut-turut. Tau-tau paginya, kamar utama yang ditempati suami, penuh dengan bau dan abu rokok bersekaran di lantai. Persis kamar bujangan yang sedang galau. Hahaha.. Kali aja ya suamiku galau.

Suamiku yang sejak dulu enggak menggubris peraturanku untuk tidak merokok di dalam kamar, jadilah ini juga kesempatan aku untuk pisah ranjang. Bukan dalam rangka memisahkan diri darinya tetapi memilih kamar yang bisa kuperlakukan seperti kamarku. Seperti peraturan "No Smoking". Suamiku boleh tidur di kamarku asal mau enggak merokok saat di kamarku.

Cara ini sukses membuat kami saling merindu satu sama lain setiap malamnya. Meskipun kerap kami bertengkar, jika salah satu dari kami pergi keluar kota, seperti ada yang hilang. Pisah kamar inipun membuat kami demikian meskipun hanya terpisah ruangan. Terutama aku yang kerap menghujaninya perhatian. Kami berchatting layaknya mereka yang masih pacaran.

"Yank, masih belum tidur ya."
"Masih nonton bola."
"Cepet tidur ya, katanya besok mau dibangunin pagi."
"Lha pean tadi kan sudah tidur."
"Pura-pura"
Hihihi

Yang tidak mungkin aku lakukan jika dalam satu kamar. Atau kadang paginya kutanyakan, "nyeyang Yank tidurnya?" Tapi itu ngayal supaya lebih mirip film india, aku gak pernah nanya. Hehehe

Termasuk pisah kamar kali ini juga membuktikan kecintaannya. Terbukti siapa yang kerap pindah kamar. Suamiku yang dulunya tak mau menurunkan ego untuk merokok di luar kamar, mencoba betah tidak merokok menjelang tidur, saat ingin tidur di kamarku. Atau setelah puas merokok di kamarnya atau di ruangan TV, barulah masuk ke kamar. Aku sih tanpa sadar, tau-tau subuh sudah berbaring di sampingku, tanpa bau rokok, abu ataupun asbak di sekitarnya. Yup, kami menikmati pisah ranjang ini. 

Saturday, May 24, 2014

Berkunjung Ke Pabrik Tahu Sumedang di Sukodono, Sidoarjo

Tahu Sumedang yang baru saja digoreng, ditiris di atas nampan berjejer di atas rak kayu khas pabrik tahu. 
Siapa yang enggak tahu, tahu khas Sumedang. Meskipun khas rasa dan bentuknya dari Sumedang, di Sidoarjo terdapat beberapa pabrik tahu Sumedang, diantaranya pabrik tahu yang ada di daerah Sukodono ini.

Satu tahun lebih menjadi bagian dari warga Sukodono (baca: ngontrak di Sukodono) baru tahu keberadaan pabrik ini saat menjelang kepindahan. Bahkan keberadaannya sangat dekat dari tempat tinggalku. Sekitar lima menit berkendara naik motor. 

Yup, tahu termasuk salah satu pilihan kami untuk suguhan tamu saat syukuran lebon omah (masuk rumah) bersama Mbote dan makanan ringan lainnya. Suami tahunya dari rekan kerja yang pernah membawa tahu ke kantor untuk cemilan teman-temannya. Tidak ada salahnya, jika tahu yang biasanya menjadi pendamping makan atau cemilan saat di atas bus atau kereta, juga menjadi cemilan acara penting seperti ini. 

Pas sekali, ketika ke pabrik ini aku membawa smartphone suamiku. Karena suami sedang pijat sehingga aku yang belanja tahu sendiri dengan diantar teman kerja suamiku yang sudah biasa order. Sehingga bisa cekrak-cekrek dengan sesekali ngobrol dengan Pak Yadi, pemilik pabrik tahu yang sedang mengambilkan tahu orderanku. 

Pak Yadi adalah orang Sumedang asli yang sudah puluhan tahun hidup di Sidoarjo dengan memproduksi tahu Sumedang. Mulai dari harga tahu 7.000 hingga sekarang 25.000 per porsi kresek (plastik) besar, sekitar isi 200 biji tahu. 

Rata-rata mereka yang melakukan order ke pabrik tahu ini memang untuk usaha alias dijual kembali. Tahu-tahu yang mereka beli mereka bungkusi ukuran kecil (ecer) berisi 6 tahu per bungkus Rp. 2.000-an seperti yang dijual di bus-bus. Tetapi bagi mereka cukup dititipkan ke warung-warung, seperti warung kopi atau warung-warung makan biasa.

Usaha cukup lumayan dan menjanjikan bagi masyarakat kecil sekitarnya. Jika dikalkulasi untung ruginya seperti ini:
>> Tahu Sumedang isi 200 : 25.000
>> Bungkus plastik : 5.000
Modal yang dibutuhkan : 30.000

Sementara dari 200 tahu bisa menghasilkan sekitar 33 bungkus isi 6 tahu dengan harga 2.000 rupiah per bungkus. 
>> 33 x 2.000 = 66.000

Sehingga untung yang didapatkan 36.000 atau 100% lebih dari modal yang dikeluarkan.
Pengecer saat order ke pabrik tahu milik Pak Yadi
Selain melayani pengecer, tahu Sumedang olahan pabrik Pak Yadi ini juga didistribusikan ke Surabaya, kepada agen besar yang melayani para penjual Tahu Sumedang di atas angkutan umum macam Bus atau Kereta Api. So, bisa jadi tahu Sumedang yang pernah Anda makan saat diatas Bus atau Kereta Api, bukan berasal dari Sumedang melainkan dari Sidoarjo. 

Salah satu karyawan Pak Yadi 

Friday, May 23, 2014

Hijab Sparkle, Colouring Your Face

Sudah tahu kan tentang hijab Sparkle? Hijab yang tahun lalu aku buat giveaway di blog jualanku J-Anez Fashion yang sekarang mangkrak. Hihihi. Nah, tahun ini aku ngeluarin lagi seri hijab sparkle dengan tema, "Colouring Your Face".

Tema ini aku ambil dari inspirasi hasil-hasil rajutanku yang penuh warna. Yup, jika tahun lalu ada motif polkodot dan motif-motif lainnya. Kali ini aku coba untuk fokus pada bahan polos dengan permainan warna benang. Sehingga dalam satu warna, bisa terdapat beberapa seri. Untuk menamainya aku sesuaikan nomor urut saja, misal warna oranye motif benang 1 atau disingkat Oranye 1.

Bagi yang enggak tahu apa itu hijab sparkle. Hijab sparkle adalah hijab berbentuk pashmina panjang ukuran 75 x 200 cm (centi meter) dengan tepian dirajut. Sehingga ketika diaplikasikan di wajah akan nampak bling-bling seperti ada peyetnya. Bedanya jika payet akan membuat kita nampak glamour, dengan hijab sparkle ini bisa tetep casual. Glamour oke, casual oke.

Untuk pemesanan silakan kontak ini ya:
  • Email : ununtriwidana@gmail.com
  • Yahoo/Ym : neng_un2@yahoo.co.id
  • Facebook : /ununtriwidana
  • Line : ununtriwidana
  • Kakao talk : nunuelfasa
  • Instagram : nunuelfasa
  • Whats App : 085646671600










Warna oranye 1
Oranye 2
Warna oranye 1
Warna ungu 1
Kuning 1

Wednesday, May 21, 2014

Masjid Agung Yogyakarta

Wordless Wednesday: suasana cloudy di atas Masjid Agung Yogyakarta saat sedang menunggu suamiku sholat Jumat.

Tuesday, May 20, 2014

Mbote, Kudapan Tradisional yang Masih Diminati

Kudapan sederhana yang merakyat
Mbote, ada yang tahu? Nama yang kejawa-jawaan ini kerap mengecoh orang karena bentuknya yang mirip (umbi) talas. Meskipun masih dalam satu rumpun yang sama, tekstur mbote atau yang lebih dikenal dengan "kimpul" (taunya hasil googling sih :p) dan talas amat berbeda. Mbote lebih lembut sementara talas seratnya lumayan mengganggu di mulut.

Nah, minggu kemarin acara lebon rumah atau syukuran pindah rumah, ibu mertuaku sengaja membeli mbote ini dan menjadikannya salah satu suguhan untuk tamu-tamu yang datang. Memang sih, dari sebelum tahu ibu telah membeli Mbote dari pasar Sepanjang, kami sebagai tuan rumah juga kepikiran untuk menyuguhkan jajanan basah. Rasanya kok terlalu monoton jika jajanan atau cemilan yang ada makanan kering melulu, sesekali mulut juga perlu yang basah-basah. Ya tho?

Maka, panganan seperti brownies, tahu Sumedang dan termasuk Mbote ini cukup menyelamatkan. Bahkan, Mbote menjadi favorit para tamu.

Awalnya kupikir paling yang makan cuma tetangga-tetangga yang sebaya dengan mertua doang. Atau malah memang mertuaku yang doyan sehingga memilih Mbote ini sebagai suguhan. Ternyata tidak. Setelah acara syukurannya selesai, masih ada sebagian tamu yang memilih tinggal sebentar. Rata-rata mereka teman suamiku yang memilih menikmati kopi sebentar di teras dengan kusuguhkan brownies. Maklum aku memang membeli brownies cukup banyak dengan banyak varian rasa pula. Kupikir ini akan menjadi idola sehingga kusuguhkan untuk kudapan teman ngopi mereka.

Dan yang dicari justru Mbote ini, panganan umbi yang merakyat dengan hanya di tanak saja rasanya ngalahin brownies lho. Bukan brownies-browniesan tapi brownies Bandung yang terkenal itu. Konon katanya, jarang sekali orang zaman dulu bisa (mampu) makan nasi, sehingga Mbote menjadi salah satu pilihan makanan alternatif yang mengenyangkan. Meskipun sudah jadul sampai kinipun ternyata Mbote masih diminati. Bahkan oleh generasi sekarang ini, Mbote bisa menjadi panganan yang berubah wujud. Dari hanya di tanak saja, sampai menjadi kue-kuean yang lebih nikmat. Sebut saja, kripik mbote, donat yang biasanya dari umbi kentang juga bisa diolah dari mbote. Atau mungkin bisa jadi brownies juga kali ya? Akankah masih diminati jika berubah wujud seperti itu?

Monday, May 19, 2014

Open Recruitment FLP Surabaya 2014

Hi Surabaya!
Tahukan dengan organisasi FLP atau yang disebut Forum Lingkar Pena? Itu lho organisasi kepenulisan terbesar yang cabang-cabang tersebar di seluruh dunia. Kali ini cabang Surabaya akan ngadain open recruitment atau penjaringan anggota baru. Yups khusus untuk Surabaya ya.

Banyak yang bertanya kepadaku bagaimana sih caranya masuk menjadi anggota Forum Lingkar Pena? Banyak yang mengira masuk FLP itu bebas. Bisa keluar masuk sesuka hati. Tetapi beda kawan, FLP itu organisasi yang terstruktur dan memiliki sistem termasuk penjaringan anggota baru juga aturannya. Hanya saja pelaksanaannya itu tergantung kebijakan FLP (cabang atau ranting) terkait. Sehingga akan berbeda FLP di kota satu dengan kota yang lain.

So bagaimana dong untuk bisa gabung? Nah kamu tinggal di mana dulu. Kemudian cari informasi sebanyak-banyaknya termasuk waktu open recruitment ini. Kebetulan kali ini yang aku bahas open recruitmentnya FLP Surabaya. Etapi jangan khawatir. Kedepan FLP juga akan melakukan open recruitment via online. So nantinya kamu tinggal submit pendaftaran via web FLP di www.flp.or.id. Tapi nanti ya, sekarang masih simulasi. Kalau sudah lainching akan aku bahas lagi di blog ini.

Nah bagi yang di Surabaya jangan lewatkan ya. Catet tanggalnya. Lihat infonya pada gambar di bawah ini ya. Jika tidak kelihatan gambar bisa di perbesar tinggal klik gambarnya.

Oke gitu ya,
Aku nantikan kalian bergabung bersama kami ya.
Seleksi anggota baru FLP Surabaya

Sunday, May 18, 2014

Big Grey and Little Grey

Patung Dwarapala di Keraton Yogyakarta. Patung yang berwarna grey ini bermakna sebagai penjaga Keraton, terdiri dari sepasang berada di sebelah kanan dan kiri pintu masuk kawasan kesultanan. Kompak dengan kostum suamiku yang memakai kaos warna grey pula.

Serbuk Kopi Hilangkan Bau Tak Sedap Pada Kulkas

Aroma serbuk kopi menetralkan bau
Keberadaan kulkas atau lemari es sangat membantu ibu rumah tangga dalam pengawetan bahan makanan sebelum di masak. Setidaknya bahan-bahan makanan tersebut bisa tahan lebih lama; seperti daging, sayur-sayuran, ataupun ikan-ikanan.

Sayangnya bahan seperti daging dan ikan-ikanan kerap menimbulkan bau tak sedap. Bahkan ketika bahan sudah habis dimasak, dan kulkas sudah dicuci sekalipun baunya tetap tertinggal. Baunya menguar ketika pintu kulkas dibuka.

Solusinya ada pada serbuk kopi. Tentu punya kopi di rumah. Aku selalu siap sedia untuk suamiku yang coffe addict, baik serbuk kopi hitam maupun serbuk coffe mocca. Tetapi yang dimanfaatkan untuk menghilangkan bau di kulkas, serbuk kopi hitam.

Serbuk kopi hitam aku letakkan di atas "lepek" (bacanya seperti mengucap pempek). Dalam bahasa jawa lepek itu piring kecil untuk tatakan cangkir kopi. Kemudian dimasukkan kulkas. Biarkan tanpa penutup. Aroma kopi bisa menetralkan bau tak sedap pada kulkas. Tentu pemakaiannya jika semua bahan yang menimbulkan bau sudah habis di kulkas. Tidak akan berguna jika bahan masih ada.

Ini kupraktekkan seminggu ini, ketika aku terlupa masih memiliki bahan udang yang belum termasak. Kepentok dengan aktivitas pindahan rumah yang menguras waktu dan tenaga, kulkas kumatikan begitu saja ketika hendak diangkut tanpa cek isi di dalamnya. Alhasil baru ketahuan dua hari kemudian saat berberes di rumah baru. Penampakan udangnya memerah seperti habis direbus, tentu dengan aroma yang bikin muntah.

Sebelum baunya makin menjalar ke tetangga, kulkas kucuci bersih. Tapi tak juga hilang sampai tercium oleh ibu mertua yang hidungnya peka dengan bau-bauan. Baru kemudian kutaruh serbuk kopi di atas lepek tersebut. Keesokan, baunya langsung hilang. Meski kemudian serbuk kopi tersebut kubuat kopi untuk suami, rasanya tetap kopi dan tak berubah. Hehehe

Friday, May 16, 2014

Menanti Post Card Pertama

Gambar 1: sepeda pada jalanan bersalju (sumber)
Berkirim post card? Duh, jadul banget ya. Jamannya smartphone begini kalau mau kirim foto tinggal kirim pakai internet. Ada banyak aplikasi smartphone yang memudahkan. Mau dikirim privasi atau publik? Mulai dari facebook, email whatsapp, atau bahkan aplikasi instagram. Cepat, enggak pakai lama dan enggak butuh biaya. Eh butuh ding, emangnya smartphone a.k.a android enggak lebih mahal apa? Hehehe 

Etapi aslinya sama saja, kan post card juga enggak gratis. Kalaupun bikin sendiri juga gak gratis kan? Dan satu yang baru aku sadari ternyata, kirim kartu post itu murah euy. Bahkan murah bingit. Lebih murah dari budget dinner saturday night bersama pasanganmu, sekalipun ngirim post card ke luar negeri. 

Saking seringnya ngirim barang, aku pikir ngirim kartu pos itu kayak ngirim barang. Jarang bingit ngirim surat atau kartu post. Biasanya kalau ngirim surat selalu milih tercatat, enggak pakai perangko. Bayangin perangko yang harganya murah, dibawah 5.000 kok ya takut enggak sampai.

Eh kemarin waktu mengirim kartu pos ini, semua kartu post terkirim dengan selamat. Entah ya, kenapa waktu itu tiba-tiba tertarik buat ngirim ketika tanpa sengaja mendapati kartu post keren. Inginnya di koleksi. Tetapi rasanya kurang bersejarah jika aku koleksi sendiri dari hasil beli. Akan lebih bermakna jika aku kirimkan, terutama buat yang menerima. Yups, karena akupun sebenarnya pingin banget dapat kartu post. Apalagi kartu pos dari luar negeri yak. Serius, aku belum pernah dapat kiriman kartu pos dari orang lain. Dan berharap ada yang mengirimiku. Pembaca sekalian mau enggak ya? Hehehe

Sambil menunggu kiriman dari teman-teman pengunjung blog ini. Aku juga lagi usaha mengambil hati Ms. Meyer supaya aku dikirimin kartu pos dari Jerman. Secara Ms. Meyer emang tinggal di Jerman dan rajin banget posting blog yang memuat foto-foto Jerman. Asli foto-fotonya bikin mupeng tinggal di sana.

Aku mengenal Ms. Meyer sudah lama banget. Pertama kalinya aku ngeblog tahun 2008. Aku rajin banget ke tempatnya Ms. Meyer meski kala itu aku belum mengenal yang namanya Blogwalking. Dulu asal suka, datang. Dan tanpa bookmark halaman atau save link di blog roll, aku sudah hafal rumah Ms. Meyer, www.duniaely.com.

Paling suka kalau Ms. Meyer posting tentang burung, sore dan kegiatan bersepedanya. Bagiku yang anak kampung, kegiatan bersepeda hal biasa. Tetapi berbeda ketika Ms. Meyer bercerita. Aku turut berfantasi seperti hidup di Jerman. Bisa dibilang Ms. Meyerlah orang pertama yang membuatku kagum dan serba ingin tahu tentang Jerman. Secara saat itu aku baru menyadari, internet membenarkan ungkapan "dunia tak selebar daun kelor". Jerman yang dulu kukenal hanya dalam buku teks Geografi, kini sedekat telunjukku di blog Ms. Meyer.
Gambar 2: Pit Stop (sumber)
Dua foto sepeda di atas sangat suka banget. Viewnya mendukung untuk tema post card "perjalanan". Mengingatkan setiap yang melihat foto tersebut, jalan yang dilalui tak selalu mulus, bisa jadi salju di jalanan akan membuat kita terpeleset (foto 1). Dibutuhkan waspada dan kehati-hatian. Juga menyadarkan bahwasannya untuk menempug sebuah tujuan kita butuh yang namanya "pit stop" atau "berhenti sejenak" (gambar 2), meski hanya sekedar minum, bercengkrama dengan keluarga atau bahkan blogging untuk menyambung silaturrami. Dan pada akhirnya sebuah tujuan akan seindah senja yang tak mendung (gambar 3), ketika kita tidak sendiri (gambar 4).
Gambar 3: ujung hari yang indah (sumber

Gambar 4: berbagi kebahagiaan (sumber)

Thursday, May 15, 2014

Pindahan Rumah dan Piring Simpanan

Hal paling menyebalkan bagi kontraktor adalah saat pindahan. Yap, kegiatan angkut-angkut barang ini menguras tenaga banget. (Eits bukan kontraktor sebuah bidang pekerjaan ya. Tapi kontraktor yang kumaksud adalah penyewa rumah kontrak. Disebut kontraktor karena kontrak sana kontrak sini, hehehe). Gak selesai dalam sehari dua hari. Bahkan bisa memakan waktu secepatnya satu minggu sampai barang-barang bisa tertata rapi di rumah baru.

Menurut survey yang aku lakukan pada teman-teman sesama kontraktor atau yang pernah berpengalaman menjadi kontraktor. Barang-barang para kontraktor bisa beranak pinak. Pengalaman saat pertama kali pindahan ke rumah kontrakan pertama, barang-barang kami cukup diangkut dengan satu pick up, termasuk lemari besar dan dipan. Dan, satu setengah tahun berselang, tepat kemarin (malam waisak) kami pindahan ke rumah yang baru saja selesai kami bangun, harus menyewa dua pick up. Wkwkwk, kami sampai geleng-geleng kepala. Ini barang semua, tidak termasuk sampah, baju-baju dan barang-barang yang sekiranya enggak kepakai sudah diberikan orang.
Rumah yang kutempati ketika masih dalam tahap pembangunan. Kelihatannya besar karena berbentuk horizontal memanjang ke samping. Ukurannya hanya 9x6 meter tidak termasuk teras
Yang bikin puyeng nih, gimana menata barang sebanyak ini? Rumah yang baru seminggu ini kami tiduri, hanya berukuran 9 x 6 meter. Terdiri dari dua kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi dan ruang tengah yang jadi satu dengan dapur dan segala hal. Masih luasan rumah kontrakan yang kami tinggalkan. Harus pinter-pinter ngaturnya. Secara, di rumah kontrakan tersebut ditata gimana aja tetap terasa barang masih berserakan. Terutama piring-piring yang selalu nambah setiap beli detergent. Sampai bingung taruh mana.

Satu-satunya jujukanku adalah si Mbah Gugel, yang pasti memberiku solusi pertanyaan apapun yang kuajukan. Termasuk keluhanku kali ini, bagaimana solusi tempat penyimpanan pada ruangan sempit? Dari beberapa artikel yang kutemukan. Artikel ini menyadarkanku, ternyata selama ini aku salah dalam penataan piring.

Aku menatanya mirip seperti saat piring masih basah, ditumpuk tengkurap miring. Padahal penataan begitu disarankan supaya air cepat menetes. Sedangkan piring yang kumaksud adalah piring yang disimpan yang otomatis sudah keringlah ya kok ya masih di miringkan. Malah mengahabiskan space banyak.

Pantesan barang-barang dalam almariku nampak berserakan. Secara kolong almarinya luas, muat untuk barang apa saja, kayak pancipun masuk. Tetapi barang-barang yang kecil-kecil rasanya perlu disekat lagi seperti gambar dibawah ini agar nampak rapi jali. Piring simpanan ditata tumpuk keatas. Juga bisa untuk space gelas simpanan sendiri dan barang-barang lainnya supaya enggak berserakan campur jadi satu.
Inspirasi penataan ruang dapur (sumber gambar)
Hemm... Jadi semangat menata rumah kalau sudah ketemu solusinya seperti ini. Semangaaaat!

Wednesday, May 14, 2014

Haus

Wordless Wednesday: Primata di kawasan air terjun Grojogan Sewu, Tawangmangu, Solo ketika berkunjung kemari bersama teman-teman BPP FLP 2013-2017. Foto diambil oleh Mas Aferu Fajar

Tuesday, May 13, 2014

Lace Outfit

Courtesy Foto dari ummu Nawazim
Awalnya ragu juga sih, memakai atasan dan bawahan sama-sama berbahan lace. Meskipun bukan baju baru, sebelumnya aku belum pernah memadukan keduanya. Dalam bayanganku terkesan monoton. Apalagi outfit yang kupakai ini untuk acara formal "Bedah Buku Jangan Menyerah" di Yogyakarta, dan aku sendiri sebagai nara sumbernya. Outfit juga masuk hitungan supaya aku percaya diri.

Maka dari itu ketika berangkat aku siapkan packing 2 outfit. Jika sewaktu-waktu aku berubah pikiran. Outfit lace ini dan satunya Luela Mae dress Shabila yang sering banget kupakai, salah satunya ketika foto di Landmark Malang ini.

Melihat teman-teman ketika bedah buku outfitnya enggak melulu harus formal, malah beberapa penulis hanya menggunakan kaos. Luela Mae dress yang biasanya kupadukan dengan blazer, kali ini cukup memakai dalaman. Hanya saja dalamannya yang kurang kece. Justru outfit ini yang kucoba pertama kali di hotel ini. Untuk menguji kepercayaan diriku, kupakai jalan-jalan sebentar dengan berinteraksi dengan petugas hotel. Rasanya kok enggak PeDe ya. Akhirnya lace outfit inilah yang kupilih, meskipun dalam hati ada perasaan sedikit enggak "matching" tapi aku Pede memakainya. Aneh ya.

Eh tapi kok usai acara ketika kulihat di dalam kamera hasilnya lumayan juga. Kalau dalam game fesyen disebut Signature outfit. Mungkin karena pengalaman ketika aku salah memadukan lace skirt ini dengan atasan drapery berpeplum. Sehingga membuat tubuhku nampak gemuknya. Seperti timbul trauma ketika memakai lace skirt ini.
Tuh kan yang kiri enggak banget karena salah padu padan :(
Dan enggak hanya di acara, atasan lacenya juga kupakai jalan-jalan arround Jogja malam di Malioboro dan siangnya Wisata Keraton hingga pulang terlambat naik kereta masih menempel nih baju. Jadilah dua hari enggak ganti pakaian saking cintanya sama atasan lace ini. Padahal warnanya sudah bulukan dan di beberapa bagian benangnya lepas tapi aku tetap suka. Jadi pengen nambah koleksi lace lagi hehehe.
Outfit saat Wisata Keraton tetap mamakai outter lace
Outfut :
Hijab : handmade rajut buatan sendiri
Lace outter and inner : unbranded
Skirt lace : Moshaict

Monday, May 12, 2014

Taman Bungkul Rusak, Bu Risma Bersikap

Bu Risma mengambil sikap pembenahan langsung pada Taman Bungkul yang rusak (source:detik.com)
Seminggu ini, televisi rasanya jauh banget dari kehidupanku. Sejak persiapan acara syukuran lebon (memasuki) rumah sampai sekarang sudah beberapa hari pindah, belum juga menjamah televisi karena emang enggak ada. Sebagian barang masih ada di kontrakan termasuk televisi. Hingga aku ketinggalan berita dan baru tahu dari sumber pendatang blog ini dengan kata kunci, "Bu Risma marah, Taman Bungkul rusak." yang mengarah ke post "Bu Risma dan Taman Bungkul".

Lumayan kaget, ada-ada saja sih pencipta keyword ini. Dan tidak cuma satu dua tetapi ada puluhan keyword berbeda dengan maksud serupa. Searching-searching ternyata benar. Taman Bungkul yang pernah mendapatkan predikat taman terbaik se Asia itu rusak akibat terinjak-injak massa. Ya iyalah pasti diinjak, setiap aku ke sana pasti menginjak Taman Bungkul. Tetapi di sini yang diinjak tanamannya. Massa berebut es cream gratis yang dibagikan oleh sebuah perusahaan es cream internasional ternama hingga mengabaikan himbauan yang dipasang di setiap areal tanaman. 

Inilah pentingnya dipasang petugas keamanan yang senantiasa ditugaskan untuk mengingatkan pengunjung agar tak menginjak tanaman. Aku kerap ditegor petugas gegeara pengen foto dengan angel yang bagus hingga melanggar batas. Kadang ciut dan greget juga sih. Masa sebentar aja enggak boleh. Etapi kalau sudah begini baru aku sadar ternyata penting ya peran petugas?

Mungkin ketika itu koordinasi panitia dan petugas penjaganya kurang dibanding dengan massa yang ribuan. Namanya bagi-bagi gratis selalu menarik masyarakat untuk datang meskipun harga es cream konon katanya enggak sampai Rp. 2.000 lho. Apa mau nyalahin massa? Berani dengan ribuan orang?Hihihi bukan gitu sih, tentu yang bertanggung jawab kudu panitianya dong dong dong.

Dan aku apresiasi sikap Bu Risma yang tanggap langsung datang ke TKP pas kejadian. Wajar sih. Namanya usaha menjaga kelestarian alam Surabaya yang panasnya mulai menggila hingga tahunan, bisa rusak dalam sehari? Kupikir itu bukan kemarahan tapi sikap sebagai pemilik ibu kota. Aku yakin kita semua tentu tak ingin apa yang kita punya diporak porandakan begitu saja. Begitupun Bu Risma, walikota yang memang memiliki jiwa kepemilikan terhadap Surabaya ini. Berbeda jika tak ada rasa kepemilikan. Rusak yo ben, walikota ngurusi yang lain toh Taman Bungkul sudah ada yang ngurus. Pemimpin tinggal urusan belakang, Wani Piro?

Menginap Semalam di Cepuri Hotel Bersama Pacarku

Tampak dari depan Cepuri Hotel seperti rumah
Cepuri Hotel, salah satu penginapan yang terletak di kawasan Prawirotaman Yogyakarta. Banyak sekali pilihan penginapan di kawasan ini mulai dari hotel biasa sampai homestay, yang memang terkenal dengan kawasan penginapan murah di Jogja. Termasuk Cepuri Hotel.

Bentuknya memang mirip rumah. Memasuki ke dalam akan terlihat deretan kamar yang yang disewakan dengan rate harga masih dibawah Rp. 200.000.

Saat kami (aku dan suamiku) di Jogja, kami menginap di hotel ini untuk semalam. Sebenarnya sebagai tamu transfer dari hotel lain, yakni Hotel Muria yang kami tiduri malam sebelumnya. Karena di Hotel Muria enggak bisa memperpanjang penginapan untuk semalam lagi karena sudah terlanjur penuh dibooking orang lain. Pihak hotel mencarikan alternatif hotel lain yang sekelas dengan dengan Hotel Muria, berjodohlah dengan Hotel Cepuri ini.

Dari tarif harganya memang sama-sama Rp. 175.000 per malam. Tapi ternyata dari segi fasilitas Hotel Cepuri lebih nyaman. Sepertinya memang lebih profesional. Tadinya aku emang enggak punya foto-foto hotel karena emang lupa foto-foto, setelah searchibg ketemulah Hotel Cepuri yang kayaknya hotel biasa ternyata juga punya website sendiri cepurihotel.com.
Kamar 3A yang kami tempati. Meskipun foto pinjam tapi aku ingat dengan lantai dan dinding kaca sebelah kiri-kanan karena kamar ini tunggal enggak ada sisiannya.
Dari kamar yang kami tempatin di nomor 3A, tepat di samping pintu masuk. Ruangannya lebih luas. Terdapat almari pakaian, nakas rias, jemuran handuk, perlengkapan toileters sabun dan handuk, juga televisi serta sarapan walau sekedar roti dan teh hangat.

Menyenangkannya di luar kamar juga disediakan dispenser yang bisa dipakai untuk umum. Suamiku yang pecinta kopi, jadi enggak bingung mau ngopi kemana. Malam sebelumnya selalu ngajakin keluar hotel melulu untuk sekedar ngopi di warung kopi. Tapi di hotel ini suami jadi betah, tinggal keluar kamar untuk nyeduh kopi, sementara kopinya sudah siap sedua kopi sachet beli di minimarket saat keluar. Mau dinikmati di luar atau di dalam kamar suka-suka aja. Yang penting enggak capek-capek harus keluar hotel.
View dari kama kami, nampak berderet kamar hotel
Enggak nyamannya itu, ternyata hotel di kawasan Prawirotaman bebas masuk siapa saja. Maksudnya enggak peduli pasangan resmi atau enggak. Sejak masuk pertama kali di Hotel Muria, sama sekali kami tidak ditanyai tentang surat nikah. Padahal kami sudah siap-siap bawa dari rumah karena KTP kami belum serumah (sealamat), akunya yang belum pindah kewarganegaraan Sidoarjo. Cuma diminta KTP suami. Malah aku yang nawarin, "pakai surat nikah nggak mbak?" Tanya kutanya ke teman-teman, eh benar. Mungkin karena kawasan penginapan murah di Yogyakarta, banyak yang menyalahgunakan berasama pasangan tak resminya baik dari luar kota maupun dalam kota sendiri. Mirisnya penyewanya mahasiswa juga. Bisa jadi Pak Becak dan orang-orang yang pernah kami temui di kawasan tersebut mengira kami juga pasangan mesum kali ya. Padahal dia pacarku, pacar halalku.

NB: semua koleksi foto dari cepurihotel.com

Sunday, May 11, 2014

Sri Tanjung, Kereta Fajar Menuju Yogyakarta

Kereta api Sri Tanjung Ekonomi Jurusan Yogyakarta (sumber)
Merencanakan traveling tentu tak lepas dari perencanaan moda transportasi yang digunakan. Semenjak peremajaan sistem dan pengelolaan yang dilakukan PT. KAI (Kereta Api Indonesia), moda kereta menjadi favorit masyarakat. Apalagi keberadaan kereta ekonomi yang seakan naik kelas, dari segi fasilitas dari pendingin sekedar memakai kipas hingga penggunaan mesin pendingin AC, dan pelarangan penjual kaki lima di atas kereta, membuat nyaman penumpangnya.

Termasuk ketika kami (aku dan suami) ke Jogja kemarin, kami menggunakan moda kereta api ekonomi. Harga murah dengan fasilitas yang (lebih dari) sebanding.

Sejak seminggu sebelum keberangkatan aku sudah memesan tiket kereta api via online jurusan Surabaya-Yogyakarta. Karena aku menggunakan yang ekonomi, tentu aku memilih stasiun tujuan di Lempuyangan. Menurut pengalaman pernah transit sebentar di Jogja, ada dua stasiun berbeda yaitu stasiun Tugu untuk kelas selain ekonomi, sementara stasiun Lempuyangan hanya untuk kereta ekonomi saja.

Kebetulan kereta yang jam keberangkatannya sesuai adalah Kereta Api Sri Tanjung, tanpa pikir aku langsung pilih saja. Apalagi harga tiket kereta api Sri Tanjung ini termasuk kereta mendapat subsidi dari pemerintah. Tarif harganya jauh-dekat, naik dari stasiun awal (Banyuwangi) atau di stasiun manapun menuju Yogyakarta tarifnya sama, 50.000 rupiah. Enggak tahunya kereta Sri Tanjung tujuan akhirnya memang di stasiun Lempuyangan di Yogyakarta.

Kami naik via Stasiun Gubeng, Surabaya pukul 13.45. Padahal kereta api Sri Tanjung sendiri berangkat dari Banyuwangi juga lewat Stasiun Sidoarjo. Merupakan kereta timur (fajar) yang menuju Yogyakarta. Kami baru tahu ketika berada di atas kereta ngobrol dengan penumpang kereta lain yang naik dari stasiun Pasuruan.

Entah kenapa pas mencari pilihan kereta aku enggak ngetik jurusan Sidoarjo-Yogyakarta. Kupikir setiap kereta jurusan akhirnya di Surabaya dan kalau ke kota timur seperti Banyuwangi kudu oper kereta lain. Kesotoyan tanpa mencari informasi yang jelas inilah yang membuat salah paham. Seandainya sejak awal tahu, enggak akan ada acara terburu-buru ngejar kereta. Mengingat perjalanan dari rumah ke stasiun Gubeng Surabaya memakan waktu satu jam. Berutung, kami tepat sampai di Gubeng saat kereta mau berangkat.

Wisata Keraton Ngayogyakarta

Ornamen dari salah satu pagar kraton Yogyakarta
Yogyakarta memang menjadi wisata favorit di Jawa, banyak kalangan turis yang memilih Jogja sebagai destiny wisata setelah Bali. Begitupun anak sekolah, ketika libur sekolah, Jogja juga cocok sebagai wisata edukasi. Selain terdapat universitas negeri besar juga menjadi edukasi sejarah Jawa yang selalu mengikat pada karakter kota yang lebih dikenal turis dengan Jogja kota gudeg.

Libur 1 Mei hari buruh kemarin, aku yang mendapat undangan mengisi acara bedah buku "Jangan Menyerah" yang diadakan oleh Yatim Mandiri Yogyakarta, memang sengaja mengajak suami serta. Selain satu stempel dengan tempat suami kerja di cabang Sidoarjo yang juga otomatis kenal dengan rekan-rekan seperjuangannya, juga tujuan lainnya ingin liburan bersama yang belum pernah kami lakukan. Sama halnya seperti yang aku katakan pada postingan ini, lagi-lagi liburan tidak sengaja sambil kerja tapi kami happy, suami dapat cuti Jum'atnya sehingga bisa nambah berlibur satu hari di Jogja untuk eksplor keraton Yogyakarta yang kami berdua belum pernah menjamah ke dalamnya. 
Salah satu ruangan kaca berisi barang-barang Sultan
Pada malam hari sebelumnya kami bimbang antara ke keraton Jogja dengan ke pantai parangtritis. Sebenernya pengen bangetnya ke Candi Borobudur. Karena jauh dan memakan waktu satu jam, pilihan kami ke dua tempat tersebut. Mengeksplor keduanya pun tidak mungkin, hari jumat amat singkat waktunya sementara kereta kami ke Suarabaya jam 13.43. Oleh pak becak kami disadarkan, "kalau pantai dimana-mana hampir sama mbak, mending ke keraton saja. Turis di sini lebih memilih ke keraton daripada ke Parangtritis." Hehe benar juga ya? Kalau cuma sekedar pantai, di Surabaya ada pantai kenjeran, tapi keraton hanya bisa ditemukan di Yogyakarta. 
Di salah satu ruangan berisi lampu-lampu koleksi sultan 
Keraton Yogyakarta buka setiap hari mulai pukul 08.00-14.00. Jumat itu kami tiba pukul 09.00 menumpang betor (becak motor) yang kami sewa Rp. 20.000 dari penginapan di kawasan Prawirotaman. Sudah banyak pengunjung termasuk turis lokal maupun bule dan siswa sekolah yang liburan.

Kami langsung menuju Tepas Pariwisata untuk membeli 2 tiket untukku dan suamiku, @Rp. 5.000. Dan mendaftarkan ijin kamera yang kami pakai untuk memotret Rp. 1.000. untuk semua jenis kamera besar, kecil, maupun sekedar kamera Handphone. 
Di depan pintu masuk keraton
Setelah mendapatkan 2 tiket, kami menuju pemeriksaan tiket oleh petugas yang merupakan abdi dalam keraton. Lolos pemeriksaan kami disambut dengan topeng wajah yang menempel di dinding.

Semakin ke dalam terdapat beberapa bangunan dengan akses jawanya. Rata-rata berbentuk balai luas, lebih luas daripada lapangan bola, yang hampir semua lantainya terbuat dari marmer menampakkan kejayaan sang Sultan. 

Pengunjung tidak diperbolehkan naik ke atas balai marmer cukup melihatnya dari jauh. Ada batas-batas dengan warning yang ditulis dalam Bahasa maupun English. Sementara halaman keraton yang luas banyak ditumbuhi pepohonan. Panasnya Jogja siang hari tidak terasa dengan semilirnya angin. 
Depan gerbang atau pintu besar menuju area lain
Kami cukup puas wisata ke Jogja kali ini. Wisata yang biasanya hanya bisa kami lakukan dengan rombongan, bisa kami lakukan mandiri. Lebih enak tak terikat waktu. Kami bisa puas berlama-lama di keraton. Beberapa ruangan yang kami eksplor cukup banyak diantaranya, ruangan alat-alat makan Sultan, lampu-lampu koleksi sultan, koleksi guci dan keramik Sultan, singgasana Sultan, menyaksikan abdi dalam rapat, memberikan dan banyak lagi.

Berbeda dengan ketika aku wisata rombongan dengan teman-teman SMPku dulu. Jangankan untuk berlama-lama, masuk ke keraton saja tidak bisa karena kepentok waktu, keraton sudah tutup. Maka wisata ke keraton kali ini bisa menjadi unforgetable journey yang menyenangkan disamping juga bersama suami tercinya. :)

Friday, May 09, 2014

Memotivasi Anak-anak Yatim Yogya dalam Bedah Buku Jangan Menyerah

Dalam sesion bedah buku Jangan Menyerah, memotivasi anak-anak Yatim Yogyakarta
Menjadi Yatim bukan sebuah pilihan, jika aku boleh memilih aku juga ingin hidup sempurna seperti yang lain bersama Bapak Emak sampai mereka tua menyaksikan aku lulus sekolah, menikmati hasil kerjaku, menjadi wali nikah, atau bahkan juga merasakan bagaimana merawat mereka saat tua. Namanya takdir, sebagai yatim aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya, pasrah dan tetap bersyukur apapun kondisinya.

Tetapi tidak semua anak Yatim demikian, termasuk aku dulu sempat psimis dengan kehidupanku sendiri. Bayang-bayang bagaimana aku akan melanjutkan sekolah? Bagaimana aku bisa makan dan bagaimana-bagaimana-bagaimana yang lain, hingga 1 Mei kemarin dihadapan anak-anak yatim Yogyakarta, pengasuh panti, dan teman-teman panitia dari Yatim Mandiri Yogyakarta aku flash back kembali tentang bagaimana perjuanganku menakhlukkan semuanya. Dan aku baru menyadari ternyata semua bisa kulewati dengan baik, hingga aku bisa menjadi seperti sekarang.

Memang tidak mudah, terkadang masyarakat masih memandang sebelah mata dengan keyatiman. Menganggap anak yatim perlu dikasihani sehingga yang dibutuhkan hanya uang dan makan. Padahal jauh lebih baik bila kami diberi kail daripada ikannya. Apalagi kerap ketika anak yatim hidup di panti asuhan, setiap hari dijejali ikan matang tanpa tahu bagaimana proses mendapatkannya, tanpa dibekali bagaimana ia bisa bertahan hidup di tengah masyarakat nantinya.

Bapak memang tempat mencari nafkah, tempat bergantung ketika kami butuh uang jajan atau bayar sekolah. Begitupun, ibu juga tempat jujukan ketika kami kelaparan, masakan-masakannya selalu kami rindukan. Tetapi tahukah? Saat kami kehilangan salah satu atau keduanya, kami kehilangan segalanya. Bukan tentang hanya makan dan uang, lebih dari itu yatim amat mendambakan kasih sayang terutama semangat hidup yang sama ketika Bapak Ibu masih hidup.

Dan semangat itu bisa didapatkan ketika kita mempunyai cita-cita. Bagiku cita-cita bukan ada di langit atau menggantung di awan yang tak dapat kita raih. Tapi ia tertanam dalam hati (read: jantung) pemiliknya. Ketika langkah hidup mulai goyah. Alarm cita-cita akan berdenyut mengingatkan pemiliknya. Dan ketika itu terjadi semangat akan mengepul kembali. Tinggal kita mau bergerak atau tidak.

Menerima plakat kenang-kenangan dari Yatim Mandiri Yogya oleh Bapak Eko Pambudi Kacab Yatim Mandiri Yogyakarta
Foto bersama moderator Mbak Floweria, Bapak Eko Pambudi, Mas Eko Prayitno Penulis Orang Miskin Dilarang Sakit dan Aku

Feel Free To Follow My Blog