Bagaiamana bisa aku terlibat dengan tempat suamiku bekerja? Bisa dibilang aku dan suamiku memang cinta lokasi. Aku adalah salah satu purna asuh dari yayasan tersebut, ketika pada akhirnya aku juga bekerja di sana dan bertemu suami yang waktu itu karyawan baru. Beberapa tahun kemudian menikah deh. Itu sih singkat ceritanya, meski ada cerita versi panjangnya juga hehehe. Lantas karena kami menikah, tak dibolehkan satu kantor, akhirnya aku yang memilih keluar. Tapi aku masih sering membantu, hanya sekedar meringankan pekerjaan suami.
Setelah sempat gagal, shooting tersebut disepakati lagi hari Sabtu, 8 Maret 2014. Jika sebelumnya lokasi tempat shooting di rumah produksi jamur, salah satu tempat usaha purna asuh lain, kali ini shootingnya di rumah (baca: kontrakan!). Jadi aku enggak perlu kemana-mana. Krunya yang datang ke rumah.
Gambar yang dibutuhkan memang karakter kesuksesan dari purna asuh. Alhamdulillah, aku dianggap sukses, lebih tepatnya yatim binaan yang sukses, meskipun banyak sekali di luaran sana yang lebih sukses dari aku. Yang semangatnya lebih luar biasa dari aku. Juga lebih menginspirasi dari aku.
Jadilah sehari sebelum waktunya shooting aku bersih-bersih ruang buku yang menjadi karakterku dalam bidang kepenulisan. Selain menjadi tempat buku, ruang bukuku memang seperti gudang, tempat menaruh barang-barang lain. Tas, sepatu, baju bekas, kerudung, juga kertas-kertas kerjaan suami yang dibawa ke rumah. Ketika waktunya shooting hanya tinggal rak buku dan beberapa tas saja yang masih nyerentel indah.
Bersama dua kru, mulai dari tahap persiapan setting tempat pukul 10.00 dan baru selesai pukul 12.00. Padahal durasi gambar yang dibutuhkan hanya satu menit. Sebentar ya, tetapi enggak mudah ternyata. Kalau candid enak tanpa disadari, tetapi ketika diri ini sadar berhadapan dengan kamera groginya luar biasa, Berkali-kali gagal take, intonasinya kurang, mimik muka, sampai dengan endingnya yang aku enggak fokus ke kamera.
Di awal sudah ditekankan sama kru, setelah selesai kudu fokus terus ke kamera barang beberapa detik. Etapi karena grogi, semuanya buyar. Bahkan take yang menurutku paling bagus justru gugur gara-gara endingnya. Hiks.
Sayangnya kemarin enggak sempat mengambil gambar pas aku shootingnya. Boro-boro kepikiran ambil gambar, yang ada bagaimana aku bisa
![]() |
Saat mengobrak-abrik mau menata ruangan |
![]() |
Rak buku sudah rapi (nggak) jali, karena dioprek lagi sama kru untuk tata letak buku |
![]() |
Setting shooting company profil |
![]() |
Yayasan yang menerbitkan buku ini yang menyertakan profilku dalam company profilnya. |
durasi gambar yang diperlukan cuma satu menit, tapi perlu waktu 2 jam, bujubune... cehhh, jadi cinta lokasi ya... ceritain dong versi panjangnya, jadi penasaran...pasti kayak film korea...*Eh
ReplyDeleteBikin film sependek apa pun itu memang butuh waktu yang tidak singkat, heuheu..
ReplyDeletesukses buat projectnya, mak..
Woaah, rak bukunya uniik! :D
ReplyDeleteSalam kenal Mbak Nunu :D
itu foto yang pertama kayak korban banjir hehe.... berantakan
ReplyDeleteMantap...!!! salam kenal mbak
ReplyDeleteSalam kenal Mbak Nunu..
ReplyDeletesemoga flimnya memuaskan :)