Wednesday, May 07, 2014

Proteksi Gadget Anak Dengan Cerdas

Aplikasi Anak Cerdas di Google Store
Sudah naluri jika anak memiliki ambisi keingintahuan yang tinggi. Melihat apa saja yang nampak baru atau bahkan aneh olehnya selalu menimbulkan pertanyaan. Alih-alih orang tua menjawab justru menimbulkan pertanyaan baru bagi si kecil. Apalagi dengan yang namanya gadget, mulai dari kamera digital sampai gadget orang tua menimbulkan rasa penasaran mereka. Tak ayal kadang ketika aku hendak mendekati para keponakanku untuk sekedar bermain dengan mereka yang ditanya pertama kali justru, "Tante, henponnya mana?" atau kadang to the point, "pinjam henponnya Te?"

Bagai makan buah simalakama. Meminjami salah tidak meminjami pun terkadang anak-anak jika sudah mengeluarkan jurus tangisnya membuat para orang dewasa terlebih orang tuanya sendiri, akan menuruti semua kemauan anak termasuk sekedar meminjami gadget. Padahal siapapun tahu gadget sekarang begitu canggihnya hingga ia mendapat julukan si telepon pintar. Pintar menjawab pertanyaan apa saja dan pintar memendekkan dimensi jarak antara Amerika dan Indonesia, karena ia tersambung internet. 
Ilustrasi: Anak dan gadget (credit)
Ponakanku sendiri sudah paham benar bagaimana kerja si telepon pintar ini. Walaupun hanya sekedar gamers dengan cekatan ia mendownload games-games kesukaannya dia. Yang tidak ia sadari justru dampak games-games itulah yang dapat membentuk karakternya. Bahkan lebih jauh orang tua kudu ngerti mana games yang baik untuk anaknya dan mana yang enggak boleh. Tetapi apa iya orang tua bisa membersamai anak 24 jam?

Fatalnya lagi jika yang dipakai anak adalah gadget orang tua. Seperti kasusku dengan keponakanku yang sering banget meminjam smartphoneku. Meskipun konten-konten dan aplikasi yang terinstal adalah yang tergolong "aman". Aman bagi orang dewasa belum tentu aman bagi anak kecil. Contoh saja aplikasi message yang memang pribadi. Bisa jadi didalamnya terdapat rahasia ibu dan ayahnya yang tidak boleh diketahui oleh anak.

Pengalaman juga beberapa kali aku mendapat sms tidak jelas atau telepon dari seorang teman yang ujung-ujungnya gadget teman tersebut sedang dibuat mainan anaknya. Atau bahkan aku sendiri kerap kehabisan pulsa perihal tersebut, gadgetku dipencat-pencet oleh keponakanku hingga tanpa sengaja menelepon orang lain.

Yang lebih parah, keponakanku yang masih TK nol kecil selalu penasaran dengan iklan di TV, termasuk iklan layanan sebuah provider yang dengan cara ketik ini kemudian kirim ke nomor ini. Oleh keponakanku, yang belum tahu maksud iklan layanan tersebut mendaftarkan begitu saja, "Nih te, aku sudah bisa sms pakai hape tante," ujarnya memamerkan keahlian yang baru saja ia lakukan.

"Sms siapa sayang?" Tanyaku penasaran. Jangan-jangan ia sms temanku lagi.

Tak berselang ada sms masuk memberitahukan pendaftaran layananku berhasil. Layanan yang beberapa menit yang lalu iklannya aku lihat bersama ponakanku. Pantesan kapan hari sebelumnya pulsa suamiku terpotong begitu saja atas layanan provider yang tidak ia daftarkan, rupanya didaftarkan oleh sang keponakan tercinta. Dan kemudian hapeku jadi korban.

Sementara aplikasi media sosial yang umum ada di semua smartphone, sejatinya tak layak dikonsumai anak-anak. Bagaimana mungkin anak mampu paham bahasa status orang-orang dewasa? Atau bagaimana mungkin orang tua bisa menjamin kesekian ribu teman atau followernya di medsos statusnya tak berdampak negatif ketika anak kita membacanya? Maka yang perlu dilakukan orang tua adalah "sekali lagi" memproteksi anak, terlebih memproteksi gadget sebagai langkah utama proteksi dini.

Memproteksi gadget orang tua bukan berarti melarang anak menggunakan gadget orang tua. Anak juga perlu mengenal tekhnologi meskipun ia sendiri juga masih belum layak mendapat fasilitas gadget. Sesekali tak masalah jika orang tua juga turut berbagi dengan anak. Bagaimanapun gadget akan membuatkan banyak belajar, mulai dari tekhnologi sampai permainan yang akan mengembangkan motoriknya. Bagaimana caranya?
Fitur Zona Anak dengan memasukkan kata sandi pada pengaturan Aplikasi Anak Cerdas
Acer Indonesia atau AcerID melalui inovasinya menghadirkan Aplikasi Anak Cerdas yang berguna bagi orang tua untuk membatasi anak membuka aplikasi yang hanya diizinkan oleh orang tua. Semacam polisi, sistem aplikasi ini akan berjalan sesuai yang diperintahkan atasannya, yaitu orang tua. Agar polisi ini berjalan dengan baik. Orang tua cukup mengatur aplikasi yang boleh dan tidak boleh dibuka oleh anak yang akan dilindungi oleh sandi yang hanya diketahui oleh orang tua. Ketika aplikasi ini sudah diatur, secara sengaja atau tidak sengaja anak memencet aplikasi yang disembunyikan, aplikasi tersebut tidak bisa jalan. Dalam kondisi ini, gadget menjadi Zona anak. Dan baru bisa jalan ketika dinormalkan kembali oleh orang tuanya melalui sandi dan beralih menjadi gadget zona orang tua.
Modus gadget zona anak
Selain mengaktifkan modus zona anak pada gadget, aplikasi anak cerdas juga membantu orang tua dalam mengontrol aplikasi apa saja yang sudah dijalankan si anak serta berapa lama kuantitas masing-masing aplikasi yang sudah ia buka. Apakah ia lebih banyak memainkan aplikasi games atau memainkan aplikasi belajarnya? Orang tua bisa mengaktifkan fitur laporan penggunaan agar gadget yang ia gunakan efektif untuk belajar bukan sekedar main-main. Jika ternyata ia menggunakan aplikasi belajarnya di gadget, orang tua bisa mengukur perkembangan belajarnya melalui laporan yang lebih detail lagi seperti di bawah ini. 
Pantau aktivitas anak dengan mengaktifkan fitur Laporan Penggunaan aplikasi
Aktifkan laporan lebih detail
Aplikasi ini gratis bisa di download melalui smartphone di Google Store atau App Store. Mudah dan ringan downloadnya, berkisal antara 14 Mb sehingga tidak memenuhi space smartphone. Seta otomatis terinstal sehingga bisa langsung digunakan.

Dengan aplikasi anak cerdas, orang tua menjadi tenang anakpun akan aman dari pengaruh negatif lainnya. Termasuk tidak ada lagi kasus kehabisan pulsa karena si anak salah pencet nomor telepon teman karena semua sudah aman berkat adanya aplikasi anak cerdas. Ya kan?

Postingan blog ini diikutsertakan dalam lomba blog aplikasi Anak Cerdas kerja sama Kumpulan Emak Blogger dan Acer Indonesia

Wordless Wednesday: Ala Dua Ransel

Bukan Dua Ransel Dina & Ryan tapi Nunu & Asvan punya dua ransel maksudnya LOL 
Di Keraton Jogjakarta

Monday, May 05, 2014

Pengumuman Giveaway Hari Buku

Alhamdulillah giveaway yang kuselenggarakan April kemarin bertepatan hari buku berakhir pada 30 April 2014. Seperti pada pengumumannya, hasil pemenang yang akan memperoleh buku adalah hari ini 5 Mei 2014. Dan inilah 3 pemenangnya :
1. Muchtar Prawira Solihin
2. Dwiexz Someo
3. Cicik Sri Winarti
Email nama+alamat+no telepon kalian ke ununtriwidana@gmail.com. Barang akan dikirim hari senin ya. Maaf banget seminggu ini aku sibuk ngurusi persiapa syukuran lebon rumah hari Kamis lusa. Itulah kenapa pengumumannya juga tersendat karena aku juga membantu suami ngecat rumah supaya cepat selesai. Mohon doa ya. Jika ada kesempatan nanti akan aku ceritakan bagaimana keajaiban itu berjalan hingga rumah yang kuimpikan sudah di depan mata.

Dan terakhir, makasih ya buat yang sudah ikutan. Jangan bosan insyaAllah Mei ini juga akan ada GA lagi. Sampai bertemu di GA selanjutnya.

Sunday, May 04, 2014

Menikmati Sate Kelinci di Grojogan Sewu Tawangmangu

Penjual sate kelinci di Grojogan Sewu Tawangmangu Solo 
Berkunjung ke Grojogan Sewu, Tawangmangu Solo, tidak lengkap rasanya jika tidak mencicipi salah satu kuliner ini, sate kelinci. Meskipun tanpa berkunjung ke tempat inipun kita bisa mendapati sate kelinci dengan mudah. Yang menjadi berharga adalah suasananya. Makan ditemani teman-teman dari BPP FLP (Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena) 2013-2014 diiringi gemericik air terjun Grojogan Sewu yang sejuk dan menyegarkan pikiran. 

Penjual satenya seorang ibu-ibu sebaya, mangkal di dekat jembatan gantung yang terbuat dari tali. Saat memesan sate untuk makan siang inipun, beberapa teman bermain mengadu nyali melintasi jembatan sambil menunggu sate matang.

Aku sendiri duduk membaur bersama teman-teman yang lain di gelaran terpal yang disediakan penjualnya, sambil sesekali menahan liur menetes karena bau bakaran sate yang menguar kemana-mana. Sementara yang lain pun masih asyik membidikkan kamera.

Hasratpun tersalurkan saat satu persatu porsi sate dibagikan di atas piring. Satu piringnya berisi kurang lebih sepuluh tusuk sate kelinci dilahap dengan segulung lontong.

Penyajiannyapun tak pakai sendok. Cara makannya lontong yang terbungkus bulat memanjang dikupas layaknya mengupas pisang, bagian atas terkupas untuk dicelupkan ke bumbu-bumbu di atas sate. Sementara bagian bawah yang belum terkupas buat pegangan. Begitu sampai habis dengan sesekali diiringi melahap satenya.

Untuk dapat merasakan nikmatnya sate kelinci di dalam air terjun Grojogan Sewu, teman-teman hanya merogoh kocek 15.000. Murah bukan? Padahal di tempat wisata lho. Rasanya pun tak kalah. Dagingnya empuk dan bumbunya maknyus. 

Beberapa teman ada yang enggak suka sate kelinci, memilih menu sate ayam. Entah enggak suka atau enggak mau makan. Menurut kebanyakan mereka yang enggak mau makan sate kelinci karena teringat akan bayang-bayang imut kelinci yang sangat sayang jadi santapan begini. Konon katanya ketika sate kelinci disembelih, matanya selalu menangis berkaca-kaca. Cerita itu kudapat dari suamiku yang menyaksikan sendiri saat temannya menyembelih kelinci.

Tetapi ketika acara makan-makan sate kelinci usai baru berembus berita tak sedap. Katanya sate yang barusan kami makan adalah daging tikus bukan daging kelinci. Menurut mereka yang memutuskan enggak mau makan sate kelinci ternyata sudah mendengar isu ini lebih dulu. Ada bahkan yang mengenali ternyata rasa dagingnya berbeda dari sate kelinci pada umumnya. Kalau menurutku pas makan enak ya kutelan aja. Hehehe lagian sudah terlanjur masuk perut. 
Teman-teman BPP FLP saat makan siang di Grojogan Sewu Tawangmangu Solo

Terlambat Kereta? Ikhlasin Aja

Sebelum aku cerita bagaimana acara bedah buku dan kegiatanku selama di Yogyakarta, aku ingin mendahulukan tulisan ini. Pengalamanku mengenai ikhlas saat di Jogja untuk mengikuti giveaway Mbak Ade Anita.

Kata orang Jumat memang hari yang singkat, tak terkecuali bagi kami saat hari ketiga di Jogja. Tanpa terasa hari sudah panas, sehingga kami sudahi acata muter-muter keratonnya. Mengingat Adzan sholat Jumat sudah berkumandang. Kami menggantung penawaran harga daster begitu saja, meski sebenarnya tak enak hati sama penjualnya yang sudah antuasias memilihkan beberapa daster yang pantas untuk mertuaku.

"Ngapunten Bu'e, sampun Adzan, ajeng ten Mesjid Ageng," seraya mengulurkan daster yang kupegang. (maaf ibu, sudah Adzan, mau ke Masjid Agung)
"Hallah, wong isih Adzan ae mbak, dereng kutbah'e," ujarnya tak mau kalah. (Hallah, kan masih Adzan saja Mbak, belum kuthbatnya).
"Enggeh Bu'e, ngapunten ngge," tuturku bergegas menarik tangan suamiku seolah menyelamatkannya dari kandang Macam. (Iya Bu, mohon maaf ya)

Kami mempercepat langkah, disamping karena sudah Adzan, jarak Masjidnya masih cukup jauh. Apalagi kami jalan kaki di bawah matahari terik. Sementara suami Jumatan, aku menunggu di bangunan kiri sisi depan cukup jauh dari Masjid, bersama satu orang ibu-ibu istri Lurah dari Barabai, dan satu perempuan muda dari Semarang.

Perhitunganku tepat, sholat Jumat selesai pukul 12.30 saat suamiku melambai dari jauh, gerbang Masjid, untuk meminta uang bayar penitipan sandal. Masalahnya aku belum sholat dzuhur dan sisa waktu kami hanya 1 jam 15 menit untuk mengejar kereta. Bukan aku tak mau sholat, aku cukup menimbang antara jamak takdim atau jamak takhir di atas kereta dengan tayamum sembari duduk seperti biasanya.

Tapi ah nanggung, aku meminta suamiku menunggu barang 10 menit. Selain kujamak, sholatnya juga ku Qoshor 2 Dzuhur 2 Ashar. Doaku usai Sholat sekenanya dan buru-buru mengejar bus. Masih cukup jauh lagi. Kami jalan kaki lagi menuju shelter Bus Trans Jogja di depan Benteng Vredeburg tak jauh dari Kantor Pos. Baru sadar di atas Bus Trans ada jam angka menunjukkan pukul 13.20. Nggak salah nih? Perasaan usai sholat tadi baru pukul 12.40. Aku ragu, kuputuskan tanya dengan sang kenek.

"Pak Bus ini sampai di Lempuyangan berapa lama lagi?"
"Sekitar 1 jam 15 menitan lagi Mbak."
Aku terhenyak, "yang benar Pak? Kereta kami 40 Menit lagi."
"Kira-kira memang segituan Mbak. Itu tiba di Shelter, belum nanti Mbaknya harus jalan kaki lagi menuju stasiun."

Perbincanganku dengan sang kenekpun berlanjut menjadi perbincangan umum. Beberapa orang memberiku saran usang yang sudah kadaluwarsa. Intinya kami salah naik. Harusnya saat dari Kantor Pos kami jalan kaki sedikit ke Stasiun Tugu berlanjut naik kereta komuter yang membawa ke Stasiun Lempuyangan hanya butuh 10-15 menit saja. Sementara kami sudah terlanjur naik Bus Trans yang ternyata jalurnya muter kayak kekehan. Apa boleh buat, berbalik mengikuti saranpun juga tak berguna kan? Cukup menjadikannya catatan saat ke Jogja lagi.

Jelas kami ketinggalan kereta. Berkaca saat kami berangkat dari Stasiun Gubeng, kami datang pas kereta api Sri Tanjung yang akan kami naiki mau berangkat tepat pada pukul yang tercetak pada tiketnya. Apalagi ditekankan para penumpang Bus Trans yang lain jika kereta sekarang datangnya tepat waktu, tidak kayak dulu yang kebanhakan mkolornya.

Aku tak enak dengan suamiku. Keesokannya dia harus bekerja. Berkali-kali aku memandangnya dengan penuh sesal. Tapi suamiku ikhlas menjawab tatapanku, "yo ra popo, nanti pasti ada kereta yang lain."
"Ora Mas, besok kan sampean kerja."
"Ora popo Dhek. Westalah  wes barang kadung." (Tidak apa Dhek. Sudahlah, sudah terlanjur)
"Opo keporo aku kesuwen Sholat tadi yo Mas?" Tanyaku penuh rasa bersalah. (Apa karena aku kelamaan Sholat tadi ya Mas?)

Bagaimanapun bayang-bayang sebab musabab keterlambatan ini terus membayangi. Seandainya tadi gak pakai acara pilih-pilih baju, dan seandainya-seandainya yang lain sampai pikiran jelekku seandainya suamiku tidak sholat Jumat saja.

"Yo ora, ket jamanku SD sholat nomer siji liyane keri." (Ya tidak, dari zaman aku SD, sholat tetap nomor satu lainnya belakangan)

Aku baru tenang mendengarnya dan ikhlas apapun yang terjadi nanti di Stasiun Lempuyangan. Dapat ganti kereta atau bayar lagi atau juga malah terpaksa naik Bus yang kubayangkan akan lebih capeknya. Aku ikhlasin dulu semua keadaan itu. Pasrah deh pokoknya.
Ketika aku bisa mulai ikhlas, aku buat status ini di Facebook
Meskipun sudah jelas kami ketinggalan, senang banget ketika pada akhirnya Bus menepi di shelter Lempuyangan pukul 14.15 yang kemudian kami lanjutkan jalan kaki 15 menit. Pas pukul 14.30 sampai di stasiun. Banyak yang antri tiket. Dengan penuh harap aku menuju bagian pemeriksaan tiket.

"Pak, kereta ke Surabaya jam 13.43 sudah berangkat ya?"
"Kereta apa Mbak? Coba lihat tiketnya."
Aku menyerahkan seluruh 4 tiket PP yang kupegang.
"KTPnya?"
"Untuk bukti sebagai ganti tiket yang baru ya Pak?"
"Ya enggak Mbak kalau tiket ekonomi. Tiket kereta eksekutif yang dapat ganti kena potongan 10%."
"Ya sudah nggak papa deh pak. Ini KTP kami."
Penjaga justru menyetempel kedua tiket kami dengan kode stasiun LPN 3030. "Silakan masuk."
"Lho pak, serius?"
"Iya, saya tahu Mbaknya belum datang, makanya kereta tidak saya bolehin datang dulu"
"Jadi yang terlambat keretanya? Bukan saya?"
"Iya, kereta datang pukul 14.45."

Alhamdulillah, kayak menang lotre aku lompat-lompat sambil memeluk suamiku.


Tulisan ini diikut sertakan dalam GIVEAWAY TENTANG IKHLAS


Saturday, May 03, 2014

Foodcourt Online Sejengkal Tap Telunjuk di Foodpanda

Suasana Food Court di sebuah Mall (sumber)
Foodcourt, tentu banyak yang tau dengan istilah satu ini, apalagi bagi anak mall yang doyan olahraga jalan muterin seluruh area mall. Ujung-ujungnya hangout bermuara di foodcourt, sekedar ngobrol atau bercengkrama bahkan aku kerap menjadikan foodcourt sebagai tempat appoinment dengan teman.

Konsep foodcourt ini bisa kita temui hampir di setiap mall. Tempat di mana berkumpulnya para pedagang makanan menjadi satu area yang disediakan oleh pengelola mall. Sehingga pengunjung mempunyai ragam pilihan makanan yang ditawarkan. Dibanding aku datang langsung ke restoran aslinya, aku bisa mix and match antara makanan dan minuman sesuka hati dari penjual berbeda. Ini nih yang aku suka dari konsep foodcourt, tak perlu capek muterin seluruh mall hanya untuk menentukan menu yang cocok. Tinggal datang ke satu tempat saja.

Namun, apa daya jika langkah kaki tak bisa keluar rumah karena kesibukan, sakit atau tak ada waktu untuk membuat jamuan makanan untuk tamu? Pilihan lain memang mengandalkan food delivery service dari beragam restaurant yang menyediakan service tersebut. Sayangnya, otak manusia (apalagi aku yang kerap kambuh pikunnya) tak mampu menghafal restaurant mana saja yang menyediakan delivery service. Satu-satunya mungkin restaurant cepat saji yang menunya itu-itu saja.

Karena kegalauan tersebut, aku ngebayangin bagaimana ya jika foodcourt ini dibuat sistem online? Untuk memburu waktu aku tak perlu datang langsung ke tempatnya tapi tetap aku memiliki pilihan menu banyak yang bisa kusesuaikan dengan seleraku. Atau mungkin aku bisa memilih banyak menu berbeda untuk tamu atau keluarga. Konsep foodcourt online dimana seluruh restaurant di Indonesia berkumpul jadi satu dalam sebuah situs.
Aplikasi Foodpanda di android
Solusi tersebut aku temukan di foodpanda.co.id atau lebih dikenal dengan Foodpanda Indonesia yang menyebar di area Jabodetabek serta 4 kota besar lainnya yaitu, Bandung, Makassar, Medan dan Surabaya termasuk tak ketinggalan pulau Bali tempatnya para turis. Lebih dari 300 restaurant di Indonesia bergabung menjadi satu dalam delivery service Foodpanda Indonesia. Bisa kubayangin jika foodcourt beneran akan seluas apa ya? Perkiraanku jika 1 lantai mall Royal Plaza berisi kurang lebih 100 ruko, setara dengan 3 lantai mall Royal Plaza Surabaya. Tuh kan, sejengkal tap telunjuk atau jempol tangan di situs Foodpanda Indonesia setara dengan muterin 3 lantai mall.

Apalagi beberapa restaurant yang tidak menyediakan delivery service menyediakan delivery servicenya melalui Foodpanda Indonesia ini. Sebut saja restaurant pancake favoritku, Pancious, meskipun memiliki situs resmi, mereka tak memiliki sistem delivery service, justru delivery servicenya tersedia di Foodpanda.

Teman-teman yang ada di ibukota apalagi Jakarta, tak perlu capek-capek terjebak macet. Tinggal buka smartphone dan tap foodpanda.co.id. Atau bisa dowload aplikasinya melalui app store atau google store. Aplikasinya bisa langsung diakses dengan atau tanpa sign up. Lebih mudah jika kita melakukan sign up lebih memudahkan akses yang menyimpan otomatis alamat pengiriman.

Kalau dipikir-pikir sih daripada beli langsung ke restaurant dimakan di tempat ataupun dibungkus harganya jauh lebih murah delivery food di foodpanda. Dulu waktu ke Pancious sama sekali aku tidak mendapatkan diskon. Tetapi di foodpanda ada penawaran tertentu. Coba lihat list harganya dibawah ini. Lumayan hemat kan? Apalagi kalau beli banyak lebih murah dan menghemat ongkos pengiriman. Bahkan di beberapa tempat ongkos delivery foodnya bisa gratis. Asyik ya? Gak capek, diskon dan gratis ongkir.
Diskon pancake di Pancious Foodpanda 
Untuk memakai aplikasi Foodpanda mudah saja. Setelah masuk ke aplikasinya kemudian pilih kota dimana kita stay yang otomatis akan keluar list bermacam restoran di kota tersebut yang bekerja sama dengan Foodpanda Indonesia. Setelah itu pilih restaurant yang diharapkan, akan muncul list makanan beserta informasi harga, ketentuan dan ongkos kirim. Mudah bukan? Ternyata hanya berjarak sejengkal tap telunjuk dapat mempersempit jarak dan waktu kita tak terbuang sia-sia dengan kemacetannya jalan. :)
Daftar resto di kawasan Bintaro yang bekerjasama dengan Foodpanda

Thursday, May 01, 2014

Menikmati Keramahan Solo Malam Hari

Ini merupakan catatan usang. Karena masih begitu ingat kenangan-kenanganya sangat sayang aku lupakan begitu saja. Oke, ini adalah saat pertama kali aku ke Solo. Sebenernya hanya singgah sebentar untuk kemudian lanjut ke Tawangmangu mengikuti rakernas BPP FLP (Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena) 2013-2017), Oktober 2013 lalu.
Bagi warga Solo, jalan-jalan di kota Solo mungkin menjadi hal biasa. Suasana kota dan keramah tamahannya yang tersohor menjadi makanan sehari-hari. Tetapi bagi pelancong, meskipun masih bertaraf lokal, hal tersebut merupakan kultur langka yang memiliki suasana berbeda. Bersama beberapa teman aku pernah mencicipi bagaimana Solo membuat kami sebagai pendatang kagum dengan kearifan suasananya.

Ketika itu rombonganku, dari Jatim tiba pertama kali di Solo malam sehari sebelum pelaksanaan Raker, setelah De Pita dari Jakarta datang sendirian paginya.

Kami menginap semalam di Solo, di rumah penulis Mbak Afifah Afra sekaligus pemilik toko buku Afra dan salah satu owner Indiva Publishing yang menjabat sebagai Sekjend BPP FLP periode ini.

Ramah dan menyenangkan, khas dengan Solonya. Kami disambut hangat dengan diajak berkeliling Solo. Di kereta kami memang sudah menyusun sekian rencana, salah satunya saat tiba, kami ingin menikmati angkringan yang terkenal dan belum pernah kucicipi (saat itu). Bak tamu agung, oleh Mbak Afra justru kami diantar kemana-kemana. Kami berlima dari Jatim (Aku, Mbak Retno dan anaknya, Mas Aferu Fajar, Mbak Wiwik Hafidzoh) ketambahan Mbak Nurbaiti Hikaru, De Pita, Mbak Dhieny Megawati dari Hongkong (beneran dari Hongkong) dan keluarga Mbak Afra (Mbak Afra, suami dan 2 anaknya), total 11 kepala terangkut dalam Mobil. Hehehe.... Seru dan rame dengan ocehan anak-anak dan derai tawa semua karena banyolan dan suara-suara De Pita yang memang seorang pendongeng menirukan suara binatang.

Puas menikmati jamuan Mbak Afra di angkringan Solo, kami dibawa meluncur ke jalan protokol Slamet Riyadi, mobil menepi dan parkir tak jauh dari Benteng Vesternburg. Menurut feelingku, tepatnya di sebelah Barat benteng. Sayang, di kawasan ini memang sepi dan kurang penyinaran sehingga dimanfaatkan muda mudi berdua-duaan. Nampak terlihat setelah tersorot lampu mobil.

Kota yang merupakan bekas pemerintahan Gubernur DKI (Daerah Khusus Ibukota) Jakarta sekarang, Joko Widodo, begitu ramah bagi pejalan kaki. Infrastukturnya tertata dan terkonsep, berjalan menjadi menyenangkan sewaktu-waktu capek tersedia bangku panjang untuk istirahat atau sekedar duduk-duduk.

Dari Benteng Vesternburg, kami berjalan ke Timur arah Keraton. Lumayan jauh dengan segala perkiraan pasti kami akan menelan kecewa karena petang begini barang tentu Keraton Solo sudah tutup. Sebelum sampai gerbangnya, kami sempatkan foto di air mancur yang terkenal dengan bundaran Glodok berlandmark Royal Surakarta Herritage. Indah sekali. Padahal tak jauh tempat tersebut ada banyak Polisi Patroli tetapi kami diizinkan untuk berfoto bersama. Sungguh di Solo polisipun juga memiliki kearifan lokal yang mengagumkan. Malah kami dibantu menyeberang ketika hendak pulang. 
Air mancur bundaran Glodok Jl. Slamet Riyadi Solo 

Dekat shelter bus trans Solo depan Museum Bank Indonesia Solo

Mas Aferu Fajar, ketua FLP Surabaya

Bukan ibu-ibu arisan. Dari kiri: aku, Mbak Nurbaiti Hikaru, De Pita, Mbak Dhieny Megawati, Mbak Wiwik Hafidzoh, Mbak Retno Fitriyanti, Mbak Afra dan Anis anak sulungnya Mbak Afra. 

Feel Free To Follow My Blog