Thursday, April 24, 2014

Semangat Hardiknas bersama Yatim Mandiri Yogyakarta

Hello Yogya,  tanggal 1 Mei insyaAllah akan ada di Yogya lho.  Dalam rangka mengahadiri undangan dari Yatim Mandiri Yogyakarta di Acara "Gebyar Hari Pendidikab Nasional". Serangkaian acaranya ada bedah buku yang dihadiri oleh penerbit dan tokoh dari kota Yogya, cerdas cermat anak yatim,  lomba puisi dan sedekah buku. 

Posisiku di sini seperti yang aku ceritakan saat talkshow Penulis Bicara di Radio Sindo,  aku sebagai salah satu penulis buku "Jangan Menyerah" terbitan Yatim Mandiri dan alumni dari Mandiri Enterpreneur Centre sebagai wadah pembinaan purna asuh Yatim Mandiri pasca sekolah.

Acaranya berlangsung di Masjid Diponegoro Balai Kota Yogyakarta pada hari Kamis 1 Mei 2014 tepat Hari Pendidikan Nasional mulai pukul 7.30-11.30 siang.

Teman-teman yang ingin datang bisa langsung ke tekape ya.  Hanya dengan membawa buku untuk sedekah yang akan dimanfaatkan bagi kelangsungan belajar sanggar. Disarankan buku yang khusus buat usia anak ya.  Hehehe jangan bacaan dewasa. 

Sampai bertemu di Yogyakarta ya teman-teman!

Mie Ayam Banjir Sidoarjo Yang Menggoyang Lidah

Mie ayam banjir bikin nagih deh pokoknya

Olahan mie menjadi menu pilihan kala perut belum lapar tapi sudah ingin makan. Yup, seringkali kita mengalami hal ini, termasuk aku. Ingin makan tapi belum waktunya. Atau kadang sudah waktunya makan siang, ingin makan tapi masih belum lapar. Nah pada saat ini menu andalanku adalah mie ayam.

Mie Ayam yang sudah membumi dalam masyarakat Indonesia ini sudah tidak asing di lidah. Meski banyak penjual yang lalu lalang dan mangkal masing-masing memiliki rasa berbeda. Entah apa penyebabnya. Yang kurasakan selama ini lidahku cukup mengenali mana mie ayam yang menggoyang lidah dan tidak.

Untuk mengenali Mie ayam yang menggoyang lidah mudah saja. Pertama-tama memang dari Mie-nya. Kebanyakan diawal-awal berjualan para penjual menggunakan mie buatan sendiri yang khas dengan mie ayam. Setelah dagangannya ramai mereka mulai malas dan menggunakan mie instan atau yang disebut mie bal. Fenomena ini seringkali kutemui pada beberapa penjual mie ayam. Dan bisa dilihat mereka tak akan seramai dengan penjual mie yang tetap konsisten dengan mie buatan sendiri.

Hal ini bisa dibuktikan oleh Pak Banjir, penjual Mie Ayam dekat rumah mertua di kawasan Bringin Bendo Taman Sidoarjo. Tepatnya di belakang pabrik kopi Sidoarjo. Kedai mie ayam ini ramai banget. Ketika aku kemari pukul 12.00 Pak Banjir masih baru buka dan sudah banyak yang mengantri. Lihat saja mangkok-mangkok dihadapannya pak Banjir. Setiap hari seperti itu dan tak menunggu lama maghrib sudah habis. Kadang, jam 4 saat sudah tidak kebagian.

Selain mie-nya yang original, pak Banjir ini loman banget. Dalam bahasa jawa, loman itu baik hati. Lauk ayamnya nomer satu diantara penjual yang lain yang kadang sak cuprit. Sementara kuahnya bukan kuah bening, agak hitam kecokelatan. Sangat terasa bumbu-bumbunya.

Kalau harganya standart Rp. 6.000 per mangkok untuk porsi biasa. Jika nambah ceker ayam 500 per potong. Biasanya diberi 3 potong ceker jadi Rp. 7.500. 

Dari tampilannya saja mie ayam banjir sudah menggugah selera. Apalagi mencium baunya dan memakannya. Hmm... Menulis ini saja bikin ngences euy.

Pak Banjir sedang menyajikan berpuluh-puluh mangkok Mie Ayam
Paling suka Mie Ayam Banjir banyak sayurannya
Tuh kan baru buka yang nungguin udah segini banyak

Wednesday, April 23, 2014

Giveaway #HariBuku


Seperti biasanya akan ada buku yang aku bagikan minimal satu buku satu bulan. Kali ini ada 3 buku yang aku bagikan. Tidak bisa milih judul ya teman, karena bukunya acak, aku sendiri lupa judul-judulnya. Yang pasti masih baru kok meskipun terbitan lama. Dan bagi yang beruntung bisa dapat buku tulisanku.

Gampang banget caranya tinggal entri rafflecopter di bawah ini ya teman. Agar mudah log-in pakai facebook saja dan ikutin step-stepnya kemudian komen di bawah postingan ini. Good luck ya teman. Pengumuman InsyaAllah 5 Mei dipilih acak.
a Rafflecopter giveaway

Pintu Harmonika

Photo taken: Yuniari Nukti

Tuesday, April 22, 2014

Bincang Buku "Jangan Menyerah" di Radio Sindo Surabaya

Suasana studio Radio Sindo Trijaya FM
Kamis, 17 April lalu aku mendapatkan kesempatan memperkenalkan buku "Jangan Menyerah" di radio Sindo Trijaya FM dalam program penulis bicara yang dipandu mbak Vika Wisnu.

Ini kali keduanya. Sebelumnya pernah on air dengan penyiar dan dalam program yang sama ditemani Bundanya Visi, memperkenalkan buku-buku Storycake. Kali ini diundang secara personal oleh Pak Agus Sumarga setelah sebelumnya dikenalin oleh mbak Dian Kristiani.

Aku tidak sendiri. Awalnya aku mengajak bu Sofie Beatrix selaku pendamping buku ini. Oleh bu Sofie disarankan untuk mengajak adik-adik yatim. Meskipun satu almamater aku enggak ada yang kenal sama penulis buku lainnya, kuserahkan sama pihak Yatim Mandiri. Terpilihlah Lia Dewi Anggraini yang bela-belain datang jauh dari Malang.

Seperti biasanya. Talk show dimulai tepat pukul 17.00. Alhamdulillah kami tidak ada yang telat. Apalagi aku diantar suami sehingga bisa cepet sampainya.

Membahas buku Jangan Menyerah seperti flashback ketika masa-masa kuliah di MEC (Mandiri Enterpreneur Centre). Yap, sebagian besar isi dari buku ini adalah pengalaman dari anak-anak yatim yang pernah belajar di tempat tersebut termasuk aku.

Di sana kami mendapatkan banyak hal. Bukan hanya teori tetapo praktek juga bagaimana mempersiapkan bekal mental yang notabene sebagai anak yatim kedudukannya masih sama seperti anak lain yang memiliki orang tua sempurna, berhak dan wajib untuk menggapai mimpi setinggi impian.

Aku sendiri yang ditinggal orang tua (Bapak dan emak) sejak kecil kadang memiliki rasa minder dibanding yang lain. Terutama dalam pendidikan. Siapa yang membiayai pendidikanku? Bisakah aku meneruskan kiliah lagi? Dan pertanyaan-pertanyaan yang hampir sama kurasa juga kerap menghantui yang lain. Saat mereka dengan mudahnya membayar biaya sekolah, kami cukup menanti beasiswa dari sekolah. Atau saat mereka bisa membeli lengkap semua buku-buku penunjang, kami cukup puas hanya dengan pinjam sembari menanggalkan ego.

Dengan buku ini harapannya akan semakin banyak yatim-yatim yang terinspirasi dan memotivasi mereka agar tak mudah putus harapan meskipuan orang tua sudah tiada. Dan semakin membuat mereka yang memiliki kesempurnaan orang tua dan keadaan yangblebih baik menjadi senantiasa bersyukur dengan yang dimiliki.

Terkahir, acarapun dengan bagi-bahi 3 buku untuk pengirim sms dan penelepon terbaik plus tanda tangan dari kami. Tak lupa juga sesion foto-fotonua. Hehehe.
Selfie di depan gedung radio Sindo Trijaya FM yang menjadi satu lokasi dengan MHTv 
Bersama Lia Dewi Anggraini
Narcism sendiri hehehe
Foto bersama; Lia Dewi, Mbak Vika Wisnu, Me dan bu Katminie

Saturday, April 19, 2014

Varian Soto Ayam Ala Warung Pak Dhe

Selfie dulu sebelum makan
Aku mulai ketularan suamiku enggak biasa sarapan. Tetapi pas jalan setiap ngelihat gerobak soto bawaannya mau mampir mulu. Kayaknya yang enggak biasa bukan sarapannya tapi masaknya. Ya kali aku masak buat makan sendiri. Hihihi

Termasuk kala itu waktu berangkat ke acara Bincang Blog di Radio Suara Muslim Surabaya bareng Pakdhe dan Mbak Yuni emang sengaja dipagiin supaya enggak ketoyor-toyor waktu. Alhasil berasa punya waktu lebih untuk mampir sarapan soto. Berhubung Pakdhe sudah memanggil-manggil, panggilan alam dari perutku enggak kugubris. Eh, pucuk dicinta sotopun tiba, usai on air Pakdhe ngajakin (baca: nraktir) ke warung soto Pakdhe. Aku agak curiga jangan-jangan ini warungnya Pakdhe. Tapi, eh bukan sodara-sodara. Hehehe.

Warung Soto dan Sop Ayam Pak Dhe

Dari penampakannya, Warung Pakdhe yang terletak di belakang Universitas Widya Mandala Surabaya ini memang besar, bersih dan meja-mejanya tertata rapi. Bukan seperti warung soto biasanya, tak ada penampakan gerobak soto yang khas dengan centelan-centelan ayamnya. Dikondisikan dengan konsep warungnya yang lebih ke sop ayamnya. Jika soto umum lebih pekat dan kuat bumbunya, di Warung Pakde kuah sotonya bening. Oleh karena itu namanya Warung Soto dan Sop Ayam.

Meskipun, sopnya hanya terdiri dari daging ayam tetapi varian menu dari Warung Pakde ini banyak juga lho. Dengan kuah yang sama pengelola hanya mengotak-atik varian menunya dari bagian-bagian daging ayam. Yap, yang membedakan hanyalah isi atau dagingnya. Misal, Sop Dada, Sop Sayap, Sop Leher, Sop Ati Ampela, Sop Kepala, Sop Kulit dan sebagainya. Sehingga pembeli tak perlu mikir rasa, tentu dalam kuah yang sama rasanya juga sama, hanya memilih mau bagian daging ayam yang mana?

Seperti menu yang kami pesan, Pakdhe memesan Soto/sop Biasa, aku pesan Sop Sayap, sementara Mbak Yuni pesan Sop Burit (telur muda). Semua rasanya sama hanya beda dari isi kuahnya.

Kalau dari sisi penjualnya varian menu seperti ini sangat memudahkan dalam sekali masak, tidak ribet, tak banyak bahan dan tenaga terbuang. Tetapi dari segi pembeli, sama saja tak ada pilihan menu lainnya. Sangat membosankan. Dan bisa jadi juga merugikan, karena pembeli tak bisa memesan menu lebih terpentok rasa yang semuanya sama. Mungkin nilai lebihnya pembeli bisa mengatur kadar kolesterol dengan memilih bagian daging yang sesuai dengan anjuran kesehatannya.

Tetapi ada yang kurang sreg ketika abis makan aku ingin buang air kecil. Udah gak tahan karena sejak di Radio nahan pipis di ruang siaran yang ber-AC. Pas masuk kamar mandinya, enggak seperti penampakan warungnya yang bersih. Bahkan sempet aku lihat hewan keciiiil banget yang mungkin enggak kasat mata, karena bergerak di air jadi terlihat olehku. Mirip cacing pita mungkin. Buru-buru deh aku keluar enggak jadi kencing.
Tanya-tanya dulu sebelum pesan

Nasi putih 1000an bonus bawang goreng

Pesenenku Sop Sayap Ayam
Dari penilaianku :
  1. Kebersihan oke minus kamar mandinya jorok banget. Nilai C aja deh
  2. Rasa standart dapat nilai B (minus) karena masih enakan soto gerobak.
  3. Harga lumayan diatas standart dikit dari yang lain mungkin karena tempat.
  4. Layanan ramah dapat nilai B (plus).

Feel Free To Follow My Blog