Perjalanan Pena dan Petualangan wujud "I am Proud To Be Scout" (Oleh-oleh Part 1)

Kehabisan Ticket dan Google Map

Kehabisan ticket di Stasiun Sepanjang, tidak menyurutkan niatku menghadiri Bedah Buku perdana I am Proud To Be Scout di Ciamis. Ini dikarenakan "kedudulan" saya yang percaya begitu saja kepada "tukang ticketing"-nya untuk beli ticket tepat hari H dua jam sebelum berangkat. Padahal pemesanan ticket sekarang harus jauh hari, minimal tujuh hari sebelum hari keberangkatan. Wal hasil saya telat, dan hanya bisa say helo kepada "kereta pasundan" yang berlalu di depan saya.

Sementara suami yang mengantar saya kestasiun sudah pulang. Saya memutar otak, untuk mencari alternatif lain dengan naik bis ke stasiun Jombang. Karena teman perjalanan saya "Ibu" menunggu di sana sejak pagi sesuai dengan kesepatan awal kami bertemu dalam kereta di Jombang. Langsung saya beri kabar kepadanya

"Bu, aku kehabisan ticket. Ini sedang naik bis ke Jombang. Coba lihat kereta alternatif lain. Tadi aku lihat dalam jadwal ada kerete jam 10"

"ada Nyak, kereta logawa berangkat jam 11. Tapi sampai Purwokerto saja"

"Ya udah ambil, perjalanan selanjutnya kita pikirkan sambil jalan", pungkasku khawatir tidak mendapatkan ticket lagi.

Sesampai di Stasiun Jombang kami menunggu lama sekali. Dalam ticket jam keberangkatan yang seharusnya pukul 10.30 molor sampai jam 12. "Ya.. ya.. ya.. kereta molornya pasti, datang tepat waktunya memang belum tentu, apalagi datang lebih awal dari jadwal, non cent!", tulisku curhat pada sebuah status sambil menyantap sarapan pagi setengah makan siang di pinggir stasiun.

Kami bertanya kepada orang-orang disamping kami tentang rute yang harus kami tempuh menuju tempat tujuan sambil sesekali sms kak Indra yang memonitor kami dari Ciamis. Tidak cukup sekali, kami bertanya kepada setiap orang baru yang duduk di samping kami untuk memastikan kami tidak nyasar. Dan, subhanalloh ada satu orang yang begitu peduli sampai-sampai kami diberikan pertimbangan dua rute yang sangat mendetail. Setiap kota yang akan kami lewatipun diperhitungkannya. Mungkin karena dari awal beliau memang tahu kami sedang kebingungan dan tak tau arah.

"Ini saran saya yang terakhir mba, mba jangan turun kroya tapi turun purwokerto. Tadi pertimbangan awal saya salah. Kalau dari kroya mba akan melewati 12 kota, tapi kalau dari purwokerto mba akan melewati 11 kota. Lumayan cepat", katanya sambil mengotak-atik HP nya

"Bapak orang sini ya? kok faham banget daerah sini", tanyaku penasaran.

"Saya orang Sidoarjo-Waru mba, ini pake GoogleMap"

Whats?! ternyata dia tetanggaku. Dan yang membuatku merasa agak sedikit kalah dengan beliau akan kecanggihannya. Harusnya aku tahu dan menggunakan google map sejak awal. Dalam mataku beliau bukan seperti orang yang suka dengan dunia internet dan gadget. Sementara aku? yang biasanya didepan lepi dan mencari setiap pertanyaan dari google, kenapa kali ini tidak sampai berpikir kesana. Well, 4 jempol untukmu Pak!

Orang Indonesiapun masih belum aman di negaranya sendiri

Mungkin itulah yang kami Rasakan. Pungli dan penjarahan masih bebas dan berkeliaran apalagi terhadap pendatang baru di sebuah kota, dan bukan issue yang terjadi hampir disetiap kota. Bukankah kita ini satu bangsa, satu kesatuan NKRI. Kenapa masih banyak terjadi demikian? Bukan bearti menjarah orang luar lebih afdol hukumnya. Tapi mbok ya kebacut.. hihihihiii

Seorang sopir yang mengangkut kami/penumpang dalam stasiun saja harus membayar 5.000 kepada calo. Wuiihh,, enak bener sekali nadah 5.000. Nggak jauh beda dengan yang aku temui di kereta namun mereka lebih neriman walau dikasih cepek, rokok ataupun sekedar jajan. Walhasil kami menjadi tempat curhat sepanjang perjalanan menuju terminal dan merasa tidak enak yang menjadi penyebab sopir tadi kena pajak.

di terminal Purwokerto

Diterminal purwokerto. Kami bertemu lagi dengan preman sangar dan tidak baik hati. Yah, gimana enggak masak ke Ciamis saja kami harus membayar 300% dari tarif normal. Layanannya pun kurang memuaskan. Setiap kami Tanya, jawabannya agak membentak! Ya wajar saja kami bertanya karena kami pendatang supaya tidak nyasar. Eh… ternyata malah kami disasarkan, diturunkan masih satu kilo dari lokasi yang kami minta. Heeeeeemmm….

diterlantarkan pak sopir yang tidak baik hati :D

Sayangnya, ketika kami di purwokerto diguyur hujan. Sehingga tabiat narsis kami tidak terabadikan. Padahal kotanya cukup menarik, semoga di lain waktu aku bisa kembali lagi :D

(to be Continued)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comment:

Poskan Komentar

Betapa senangnya kamu sudah baca postinganku. Alangkah bahagianya lagi jika kamu bersedia meninggalkan sedikit jejakmu untuk ku bisa mengunjungi rumah mayamu. Dan aku tidak akan pernah marah dengan apapun komentarmu, kritik, saran, kripik pedas level sepuluhpun akan aku telan jika itu mampu memperbaiki tulisanku. Terimakasih ya Teman :)

Share It

Komentar Terbaru